Terpaksa Menikahi Mantanku

Terpaksa Menikahi Mantanku
Bab 89 S2


__ADS_3

Jo mengendarai mobilnya menuju kantor. Setelah mengungkapkan perasaannya pada Hera, dia ingin segera menyelesaikan semua pekerjaan kantor. Jo ingin mengajak istrinya untuk pergi berbulan madu.


Jo keluar dari dalam mobil saat telah sampai di kantornya. Dia meraih ponsel di saku untuk menghubungi Jessica. Jo mendial nomor Jessica. Sesaat menunggu barulah Jessica mengangkat panggilan dari Jo.


"Halo, Jo!" ~ Jessica.


"Jes ... kamu membohongiku. Kamu bilang Hera pergi tugas bersama Devan." ~ Jo.


"Aku tidak ada mengatakan Hera pergi bersama Devan. Aku hanya bilang Hera pergi tugas. Kamu saja yang sudah panik." ~ Jessica.


Jo mengingat kembali ucapan dari Jessica. Mantannya itu memang mengatakan Hera pergi bertugas. Bukankah Hera ke rumah sakit memang bertugas menjadi Dokter.


"Kamu benar ... aku terlalu panik." ~ Jo.


Jo mematikan sambungan telepon pada Jessica. Dia mengeleng sendiri akan sikapnya. Jo duduk di kursi kebesaran miliknya. Jo membuka laptop mencari informasi mengenai Devan.


Dia tidak mau Devan bekerja di rumah sakit yang sama bersama Hera. Jo akan membuat Devan pindah bertugas. Dia tidak mau pria itu terus mendekati Hera. Jo tersenyum sinis saat membaca informasi mengenai Devan.


Devan anak seorang konglomerat nomor 5 di negaranya. Keluarga Devan masih berada jauh dari keluarga Wiliam dan Wijaya. Jo mengirim pesan pada Alex untuk menangani keluarga Devan.


Jo meminta bantuan pada Alex. Kakak iparnya itu paling bisa soal bujuk rayu. Keluarga Devan terkenal sangat susah di dekati. Orang tua Devan hanya mau di dekati oleh orang berpengaruh saja. Jo tidak bisa melakukanya karena dia sadar kalau dia hanya anak angkat saja.


...****************...


Jessica untuk sementara harus tinggal di hotel. Sambil menunggu apartemen yang masih di renovasi. Saat ini dia tengah berada di studio pemotretan. Jessica sudah mulai bekerja untuk sebuah iklan produk kecantikan.


Jessica sudah mulai berpose sesuai arahan sang penata gaya dan fotografer. Dari jauh seseorang melihat Jessica. Dia begitu tertarik pada model yang tengah bergaya itu.


Brian mengelus-elus dagunya. Dia sangat tertarik melihat Jessica yang cantik itu. Brian adalah bos yang tengah meluncurkan produk kecantikan itu.


"Hei ... siapa nama model itu?" tanya brian pada asisten Joni yang mengurus para model.


"Dia model dari luar. Namanya Jessica ... baru datang dari Inggris," jawab Joni.


"Jessica ... namanya tidak asing," gumam Brian.


Brian mengingat-ingat nama Jessica. Dia seperti mengenal nama itu.


"Apa dia mantan dari Jo," gumam Brian.


Brian mengeleng tidak mungkin Jessica yang dia lihat sekarang adalah mantan dari Jo. Mungkin saja nama wanita itu sama dengan nama mantan kekasih temannya. Bukankah nama Jessica sangat banyak.


Brian memperhatikan secara seksama wajah Jessica. Jiwa casanova dalam dirinya mulai ingin mencicipi Jessica. Brian memang sering bermain-main dengan para model dan ja**g.


"Jon ... aku ingin dia malam ini," ucap Brian.


"Baiklah ... aku akan mengaturnya," kata Joni.


Joni memang sering menghadirkan model-model cantik untuk menghibur Brian. Mereka yang sudah melayani Brian akan mendapat karier yang cemerlang. Pekerjaan juga akan berdatangan pada mereka.


Jessica selesai dengan pekerjaannya. Dia berganti baju dan berkemas untuk segera balik ke hotel. Joni menghampiri Jessica untuk mengutarakan niatnya.


"Jes ... atasan ingin bertemu denganmu," kata Joni.

__ADS_1


"Bos besar ... ada apa memangnya?" tanya Jessica. Dia sedikit heran kenapa tiba-tiba atasanya ingin bertemu.


"Kamu baru saja datang dan pindah ke sini. Kamu belum mengenal bos kita, kan?" kata Joni.


"Baiklah ... aku akan menemuinya," kata Jessica.


Joni memberikan kartu nama Brian dan alamat hotel yang akan menjadi tempat pertemuan mereka. Jessica mengambil kartu nama dan alamat itu.


...****************...


Jessica bersiap-siap untuk menemui Brian di restoran hotel. Kebetulan hotel tempat mereka ketemu adalah hotel dimana Jessica menginap.


Jessica memakai gaun malam berwarna merah maroon. Dia juga sudah merias wajahnya se-sederhana mungkin. Jessica tidak ingin mencuri perhatian pada atasannya.


Jessica berjalan menuju restoran hotel. Dia lalu duduk di meja yang sudah di pesan oleh Brian. Jessica duduk menunggu Brian sembari bermain ponsel.


Brian datang dengan penampilan memukau. Dia langsung saja menghampiri Jessica. Brian sudah sangat bergelora saat melihat Jessica.


"Halo," sapa Brian.


Jessica tersenyum. "Halo ... Anda Tuan Brian?"


Brian mengangguk. "Yes ... aku Brian."


Jessica mengulurkan tangan berjabat tangan dan mempersilakan Brian untuk duduk.


"Saya Jessica ... ada apa Tuan ingin bertemu?" tanya Jessica.


"Oh ... maaf, saya baru datang dari Inggris. Saya belum sempat untuk ke kantor Anda memperkenalkan diri," tutur Jessi.


Jessica memang belum sempat ke kantor yang telah mengontraknya untuk menjadi model. Jadwalnya sangat padat. Lalu assitennya baru besok mulai bekerja.


"Bukan itu maksudku," ujar Brian.


"Apa ini masalah pekerjaan?" tanya Jessica.


"Aku ingin bermalam denganmu. Imbalannya apa pun yang kamu minta aku berikan," ujar Brian.


Brian bicara tanpa basa-basi. Dia sangat bosan melihat Jessica yang pura-pura polos. Menurut Brian mana ada model sekelas Jessica tidak mengerti akan situasi mereka sekarang.


Jessica mendelik tidak percaya akan ucapan dari Brian. Pria tampan yang berada di hadapanya mengira dia wanita seperti itu. Jessica memang pernah mendengar gosip, untuk menaikan karier harus tidur dengan bos atau produser.


Namun Jessica bukanlah wanita seperti itu. Yang hanya demi karier harus merelakan tubuhnya. Dia merintis karier dari nol. Entah dari mana asalnya akhir-akhir ini karier Jessica semakin menanjak.


Jessica terlihat geram pada Brian. "Aku bukan wanita seperti itu. Aku sudah cukup puas dengan karierku sekarang."


Brian berdecih. "Cih ... pura-pura polos. Para pria pasti sudah banyak menidurimu. Aku akan membayarmu lebih banyak dari mereka."


Plaakkk ... !


Jessica menampar pipi Brian. "Jangan sembarangan menuduhku."


Brian berkilat marah karena seorang wanita yang menampar pipinya. "Berani sekali kamu menamparku. Aku akan pastikan karier yang kamu bangun akan aku hancurkan."

__ADS_1


"Silakan saja lakukan apa pun. Aku tidak pernah takut dengan pria sepertimu. Meski kamu atasanku, aku tidak takut," hardik Jessica.


Brian meraih tangan Jessi. "Kamu menantangku. Kita lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu."


Brian menarik tangan Jessica agar mengikutinya. Dia membawa Jessica menuju kamar biasa tempatnya bermain. Jessica memukul-mukul tangan Brian. Dia berteriak meminta pertolongan pada orang yang lewat.


Tidak ada yang menolong Jessica. Mereka hanya memperhatikan Jessica yang di bawa oleh Brian. Mereka takut karena pemilik hotel itu adalah Brian. Hotel tempat Jessica menginap adalah hotel tiga sekawan. Brian, Alex dan Vino adalah pemilik hotel mewah itu.


Brian melempar tubuh Jessica ke atas ranjang tempat tidur. Brian menutup pintu dan menguncinya. Brian melepas jas dan membuka kancing kemeja bajunya.


Jessica bangkit dari tidur dan menuju arah pintu. Dia berusaha untuk membuka pintu yang terkunci.


"Kamu tidak bisa membuka pintu itu. Layani saja aku," ucap Brian.


"Dasar bren***k, kamu tidak berhak memperlakukan aku seperti ini," hardik Jessica.


Brian terkekeh geli. "Jangan pura-pura polos. Tapi, aku suka gayamu seperti ini. Kamu bertingkah layaknya wanita yang tidak pernah bercinta."


Brian membuka laci meja. Dia mengambil tali yang biasa dia gunakan untuk bermain-main. Brian mendekat pada Jessica. Brian sudah begitu bergelora. Apa lagi Jessica malah ingin membuatnya bermain sedikit.


Jessica menghindar dari Brian. Dia mengambil apa saja untuk melempar Brian. Jessi tidak ingin nasibnya berakhir di tangan pria gila seperti Brian.


Brian berdecak kesal. "Kamu benar-benar membuat kesabaranku habis."


Brian menangkap tubuh Jessica. Dia membawa Jessica ke atas tempat tidur. Brian mengikat kedua tangan Jessica dengan tali.


"Jangan lakukan itu. Aku minta maaf karena menampar pipimu," lirih Jessica.


Brian sudah melepas pakaiannya. "Aku akan memaafkan kamu, kalau kamu tidur denganku."


Brian melepas pakaian Jessica. Dia sudah tidak tahan lagi. Brian mencium wajah Jessica lalu beralih ke setiap jengkal tubuh mulus Jessi.


Brian melakukan apa yang dia inginkan. Dia kaget saat sudah menghujam Jessi.


"Si*l ... kamu masih virgin," kaget Brian.


Jessica meneteskan air mata karena ini adalah pengalaman pertamanya. Saat bersama Jo dia hanya sebatas making out saja.


Brian tidak berhenti karena ini adalah pengalaman pertamanya meniduri wanita perawan. Brian menengadahkan kepala setelah mencapai klimaks.


"Puas kamu!" bentak Jessica.


Brian tersenyum sinis. Dia bangkit mengambil obat. Brian lalu meminum pil itu. Malam ini dia akan menikmati malam panjang bersama Jessica.


"Kamu adalah milikku sekarang. Aku tidak akan melepasmu," ucap Brian.


Brian kembali melakukan pertempuran panas bersama Jessica. Dia tiada henti untuk mengempur tubuh indah Jessi. Ini adalah wanita virgin pertama baginya.


Suara-suara indah mengalun di sudut kamar hotel itu. Jessica sudah pasrah dengan apa yang di lakukan oleh Brian. Dia sudah sangat kelelahan karena tiada henti Brian menghujamnya. Jessica memejamkan matanya lalu tertidur.


TBC


Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.

__ADS_1


__ADS_2