Terpaksa Menikahi Mantanku

Terpaksa Menikahi Mantanku
Bab 44


__ADS_3

Alex turun ke bawah untuk menunggu istrinya pulang. Alex gelisah sudah dua jam kepergian Berli tapi istrinya belum juga pulang. Alex mondar-mandir menatap pintu mansion.


Jo merasa heran melihat Alex yang gelisah dan berjalan mondar-mandir menatap pintu masuk mansion. "Alex... kau ini kenapa?"


"Jo... bantu kakak iparmu ini," ucap Alex.


Jo semakin bingung ada masalah apa Alex sampai gelisah seperti itu. "Ada apa, katakan?"


Alex mengajak Jo untuk duduk di sofa. "Jo... kamu lacak keberadaan Berli. Dia pergi bersama Maxim."


Jo melongo, cuma karna Berli pergi bersama Maxim, Alex sudah panik begini. "Aku... kira ada masalah genting, ternyata cuma itu saja."


Alex memasang wajah memelas. "Tolong... Jo, ini lebih dari penting. Berli itu istriku, tapi dia pergi bersama pria lain."


Jo berdecih. "Cih... kau juga tadi siang pergi menemui Rania."


Alex terdiam akan perkataan Jo. Ini memang salahnya, seharusnya dia tidak usah menemui Rania. Tapi kenapa juga dia merasa gelisah, biar saja Berli bersama Maxim.


Antara hati dan pikiran Alex saling tidak sejalan. Di pikirannya, biar saja Berli bersama Maxim. Tetapi di hatinya merasa tidak rela jika Berli bersama Maxim.


"Kenapa... kau melamun?" tanya Jo.


Alex tersadar dari pemikirannya. "Tidak... apa-apa, aku kembali ke atas dulu."


Alex berjalan gontai menuju lantai atas di mana kamarnya berada. Alex semakin bingung dengan hatinya. Apakah cinta itu masih ada untuk Berli. Lalu perasaan apa yang di rasakanya pada Rania.


Jo menatap kepergian Alex dengan kebingungan. "Apa... aku salah bicara tadi," gumam Jo.


Mobil Berli telah sampai di depan gerbang mansion. Setelah menemui Maxim, Berli pergi berbelanja di mall. Tentunya belanjaan itu memakai uang dari suaminya.


Berli masuk ke dalam mansion dengan menenteng beberapa paper bag di tangannya. " Jo... sedang apa kau duduk disini sendirian," tanya Berli.


"Kak... kau dari mana saja?" tanya Jo.


Berli terlihat heran. "Kamu... tidak lihat di tanganku ini."

__ADS_1


Berli menunjukan tangannya yang penuh dengan tas belanjaan. Jo hanya geleng-geleng kepala. Suaminya cemas menunggu dirinya pulang, ternyata Berli asik belanja.


"Alex... cemas menunggu kamu pulang."


"Kenapa dia cemas?" tanya Berli.


Jo menatap Sebal Berli. "Mana... aku tahu, tanya saja padanya."


Berli melangkahkan kaki menuju kamarnya. Berli membuka pintu kamar, lalu di lihatnya Alex tengah berbaring. Alex bangun dari rebahannya saat mendengar pintu kamar terbuka.


"Kamu... lama banget pulangnya, dari tadi aku menunggu kamu," ucap Alex.


Berli meletakan belanjaannya di sofa kamar tidur. "Setelah menemui Maxim, aku pergi belanja."


Alex berkacak pinggang mulai mengintrogasi Berli. "Kamu... ngapain saja dengan Maxim."


Berli memutar mata malas. "Jangan ikut campur urusanku."


Alex geram Berli terkesan acuh padanya. "Aku... ini suami kamu."


Skakmat... !


Alex terdiam, kata-kata yang pernah dia ucapkan pada Berli, kini menjadi boomerang untuknya. Alex pernah mengatakan untuk tidak mencampuri urusannya dengan Rania pada Berli. Lalu kenapa sekarang Alex mencampuri urusan Berli bersama Maxim.


Bisakah sekarang Alex mengubah semuanya. Bisakah kisah ini di mulai dari awal lagi. Andai saja kata-kata yang di ucapkannya dapat di tarik kembali. Kata untuk tidak menyentuh istrinya, kata yang tidak akan mencintai istrinya, sekarang kata itu menjadi boomerang untuknya sendiri.


Alex ingin menyentuh istrinya, Alex juga ingin mencintai istrinya. Cinta itu tidak pernah hilang, masih berbekas di dalam lubuk hatinya paling dalam. Tetapi hanya karena ke egoisan dan juga hawa nafsu dalam hati. Menjadi penyebab kehancurannya sendiri.


Bisakah Alex memutar kembali waktu. Andai Alex tidak egois, Andai Alex tidak bertemu Rania. Andai Alex tidak berselingkuh, andai Alex tidak mengabaikan Berli sebagai kekasihnya dulu. Itu semua sudah terlambat, Alex terlambat untuk menyadari semuanya.


Alex terlambat menyadari kesalahan yang telah di buatnya. Alex terlambat untuk mendengar nasehat para sahabatnya agar meninggalkan Rania. Semuanya sudah terlambat.


Penyesalan, itu yang pantas sekarang Alex terima. Berli sudah menjadi istrinya, Berli sudah tinggal bersamanya. Berli ada ketika Alex bangun dan tidur. Itu semua hal yang dari dulu Alex inginkan. Tetapi itu semua tidak dapat dia rengkuh. Berli bersamanya tetapi Alex tidak dapat menyentuhnya.


Alex pergi keluar kamar meninggalkan Berli. Alex menyalakan mobilnya untuk pergi menemui temannya. Mungkin dengan bercerita pada Brian dan Vino bisa menenangkan pikirannya yang kalut.

__ADS_1


Berli hanya diam menatap kepergian suaminya. Dia juga tidak tega bicara seperti itu, tapi itulah kata yang telah di ucapkan Alex padanya. Apa salah jika Berli bicara seperti itu, dia hanya menyampaikan faktanya saja.


Alex telah berjanji untuk tidak mencintainya dan juga menyentuhnya. Hanya karena satu wanita, Berli tidak bisa menjadi istri seutuhnya bagi seorang suami.


Cinta, cinta itu masih membekas di lubuk hati Berli. Perasaan cinta itu masih ada untuk Alex. Selama tiga tahun berpisah, hanya ada kenangan Alex dalam pikirannya. Kenangan manis dan pahit yang telah Alex toreh di hatinya.


Berli membuka kotak perhiasan dari dalam laci lemari. Kalung yang bernama pemilik hati dengan buah kalung berwarna biru. Buah kalung yang warnanya sama dengan warna mata Alex yaitu biru. Berli mencium kalung itu lalu mendekapnya di dada.


"Alex... hanya kamu saja yang bisa mengubah pernikahan ini berlanjut atau tidak," lirih Berli.


Alex pergi menemui Brian dan Vino di cafe. Alex duduk menunggu sahabatnya datang. Tidak berapa lama Brian dan Vino datang menemui Alex. Mereka duduk di kursi masing-masing lalu memesan minuman.


Brian dan Vino melihat raut wajah Alex yang menyedihkan. Baru beberapa waktu saja Alex mengubah statusnya malah membuat Alex tidak bahagia.


"Kamu... kenapa Alex?" tanya Brian.


Alex menghela. "Hah...."


"Aku... sangat tidak suka jika Berli bertemu Maxim. Aku cemburu pada mereka, tapi apa urusannya dengan diriku. Aku mengatakan pada Tasia untuk tidak mencintai dia," ucap Alex.


Brian dan Vino geleng-geleng kepala. "Aku... sudah bilang padamu untuk tidak bermain api. Tapi lihatlah, kau masih saja tidak sadar akan tingkahmu," ucap Vino.


"Kenapa... kau harus bicara seperti itu pada Tasia?" tanya Brian.


"Aku... telah berjanji pada Rania," lirih Alex.


"Lihat... wanita itu lagi yang menghancurkan segalanya," ucap vino.


"Alex... tetapkan hatimu hanya pada satu wanita," ucap Brian.


"Hanya... kamu dan Tasia saja yang hanya bisa menyelesaikan ini semua," ucap Vino.


Alex tidak dapat berpikir, hatinya telah di terpa kegundahan. Hanya Alex dan Berli lah yang bisa menyelesaikan masalah mereka. Tetapi itu semua tentu tidak mudah, ada empat hati disini yang terjebak. Ada perbuatan masa lalu yang membuat kisah ini menjadi rumit.


Tbc

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.


__ADS_2