Terpaksa Menikahi Mantanku

Terpaksa Menikahi Mantanku
Bab 21


__ADS_3

Mentari terbit menyinari bumi, sinarnya menembus celah gorden kamar.


Seorang pria yang tengah tidur mulai terganggu akan sinar yang memantul di wajahnya.


Di liriknya wanita yang tanpa sehelai benang pun yang masih tertidur pulas dalam balutan selimut tebal.


Pria itu segera bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi, dua puluh menit setelah membersihkan diri di lihatnya wanita itu masih saja tertidur.


Pria itu hanya berdecak, dia teringat akan pertempuran semalam yang membuat wanita itu tertidur sampai pukul tiga pagi.


"Hei... bangun," ucap Alex.


Membangunkan wanita itu dengan menguncang tubuhnya.


Wanita itu mengeliat, meregangkan otot-otot yang membuatnya remuk akibat aktifitas semalam.


"Sudah... pagi lex, aku akan segera pergi ," ujar Natalia. Dengan segera Natalia memungut pakaian dan mengenakannya.


Alex mengambil selembar cek di dalam laci. Menulis sejumlah uang dan memberikanya kepada Natalia.


"Ini... untukmu, ambillah dan hubungan kita berakhir sampai sini saja," ujar alex.


Cuek seolah olah wanita itu setelah di pakai maka akan di buang.


"kenapa lex, bukannya tiga bulan ini aku selalu ada untukmu?" tanya Natalia.


"Dengar Nat, kau bukanlah kekasih atau pacarku. Apakah perlu, aku jelaskan apa status mu," sahut Alex.


Menjelaskan dengan nada tegas.


"Ambil... uang itu dan pergilah dari sini. Dan ingat, jangan pernah lagi menghubungi ku," ujar Alex. Dengan nada peringatan.


"Apakah... kau, sudah punya wanita yang lebih memuaskanmu?" tanya Natalia lagi.


"Aku... sudah punya pacar dan wanita itu tidak seperti dirimu," sahut Alex.


"Baiklah... Aku pergi," ucap Natalia. Mengambil cek uang dan segera berlalu pergi meninggalkan apartemen Alex.


Dasar pria brengsek, umpat Natalia dalam hati.


"Sebentar... lagi aku akan punya pacar. Untuk pertama kalinya, Alexander William punya yang namanya kekasih. Bukan seseorang yang memiliki wanita penghangat. Dan gadis yang beruntung itu adalah Berliana Anastasia," gumam Alex.


*****


Berli merasa kesal dengan mobil yang di kendarainya, bisa-bisanya ban mobilnya kempes di tengah jalan.


Jika seperti ini maka dirinya akan telat ke kampus.


Alex yang kebetulan melintas di jalan yang sama dengan Berli, melihat seorang wanita yang telah mencuri hatinya berdiri di pinggir jalan.


Alex memakirkan mobil yang di kendarainya ke pinggir jalan tepat di depan mobil Berli.


Alex keluar dari dalam mobil dan berjalan menghampiri Berli.


Berli yang masih mengotak atik ponselnya untuk memanggil tukang bengkel langganannya, tidak sadar akan kedatangan Alex.


"Hai... ," sapa Alex.


"Oh... hai," ucap Berli. Tersenyum kikuk.


"Kenapa mobilmu?" tanya Alex.

__ADS_1


"Oh... ban mobilku kempes dan aku sudah menelpon bengkel untuk memperbaikinya," sahut Berli.


"Kau... ikut saja denganku. Bukankah kau ingin ke kampus?" ujar Alex. Dengan tersenyum manis.


"Terima kasih... apakah tidak merepotkan?" tanya berli.


"Tentu saja tidak, kau telpon saja seseorang untuk datang kesini, dan membawa mobilmu," ujar Alex. Memberi saran.


"Iya... aku sudah menelpon supir untuk datang menunggu mobilku, sampai tukang bengkel datang. Mungkin tak lama lagi supir ku akan datang," ujar Berli.


"Aku akan menemanimu disini!" Alex tersenyum.


"Apakah kau tidak keberatan?" tanya Alex.


"Tentu saja tidak, tapi apakah tidak merepotkan?" tanya balik Berli.


"Tidak... aku merasa senang jika bersama wanita cantik," goda Alex.


Wajah Berli sudah merah merona mendengar rayuan Alex.


Pria itu memperhatikan wajah Berli dengan tersenyum simpul, Alex merasa gemas akan Berli yang begitu malu-malu.


Alex baru pernah berinteraksi dengan wanita polos seperti Berli.


Gadis ini benar-benar mengemaskan, lihatlah wajahnya memerah, batin Alex.


Tak lama supir yang di tunggu oleh Berli telah datang.


Berli memberikan kunci mobilnya kepada supir dan segera pergi bersama Alex ke kampus.


Di dalam mobil suasana terasa hening, tidak ada yang memulai obrolan di antara keduanya suasana menjadi sangat canggung.


Kenapa aku jadi mati kutu di depan gadis ini, aku merasa tidak bisa berkata apa-apa di hadapannya. Apa karna kalau bersamanya aku harus merayu dan juga mengodanya. Sedangkan ketika aku bersama wanitaku malah mereka duluan yang merayu dan juga menggoda, batin Alex.


"Ehem...!"


Berli berdehem untuk memulai obrolan.


"Aku... tidak menyangka kalau kamu juga kuliah di kampus yang sama denganku," ujar Berli.


Dengan kikuk karna saat ini Berli merasa canggung dan juga gugup duduk di samping Alex


"Aku... juga tidak menduga kalau kita akan bertemu dan juga satu kampus," ujar Alex. Tersenyum.


Mobil yang di kendarai Alex telah sampai dipelataran parkir kampus.


Mobil mewah itu terparkir sempurna di area parkir khusus untuk para anak orang kaya.


"Terima kasih... kau sudah memberiku tumpangan," ucap Berli. Tersenyum manis.


*Deg...."


Manis* sekali senyummu itu, kenapa bibirmu sexy sekali, batin Alex.


"Tapi... ini tidak gratis," ucap Alex.


"Hah... jadi, aku harus membayar?" tanya Berli kaget.


"Tentu saja," ucap Alex. Mengangguk kepalanya.


"Berapa... yang harus Aku bayar?"

__ADS_1


Berli merogoh tasnya untuk mengambil dompet.


"Aku tidak perlu uang, kau harus makan siang denganku di kantin saat istirahat. Lalu berikan aku nomor ponselmu," ujar Alex.


Padahal aku sudah menyimpan nomormu yang di kirim oleh Brian tapi kan kau tidak punya nomor ponsel ku, batin Alex.


"Hanya itu saja?" tanya Berli.


"Kalau... bisa, jadilah pacarku," ujar Alex. Tersenyum.


"Apa... ?"


Kaget Berli.


Alex menutup kedua kupingnya karena teriakan Berli.


"Kau... jangan berteriak, kupingku bisa tuli nanti," ujar Alex.


"Ah... maaf, kau dulu yang membuatku kaget," ucap Berli. Dengan memanyunkan bibirnya.


"Maaf... aku hanya bercanda!"


Alex tertawa kecil.


"Ayo... berikan nomormu, nanti aku akan memberi kabar untukmu," ujar Alex.


Dengan memberikan ponselnya kepada Berli.


"Ini... sudah, aku berikan nomor ponsel ku. Kau miscall saja nomormu maka akan aku simpan," ujar Berli.


"Oke... sampai jumpa nanti siang," ucap Alex. Tersenyum.


Alex tersenyum karna rencananya untuk mendekati Berli terbuka lebar.


Berli keluar dari dalam mobil mewah Alex.


Dirinya merasa mendapat jackpot kali ini. Bagaimana tidak, duduk berdua di dalam mobil bersama pangeran kampus yang sangat di idolakan oleh para mahasiswi.


"Jika... Serly, melihatku keluar dari dalam mobil Alex pasti dia akan merasa iri," gumam Berli pelan.


Tak jauh dari arah Berli berjalan, Vino dan juga Brian sedang memperhatikan Berli yang baru saja keluar dari mobil Alex.


"Gercep, juga si Alex," ujar Brian.


"Ck... !"


Vino hanya berdecak dan berjalan pergi.


"Woi... tungguin," ucap Brian. Menyusul Vino yang berjalan cepat.


"Ikhlaskan saja Vin," ucap Brian. Yang menepuk pundak Vino.


"Maksudmu?" tanya Vino.


"Aku... udah tahu, kamu kira mataku buta, kalau Berli selama ini memperhatikan kamu," ujar Brian.


"Selama... Elena masih disini, aku gak bisa apa-apa," gerutu Vino kesal.


"Dasar... kamu aja yang kurang tegas," cibir Brian.


Aku telah jatuh cinta.

__ADS_1


Tbc


Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.


__ADS_2