
Hera sudah bersiap untuk pergi sarapan bersama keluarganya. Jo masih tertidur pulas di dalam gelungan selimut. Hera lalu menguncang pelan tubuh Jo agar suaminya itu bangun.
"Jo ... bangun, kita sudah janji untuk sarapan bersama," kata Hera.
Jo mengeliat. "Lima menit lagi, Jessi."
Lagi-lagi Jo menyebut nama kekasihnya. Hera sangat kesal akan hal itu. Dia lalu mengambil bantal dan memukul Jo.
Jo tentu saja kaget karena tiba-tiba saja ada yang memukul wajahnya. Jo menghindari pukulan Hera dengan tanganya.
"Hentikan Her!" Jo mengambil bantal dari tangan Hera. "Kamu tidak waras memukul suami sendiri?"
"Kamu yang tidak waras. Aku Hera bukan Jessica. Kamu selalu memanggilku seperti itu," hardik Hera.
"Kapan aku memanggilmu Jessica?"
Hera lalu memukul-mukul tubuh Jo. "Kamu lupa atau hanya pura-pura."
Jo memegang tangan Hera. "Hentikan!"
Hera melepas tanganya dari Jo lalu beranjak keluar dari kamar hotel. Jo terlonjak kaget saat Hera menutup pintu kamar dengan kuat.
"Mengapa dia berubah jadi bar-bar," gumam Jo.
Jo turun dari ranjang lalu menuju kamar mandi. Sebelum membasuh tubuhnya. Jo melihat cakaran tangan Hera di punggung belakangnya.
"Banyak banget cakaranya," ujar Jo.
Jo ingat malam panas yang dia lalui bersama Hera. Tiba-tiba Jo menepuk jidatnya. Dia ingat semalam Jo membayangkan Hera adalah Jessica.
"Pantas saja Hera marah. Aku selalu menyebut nama Jessica. Biar saja lah, Hera mau marah aku tidak peduli," gumam Jo.
Jo lalu mulai membasuh tubuhnya dengan air shower. Selesai mandi, Jo lalu bersiap untuk turun sarapan bersama keluarganya.
Hera sudah duduk bersama keluarga barunya. Orang tua Hera memang tidak menginap di hotel. Hanya Tuan Wijaya dan istrinya saja yang tidur di hotel.
"Sayang ... di mana suamimu?" tanya Rita.
"Jo ... sebentar lagi turun koq, Ma. Tadi Jo susah untuk di bangunkan," jawab Hera.
Tuan Wijaya tersenyum mendengarnya. Dia sudah berpikir kalau sebentar lagi dirinya akan mendapat cucu baru.
__ADS_1
"Kamu ... kayak gak pernah jadi pengantin baru saja," ucap Tuan Wijaya.
Mama Rita tersenyum. "Iya ... Mama lupa."
Hera tersipu malu di goda oleh mertuanya. Jo datang menghampiri orang tua serta istrinya. Dia menarik kursi lalu duduk di samping Hera.
"Pagi Ma, Pa," ucap Jo.
"Pagi sayang," sahut Mama.
"Jo ... gimana malam kamu?" tanya Tuan Wijaya.
Jo mengernyit. "Malam apa?" Jo seakan tidak mengerti akan pertanyaan dari papanya.
"Semalam berapa ronde main?" tanya Tuan Wijaya lagi.
Tuan Wijaya bicara blak-blakan. Jo kaget akan pertanyaan papanya. Hera sudah menunduk malu.
Mama Rita mencubit lengan suaminya. "Papa ... kayak gak ada pertanyaan lain saja," kata Mama Rita.
"Papa kayak gak pernah malam pertama saja. Semalam kita begadanglah," sahut Jo.
Tuan Wijaya terkekeh geli. "Semoga saja cepat jadi. Papa sudah ingin menimang cucu dari kamu."
"Sudah ... kita sarapan dulu sekarang," ucap Mama Rita.
Mereka lalu sarapan pagi bersama. Hera melayani Jo dengan mengambilkan makanan untuknya. Jo berpura-pura bersikap manis pada Hera di depan orang tuanya.
Selesai sarapan bersama, Tuan Wijaya serta istrinya pamit untuk pulang ke mansion. Sedang Jo dan Hera berberes untuk pulang ke rumah mereka.
Jo sudah membeli rumah baru untuk mereka tinggal. Jo tidak mau tinggal di dalam apartemen. Hera sedang sibuk memasukan barang-barangnya ke dalam koper.
Jo mendekati Hera lalu menyodorkan surat di hadapan istrinya. Hera mengambil selembar surat itu dan membacanya. Dia melotot bahwa Jo membuat pernikahan kontrak dengannya.
"Apa-apaan ini?" tanya Hera.
"Surat perjanjian kamu dan aku. Selepas kita memiliki anak, kamu dan aku berpisah," jawab Jo.
Hera melempar surat itu pada wajah tampan Jo. "Mudah sekali ... bibirmu mengatakan hal itu. Aku sudah menyerahkan semuanya padamu. Lalu kamu seenaknya memberi surat kontrak. Di mana hati kamu, Jo," hardik Hera.
Jo tersenyum sinis. "Dengar Hera ... bagi diriku kamu itu hanya penghibur. Aku hanya butuh anak untuk memberi cucu pada papa. Aku tidak pernah mencintai kamu. Selepas kita bercerai, aku akan kembali pada Jessica."
__ADS_1
Plaakkk ...!
"Mimpi ... aku tidak akan pernah menuruti kemauan kamu itu."
Jo mengusap wajahnya yang di tampar Hera. " Terserah ... kita lihat seberapa lama kamu bertahan."
Jo meraih pinggang Hera agar mendekat padanya. "Lakukan cara apa pun agar kamu tidak bisa hamil. Kamu pasti tahu caranya. Kamu seorang Dokter, bukan?"
Jo melempar tubuh Hera di kasur lalu menindihnya. Jo membuka pakaiannya habis. Dia lalu melepas seluruh kain yang melekat di tubuh Hera.
Jo mulai melakukan tugasnya sebagai suami. Hera mulai menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh suaminya. Jo memberi hentakan-hentakan kuat pada Hera.
Jo menarik napas panjang saat sudah mencapai puncak. Napas Jo masih belum beraturan. Dia masih belum melepas s*njata miliknya. Jo memulai lagi memberi sentuhan-sentuhan pada Hera.
Hera mulai kembali bergelora. Jo memulai lagi aksinya. Suara-suara indah mengema di seluruh ruangan kamar. Keringat sudah bercucuran membasahi keduanya. Jo tumbang di sisi Hera setelah puas.
Hera langsung saja bangkit dan berlari ke kamar mandi. Dia segera membasuh bagian sens*tifnya. Hera tidak mau hamil anak dari Jo.
Hera keluar dari kamar mandi lalu segera mengambil obat di dalam tasnya. Dia mengambil obat pencegah kehamilan. Hera memang sudah ada persiapan. Hera lalu segera meminum obat itu.
Jo hanya tersenyum melihatnya. Dia tahu kalau itu adalah obat pencegah kehamilan. Jo tidak ada niat sedikit pun untuk menghalangi Hera.
Pada hal jelas-jelas Jo sendiri yang menginginkan anak dari Hera. Jo ingin memberikan seorang cucu pada Tuan Wijaya. Tetapi saat melihat Hera meminum obat itu, dia tidak melarangnya.
"Apa itu obat pencegah kehamilan?" Jo pura-pura tidak tahu obat yang di minum oleh Hera.
Hera mengangguk lalu tersenyum. "Iya ... kamu tidak akan bisa membuatku hamil."
Jo hanya tersenyum. "Lakukan apa pun agar kamu tidak bisa hamil."
Jo bangkit turun dari atas kasur lalu menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi dia hanya terkekeh geli. "Dasar bodoh kamu Hera. Dengan kamu menghindari hamil, maka secepatnya kita akan berpisah."
Hera terlihat heran akan ucapan Jo. Suaminya itu menginginkan anak tetapi tidak mencegahnya meminum obat. Hera masih berpikir terus. Dia lalu mengecek obat yang dia minum.
Hera membolak-balikan obat itu lalu menciumnya baunya. "Obatnya tidak ada yang aneh. Tidak mungkin Jo menganti obat ini."
Hera mengepal geram. "S*al ... kamu sengaja membuatku tidak bisa memilih. Lihat saja Jonathan, aku tidak akan pernah kalah darimu."
Hera sudah mengetahui niat sebenarnya dari Jo suaminya.
Bersambung
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.