Terpaksa Menikahi Mantanku

Terpaksa Menikahi Mantanku
Bab 75 S2


__ADS_3

Hera keluar kamar mandi setelah membersihkan diri. Jo berbaring di atas kasur dengan mata terpejam. Jo puas setelah mendapat pelepasan dari bibir Hera.


"Puas kamu," pekik Hera.


Jo membuka matanya lalu tersenyum sinis. "Tentu saja ... bibirmu itu, selain berbisa tapi juga bisa memuaskanku."


Hera berkilat marah. "Pergi!"


Hera mengambil baju Jo dan melemparnya ke wajah Jo. "Pergi ... kamu sudah puas, kan?"


Jo terkekeh lalu mendekati Hera. Dia meraih pinggang Hera agar mendekat padanya. Jo membelai wajah serta bibir mungil milik Hera. Dia lalu mengecup bibir mungil itu.


"Aku akan tidur bersamamu. Malam ini aku ingin terus di puaskan," kata Jo.


Plaakkk ... !


Hera menampar pipi Jo. "Bren**k ... aku bilang pergi."


Jo mencium tangan Hera yang menamparnya. "Kamu ternyata kucing kecil yang nakal."


Jo mengendong tubuh Hera dan membawanya ke atas tempat tidur. Jo membungkam bibir Hera yang terus ingin mendumel. Dia mencium bibir Hera dengan rakus.


Dering ponsel Jo berbunyi. Jo tidak menghiraukan ponselnya yang terus berdering itu. Ponsel itu tidak berhenti untuk berbunyi. Jo berdecak kesal karena kegiatannya di ganggu.


Jo terkesiap saat mendapat video panggilan dari Jessica. Dia langsung saja bangkit dan turun dari ranjang. Jo memakai baju kembali dan merapikan dirinya.


Jo keluar dari kamar Hera menuju ruang tamu. Di sana dia menerima panggilan video. Hera bangkit dari tempat tidur. Dia mendengar percakapan Jo dan kekasihnya.


"Jo ... aku balas kamu," gumam Hera.


Hera lalu memakai kembali handuk yang dia gunakan. Dia lalu berjalan menuju ruang tamu. Hera sengaja berjalan pelan di belakang Jo dengan memakai handuk saja.


Hera bahkan meraba pundak Jo. Dia lalu berbisik di telinga tunangannya itu. "Sayang ... ayo!"


Jo kaget akan perlakuan Hera. Sedang Jessica sudah gusar saat melihat tangan dan wajah Hera yang berbisik di telinga Jo.


"Jo ... kamu selingkuh?" pekik Jessica.


Jo gelagapan. "Sayang ... tidak, aku tidak selingkuh."


Jessica langsung saja mematikan sambungan video call itu. Jo mencoba menelepon Jessica kembali tapi sia-sia. Jessica tidak mau mengangkatnya. Jo mengacak-acak rambutnya frustrasi.


Hera terkekeh melihat Jo kelimpungan. Dia langsung saja masuk ke dalam kamar. Hera juga mengunci pintu kamarnya. Jo berkilat marah pada Hera. Ini semua karena Hera yang mengacau. Jo lalu menyusul Hera ke kamar.

__ADS_1


Jo membuka handle pintu. Sayangnya Hera sudah menguncinya. Jo lalu mengetuk-ngetuk pintu kamar Hera.


"Hera ... cepat buka pintunya," pekik Jo.


Teriakan Jo sama sekali tidak di gubris Hera. Jo sudah gusar, kali ini Hera sudah membuatnya marah. Jo menendang pintu kamar seraya berteriak memanggil nama Hera.


Suara bising dari Jo tiba-tiba hilang. Hera mendekatkan telinganya di dekat pintu. "Koq sepi, apa Jo sudah pulang."


Dering ponsel Hera berbunyi. Dia lalu mengambilnya dari tas yang terlempar ke lantai. Hera mendelik saat mendapat pesan dari Jo.


~ Buka pintunya atau video kamu aku sebarkan, Jo.


Hera mengengam erat ponselnya. Dia geram karena Jo tahu kelemahan dirinya. Hera lalu membuka pintu kamar. Jo tersenyum smirk pada Hera.


"Berani sekali kamu bermain-main denganku. Karena kamu, Jessica salah paham padaku," hardik Jo.


Hera menatap tajam Jo. "Apa aku salah, kamu tunanganku sekarang."


Jo semakin gusar dan berbicara dengan nada tinggi. "Hera ... kalau sampai aku dan Jessica berpisah, kamu akan tahu akibatnya."


Hera berdecih. "Cih ... aku tidak peduli."


"Hera," pekik Jo.


Jo mendorong tubuh Hera ke atas ranjang kasur. Hera berusaha melawan Jo. "Lepas ... lebih baik kamu urus pacarmu itu."


Hera berteriak. "Akhhh ... sakit, perutku sakit."


Jo bangkit dari tubuh Hera. Dia bingung karena Hera tiba-tiba kesakitan. "Hera ... kamu kenapa?"


Hera meneteskan air matanya. "Jo ... sakit, perutku sakit. Tolong aku, ini sakit sekali."


Jo panik, tidak tahu harus melakukan apa. "Ayo ... kita ke Dokter saja."


Hera mengeleng. "Aku juga Dokter."


"Aku harus apa, sekarang," kata Jo panik.


Hera meringkuk karena perutnya terasa sakit. Jo lalu mencari kotak obat. Dia lalu mengambil minyak kayu putih. Jo mengoleskan minyak itu ke perut Hera.


"Apa ... rasa sakitnya sudah berkurang?" tanya Jo.


Hera mengangguk. "Hem ... sedikit. Biarkan aku istirahat."

__ADS_1


"Ayo ... kita istirahat," kata Jo.


Jo lalu membawa Hera ke dalam pelukanya. Mereka lalu tertidur bersama di satu selimut. Hera membuka matanya saat Jo sudah tidur. Dia lalu melambai-lambaikan tanganya untuk memastikan Jo benar-benar tidur.


Hera terkekeh karena berhasil mengerjai Jo. "Rasain ... aku kerjain kamu. Hampir saja tadi, Jo benar-benar bahaya."


*****


Jo mengeliat bangun dari tidurnya. Dia melihat di samping ada Hera yang masih tertidur. Jo bangkit dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi.


Jo keluar dari kamar mandi. Hari ini dia harus segera berangkat ke Inggris. Jo tidak ingin Jessica menjadi salah paham padanya. Dia harus berkata yang sebenarnya pada Jessica.


Jo memperhatikan wajah Hera yang tertidur pulas itu. Dia lalu membuka laci dan mengambil spidol. Jo mencoret wajah Hera dengan spidol hitam. Selepas itu, dia memotret Hera.


Jo terkekeh dengan hasil karyanya. "Kamu nikmati saja, kejutan yang aku berikan."


Jo membangunkan Hera. "Hera ... bangun!"


Hera mengeliat lalu mengucek matanya. Jo berusaha untuk menahan tawanya. "Aku mau pulang."


"Pulang saja, tidak ada yang menyuruhmu untuk tinggal di sini," ucap Hera ketus.


Jo mencium bibir Hera. "Masih saja mulutmu itu pedas."


"Aku akan ke luar negeri. Kalau sampai aku dan Jessica pisah, kamu tahu sendiri akibatnya," tutur Jo.


Jo mengeluarkan kartu di dompetnya. "Ambil ... kartu ini untuk bayaran semalam."


Jo pergi meninggalkan Hera. Sedang Hera melempar kartu yang di berikan Jo. Jo memperlakukan dia seperti wanita penghibur.


Jo melajukan mobilnya menuju mansion. Dia harus bersiap-siap untuk berangkat menemui Jessica. Sesampainya di mansion, Jo langsung saja menuju kamarnya.


Jo akan mengunakan Jet pribadi miliknya. Mama Rita terlihat bertanya-tanya saat Jo turun dengan terburu-buru. "Jo ... kamu mau kemana?"


Jo gugup untuk bicara. "Ma ... Jo ingin menemui Jessica.


"Apa?" mama Rita kaget mendengarnya. "Kamu ingin mengakhiri hubungan kalian?"


Jo mengangguk. "Iya ... Jo sudah tunangan. Tidak baik menjalin hubungan dengan dua wanita."


Mama Rita bernapas lega. Tetapi ada sedikit kesedihan di hatinya. Mama Rita tidak dapat membayangkan, betapa sakit nantinya hati Jessica. Jo sengaja mengatakan ingin mengakhiri hubungannya. Jo berbohong pada mamanya.


Jo pergi hanya untuk meluruskan masalah antara dia dan Jessica. Dia tidak ingin sampai Jessica pergi meninggalkan dirinya.

__ADS_1


Tbc


Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.


__ADS_2