
Hera tengah sibuk membuat sarapan untuk suaminya. Kali ini dia akan membuat Jo takluk dengan masakannya. Ada yang menyebut. Taklukan hati seseorang lewat perutnya. Maka dari itu Hera membuatkan makanan enak untuk Jo.
Hera juga sudah mengetahui makanan apa saja yang di sukai oleh Jo. Kakak iparnya sudah memberitahu semua kebiasaan tentang Jo. Suaminya itu ternyata anak manja. Meski bersikap dingin di luar, aslinya Jo sangat manja pada mamanya dan kakaknya.
Semua masakan sudah di tata dengan rapi. Tinggal saatnya membangunkan Jo dari tidurnya. Hera lalu menuju kamar untuk segera membangunkan suaminya itu.
Hera duduk di tepi ranjang samping Jo. Dia memperhatikan secara seksama wajah tampan suaminya. Hera membelai wajah Jo. Tangannya menyusuri setiap bentuk wajah yang masih tertidur.
Hera mengecup setiap jengkal dari wajah itu. Jo mengeliat karena ada yang telah menganggu tidurnya. Jo perlahan membuka mata. Hal pertama yang dia lihat adalah istrinya tengah asik mencium dirinya.
"Ayo bangun sayang," kata Hera.
Hera mengecup kening Jo dan mengelus puncak kepalanya. Hal itu sama yang di lakukan oleh mama Rita ketika membangunkan Jo di pagi hari.
Hera menarik pelan tangan Jo agar bangkit dari tidurnya. Dia membawa Jo masuk ke dalam kamar mandi. Hera memandikan bayi besarnya. Setelah itu memakaikannya baju dan menyisir rambut Jo.
"Suamiku sudah tampan dan wangi sekarang," ucap Hera.
Hera lalu mengajak Jo untuk sarapan bersama. Jo duduk di kursi yang sudah di tarik oleh Hera.
"Kamu semua yang memasak makanan ini?" tanya Jo.
"Tentu saja ... istrimu ini pandai dalam segala hal," ucap Hera.
Hera mengambilkan makanan untuk Jo. Dia mengambil sendok lalu memberi suapan untuk Jo.
"Aku bisa makan sendiri. Aku bukan anak kecil," ujar Jo.
Hera tersenyum, tetapi dia tetap ingin menyuapi Jo makan. Menurut info dari Berli. Suaminya itu akan bersikap kalau dia bukan anak kecil. Pada hal dia sangat suka di suapi oleh mamanya. Jo hanya bersikap pura-pura tidak mau.
"Ayo buka mulutmu," titah Hera.
Meski kesal akhirnya Jo membuka bibirnya. Dia menerima setiap suapan yang Hera berikan. Hingga makanan dalam piring itu habis tidak tersisa.
"Sudah ... aku kenyang. Sekarang giliran kamu lagi makan," kata Jo.
Jo mengambil makanan untuk Hera lalu menyuapinya. Dengan senang hati Hera menerima setiap suapan yang di berikan oleh suaminya.
"Sudah ... aku sudah cukup kenyang," ucap Hera.
"Sedikit sekali makanya. Kamu harus banyak makan. Biar kamu tambah kuat melayaniku," tutur Jo.
Hera memasang wajah semanis mungkin. Dia bangkit dari kursinya lalu berpindah duduk di pangkuan Jo. Hera mengalungkan kedua tanganya di leher Jo.
__ADS_1
"Apa kemarin, aku belum kuat melayanimu?"
Jo melingkarkan tanganya di pinggang Hera. "Kemarin kamu sangat hebat. Aku sangat suka dan puas."
"Benarkah ... apa kamu tidak mau memberiku hadiah?"
"Hadiah ... kamu menginginkan apa dariku?" tanya Jo.
"Aku hanya mau menjadi milikmu seutuhnya," ucap Hera.
Kening Jo berkerut. "Kamu sudah menjadi milikku sekarang. Apa lagi yang kamu inginkan?"
"Hatimu ... aku hanya ingin hatimu. Aku ingin kamu mencintai diriku seorang," tutur Hera.
Jo mendelik mendengarnya. Dia lalu menurunkan Hera dari pangkuannya. Jo lalu beranjak dari duduknya. Jo menatap tajam Hera. Dia tahu maksud semua yang di lakukan oleh istrinya itu.
Sikap Hera yang tiba-tiba manis hanya untuk mengambil hatinya. Jo tidak akan membiarkan itu terjadi. Jo sudah bertekad untuk berpisah dari Hera setelah mereka memiliki anak. Jo ingin kembali lagi pada Jessica kekasihnya.
"Jangan mimpi aku bisa memberi hatiku. Aku sudah memberi hatiku kepada Jessica. Cintaku hanya untuknya," tutur Jo.
Hera malah tersenyum. "Aku akan memberimu sebuah penawaran."
"Apa?" tanya Jo.
Jo sedikit kaget mendengarnya. Bagaimana mungkin Hera mengijinkan dirinya untuk memiliki hubungan kembali pada Jessica. Tetapi mendengar penuturan Hera, dia sedikit tertarik.
"Kamu serius?" tanya Jo.
Hera mengangguk. "Serius ... aku juga tidak ingin menjauhkan pasangan yang saling mencintai. Temui lah Jessica, raih cintamu."
"Baiklah kalau kamu sudah mengijinkan. Aku akan mengajak Jessica untuk pindah kesini," ucap Jo.
"Terserah kamu saja. Asal kamu tidak boleh mencampuri urusan pribadiku."
"Oke ... aku tidak akan pernah mencampuri urusan pribadimu," kata Jo.
Hera kembali ke kamar setelah mengatakan hal itu pada Jo. Sedang Jo menelepon seseorang untuk melaksanakan niatnya membawa Jessica pindah ke kotanya.
Jo akan membuat pekerjaan Jessica menjadi di sini bukan lagi di Inggris. Dia akan mengatur segalanya agar Jessica bisa dia dapatkan kembali.
...****************...
Jessica kaget saat di beritahu kalau dirinya akan menjalani pemotretan di negara mantan kekasihnya. Dia sudah terlanjur menandatangani kontrak kerja. Kalau dia menolak maka Jessica harus membayar ganti rugi yang cukup fantastis.
__ADS_1
Dalam waktu dekat Jessica harus berangkat ke sana. Semua fasilitas sudah di siapkan. Jessica hanya tinggal membawa dirinya untuk berangkat ke sana.
"Kota tempat Jo itu luas, bukan. Mudahan saja tidak bertemu Jo lagi," lirih Jessica.
Jessica tidak tahu kalau sebenarnya mantan kekasihnya itu yang telah mengatur kepindahanya. Jo sudah menyiapkan segalanya untuk Jessica.
Setelah Jessica sampai maka Jo akan menjelaskan semuanya. Jo juga akan membawa Jessica bertemu Hera. Biar istrinya sendiri yang akan mengatakan, kalau dirinya mengijinkan Jo berhubungan kembali pada mantanya.
Jo tengah mengusap kedua tanganya. Dia gelisah akan bertemu kembali dengan Jessi. Saat ini Jo tengah berada di kantornya. Seseorang menelepon mengatakan kalau Jessi telah berangkat menuju Tanah air.
Jo begitu senang mendengarnya. Akhirnya wanita yang dia cintai, akan segera datang.
"Jessica ... sebentar lagi kita akan bersama," lirih Jo.
Jo mengambil kunci mobilnya. Jam sudah menunjukan pukul 5 sore. Waktunya semua orang pulang dari kantor. Jo segera berlalu dari kantornya menuju kediaman pribadinya.
Hera telah selesai dengan pekerjaannya. Hari ini membuatnya sangat lelah. Dia lembur karena mengantikan temanya yang berhalangan tugas.
Sebagai anak dari pemilik rumah sakit, Hera tidak mau di istimewakan. Dia mau dirinya juga di anggap seperti Dokter yang lainya. Hera telah bersiap untuk segera pulang.
Hera keluar dari ruanganya dan tanpa sengaja berpapasan dengan Devan. "Dokter Devan," sapa Hera.
Devan tersenyum manis pada Hera. "Mau pulang juga?"
"I-iya Dok," jawab Hera.
Hera gugup, pasalnya Devan adalah idola dari para Dokter dan suster yang ada di rumah sakit tempat mereka bekerja. Hera juga termasuk ke dalam fans berat Devan.
Bagaimana tidak ngefans, Devan sosok pria berkharisma. Tampan, murah senyum dan juga punya tubuh yang proporsional. Wanita mana pun akan meleleh berada di dekatnya.
"Pulang bareng, yuk!" ajak Devan.
Hera terkesiap mendengarnya. "Hah ...."
"Kenapa kaget begitu?"
"T-tidak apa-apa, mari ... kita jalan bareng ke depan," kata Hera.
Jantungku hampir saja meledak. Idola tampanku, batin Hera.
Tbc
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.
__ADS_1