
Jo merasa lemas setelah di gelitik oleh Brian dan Vino. Hera juga sudah selesai dengan tugasnya. Hera membereskan barang-barang yang telah di bawanya.
"Aku sudah selesai menyuntiknya. Bagaimana selanjutnya," ujar Hera.
"Nanti... akan ada yang datang membawanya ke rumah sakit jiwa," ucap Jo.
"Obat apa yang kalian suntikan?" tanya Vino.
"Hanya obat halusinasi, Rania akan terus berkhayal dengan apa yang dia inginkan," ucap Jo.
"Dokter dan ibunya Rania, bagaimana?" tanya Brian.
"Aku sudah mengurusnya, kalian jangan khawatir," timpal Jo.
Jo, Hera, Vino dan Brian pergi meninggalkan apartemen Rania. Orang suruhan Jo sudah berada di dalam apartemen untuk membawa Rania ke rumah sakit jiwa. Vino dan Brian sudah berada di dalam satu mobil.
Mereka berpamitan lebih dahulu kepada Jo dan Hera. Jo melirik Hera yang berdiri di sampingnya. Jo masuk ke dalam mobilnya lalu menyalakan mobil. Mobil Jo berlalu dari hadapan Hera.
Jo tidak sedikit pun memberi tumpangan pada Hera. Hera berdecak akan sikap dingin Jo. Apa masih begitu benci Jo pada dirinya. Setidaknya Jo bisa berbasa-basi padanya. Hera segera memanggil taksi untuk mengantar dirinya pulang.
*****
Alex dan Berli telah sampai di apartemen milik mereka. Alex duduk di sofa dengan kepala tertunduk. Alex menyesali semuanya yang telah terjadi. Alex merasa ini adalah hukuman yang pantas untuknya.
Berli datang dengan membawa segelas air untuk Alex. "Minumlah, Al!"
Alex mengambil gelas dari tangan Berli lalu meminum air itu hingga tandas. Alex meraih tangan Berli lalu menciumnya. Alex beranjak dari sofa lalu berlutut di kaki Berli.
Berli sangat kaget tiba-tiba Alex berlutut di hadapannya. "Al... jangan seperti ini!"
Alex memegang kaki Berli. "Tasia... maafkan aku. Aku sudah bersalah kepadamu."
Berli mengangkat bahu Alex agar berdiri. "Sudahlah... aku sudah memaafkan kamu. Aku menerima kamu apa adanya. Jangan ulangi lagi kesalahan yang telah kamu buat."
Alex mengangguk. "Terima kasih... sayang. Aku janji akan terus setia sama kamu."
Alex memeluk tubuh Berli. Berli mengelus punggung belakang Alex agar merasa nyaman. Mereka saling menatap lalu tersenyum. Alex mendaratkan bibirnya ke bibir Berli.
Mereka saling berciuman, ciuman itu dalam dan semakin dalam. Berli memukul dada Alex karena sudah tidak bisa bernapas. Alex melepas ciumanya lalu menghirup oksigen kembali.
__ADS_1
Alex kembali mencium bibir Berli. Alex mulai ingin menggiring istrinya ke sofa. Berli menghentikan aksi Alex. Berli memundurkan tubuhnya agar menjauh dari Alex.
Alex heran. "Kenapa... sayang?"
Berli mengelus perutnya. "Nanti malam saja, aku lapar."
Alex melongo, hanya karena lapar Berli menghentikan aksinya. Alex sudah terbawa gairah. Alex harus menunggu lagi sampai nanti malam.
Berli mengajak Alex ke ruang makan. "Kamu tunggu sebentar. Aku akan memasak nasi goreng untuk kita."
Alex mengangguk lagian perutnya juga sudah lapar. "Oke!"
Berli memasang celemek di badannya. Berli mulai mengeluarkan bahan-bahan di kulkas. Berli mulai memasak dengan lihainya. Alex menatap kagum istrinya. Impian Alex untuk hidup bersama Berli terwujud.
Berli membawa dua piring nasi goreng ke meja makan. "Ini untukmu sayang. Ayo di makan."
Alex tersenyum. "Makasih sayang."
Alex dan Berli makan dengan lahap. Mereka juga saling suap-suapan. Alex tertawa saat dia menjahili Berli. Alex sengaja memainkan sendok saat ingin menyuapkan Berli makanan.
Hal kecil ini mengingatkan Alex dan Berli akan masa pacaran mereka. Hal inilah yang Alex sukai dari Berli. Pacaran ala remaja istilah Alex menyebutnya.
*****
Alex menelan ludahnya, inilah yang dirinya tunggu. Alex tidak berkedip sekali pun melihat pemandangan elok di depannya. Alex mulai mendekat pada Berli. Alex menatap istrinya dari atas sampai bawah.
Berli menjadi sangat malu di perhatikan oleh Alex. Wajah Berli sudah merah merona. Alex semakin gemas melihat raut wajah istrinya. Alex meraih pinggang Berli agar mendekat padanya.
Alex berbisik di telinga Berli. "Kamu sudah siap sayang?"
Berli mengangguk. "Sudah."
Alex mencengkram pinggang Berli. "Malam ini kamu milikku!"
Alex mencium bibir istrinya. Alex menggiring Berli ke atas ranjang tempat tidur. Alex melepas satu persatu pakaiannya. Terpampang jelas perut berotot milik Alex.
Berli sangat malu saat melihat tubuh polos Alex. Berli memang sering melihat Alex bertelanjang dada. Tetapi ini berbeda, Alex polos tanpa sehelai kain pun. Alex melepas kain tipis yang melekat di tubuh Berli dengan satu tarikan saja.
Kini mereka berdua sama-sama polos. Alex mulai melakukan tugasnya sebagai seorang suami. Berli menahan nyeri saat Alex mulai menghujamnya.
__ADS_1
"Akhhhh... Sa-sakit," ucap Berli.
Alex kaget saat mengetahui istrinya masih virgin. Alex mengira istrinya sudah tidur dengan Maxim. "Tasia... kamu masih virgin?"
Berli mengangguk. "Iya."
"Kamu tidak tidur dengan Maxim?" tanya Alex.
Berli mengeleng seraya meringis. "Tidak... aku berbohong padamu. Pelan-pelan Al, ini sakit."
Alex melakukannya dengan penuh kelembutan. Alex membuat istrinya itu hanya sedikit merasakan sakit. Alex akan membuat milik Berli terbiasa akan miliknya. Alex tersenyum mendengar suara sexy istrinya.
Alex menjeda kegiatannya setelah mendapat pelepasan pertama. Alex membiarkan istrinya itu sejenak beristirahat. Setelah beberapa saat, Alex memulai kembali kegiatan panasnya.
Malam ini Alex benar-benar tidak membiarkan istrinya untuk beristirahat. Alex hanya memberi waktu lima belas menit untuk menjeda kegiatannya. Lalu Alex akan mengulang kembali aksinya.
Sepanjang malam Alex dan Berli melakukan kegiatan panasnya. Keringat sudah bercucuran di tubuh keduanya. Alex terengah-engah mengatur napasnya.
Alex tumbang di samping istrinya karena kelelahan. Entah berapa ronde Alex melakukannya. Mereka melakukannya hingga waktu jam tiga pagi. Berli juga sudah tidak bertenaga lagi.
Tubuhnya sudah remuk di hajar Alex habis-habisan. Ingin bergerak saja Berli sudah tidak kuat. Alex mendaratkan kecupan di kening Berli. Ciuman itu begitu lama lalu memeluk tubuh Berli posesif.
"Terima kasih sayang. Aku mencintaimu," ucap Alex.
"Aku juga mencintai kamu, Alex," ucap Berli.
Alex menatap wajah istrinya. "Sekali lagi maafkan aku sayang."
Berli mendaratkan ciuman di pipi Alex. "Jangan di bahas lagi, aku juga minta maaf telah meninggalkan kamu."
Alex mengeleng. "Tidak... aku yang salah bukannya kamu. Kali ini aku gak akan pernah melepasmu."
Berli tersenyum lalu membenamkan wajahnya di dada bidang Alex. Alex merasakan kembali bergairah dalam tubuhnya. Sepertinya sentuhan Berli membuat adiknya hidup. Alex berbisik di telinga istrinya.
"Sayang... aku ingin lagi," ujar Alex.
Berli melotot, Alex ingin melakukannya lagi. Apa Alex tidak lelah, sudah Berkali-kali tapi masih kurang. Berli hanya pasrah dan menerima saja apa yang di lakukan Alex. Berli sudah tidak kuat lagi. Berli tertidur dan membiarkan Alex yang terus menghujam dirinya.
Tbc
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.