Terpaksa Menikahi Mantanku

Terpaksa Menikahi Mantanku
Bab 54


__ADS_3

Setelah berlibur beberapa hari dengan di warnai dengan drama. Akhirnya Alex dan Berli pulang. Saat ini Alex dan Berli telah berada di dalam Jet pribadi mereka. Berli menyandarkan kepalanya di bahu Alex.


Alex sesekali mengecup kening istrinya. Rasanya sudah lama Alex tidak merasakan kebahagian seperti ini. Alex sungguh sangat menyesal atas kesalahannya. Hanya karena napsunya saja dia tega berselingkuh bersama Rania.


Alex sudah bertekad akan mengakhiri hubungannya bersama Rania. Setelah mereka sampai di rumah, Alex akan segera menghubungi Rania. Alex sudah yakin jika hati dan cintanya hanya untuk Berli saja.


Perasaan pada Rania itu hanya rasa terima kasih dan kasihan. Saat pertama kali Alex melihat Rania terlilit hutang. Alex merasa kasihan dan menolongnya. Karena Berli tidak ingin berhubungan intim sebelum menikah, jadilah Rania yang menjadi penggantinya.


Alex akui dirinya sangat egois. Setelah kepergian Berli barulah Alex menyadari, betapa berharganya kekasihnya itu. Kesempatan kali ini tidak akan Alex sia-sia kan. Alex akan melakukan apa pun untuk menebus semua kesalahan yang telah dia lakukan.


Jet sudah mendarat sempurna di bandara khusus. Alex dan Berli turun dengan bergandeng tangan. Di depan sudah ada supir yang menjemput mereka. Alex dan Berli segera masuk ke dalam mobil untuk segera pulang ke apartemen.


Sesampainya di apartemen Alex langsung memeluk Berli. Berli terlihat heran dengan sikap Alex. "Kenapa... baru saja sampai sudah main peluk?"


Alex terus saja memeluk Berli lalu mendaratkan ciuman sekilas di bibir istrinya. "Aku masih kangen dan ingin terus di dekatmu!"


Berli geleng-geleng kepala, sikap manja Alex keluar lagi. "Hei... aku disini, selalu bersamamu."


"Kamu tunggu disini, aku ingin keluar," ucap Alex.


"Kemana?" tanya Berli.


Alex mengecup kening Berli. "Ada urusan sebentar, tunggu aku makan malam."


"Oke," ucap Berli.


Alex pergi meninggalkan Berli di apartemen. Berli mengambil ponselnya di dalam tas, lalu menelpon seseorang.


" Halo... kamu awasi Alex," ujar Berli.


Berli memutuskan sambungan telepon setelah mendengar kata oke dari mata-mata.


Biarlah orang menganggap jika Berli posesif terhadap Alex. Berli tidak ingin kejadian tempo dulu terulang kembali.

__ADS_1


Berli mengakui dulu dirinya terlalu cuek dengan perilaku Alex. Dulu dirinya terlalu percaya jika Alex memang sudah berubah. Dulu sangat berbeda dari sekarang. Dulu mereka hanya berstatus pacaran saja tetapi sekarang sudah menjadi pasangan suami istri.


Mobil Alex sudah berada di gedung apartemen Rania. Alex naik ke lantai lima kamar Rania. Alex menekan tombol password dan langsung masuk saat pintu terbuka. Rania sangat senang Alex berkunjung ke flatnya.


"Baby... kamu datang," kata Rania.


Rania langsung saja memeluk Alex tapi Alex menghindar. Alex duduk di sofa ruang tamu dan Rania duduk di sampingnya. Alex menarik napas agar perasaannya tenang dan siap untuk bicara pada Rania.


Alex menatap wajah Rania. "Rania... aku ingin kita mengakhiri hubungan ini."


Duar... !


Bak di sambar petir, betapa kagetnya Rania mendengar ucapan Alex. Alex mengakhiri hubungannya secara sepihak. Rania tidak bisa menerima ini. Selama ini dirinya yang selalu ada untuk Alex. Rania yang telah menyembuhkan luka hati Alex karena Berli.


Rania menggeleng. "Aku tidak salah dengar, kan?"


Alex menghela. "Hah... maaf Rania, aku sudah menyadari jika aku hanya mencintai Tasia. Selama ini aku hanya mencintai dirinya."


"Tapi aku yang sudah menyakiti Tasia, karena itu dia sampai pergi," tutur Alex.


Rania beranjak berdiri dari duduknya. Rania menunjuk wajah Alex. "Kamu lupa... jika Berli bermalam bersama Maxim. Wanita apa, yang sudah bersuami tapi tidur dengan pria lain."


"Tutup mulutmu!" bentak Alex.


"Aku juga sudah tidur dengan wanita lain. Jadi wajar saja jika Tasia membalasku," ucap Alex.


Rania terkekeh. "Kamu itu jangan terlalu bodoh. Kamu tidur bersama wanita lain saat kamu masih lajang. Tapi Berli, dia tidur bersama pria lain saat sudah menikah denganmu."


Alex terlihat emosi, matanya sudah berkilat marah. Rania menyeringai Alex sudah terlihat marah. Rania meninggalkan Alex lalu masuk ke dalam kamar. Rania mengambil botol obat lalu mengeluarkan satu butir pil.


Rania keluar kamar lalu mengambil air minum di dapur. Rania menghampiri Alex. Rania memberikan Alex obat yang di bawanya. "Baby... sudahlah, sekarang minum obat ini agar kamu tenang."


Alex melihat melihat obat yang ada di tangan Rania. "Aku tidak mau, obat apa itu?"

__ADS_1


Alex menepis tangan Rania. "Setiap aku marah, kamu selalu memberikannya padaku."


Rania mendesah. "Ini... obat supaya kamu merasa tenang."


Rania mengambil tangan Alex lalu meletakan obat itu di tangannya. Alex mengambil obat itu lalu memasukan obat itu ke dalam mulutnya. Rania memberikan air minum kepada Alex. Rania menyeringai saat Alex akan meminum obat itu.


Saat Alex ingin minum supaya obat itu tertelan. Pintu apartemen terbuka, Alex dan Rania kaget. Alex mengeluarkan kembali obat di dalam mulutnya. Alex meletakan gelas yang di pegangnya di atas meja.


"Tasia... kamu disini," ucap Alex.


Berli datang bersama Jo, Hera, Brian dan Vino. Berli mengambil obat dari tangan Alex. Berli melihat obat itu dan merasa geram. Berli menatap tajam ke arah Rania. Berli menghampiri Rania yang berdiri di belakang Alex.


Plaakkk... plaakk... !


Dua tamparan mendarat di pipi kiri dan kanan Rania. Rania mengelus pipinya yang terkena tamparan dari Berli. Alex kaget Berli tiba-tiba datang menampar Rania. Alex bingung ada apa yang terjadi sebenarnya.


"Dasar ja**ng, berani sekali berbuat seperti ini pada Alex!" bentak Berli.


Rania terbata-bata. "Ap-apa maksud kamu?"


Berli berkilat marah, Rania benar-benar berpura-pura tidak tahu. "Jangan berlagak bodoh kamu. Kamu sengaja membuat Alex menjadi bodoh dengan obat ini, kan?"


Alex terkejut mendengar ucapan Berli. "Tasia... apa maksud ini semua?"


"Alex... kamu sudah di bodohi Rania selama ini. Kamu meminum obat agar kamu menjadi bodoh. Itu obat untuk pasein rumah sakit jiwa," tutur Brian.


Betapa kagetnya Alex jika dirinya meminum obat untuk pasein rumah sakit jiwa. Apa Rania ingin membuatnya menjadi gila. Alex memang meminum obat anti depresi. Tetapi itu atas anjuran Psikiater. Alex sudah berhenti meminumnya, saat sahabatnya melarangnya meminum obat itu. Rania lalu memberikan obat pengganti untuk Alex.


Rania memberikan obat itu saat Alex mulai membahas masa lalunya. Rania juga memberikan obat itu jika Alex marah. Jika Alex meminum obat itu maka amarahnya akan hilang. Alex akan merasa tenang dan merasa lupa hal yang dia pikirkan.


Tbc


Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.

__ADS_1


__ADS_2