
Selesai acara makan malam keluarga, Tuan David berserta istri dan anaknya pamit pulang. Tiga hari lagi acara pertunangan akan segera di selenggarakan.
Tuan Wijaya tampak sangat bahagia. Terlihat dari wajahnya yang menyunggingkan senyum. Tetapi berbeda dari istrinya yang kelihatan sangat gelisah.
Jo sangat berbeda dengan Berli. Dulu Berli setuju menikah karena memang belum memiliki kekasih. Sekarang Jo sudah menjalin kekasih pada seseorang. Mama Rita tidak dapat membayangkan betapa sakit hati Jessica nantinya.
Selesai makan malam, Jo hendak pergi menemui Brian di club malam. Jo masuk ke dalam mobilnya dan berlalu dari mansion.
Sekitar 30 menit, Jo telah sampai di club. Dia mulai menaiki tangga menuju ruangan khusus di mana Brian berada. Seperti biasa Brian selalu menghabiskan waktunya di club.
Jo langsung saja masuk ke dalam kamar khusus itu. Ternyata di sana ada juga Maxim. Pria muda dan tampan tengah menemani Brian minum.
"Brian, Maxim," sapa Jo.
"Jo ... kemarilah kita minum bersama," ajak Brian.
Jo duduk di sebelah Maxim. Brian menuangkan minuman beralkohol itu ke dalam gelas Jo dan Max. Mereka lalu minum bersama.
"Jadi ... apa masalahmu?" tanya Max.
Jo menyandarkan kepalanya di atas bahu sofa. "Mau gimana lagi, aku harus menuruti keinginan mereka. Berli juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya."
Brian menepuk pundak Jo. "Sabar ... nanti juga kamu bakalan cinta sama calon istrimu."
Brian dan Max tertawa bersama. Jo kesal pada temannya itu. Bukan memberi solusi malah mengejeknya.
Jo berdecih. "Cih ... gak bakalan aku cinta sama dia. Wanita itu aku sangat membencinya."
"Cinta dan benci itu beda tipis Jo," ujar Max.
Sekali lagi Brian dan Max tertawa. Jo semakin kesal mendengarnya. "Aku kesini karena mau curhat. Kalian malah menertawaiku."
"Lebih baik kita bersenang-senang saja. Aku akan memanggil wanita untuk datang," ucap Brian.
"Tidakkkkk," pekik keduanya.
Brian berkerut. "Kenapa?"
"Kamu saja, aku masih suci," ucap Max.
"Aku lebih baik menemui Hera," ucap Jo.
Brian tertawa. "Hahaha ... aku hanya mengetes saja. Aku juga tidak mau bermain-main."
__ADS_1
"Sudahlah lebih baik kita minum-minum saja. Aku ingin melepas semua beban pikiranku," ucap Jo.
Brian dan Max mengangguk bersamaan. Mereka menghabiskan waktunya hanya mengobrol dengan di temani minuman beralkohol.
******
Hari pertunangan tinggal dua hari lagi. Saat ini Jo tengah berkutik dengan berkas-berkas kantor. Jo terlihat fokus pada layar laptop dan juga bolpoin di tanganya.
Dering suara telepon terdengar dari ponselnya. Jo melihat nama yang menelepon. Papanya ternyata menelepon dan segera Jo mengeser tombol hijau.
"Hallo ...." ~ Jo.
"Jo ... kamu ajak Hera untuk membeli cincin untuk pertunangan kamu lusa." ~Tuan Wijaya.
"Sekarang?" ~Jo.
"Tentu saja ... memangnya mau kapan?" ~Tuan Wijaya.
"Baiklah ...." ~Jo
Jo pasrah di suruh untuk membeli cincin. Papanya seperti wanita saja yang cerewet. Sedang mamanya saja tidak begitu antusias dengan pertunangannya.
Jo membereskan berkas-berkas yang berserakan di mejanya. Dia lalu memberitahu Lusy sekretarisnya bahwa dia akan pergi keluar. Jo masuk ke lift lalu menekan angka lantai dasar.
Mobil sampai di pelataran parkir rumah sakit. Jo keluar dari dalam mobil lalu masuk ke dalam. Dia langsung menuju ruangan di mana Hera berada.
Jo langsung saja masuk tanpa mengetuk pintu dahulu. Hera tengah memeriksa seorang pasein. Hera dan suster yang mendampinginya kaget saat Jo ada di dalam ruangan.
"Jam berapa kamu selesai?" tanya Jo.
Jo bertanya langsung tanpa basa-basi. Hera tampak tidak mengerti akan pertanyaan Jo. "Ada apa memangnya?"
"Kita harus membeli cincin pertunangan. Cepat selesaikan pekerjaanmu. Aku menunggumu di mobil," tutur Jo.
"Baik ... tinggal satu orang lagi saja," kata Hera.
Jo lalu keluar dari ruangan Hera. Pasein dan suster itu mulai menggoda. "Dokter mau tunangan?" tanya pasein.
Hera hanya tersenyum menanggapi. Dia mulai kembali pekerjaannya. Suster yang berdiri di samping menyenggol lengan Hera.
"Kenapa?" tanya Hera.
"Calon suaminya sangat tampan," kata Suster.
__ADS_1
Lagi-lagi Hera hanya tersenyum menanggapi godaan dari pasein dan susternya. Dia segera menyelesaikan tugasnya. Dia tidak mau Jo menunggu terlalu lama.
Wajahnya memang tampan, tetapi perilakunya sangat tidak sopan, batin Hera.
Hera sudah menyelesaikan tugasnya sebagai seorang Dokter. Dia lalu bersiap-siap untuk pergi menyusul Jo. Sedang Jo sangat gusar menunggu. Jo melirik jam di pergelangan tanganya. Hampir 45 menit dia menunggu Hera.
Hera mengetuk jendela kaca mobil Jo. Segera Jo menyuruhnya untuk segera masuk ke dalam mobil. Selepas Hera masuk, langsung saja Jo melesatkan mobilnya menuju mall.
Tidak ada pembicaraan di dalam mobil. Hera tidak mau mengajak Jo bicara. Melihat raut wajah Jo yang merah padam, sudah di pastikan Jo dalam keadaan marah.
Jo kesal karena menunggu Hera yang sangat lama keluar. Tapi ini bukan salah Hera. Jo sendiri kenapa tidak bilang dari awal kalau ingin membeli cincin.
Mobil telah sampai di dalam mall. Jo keluar dari mobil dan berjalan terlebih dahulu. Dia tidak mau berjalan beriringan dengan Hera. Hera hanya mengikuti langkah kaki kemana pun calon suaminya itu melangkah.
Jo masuk ke dalam sebuat toko perhiasan. Dia lalu melirik Hera yang berada di belakangnya. "Pilih cincin yang cocok untukmu. Terserah mau berapa pun harganya."
Jo duduk di sofa yang sudah di sediakan oleh toko itu. Hera memilih cincin untuk pertunangannya. Jo melihat-lihat Hera yang memilih cincin. Jo teringat kalau minggu ini dia akan pergi menemui Jessica untuk melamarnya.
Jo bangkit dari duduknya lalu ikut memilih cincin. Jo melihat cincin bermata ruby dengan berlian kecil di pinggiranya. Jo lalu menyuruh pelayan toko untuk mengambil cincin itu.
"Aku ingin cincin itu," kata Jo.
Jo menunjukan cincin bermata ruby itu. Pelayan segera mengambilkanya untuk Jo. "Tolong bungkus ini," kata Jo.
Pelayan itu mengangguk lalu membungkus cincin itu untuk Jo. Hera masih belum selesai memilih. Jo terlihat kesal karena Hera sangat lama memilih cincin.
"Cepatlah ... lamban sekali," kata Jo.
Hera terlihat bingung dalam memilih. Cincinnya begitu banyak dan semuanya sangat cantik. Akhirnya Hera memutuskan cincin yang sangat elegan menurutnya.
"Jo ... coba kamu pakai cincin ini. Apakah cocok di jarimu," kata Hera
Hera menyodorkan cincin yang dia pilih. Jo lalu mengambilnya dan memakai di jari manisnya. Cincin itu cocok di jari manis Jo.
"Ini cocok ... ambil saja," kata Jo.
Jo melepas cincin itu dari jarinya. Dia lalu menyerahkannya pada Hera. Hera segera meminta pelayan untuk membungkusnya. Selesai di bungkus Jo lalu membayar semua cincin itu. Hera terlihat heran karena ada dua paper bag yang di terimanya.
Jo mengambil paper bag yang berisi cincin untuk Jessica. "Ini cincin untuk kekasihku, Jessica."
Hera tersenyum getir mendengar penuturan Jo. Ternyata Jo memilih cincin untuk kekasih yang sangat dia cintai. Ada rasa sakit di dalam dadanya mendengar hal itu. Hera berusaha untuk tetap tersenyum di depan Jo.
Tbc
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.