Terpaksa Menikahi Mantanku

Terpaksa Menikahi Mantanku
Bab 39


__ADS_3

Semua sudut taman belakang mansion kediaman Tuan Wijaya telah di dekorasi dengan indah. Tempat pelaminan, kursi meja sudah di hias. Tak lupa lampu kerlap kerlip serta telah berjejer bunga mawar putih di sekitar sudut taman.


Besok acara sakral itu akan dilaksanakan. Semua persiapan sudah dilakukan dari undangan serta catering. Para keluarga hanya mengundang kerabat serta rekan bisnis saja. Sedangkan Alex dan Berli hanya mengundang para sahabat dekat saja.


Berli menatap taman yang sudah di dekorasi indah itu dari atas balkon kamarnya. Berli menghela napas panjang lalu mengembuskannya secara perlahan.


"Tinggal besok... statusku akan berubah," gumamnya.


Jo masuk ke dalam kamar sang kakak.


"Kak... kau di mana?" teriak Jo.


Jo membuka kamar mandi tapi disana tidak ada Berli. Matanya beralih ke arah pintu balkon yang terbuka. Jo berdecak ternyata Kakaknya disana tengah melamun. "Ck... ternyata dia disana."


Jo berjalan menghampiri Berli,menepuk pundak sang kakak agar tersadar dari lamunannya. "Kak... kenapa bengong disini?"


Berli tercekit kaget karna Jo menepuk pundaknya. "Kau ini mengkagetkan saja, kalau jantungku copot gimana?"


Berli terlihat kesal, di tengah lamunannya datang Jo yang menggangu.


Jo melihat raut wajah Berli yang terlihat kesal hanya menyengir saja. "Dari tadi di panggil, tapi tidak nyahut malah disini bengong!"


Berli mengalihkan pandangannya pada Jo. "Ada perlu apa?" ketus Berli.


Jo hanya tersenyum sepertinya kakaknya ini benar-benar marah. "Kau ini kenapa, besok kau akan menikah, calon pengantin harus selalu tersenyum."


Berli menatap jengah adiknya itu. "Besok aku akan menikah, tapi entahlah hatiku terasa ragu Jo!"


Kening Jo berkerut apa mungkin kakaknya ini akan membatalkan pernikahannya. "Apa maksudmu, jangan bilang jika kau akan membatalkan pernikahanmu sendiri."


Berli masuk kedalam kamar seraya mengambil air putih yang selalu tersedia di dalam kamarnya. Di teguknya air putih itu hingga tandas. Jo mengikuti kakaknya masuk dalam kamar.


Berli duduk dengan menyandarkan kepalanya di atas bahu sofa. "Aku tidak tahu Jo, aku hanya bimbang dengan pernikahan ini. Apa aku bisa bahagia bersama Alex?"


Jo mengerti akan hati kakaknya yang terlihat ragu. "Kak... jika kau ragu, kita bisa batalkan pernikahan ini. Sekarang juga aku akan bicara kepada papa dan mama."


Berli menggelengkan kepala. "Tidak Jo... aku tidak ingin membuat malu orang tua kita."

__ADS_1


Jo mendesah. "Hah... jadi apa mau kamu sekarang. Apa karna pria yang bersama denganmu itu?" tanya Jo.


Berli menghela napas, entahlah dia sendiri tidak tahu apa mau hatinya. "Entahlah Jo, aku sendiri juga tidak tahu apa mau hatiku."


Jo membawa kakaknya masuk kedalam pelukannya seraya mengelus punggung Berli agar merasa tenang. "Kau tenangkan dirimu, jika dalam pernikahanmu nanti kau tidak bahagia, kau bisa pergi. Aku dan orang tua kita pasti akan mendukungmu selalu. Kau jangan cemas dan takut, aku akan selalu menjagamu."


Berli mengeratkan pelukannya di dada bidang Jo. "Terima kasih Adikku... kau selalu ada untukku."


Jo melepas pelukan lalu menatap wajah Berli. "Sudah kau jangan ragu lagi. Lebih baik kau perawatan saja. Besok kan hari pernikahanmu. Apa kau ingin wajahmu kusam dan matamu ini hitam?"


Berli memukul pelan dada Jo seraya tersenyum. "Kau ini bisa saja!"


Jo tertawa kecil. "Nah, gitu dong senyum," ujarnya.


Mereka tertawa bersama, lalu Jo beranjak keluar dari kamar sedangkan Berli melakukan perawatan wajah.


*******


Alex sudah berada di apartemen mewah yang baru saja dibelinya. Apartemen ini akan menjadi tempat tinggal dirinya dan juga Berli nanti setelah menikah. Brian dan Vino datang membantu Alex mengisi perabotan apartemennya.


Brian melihat Alex sibuk mengisi lemari pakaiannya dengan baju-baju. Sedangkan Alex yang merasa di perhatikan itu segera menghentikan aktifitasnya. "Kau kenapa... sedari tadi memperhatikanku."


Alex menaikan satu alisnya. "Memangnya kenapa?"


"Yah seriuslah... gak mungkinkan, aku batalkan karna besok hari pernikahanku."


Brian mendesah ragu akan pertanyaanya. "Hah... maksudku, apakah kau yakin pernikahanmu bahagia secara kalian, kan-


Brian tidak bisa meneruskan kata-katanya.


Alex menghela napas lalu mendudukkan bokongnya di atas ranjang tidur. "Entahlah... aku juga tidak tahu."


Vino menepuk pundak Alex. "Alex...


apa kau akan tidur bareng Tasia?"


Kening Brian berkerut mendengar pertanyaan konyol Vino. "Tentu saja mereka akan tidur bersama setelah menjadi suami istri."

__ADS_1


Vino berdecak. "Ish... Brian, kau tahu sendiri bukan, masalah Alex dan Tasia. Apa mungkin Tasia akan menjalani perannya sebagai istri?"


Brian menggangukkan kepala membenarkan perkataan Vino. "Kau benar juga Vin!"


Alex yang mendengar perdebatan Brian dan Vino terlihat kesal sendiri. Kenapa mereka berdua ribut yang menikah bukankah dirinya lalu sahabatnya ini. "Hei... kalian, kenapa jadi ribut sih?"


Brian dan Vino hanya menyengir saja. "Hemmm... kami hanya penasaran saja kehidupanmu kelak," kilah Vino.


Alex mengerut kening heran. "Kenapa kalian yang repot?"


Brian dan juga Vino saling menatap. "Benar juga apa katamu, kenapa kami harus repot," gumam Brian.


Vino menjitak kepala Brian. "Ish... kau ini?"


Brian mengaduh sakit lalu mengelus depan kepalanya. "Awwww... Vino, kau kenapa memukul kepalaku?"


Vino berdecak. "Kau bagaimana sih, bukankah tadi kau penasaran dengan kehidupan Alex setelah menikah?"


Alex beranjak berdiri dari tempat tidur. Sahabatnya ini malah asyik berdebat. Alek berkacak pinggang. "Hei kalian... sedari tadi ribut. Aku saja belum menikah, tapi kalian sudah menerka akan kehidupanku!"


Alex terlihat kesal akan tingkah dari kedua sahabatnya itu. Bukannya menyelesaikan pekerjaan mereka tapi malah asyik bergosip tentang kehidupannya. "Kalian... berdua, cepat selesaikan ini semua. Besok aku sudah pindah kesini bersama Tasia, " titah Alex.


Mendengar perintah dari Alex segera Brian dan Vino menyelesaikan pekerjaan mereka. "Baik... Yang Mulia, akan segera kami kerjakan."


Brian dan juga Vino menunduk hormat selayaknya pelayan setelah itu mereka tertawa bersama. Alex yang melihat itu hanya berdecak lalu pergi keluar kamar.


Alex menuju ke arah dapur mengambil minum. Di teguknya air minum itu hingga tandas. Alex mengusap kasar wajahnya lalu duduk di kursi meja makan.


Alex memikirkan perkataan dari Brian dan juga Vino.


Alex bergumam. "Benar juga, apa yang dikatakan mereka. Apa Tasia akan memenuhi perannya sebagai istri. Kalau pun iya, bagaimana janjiku kepada Rania, aku sudah berjanji untuk tidak menyentuh Tasia. Tapi melihat penampilan Tasia waktu itu di Villa, Apa aku bisa tahan?"


Alex mendesah frustrasi. "Hah... apapun yang terjadi, aku harus berbuat adil kepada mereka berdua."


"Eh... tapi, apa Tasia akan menerimanya. Ah... sudahlah lihat saja nanti."


Tasia... !

__ADS_1


Tbc


Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.


__ADS_2