Terpaksa Menikahi Mantanku

Terpaksa Menikahi Mantanku
Bab 86 S2


__ADS_3

Jessica masih bingung dengan permintaan Jo. Di hatinya sungguh ingin kembali lagi bersama dengan Jo. Namun di sisi pikiranya mengatakan jangan.


Jessica menatap sepasang suami dan istri itu. Dia sudah terjebak di dalam kemelut yang di buat oleh Jo dan Hera.


"Jo ... maaf, aku sungguh tidak bisa memutuskan menerimamu kembali atau tidak. Aku perlu waktu lagi," tutur Jessica.


Jessica beranjak berdiri dari duduknya. Dia melangkah keluar dari dalam rumah. Jo tidak tinggal diam. Dia mengejar Jessica yang berlari itu. Hera juga menyusul Jo dan Jessi. Dia mengintip sepasang kekasih itu di balik pintu rumah.


Jo meraih tangan Jessica untuk berhenti berlari. "Jes ... apa kamu tidak mencintaiku?"


"Jo ... aku mencintaimu. Namun aku tidak ingin terjebak di antara kalian," lirih Jessica.


Jo menangkup kedua pipi Jessi. "Jes ... istriku sudah menyetujui hubungan kita. Setelah 2 tahun aku bercerai, kita menikah."


Jessica mengeleng. "Kalau begitu, aku akan menunggu 2 tahun lagi. Namun untuk sekarang, jangan jadikan aku simpanan."


"Tidak ada yang ingin menjadikan kamu simpanan. Kamu adalah kekasihku. Aku sungguh mencintai kamu," ungkap Jo.


Jessica melepas kedua tangan Jo di pipinya. "Jo ... wanita yang hadir di antara sepasang suami dan istri itu di sebut simpanan. Orang-orang menyebutnya pelakor."


Jo mengusap wajahnya. Dia tidak tahu lagi harus dengan apa membujuk Jessica. Ini semua karena perjodohan konyol papanya. Dia harus terjebak dalam situasi seperti ini.


"Beri aku waktu 6 bulan. Hanya 6 bulan saja. Aku akan berpisah dari Hera," tutur Jo.


Jessica mengangguk. "Baik ... aku akan menunggumu dalam waktu 6 bulan."


Jo membawa Jessica dalam dekapanya. Dia mengecup kening, hidung dan bibir Jessica. Di balik pintu rumah, Hera mendengar dan melihat adegan itu.


"6 bulan ... baliklah, kita lihat saja nanti," gumam Hera.


Hera lekas kembali duduk di sofa tamu sesaat Jo dan Jessica melangkah menuju masuk ke rumah. Hera berpura-pura memainkan ponsel di tangannya.


Jo dan Jessica kembali masuk ke dalam rumah. Jo menyuruh Jessica untuk duduk. Hera menampilkan senyum manis melihat Jessica.


"Her ... untuk beberapa hari ini, Jessica akan tinggal bersama kita dulu. Apartemen yang aku beli belum selesai di renovasi," ujar Jo.


Hera tersenyum. "Silakan saja, rumah kita banyak kamar kosong. Kebetulan sekali, aku akan pergi tugas beberapa hari."


Jo berkerut. "Tugas ... dimana?"


"Di luar kota, sekalian aku dan Devan juga ingin berlibur disana," ucap Hera.


Jo membelalak mendengar nama Devan. "K-kamu ingin bersama Devan?"

__ADS_1


Lagi-lagi Hera tersenyum. "Iya ... Devan mengajakku liburan." Hera beralih menatap Jessica. "Jes ... kamu pilih saja kamar yang kamu suka. Aku naik ke atas dulu."


Hera meninggalkan sepasang kekasih itu. Dia lalu menaiki anak tangga menuju kamarnya. Hera menarik napas panjang dan mengembuskannya. Ternyata pura-pura tegar itu sangat menyakitkan.


"Sabar Hera ... permainan baru saja di mulai," ucapnya.


Jam sudah menunjukan pukul 7 malam. Dari tadi Jo belum ada masuk ke dalam kamarnya. Hera tidak memperdulikan hal itu. Mungkin saja Jo tengah bersama Jessica.


Hera sangat bosan di dalam kamar. Dia mengotak-atik ponsel miliknya. Hera ingin sekali pergi bersenang-senang. Namun tidak ada siapa pun yang mengajak dirinya.


Kebanyakan teman Hera juga sibuk dengan kegiatan mereka. Hera menscroll atas bawah nama kontak di ponselnya. Tangannya berhenti saat melihat nama Devan yang muncul.


"Bukannya aku ada janji traktiran bersama Devan," gumam Hera.


Hera ingat saat Devan mentraktir dirinya makan. Lalu Hera juga berjanji akan membalasnya. Hera lalu mengirim sebuah pesan chat pada Devan.


Sepuluh menit menunggu akhirnya Devan membalas pesan yang di kirim Hera. Pria tampan itu menyetujui permintaan Hera untuk keluar bersama.


Hera melompat-lompat saking senangnya. Dia akan kembali bertemu dengan sang idola. Hera membuka lemari pakaian. Dia akan memakai gaun yang paling cantik.


Hera mulai merias dirinya dan memakai gaun berwarna biru muda. Hera berputar-putar di depan cermin. Dia ingin memastikan penampilannya sekali lagi.


Jo membuka pintu kamarnya. Dia melihat Hera sudah sangat cantik. Jo masuk ke kamar karena ingin mengajaknya makan malam bersama.


"Jo ... aku mau keluar sebentar," jawab Hera.


Jo memperhatikan penampilan Hera yang sangat anggun. "Kamu mau kemana?"


"Aku ingin makan malam bersama seorang teman," sahut Hera.


Klakson mobil berbunyi di depan rumah. Devan telah datang untuk menjemput Hera. Mendengar itu Hera begitu bahagia. Pangeran hatinya sudah datang menjemput.


Hera melangkah melewati Jo menuju pintu. Namun sayang, Jo menarik tanganya. "Kamu ingin pergi bersama pria itu?"


"Iya, aku mau pergi bersama Devan," jawab Hera.


Jo menatap tajam Hera. "Aku melarangmu untuk pergi. Diam di rumah, kamu itu istriku."


Hera terlihat kesal, dia melepas paksa tanganya yang di gengam Jo. "Kamu jangan egois. Kita sudah sepakat untuk tidak saling mencampuri urusan pribadi."


Hera memutar kunci dan membuka pintu untuk keluar. Jo hanya menatap kepergian istrinya itu. Jessica menegur Hera yang hendak keluar rumah.


"Her ... kamu mau kemana?" tanya Jessi.

__ADS_1


"Jessica ... aku mau pergi kencan. Kamu jaga rumah dulu, yah!"


Hera melengang pergi keluar rumah menemui Devan. Jessica terlihat heran dengan kondisi rumah tangga kekasihnya itu. Dia semakin bingung akan sikap keduanya.


Jo menuruni anak tangga satu persatu. Melihat Jo turun, langsung saja Jessica bertanya mengenai Hera.


"Jo ... apa Hera juga punya kekasih?"


Jo mengangguk. "Iya ... makanya dia setuju kita bersama kembali."


Pantas saja Hera setuju Jo menjalin hubungan denganku. Ternyata Hera juga punya kekasih, batin Jessica.


Jessica berpikir kalau semua yang Jo ucapkan benar. Jessica sudah salah menilai semuanya. Yang sebenarnya terjadi adalah Jo yang tidak bisa move on dari Jessica. Lalu Hera mengisi kekosongan hatinya melalui Devan.


"Jes ... ayo kita makan malam," ajak Jo.


Jessica mengangguk lalu menuju ruang makan.


Jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Namun Hera belum juga pulang. Jessica sudah tidur di kamar tamu. Tinggal Jo yang masih menunggu kepulangan istrinya.


Mobil Devan sampai tepat di gerbang rumah Hera. Devan keluar terlebih dahulu lalu membukakan pintu mobil untuk Hera. Jo yang mendengar suara mobil segera mengintip di balik hordeng.


"Hera ... terima kasih untuk malam ini. Aku sangat senang. Hari ini, kamu ada merayakan hari kelahiranku," ucap Devan.


Devan dan Hera sudah sepakat untuk tidak memakai embel-embel gelar saat mereka berada di luar. Sebenarnya tadi Hera ingin mentraktir Devan. Ternyata Devan hari ini berulang tahun.


Devan tidak punya teman untuk merayakanya. Kebetulan Hera mengirim pesan chat mengajaknya untuk makan malam. Jadilah Devan merayakan hari kelahiran dirinya bersama Hera.


"Aku merasa tidak enak karena tidak memberi hadiah untukmu," ucap Hera.


Devan tersenyum. "Jangan di pikirkan. Kamu menemaniku saja, aku sudah sangat bahagia."


"Tapi, aku ingin memberimu hadiah," ucap Hera.


"Terserah kamu saja. Aku akan terima hadiah apa pun darimu," sahut Devan.


Hera lalu memberi kecupan di pipi kiri Devan. Hera langsung saja berlari setelah mengecup pipi Devan. Pria tampan itu tersentak kaget lalu memegang pipinya.


Devan tersenyum lalu mengeleng melihat Hera berlari masuk ke dalam rumah. Devan masuk ke dalam mobil kemudian berlalu dari rumah Hera.


Hera sengaja mencium pipi Devan. Hera tahu kalau Jo tengah mengintip dirinya dan juga Devan. Sekaligus kesempatan Hera mencium pipi sang idola. Hera lalu membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.


TBC

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.


__ADS_2