Terpaksa Menikahi Mantanku

Terpaksa Menikahi Mantanku
Bab 30


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Berli telah bangun. Hari ini rencananya dia akan menemui Alex. Menghabiskan seharian ini untuk bersama setelah dua minggu tidak bertemu.


Setelah acara liburan Alex dan Rania berakhir, Alex pergi ke luar negeri lagi selama satu minggu mengurusi bisnis. Kali ini Alex pergi sendiri tanpa Rania.


Berli hanya bertemu Alex setelah pria itu mengajak Berli ke pesta teman bisnisnya. Selepas itu tidak lagi kabar dari Alex.


Alex hanya mengatakan jika akan keluar negeri. Berli sudah mengirim chat bahkan pesan suara kepada Alex jika dirinya menunggu di cafe favorit keduanya.


2 Jam sudah Berli menunggu Alex tapi batang hidung pria itu tidak tampak. Ponsel Alex tidak aktif, chat yang di kirim hanya di baca saja.


Berli tentu merasa kesal akan situasi ini, sudah berapa kali Alex lupa akan janjinya.


Berli curiga mungkin apa yang dikatakan Serly itu benar adanya.


"Alex... kau terus saja membuatku menunggu. Apa kau sudah punya kekasih baru?" gumam Berli sedih.


Berli menundukkan kepalanya di atas meja cafe, perasaan khawatir juga takut menyelimuti dirinya.


Saat ini Alex menemani Rania berbelanja kebutuhan mereka untuk di apartemen. Bak pasangan suami istri keduanya begitu terlihat serasi.


*******


Di kampus Berli menghindari Alex, dia benar-benar kesal akan sikap Alex yang selalu mengabaikan dirinya.


Alex yang merasa Berli menghindar darinya merasa heran, ada apa dengan kekasih hatinya itu.


"Sayang... kenapa kau menghindar dari ku?" tanya Alex. Mengenggam tangan Berli.


"Kau... tanya padaku kenapa menghindar. Tanyakan sendiri kepada dirimu itu. Kaulah yang selalu mengabaikanku," jawab Berli kesal.


Alex tidak sadar sama sekali akan sikapnya itu.


Alex membawa Berli ke lantai tiga ruangan pribadinya di kampus, agar tidak ada mahasiswa lain mendengar pertengkaran mereka.


"Maaf sayang, aku tahu aku salah."


"Sorry," ucap Alex memelas.


"Terlalu banyak permintaan maafmu Alex. Tapi kau selalu mengulang kesalahanmu lagi. Sebenarnya ada apa denganmu. Jika kau sudah bosan dengan diriku lebih baik kita putus saja," ucap Berli marah.


"Apa yang kau katakan sayang, jangan konyol. Aku mencintaimu," ucap Alex. Dengan memeluk Berli.


Berli melepaskan pelukan Alex, di tatapnya wajah yang hampir dua tahun lebih itu menemani dirinya.


Alex mencium sekilas bibir Berli lalu mendekatkan tubuh Berli agar masuk kedalam dekapannya.


Kata-kata maaf dari Alex selalu saja membuat Berli goyah, wanita itu terlalu mencintai Alex.


Kring... kring... kring


Bunyi ponsel Alex berdering, Alex segera menjauh dari Berli ketika dilihatnya nama seseorang tertera di layar pipih itu.


Alex berbicara singkat dengan si penelpon lalu menoleh ke arah Berli.


"Sayang maaf, aku harus pergi," ucap Alex.

__ADS_1


Mencium kening Berli lalu berlalu pergi.


Berli terkesiap, bibirnya menganga seakan tidak percaya Alex meninggalkanya lagi.


Berli mengikuti Alex pergi, dirinya curiga ada apa sebenarnya dengan Alex.


Berli mengikuti mobil Alex yang melaju kencang.


Berli memang kebetulan membawa mobil baru yang belum pernah di bawanya ke kampus jadi Alex tidak akan mengetahuinya.


Berli melihat mobil Alex berhenti di gedung apartemen.


"Kenapa Alex berhenti di gedung ini, siapa yang akan di temuinya?" gumam Berli.


******


Selama dua hari Berli selalu membuntuti Alex. Aktifitas seperti biasa saja Alex dari kampus, lalu ke kantor kemudian berakhir ke gedung Apartemen itu.


Tapi Berli tidak membuntuti Alex waktu pagi dan juga malam hanya siang hari saja Berli mengikutinya.


Hari ketiga Berli sudah melakukan persiapan pengintaian. Kali ini Berli akan mengikuti Alex sampai pria itu masuk ke dalam flat.


Pukul 11 malam Berli sudah berada di gedung lobby apartemen. Di lihatnya Alex yang baru saja masuk ke dalam Apartemen.


Alex masuk ke dalam lift menuju lantai 7. Berli yang melihat lift itu naik, segera masuk kedalam lift yang lainnya menuju lantai 7.


Di lihatnya Alex masuk dalam flat itu setelah menekan tombol password. Setelah pintu flat itu tertutup Berli menuju flat yang baru saja di masuki Alex.


"Ck... passwordnya apaan nih?"


Berli mondar mandir di daerah lantai itu. Sudah 2 jam Berli menunggu tapi Alex belum juga keluar. Berli melihat tetangga sebelah flat Alex keluar, Berli segera memanggilnya.


"Maaf... Mas permisi, kenalkan saya Berli," sapa Berli. Mengulurkan tangan.


Pria itu heran siapa gadis cantik ini yang tiba-tiba menyapanya.


"Ada apa Mbak, perlu bantuan?" tanya Pria itu.


"Mohon maaf sebelumnya... saya hanya ingin bertanya, siapa penghuni flat sebelah Mas itu?" tanya Berli.


"Panggil saya Jo!"


"Kenapa Mbak?"


"Jangan-jangan, Mbak mau berbuat jahat lagi?"


Tuduh Pria itu.


Tampang aku cantik gini dibilang berniat jahat, batin Berli


"Bukan seperti itu Mas," ucap Berli.


Berli lalu menceritakan kepada Jo kenapa dirinya bisa berada di gedung apartemen ini.


"Hmmm... begitu lebih baik kita bicara di tempat aman. Ayo ke flat saya Mbak, jangan takut saya bukan orang jahat," ucap Jo.

__ADS_1


Berli lalu mengikuti Jo untuk masuk kedalam flat.


"Apa yang bisa saya bantu Mbak?" tanya Jo.


"Panggil Berli saja, Mas Jo."


"Saya ingin kamu menjadi mata-mata saya. Yang saya perlukan hanya nomor password kamar Alex," sahut Berli.


"Panggil Jo saja!"


"Jangan terlalu formal, aku masih 20 tahun," ucap Jo.


"Oh... baiklah, ternyata kamu muda dua tahun dari dari aku."


"Gimana, kamu bisa bantu, kan?"


"Aku bakal bayar berapa pun," ucap Berli. Antusias.


"Itu... mah gampang, kalo soal nomor password 10 menit juga aku bakal tau," ucap Jo.


"Hah... yang bener?"


Kaget Berli.


"Aku peretas!" ucap Jo.


"Oke Jo, malam ini juga mumpung ada kesempatan, please bantu aku."


"Kamu... tunggu disini, 10 menit lagi aku balik," ucap Jo. Beranjak pergi meninggalkan Berli.


10 Menit berlalu Jo sudah kembali dengan membawa nomor password apartemen Alex.


"Nih... nomor passwordnya."


Jo memberikan nomor yang di tulisnya di kertas kepada Berli.


"Makasih Jo!"


"Berapa yang harus aku bayar?" tanya Berli.


"Gak usah, aku ikhlas bantu kamu. Semoga urusan kamu cepat selesai," sahut Jo.


"Ini... kartu namaku. Kamu telepon dan kamu bisa datang ke rumah aku. Sekarang aku pergi dulu."


Pamit Berli setelah memberikan Jo kartu nama.


Perasaan takut kini melanda gadis itu, ada apa dibalik pintu yang kini ada di hadapannya.


Tangan Berli bergetar saat dilihatnya kertas yang bertuliskan angka-angka.


Berli menyakinkan kepada dirinya sendiri harus kuat untuk menghadapi apapun yang akan terjadi di balik pintu yang berdiri kokoh itu.


ALEX


Tbc

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.


__ADS_2