
Jo sampai di apartemen Jessica setelah melalu perjalanan yang cukup panjang. Jo langsung saja masuk ke dalam. Karena Jo memang sudah mengetahui sandi dari apartemen kekasihnya.
Jo melihat barang-barang berserakan di ruang tamu. Langsung saja Jo menuju kamar. Jo terbelalak saat melihat keadaan Jessica. Kamar berantakan, botol-botol minum dan tissu menghiasi kamar.
Jessica tertidur dengan mata sembab dan rambut yang acak-acakan. Jo membelai wajah kekasih yang sudah lima tahun ini menemaninya.
Jo mengecup kening Jessica. "Maafkan aku, Jes." Jo berkata lirih, tidak tega rasanya untuk memberitahu Jessica akan kejadian yang sebenarnya.
Jo membereskan semua botol minum dan tissu yang berserakan. Semuanya Jo rapi kan termasuk di ruang tamu. Selesai dengan tugasnya, Jo kembali masuk ke dalam kamar tidur.
"Jes ...."
Jo membelai wajah kekasihnya. Jessica mengeliat, dia mengucek matanya agar terbuka. Jessica kaget saat melihat Jo berada di hadapannya.
"Jo ... kamu di sini?" Jessica memalingkan wajahnya. Dia tidak mau melihat Jo. "Pergi lah ... pergi dengan selingkuhan kamu itu."
Jo meraih tangan Jessica dan menciumnya. "Jes ... aku akan menjelaskan semuanya padamu."
Jessica menatap sendu wajah Jo. "Apa lagi yang ingin kamu jelaskan?"
"Jes ... aku di jodohkan dengan Hera. Dia adalah mantan kekasihku waktu masih sekolah. Aku sangat membencinya. Aku sungguh tidak ingin menerima perjodohan ini," tutur Jo.
"Apa ... papamu yang mengatur semuanya?" tanya Jessica.
Jo mengangguk. "Iya ... papa yang mengaturnya."
Jessica tersenyum getir mendengarnya. Tuan Wijaya, memang tidak pernah menyukainya. Jessica bukanlah orang berada. Dia menjadi tulang punggung untuk menghidupi keluarganya.
Tuan Wijaya tidak menyukai profesi pekerjaan Jessica. Penampilan serta perilakunya, tidak sesuai dengan kriteria menantu idaman keluarga Wijaya.
Jessica meneteskan air matanya. Dia sangat mencintai Jo. Tinggal beberapa bulan lagi kontrak kerjanya habis. Selepas itu, Jo berjanji akan menikahinya. Tetapi, impian untuk menikah buyar sudah. Jo sudah mempunyai calon istri.
Jessica menghapus air matanya. "Jo ... lebih baik kita akhiri hubungan ini. Kamu sudah punya calon istri. Aku tidak mau terbelenggu dalam ketidakpastian."
__ADS_1
Jo kaget mendengar kata-kata yang barusan keluar dari bibir manis Jessica. "Jes ... kamu jangan bercanda!"
Jessica mengeleng. "Tidak, Jo. Hubungan kita dari awal memang tidak pernah mendapat restu." Jessica terisak, sungguh sakit hatinya harus berbicara seperti itu. "Jo ... aku mohon, tidak ada yang bisa kita lakukan lagi."
Jessica tahu betul siapa Tuan Wijaya. Dia akan melakukan apa pun agar Jo berpisah dari Jessica. Percuma saja mempertahankan hubungannya bersama Jo. Yang ada nanti malah membuat banyak pihak tersakiti.
Jo menatap lirih Jessi. "Jes ... please, jangan akhiri hubungan kita. Aku mencintai kamu, hiduplah bersamaku."
"Lalu ... aku akan hidup sebagai simpanan?"
Meski Jo mengatakan cinta mati padanya, tapi mereka tetap tidak bisa bersatu. Jessica tidak mau hidup menjadi seorang simpanan. Seorang istri lebih tinggi statusnya dari pada simpanan.
Jo terkesiap mendengar kata simpanan. Dia tidak bermaksud untuk menjadikan Jessica simpanan. Yang di katakan Jessica memang benar adanya.
Dia akan menjadikan Hera istrinya. Lalu dia menjalin hubungan bersama Jessica. Biar bagaimana pun cintanya Jo, tetap saja Jessica akan mendapat gelar seorang simpanan.
Jo mengeleng. "Aku tidak bisa berpisah darimu. Ku mohon ...."
Jessica menangis tersedu. Inikah akhir dari kisah cintanya. Pria yang dia cintai harus menjadi milik orang lain. Jessica harus merelakan ini semua. Ini demi kebaikan semua orang.
Air mata mengenang di pelupuk mata Jo. Berkedip saja, air mata itu akan jatuh menetes di pipinya. Ini semua karena perjodohan konyol yang papanya atur.
Jo serba salah untuk menolaknya. Mungkin dia bisa untuk menolak. Tetapi keluarga Wijaya adalah keluarganya sekarang. Mereka memberikan Jo kasih sayang seperti anak kandung. Memberinya nama besar yang di sandangnya. Perusahaan yang sekarang di pimpinnya.
Bisa di bilang ini adalah balas budi Jo. Tidak, ini bukan balas budi. Keluarga Wijaya selalu menuruti keinginannya. Mama Rita selalu memanjakan dirinya. Ini adalah murni karena Hera seorang Dokter dan anak dari teman papanya.
Jessica memeluk Jo untuk terakhir kalinya. Dia memeluknya dengan sangat erat. Jo juga membalas memeluk erat. Air mata membanjiri perpisahan antara sepasang kekasih itu.
Jo mencium seluruh wajah Jessica. Dia berhenti lalu menatap bibir mungil itu. Jo mengecupnya hingga ciuman itu menjadi memanas. Ini untuk terakhir kalinya mereka saling mencurahkan rasa cinta.
Jo mengambil kotak cincin di balik saku jasnya. Cincin itu sebenarnya untuk melamar Jessica. Dia buka kotak cincin itu. Jo menyematkan cincin berlian itu ke jari manis Jessica.
Dia kecup jari yang sudah tersemat cincin itu. "Ini untukmu, aku membelinya untuk melamarmu. Sekarang aku berikan untuk hadiah."
__ADS_1
Jessica tersenyum melihat jari manisnya. "Terima kasih, aku akan selalu memakainya."
Mereka kembali berpelukan erat. Rasanya tidak ingin Jo dan Jessica berpisah. Apa daya, mereka tidak berjodoh. Mungkin suatu saat nanti Jessica bisa mendapatkan pengganti yang lebih baik dari Jo.
"Aku ingin menghabiskan waktu seharian ini bersamamu," kata Jo.
Jessica mengangguk. "Aku akan menemani kamu seharian ini."
Jessica masuk ke dalam kamar mandi. Dia akan menemani Jo seharian sebagai seorang teman. Jessica keluar dari kamar mandi setelah menganti pakaian dan merapikan dirinya.
"Ayo ... kita jalan," ajak Jessica.
Jo mengangguk. "Ayo ...."
Jo dan Jessica keluar dari apartemen. Mereka berkunjung ke tempat-tempat yang pernah mereka datangi. Mereka berbelanja, makan dan berselfi. Bahkan Jessica membelikan hadiah berupa lingerie untuk Hera.
Jo tidak mau sebenarnya menerima itu. Karena tidak mau mengecewakan Jessica, dia pun menerima hadiah itu. Jessica kelihatan bahagia sekali. Jo tahu kebahagian itu hanyalah untuk menutupi kesedihannya.
Jessica wanita yang sangat baik. Jo berharap mantan kekasihnya itu akan mendapatkan pria yang melebihi dirinya. Meski Jo masih tidak rela berpisah darinya. Dia akan selalu mengingat setiap kenangan bersama Jessica.
"Jo ... aku harap kamu mencintai Hera. Buka lah lembaran baru," kata Jessica.
Jo meraih tangan Jessica. "Jes ... kamu yakin, dengan keputusan kamu ini?"
Jessica mengangguk. "Aku yakin. Kita mulai hidup yang baru." Jessica memberi senyum termanisnya. "Terima kasih, kamu sudah menemaniku selama 5 tahun ini."
Jessica tidak dapat menahan air matanya. Jo menghapus air mata yang meleleh di pipi Jessica. Dia kecup kedua mata yang meneteskan air mata itu. Jessica memejamkan matanya dan menikmati kecupan dari Jo.
"Maafkan aku, Jessica," lirih Jo.
Jessica mengeleng. "Tidak ... ini bukan salah siapa pun. Ini hanya takdir kita yang tidak bisa bersama."
Sekali lagi mereka berpelukan untuk yang terakhir kalinya. Jessica sudah bulat dengan keputusannya untuk berpisah. Jo tersenyum getir saat mengingat perkataannya dengan mama Rita. Dia mengatakan akan mengakhiri hubunganya bersama Jessica. Sekarang perkataan itu terwujud. Jessica sendiri yang ingin hubungan mereka berakhir.
__ADS_1
Tbc
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.