
Acara pernikahan sudah selesai. Para tamu undangan sudah pada pulang. Hanya ada para pelayan yang sibuk berkemas membersihkan taman belakang.
Berli mengeret gontai tubuhnya untuk naik ke lantai atas menuju kamarnya. Sampai dalam kamar Berli segera menjatuhkan bobot tubuhnya di atas ranjang.
Ceklek... !
Suara pintu kamar terbuka menandakan seseorang telah masuk. Berli hanya melihat sekilas saja ketika pria itu masuk dan menutup pintu. Dia tidak peduli karna memang seharusnya Pria itu ada di dalam kamarnya.
Alex meraih koper yang telah dibawanya ke kamar Berli. Mengambil handuk dan juga pakaian ganti. Alex melepas sepatu beserta Tuxedo yang di kenakanya lalu beranjak ke dalam kamar mandi. Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibir keduanya.
Sambil menunggu Alex yang masih di kamar mandi. Berli membersihkan Make Up yang menempel di wajahnya.
30 Menit Alex keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya.Berli menelan salivanya ketika melihat roti sobek dari pantulan kaca di depanya. Wajahnya seketika merona saat Alex tanpa malu memakai pakaian di depan Berli.
Berli terlihat kesal akan tingkah Alex tapi dirinya juga menikmati pemandangan indah itu. "Ehem... Al, apa kamu tidak bisa berganti pakaian di dalam kamar mandi saja?"
Kening Alex berkerut. "Memangnya kenapa?"
Berli semakin kesal akan pertanyaan balik Alex. "Maksudku, apa kamu tidak malu membuka pakaianmu di depanku?"
Alex menaikan satu alisnya. "Kenapa mesti malu sih, bahkan malam ini kita akan sama-sama tidur bersama."
Berli berkerut heran. "Apa maksudmu?"
Alex tersenyum menyeringai. "Jangan pura-pura ****, kamu ingat ini malam pengantin kita."
Berli tersentak lalu berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Alex geleng-geleng kepala melihat tingkah Berli. Di dalam kamar mandi Berli memegang dadanya yang berdetak kencang.
"Alex... benar, malam ini adalah malam pengantinku. Tidak, aku tidak boleh tidur denganya. Eh... tapi dia suamiku," guman Berli.
Berli menepuk jidat dia lupa membawa handuk dan pakaian ganti. dan lagi gaunnya saat susah dibuka karna resleting gaun itu dibelakang. Berli keluar kamar mandi untuk meminta bantuan kepada Alex. Saat Berli ingin keluar tidak sengaja dia mendengar Alex berbicara di telepon. Dari nada suara pria itu tampak begitu lembut. Berli memasang telinganya agar dapat mendengar percakapan Alex secara jelas.
"Baby... kamu tenang saja, aku janji tidak akan menyentuh wanita itu. Aku tidak menyentuh wanita yang tidak kucintai. Aku hanya mencintaimu Rania. Besok malam kita akan menghabiskan waktu bersama, kalau malam ini tidak bisa," ucap Alex di penghujung telepon.
Berli berdecak mendengar kata-kata manis dari bibir Alex untuk Rania. "Ck... kamu lihat Alex apa yang akan kulakukan padamu nanti. Aku akan membalasmu."
Berli tersenyum smirk lalu melangkah keluar menghampiri Alex yang duduk di sofa.
"Al... tolong bantu aku membuka gaun ini!"
Alex beranjak berdiri dari sofa. "Berbaliklah," ujar Alex.
Berli berbalik dan menepikan rambut panjangnya agar Alex mudah untuk membuka gaunnya.
"Glek... !"
Alex menelan ludahnya kasar melihat punggung mulus Berli. Ingin sekali dirinya mendaratkan bibirnya itu ke punggung mulus istrinya. Berli segera pergi kedalam kamar mandi setelah mengambil handuk dan juga baju ganti.
__ADS_1
Alex menatap nanar Berli, dalam hatinya seolah meronta ingin ikut masuk kedalam kamar mandi. Alex mengeleng kepala saat membayangkan betapa sexynya tubuh istrinya itu. Apalagi bagian depan dan belakang yang terlihat padat. Alex mengumpat hanya membayangkannya saja sudah membangkitkan gairah tubuhnya.
Pintu kamar mandi terbuka, Berli keluar memakai pakaian tidur satin sejari dengan panjang sepaha saja. Warna gaun itu terlihat kontras dengan warna kulitnya yang putih. Berli duduk di depan meja rias mengeringkan rambutnya yang basah.
Alex merasa hawa panas sudah menjalar di seluruh tubuhnya. Berli begitu sexy dan menggoda bukankah ini yang sejak dulu dia inginkan berc**ta dengan Berli.
S**l kenapa dia begitu menggoda, bukankah ini yang selalu kamu inginkan Alex. Lihatlah Tasia sekarang sudah menjadi istrimu. Ayo lakukan tugasmu sebagai suami, batin Alex.
Berli mengeringkan rambutnya yang basah dengan hair dryer. Tapi sebuah tangan kekar mengambil alih hair dryer itu.
"Alex... apa yang kamu lakukan, aku ingin mengeringkan rambutku."
Alex tersenyum. "Biarkan aku membantumu!"
Berli membiarkan Alex mengeringkan rambutnya. Alex juga mensisir rambut panjang miliknya.
Ada apa dengan Alex, tumben sifatnya jadi manis, batin Berli.
Alex selesai akan tugasnya mengeringkan dan juga mensisir rambut Berli.
Alex memeluk berli dari belakang menghirup aroma rambut dan tubuh Berli. Aroma vanila
yang sangat di sukainya sejak dulu.
Alex mulai menyentuh Berli tapi segera Berli menghentikannya.
Alex tersentak. "Kau... !"
Alex menatap tajam Berli. "Kamu mendengar percakapanku di telepon bukan?"
Berli tersenyum sinis. "Aku tidak mendengar percakapan kamu di telepon. Cuma tadi pas keluar dari kamar mandi gak sengaja dengar."
Alex menatap Berli kesal. "Itu sama saja!"
Berli meraih ponselnya di atas nakas ada banyak pesan chat dan telpon dari Maxim.
Berli mendial balik telpon Maxim.
"Hallo... !" ~Maxim.
"Bee...." ~Berli.
"Kangen...." ~Maxim.
"Aku juga kangen banget...." ~Berli.
Berli sengaja menelpon Maxim di depan Alex dan berbicara mesra pada Maxim.
__ADS_1
Alex terlihat gusar menghentak-hentakan kakinya. Alex tidak tahan segera di raihnya ponsel Berli dan berbicara pada Maxim.
"Hei... Maxim, apa kau lupa jika Tasia sudah punya suami. Jangan lagi menghubungi Tasia mengerti." Sarkas Alex.
Tanpa menunggu jawaban dari Maxim sambungan telepon sudah di putus oleh Alex.
Alex membanting ponsel Berli ke sofa.
Berli kesal akan kelakuan Alex yang merebut dan membanting ponsel miliknya.
"Kamu, kenapa sih main rebut aja ponselku?"
Alex menatap tajam Berli. "Kau itu yang kenapa, sudah punya suami masih main telepon pria lain!" bentak Alex.
Berli berdecak. "Ck... kau sendiri tidak sadar tadi kau menerima telepon dari Rania."
Alex terdiam tidak dapat berkata apa-apa. Dering ponsel Alex berbunyi ternyata Rania menelpon lagi. Alex segera mengangkat ponselnya.
"Halo baby... !" ~Alex.
"Baby... kemarilah, disini mati lampu aku takut...." ~Rania
"Apa... mati lampu, aku akan datang baby." ~Alex
Berli mendelik mendengar Alex akan datang menemui Rania.
Berli merebut paksa ponsel Alex.
"Rania... jika kau punya rasa malu berhentilah untuk menganggu suamiku. Sejak kapan kau takut gelap. Jangan membodohi Alex, sekali lagi kau menelpon tahu sendiri akibatnya," sarkas Berli.
Tanpa menunggu jawaban dari Rania, telepon sudah di putus oleh Berli.
Alex kesal pada Berli. "Kau kenapa sih, kasihan Rania. Dia pasti ketakutan," ujar Alex.
Berli makin kesal pada Alex. "Tidur... !" bentak Berli.
"Cepat tidur Alex... naik ke tempat tidur."
Alex tersentak kaget tiba-tiba Berli berubah menyeramkan. Alex segera beranjak naik ke tempat tidur begitu pula Berli.
Berli menunjuk wajah Alex. "Awas... saja kau berani keluar dari kamar ini. Cepat tidurlah!"
Alex mengangguk. "Iya istriku!"
Kenapa aku jadi penurut pada Tasia, apa ini namanya The Power Of Istri, batin Alex.
Tbc
__ADS_1
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.