Terpaksa Menikahi Mantanku

Terpaksa Menikahi Mantanku
Bab 37


__ADS_3

Malam reunian Alex dan Rania telah sampai di ballroom hotel mewah. Semua mata memandang kedua pasangan sensasi itu. Bagaimana tidak sejak kejadian Alex dan Vino bertengkar, Berli tiba-tiba pindah dari kampus lalu menghilang.


Tersiar kabar bahwa Alex dan Berli sudah putus, lalu Rania pindah dari kampus lamanya ke kampus Alex lalu mereka menjalin hubungan.


Ada yang mengira berakhirnya hubungan Alex dan Berli karna Rania, Meskipun itu memang benar nyatanya.


Alex menggandeng tangan Rania untuk masuk ke dalam ballroom hotel. Alex acuh saja terhadap pandangan yang menyoroti mereka. Siapa yang bisa mengusik seorang Alexander William tidak ada yang bisa.


Brian dan Vino yang sudah berada di hotel, menghampiri Alex untuk berkumpul bersama.


"Alex... selamat datang bro."


Brian merangkul Alex lalu mengajaknya untuk duduk di meja yang telah dia dan Vino tempati. Vino hanya diam tidak menyapa, dia tidak suka kalau Alex bersama Rania.


*****


Disisi lain Berli tengah menunggu Maxim untuk datang menjemputnya. 10 Menit menunggu sebuah mobil Sport berwarna merah berhenti tepat di depan Berli. Pria tampan memakai jas, rambut tertata rapi keluar dari dalam mobil menghampiri sang wanita yang tampil dengan sangat anggun dan memukau.


Berli melotot memperhatikan penampilan Maxim yang begitu tampan.


"Ehemm... liur kamu netes tuh," ujar Maxim.


Berli sontak mengelap sudut bibirnya yang ternyata tidak ada apa-apa disana, Maxim hanya menggodanya saja.


"Kamu...."


Berli tertunduk malu wajahnya sudah seperti kepiting rebus, mau taruh dimana wajahnya saat ini. Misalkan ada lubang di depannya maka dia akan masuk saja ke lubang itu untuk menyembunyikan dirinya.


Maxim yang menggoda berli hanya tersenyum geli. Dia sangat menikmati wajah Berli yang merah merona itu.


"Ehemm... sampai kapan kamu akan tertunduk malu seperti itu. Ayo kita berangkat nanti kita terlambat!"


Maxim meraih tangan Berli lalu membuka pintu mobil agar Berli masuk dalam mobil.


"Bee... sudahlah, jangan tertunduk terus. Aku tidak bisa melihat wajah cantikmu," ujar Maxim.


Berli yang di puji cantik malah wajahnya makin merona. "Aku malu!"


"Kenapa?" tanya Maxim.


"Aku sudah ketahuan melihat wajahmu. Aku malu."


Berli menundukan wajahnya.


Maxim menepikan mobil di pinggir jalan, melepas seal beat meraih wajah berli.


"Aku adalah pacarmu, jadi jangan malu," ujar Maxim.


Berli tersentak mendengar kata-kata Maxim "Ta-pi kau, hanyalah pacar pura -pura saja," ucap Berli.


"Shuttt... jangan bicara kalau aku pacar pura-pura, tapi mulai saat ini jadikan aku pacar sungguhanmu."


"Tapi Max?"

__ADS_1


"Sudahlah, aku tidak ingin mendengarnya lagi."


Maxim menyalakan mesin mobil untuk segera pergi menuju hotel.


******


Para alumni yang tengah berkumpul di ballroom hotel, mengalihkan pandangan mata mereka ke arah pintu masuk.


Semua mata menatap takjub dengan satu pasangan yang melangkah masuk ke area ballroom. Mereka berkasak kusuk dengan sosok pria dan wanita yang sangat serasi bergandengan tangan itu.


"Bukankah itu Berli."


"Astaga... bukankah itu, Maxim Sylvestone yang model itu?"


Banyak dari mereka yang bertanya-tanya sosok di samping Berli.


Serly yang melihat Berli datang bersama Maxim segera datang menyapa.


"Berli... kamu datang juga," ucap Serly. Merangkul tak lupa cipika cipiki. Serly menatap Maxim tanpa berkedip, idola yang hanya dilihat di TV dan majalah sekarang berdiri tepat di hadapannya.


Berli melihat Serly tidak berkedip melihat Maxim lalu menegur temannya itu, bukan hanya Serly tapi banyak temannya yang lain memperhatikan Maxim.


"Eh... Serly kamu kenapa?"


Serly tersentak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ini... bukannya, Maxim yang model itu, kan?"


"Dia siapanya kamu?"


"Hah... serius?"


"Kenapa kaget?"


"Beruntung banget kamu punya pacar Maxim, udah ganteng terkenal lagi."


Serly tak henti-hentinya memuji Maxim, membuat Berli jengah sendiri.


Alex melihat kedatangan Berli dan juga Maxim terlihat geram, Alex mengepalkan jari-jari tangannya.


Brian melihat wajah Alex yang terlihat kesal, ide jahil brian langsung muncul.


Brian akan buat Alex cemburu. "Alex lihat tunanganmu, siapa pria tampan itu?"


Brian melihat wajah Alex seolah-olah ada api di matanya itu. Alex terus minum-minuman wine itu.


Rania melihat wajah Alex yang terlihat kesal itu langsung menegurnya. "Baby... kau kenapa?"


Alex sadar akan keberadaan Rania, dia mulai mengontrol emosi yang bersarang didadanya. "Tidak apa-apa baby!"


Berli mengajak Maxim untuk menghampiri meja Alex, dia sudah berencana akan membuat Alex merasa kalau bukan hanya dirinya saja yang punya kekasih tapi dia juga.


Apalagi sekarang pasangannya sangat tampan dan terkenal, tidak seperti pasangan Alex.

__ADS_1


"Halo Kak Brian, Kak Vino... apa kabar?"


" Apa kabar Rania, Alex?"


"Kami... baik Tasia," ujar Vino.


Maxim heran mendengar panggilan Brian dan Vino kepada Berli. "Bee... kenapa mereka memanggil namamu Tasia?" tanya Maxim.


"Itu nama kesayangan," sahut Alex.


Berli menatap tajam Alex, orang yang di tatap itu hanya acuh saja sedangkan Rania raut wajahnya terlihat ingin marah. Brian dan Vino yang melihat suasana tegang itu segera mengalihkan pembicaraan.


"Tasia... siapa pria ini?" tanya Brian.


"Kenalkan Kak, ini Maxim pacarku," ujar Berli.


"Halo... aku, Maxim sylvestone pacarnya Berli."


Maxim mengulurkan tangan kepada mereka semua, hanya satu orang yang menatap tajam Maxim seolah-olah ingin memakannya yaitu Alex.


Maxim yang melihat tatapan tidak bersahabat dari Alex hanya acuh saja.


"Bee... ayo kita ke tengah acara!" ajak Maxim.


"Baiklah... apa kau ingin mengajak berdansa bee?" tanya Berli.


Maxim mencolek hidung Berli dan merangkul pinggang ramping gadisnya. "Aku ada kejutan untukmu," ujar Maxim.


Maxim membawa Berli ke tengah acara, disana music sudah dinyalakan. Lagu romantis sudah menghanyutkan bagi pasangan yang ingin berdansa, begitu juga Berli dan Maxim.


Berli mengalungkan kedua tangannya ke leher Maxim dan Maxim memeluk erat pinggang Berli, kening mereka saling bersentuhan menikmati lagu romantis yang menghanyutkan.


Music berhenti, lampu di ballroom mendadak mati. Sontak para alumni yang berada didalamnya panik. Tapi itu hanya sementara tak kala seorang pria bersuara, lampu sorot menyoroti pria tampan yang telah berdiri di atas panggung dengan memegang mic.


Pria di atas panggung itu mulai bernyanyi, pria itu adalah Maxim.


Lampu sorot terus menyoroti langkah kaki Maxim yang menuju ke arah Berli.


Maxim memberikan setangkai Mawar merah kepada Berli, segera Berli mengambil bunga itu. Para penonton bersorak dan bertepuk tangan akan aksi romantis dari Maxim.


"Bee... kau adalah wanita pertama yang membuat jantung ini berdetak setelah lama mati. Aku ingin kau selalu berada disisiku, apapun yang terjadi tetaplah bersamaku."


Berli menganggukan kepala, bibirnya kelu tidak dapat bicara. Dia begitu kaget akan perlakuan dari Maxim.


Maxim tersenyum lalu meraih kedua wajah Berli.


Cup... !


Maxim mencium kening Berli.


Tasia berani sekali kau, batin Alex.


Tbc

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.


__ADS_2