Terpaksa Menikahi Mantanku

Terpaksa Menikahi Mantanku
Bab 55


__ADS_3

Alex masih tidak percaya jika Rania dengan teganya membuat dirinya menjadi gila. Rania memberinya obat untuk pasein rumah sakit jiwa. "Rania... apa maksud kamu dengan menganti obat yang ku minum?"


Rania terisak. "Ini semua karena kamu Alex. Kamu tidak pernah mencintaiku. Kamu selalu menyebut namanya, padahal aku yang selama ini bersamamu."


"Kamu itu hanya wanita penghibur, jadi wajar saja kamu menemani Alex," sahut Vino.


Vino memang tidak menyukai Rania. Menurut Vino, Rania itu wanita yang bermimpi ingin menjadi wanita kelas atas. Rania tidak sadar akan statusnya.


Alex mengusap wajahnya. "Rania... dari awal aku sudah mengatakan jika kamu sebagai pengganti Tasia. Aku selalu mengingatkan siapa kamu bagiku."


Alex sebenarnya juga tidak tega mengatakan hal itu. Tetapi itu memang kenyataannya. Rania bekerja sebagai penghibur dan Alex menyewanya. Hanya saja Alex memberinya fasilitas yang mewah.


Alex juga selalu mengingatkan status Rania. Rania adalah penghibur bagi Alex bukan kekasih Alex. Tetapi Rania menginginkan lebih dari itu. Rania menginginkan Alex sebagai kekasihnya.


Rania berderai air mata. "Apa yang salah dari masa laluku. Aku mencintaimu Alex, aku juga seorang wanita yang ingin di cintai."


"Cara kamu salah Rania. Kamu mencintai pria yang salah. Aku sudah menawarkan bantuan untukmu. Tetapi kamu malah memilih jalan yang salah," tutur Berli.


Berli memang pernah ingin memberi bantuan pada Rania. Rania menolak bantuan dari Berli dan lebih memilih menjadi penghibur dan simpanan.


"Sudahlah Kak, Rania tidak akan sadar. Asal kamu tahu saja Alex. Rania juga tidur dengan Dokter yang memberinya obat itu," ungkap Jo.


Alex benar-benar kaget, Rania sampai segitunya. Demi obat untuk Alex, Rania tidur dengan pria lain. Padahal Alex sudah melarang Rania untuk melakukan pekerjaan menghibur lagi. Alex membiayai kuliah Rania, agar wanita itu bisa bekerja dengan layak.


"Aku... sungguh tidak percaya Rania. Aku menyuruh kamu kuliah agar bisa bekerja dengan layak. Tetapi kamu masih tidak berubah," ujar Alex.


Rania terdiam menunduk, dirinya merasa bersalah telah menghianati Alex. Rania sering tidur dengan Dokter yang memberinya obat itu. Hanya agar Alex melupakan Berli, Rania merelakan tubuhnya.


Mungkin bagi Rania itu tidak masalah. Dirinya menganggap jika tidur dengan pria lain hal biasa untuknya. Rania sendiri yang tidak ingin berubah. Rania sendiri yang tidak ingin di anggap layak sebagai wanita terhormat.


Sekarang keburukannya telah di ketahui oleh Alex. Lengkap sudah predikatnya sekarang. Wanita jahat dan juga penghibur. Hanya karena merasa iri terhadap sahabatnya. sahabatnya yang begitu baik dan peduli padanya.


Rania dengan tega memberi obat agar Alex menjadi hilang akal. Rania tega menghianati Berli. Rania rela menjadi pribadi yang buruk. Tidak ada yang tersisa sekarang. Tatapan mata yang menatapnya sekarang seolah jijik melihatnya.

__ADS_1


Ini mungkin juga karma untuk Alex. Alex yang telah menghianati Berli saat menjadi kekasihnya. Alex juga di khianati oleh Rania. Alex bahkan akan di buat gila oleh Rania. Ini semua karma dari perbuatannya di masa lalu.


Betapa kejam karma yang berlaku untuk Alex. Andai dirinya tidak menikah dengan Berli maka Alex akan menjadi gila. Alex patut bersyukur dirinya masih di beri petunjuk. Alex di lindungi oleh istri dan juga sahabatnya.


Berli merasa iba melihat Rania seperti itu. Rania wanita yang cantik dan pintar. Tapi sungguh di sayangkan kecantikan dan kepintaran yang di milikinya di sia-sia kan.


Seharusnya Rania bisa berubah saat Alex memberinya kesempatan. Tetapi sungguh di sayangkan Rania malah membuangnya. Berli memberi isyarat kepada Jo dan lainnya.


"Jo... aku akan keluar membawa Alex. Kalian lakukan saja tugasnya," ujar Berli.


Jo mengangguk lalu Berli keluar dengan mengajak Alex. Kini hanya tinggal Jo, Vino, Brian, Hera dan juga Rania. Jo menutup pintu apartemen saat Berli dan Alex sudah keluar.


"Apa kita akan melakukannya sekarang?" tanya Hera.


"Tentu saja, memangnya kapan lagi," ucap Brian.


Hera berdecak. "Aku kan cuma bertanya!"


Rania terlihat ketakutan, Rania perlahan mundur ke belakang. "Kalian mau apa?"


Hera mulai memasang sarung tangan di tangannya. Jo memberikan satu botol obat pada Hera. Hera mulai mengambil obat itu dengan suntikan. Hera juga mengambil suntikan baru lalu mengambil obat dalam botol lain.


Jo merasa heran, karena di tangan Hera ada dua suntikan dengan jenis obat yang berbeda. "Hera... kenapa suntikannya ada dua?"


Hera tersenyum. "Oh... yang satu ini suntikan KB."


Jo melongo. "Untuk apa suntikan itu?"


Hera mendengus. "Ini saja kamu tidak mengerti. Aku hanya berjaga-jaga saja. Karena setiap pelakor itu biasanya pura-pura hamil."


Jo semakin heran akan jawaban dari Hera. Mungkin Hera berpikir jika Rania akan berpura-pura hamil saat di tinggal Alex. Jo membiarkan saja Hera melakukan apa yang dia inginkan.


"Hei kalian... sudah belum pacarannya. Ini Rania kapan di suntiknya," ujar Vino.

__ADS_1


Vino dan Brian sudah memegang lengan Rania. Rania memberontak ingin di lepas. Hera geleng-geleng kepala. Bukannya di bius lebih simple. "Kenapa tidak kalian bius saja, bagaimana bisa aku menyuntiknya jika wanita itu terus bergerak."


Brian dan Vino saling tatap. Pendapat Hera benar juga. kenapa juga mereka capek-capek memegang Rania. Jo tertawa kecil melihat kebodohan sahabat Alex itu.


Jo menuangkan beberapa tetes obat untuk membius Rania. Jo membekap mulut dan hidung Rania dengan sapu tangan yang sudah di beri obat bius. Tidak lama kemudian Rania mulai tidak sadarkan diri.


Vino dan juga Brian membopong tubuh Rania ke atas sofa. tubuh Rania mulai di baringkan. Hera mulai menyuntikan obat dari Jo di lengan Rania. Hera menatap ketiga pria itu saat ingin menyuntikan obat kedua.


Ketiga pria yang di tatap itu tidak mengerti akan tatapan yang Hera berikan.


"Balik badan sana, hargai juga seorang wanita," ucap Hera.


"Memangnya kenapa?" tanya Brian.


"Aku mau menyuntik bagian belakangnya," ucap Hera


Vino, Brian dan Jo membalik badan ke belakang. "Apa yang di suntikan Hera?" tanya Vino.


"Pil KB," jawab Jo.


"Untuk apa?" tanya Vino dan Brian serempak.


Jo memutar mata malas. "Supaya tidak hamil, begitu saja tidak tahu."


Vino dan Brian kesal akan jawaban dari Jo. Mereka juga tahu pil KB untuk mencegah kehamilan. Yang mereka ingin tahu untuk apa Hera menyuntikan itu kepada Rania.


"Kami juga tahu obat itu. Tapi untuk apa Hera menyuntiknya untuk Rania?" tanya Brian.


" Tanya saja pada Hera, aku malas untuk bicara," ujar Jo.


Vino dan Brian semakin kesal. Vino dan Brian saling tatap lalu mengangguk secara bersama. Dalam hitungan ketiga Brian dan Vino mengelitik perut Jo. Jo tertawa terpingkal-pinkal. Hera hanya tersenyum melihat ketiga pria itu.


Tbc

__ADS_1


Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.


__ADS_2