Terpaksa Menikahi Mantanku

Terpaksa Menikahi Mantanku
Bab 84 S2


__ADS_3

Hera dan Devan berjalan beriringan menuju parkiran di mana mobil mereka berada. Saat Hera sudah sampai di depan mobilnya. Ternyata ban mobilnya kempes. Hera berjongkok menepuk-nepuk ban bocornya.


Devan yang melihat itu lantas menghampiri rekannya. "Dokter Hera ... ada apa?"


"Oh ... ban mobilnya kempes," jawab Hera.


"Tinggal saja mobilmu. Biar kamu aku antar saja," ajak Devan.


Hati Hera sudah berbunga-bunga. Bisa satu mobil dengan idolanya sudah pasti akan sangat menyenangkan. Tanpa basa-basi lagi Hera langsung saja mengangguk.


Mimpi apa aku semalam, bisa satu mobil bersama Devan, batin Hera.


Devan membuka pintu mobil untuk Hera. "Silakan!" Devan tersenyum manis pada Hera.


Deg ... !


Hera tersipu malu pada Devan. "Terima kasih!"


Jantung Hera berdegup kencang. Dia merasa hawa panas sudah menjalar ke seluruh wajarnya. Ingin sekali Hera melompat-lompat saking senangnya. Hera juga seperti wanita lainya, yang akan gugup saat berdekatan dengan pria tampan.


Devan sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia masih ingin menikmati perjalanan bersama Hera.


Devan melirik Hera yang berada di sampingnya. "Dokter Hera ... kita makan dulu gimana?"


"Makan ... boleh saja," jawab Hera.


Senangnya hatiku, batin Hera.


Hera tidak menyia-yiakan kesempatan di depan mata. Kapan lagi makan berdua dengan idola. Hari ini memang suatu keajaiban untuk Hera. Tuhan sudah berbaik hati dengan memberi kesempatan Hera bersama Devan.


Devan menghentikan mobilnya di sebuah restoran. Dia keluar terlebih dahulu lalu membukakan Hera pintu mobil. Hera seperti di perlakukan sebagai seorang putri.


Devan mengajak Hera masuk ke dalam restoran itu. Devan menarik kursi untuk Hera duduk. Sungguh Devan memperlakukan Hera dengan begitu baik. Berbeda sekali dengan Jo yang hanya menginginkan tubuh Hera.


Devan lalu memanggil pelayan untuk memesan makanan. Pelayan datang dengan membawa buku menu di tangannya. Keduanya lalu memesan makanan yang mereka inginkan.


Pelayan pergi setelah mencatat menu makanan yang di pesan oleh Devan.


"Dokter Hera ... minggu depan kita akan melakukan kunjungan di luar kota. Apa kamu juga akan ikut?"


Hera tampak berpikir. Memang minggu depan rumah sakit Hera mengadakan kunjungan ke luar kota. Para Dokter di sana akan memberi pelayanan secara cuma-cuma pada masyarakat yang kurang mampu.


"Tentu saja aku akan ikut," jawab Hera.


Devan tersenyum mendengarnya. "Sehabis dari tugas, kita wisata ke tempat itu bagaimana?"

__ADS_1


"Wisata?" Hera tampak kaget.


Devan mengangguk. "Aku dengar ... di kota itu ada tempat wisata yang bagus."


"Boleh saja ... sehabis tugas kita akan pergi liburan sebentar," jawab Hera.


Devan sangat senang mendengarnya. Dia terus saja mengembangkan senyum manis di bibirnya. Hera juga sangat senang. Tiada hentinya Hera mengembangkan senyum manis di bibirnya.


Pelayan datang dengam membawa makanan yang di pesan oleh Devan. Pelayan menyajikan serta mempersilakan pelangannya untuk menikmati hidangan yang telah dia bawa.


Devan dan Hera mulai makan setelah berterima kasih pada pelayan yang mengantar makanan. Devan memotong daging kecil-kecil di piringnya.


Devan memberikan potongan daging itu pada Hera. "Coba daging ini!" Devan menyodorkan daging itu ke bibir Hera dengan garpu makan.


Hera langsung membuka mulutnya dan memakan daging itu. "Enak ...."


Hera menutup bibirnya. Dia dengan spontan saja menerima suapan dari Devan. Hera lalu membalas suapan dari Devan. Dia juga menyuapi Devan makanan dari piringnya.


Mereka saling suap-suapan. Dari kejauhan ada dua sosok yang telah merekam moment kebersamaan Hera dan Devan. Mereka adalah para sahabat Jo. Maxim dan Brian tengah berada di restoran yang sama.


Maxim tengah merekam kebersamaan Hera dan Devan. Max lalu mengirim video itu pada Jo. Mereka tidak mengira kalau istri dari sahabat mereka tengah berselingkuh.


"Max ... kamu sudah mengirimnya pada Jo?" tanya Brian.


"Aku juga tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Aku kira ... Hera wanita yang sangat polos dan lugu," ujar Brian.


Maxim dan Brian telah salah mengira pada Hera. Mereka berdua tidak tahu kejadiaan yang sebenarnya.


Jo membuka video yang di kirim oleh Maxim. Jo membelalak melihat kebersamaan Hera dan Devan. Di dalam video itu terlihat Hera tengah suap-suapan bersama Devan. Hera juga tertawa dan tersenyum pada pria tampan itu.


Jo mengepal geram melihat video itu. "Pantas saja dia belum pulang. Ternyata dia lagi asik bermain dengan pacarnya. Aku di sini kelaparan menunggunya. Dia malah telah makan bersama pria itu."


Jo berkilat marah pada Hera. Dia akan membuat perhitungan saat Hera sudah sampai di rumah.


Mobil Devan telah sampai di depan rumah Hera. Devan keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk Hera.


"Dokter Devan ... terima kasih sudah mengantar dan mentraktirku makan," ucap Hera.


Devan tersenyum. "Sama-sama ... lain kali apa boleh, kita makan bersama lagi?"


Hera mengangguk. "Tentu saja ... lain kali aku yang traktir."


"Baiklah ... aku akan tunggu waktu itu. Aku pamit pulang dulu," ucap Devan.


Devan masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesin mobil. Hera melambaikan tanganya saat mobil Devan sudah berjalan. Hera baru masuk ke dalam pintu gerbang, saat mobil Devan sudah tidak tampak dari pandangan matanya.

__ADS_1


Jo kesal melihat pemandangan itu dengan mata kepalanya sendiri. Dia tidak mengira kalau Hera secara terang-terangan telah bermain serong dengan pria lain.


Hera masuk ke dalam rumahnya. Di sofa tamu, Jo sudah duduk menunggunya. Hera memberi senyum manis pada suaminya itu. Dia sudah membelikan Jo makanan dari restoran itu.


"Kamu sudah pulang ternyata. Aku bawakan kamu makanan. Kamu pasti lapar, biar aku siapkan dulu untukmu," ucap Hera.


Hera lalu menuju dapur. Dia menaruh makanan yang dia bawa ke dalam piring. Tidak lupa juga segelas air putih untuk Jo. Setelah semua siap, Hera memanggil Jo di ruang tamu.


"Jo ... ayo makan dulu," ajak Hera.


Jo lalu mengikuti langkah Hera menuju ruang makan. Jo menatap makanan restoran yang di bawa oleh istrinya. Dia yakin kalau makanan itu Devan yang membayarnya.


Crangg ... !


Jo membuang semua makanan yang ada di piring. Semuanya di buang Jo ke lantai. Piring-piring itu pecah berserta makanan yang sudah berhamburan kemana-mana.


Hera terlonjak kaget akan tindakan suaminya. "Jo ... kamu kenapa?"


Jo menginjak-injak makanan dengan sandalnya. "Kamu memberiku makanan dari traktiran pria itu, kan?"


Jo mencengkram lengan Hera. "Berani sekali kamu selingkuh di belakangku."


Hera berusaha untuk melepaskan lenganya. "Kamu ngomong apa sih. Aku tidak selingkuh."


"Bohong ... kamu kira aku buta. Kamu kira aku tidak bisa melihatnya. Kamu bermesraan bersama pria itu di restoran," hardik Jo.


Hera kaget mendengarnya. "Lepas!"


Hera melepas cekalan tangan Jo. Dia lalu menunjuk wajah Jo dengan jari telunjuknya. "Kamu jangan lupa dengan syarat yang aku berikan. Aku mengijinkan kamu bersama Jessica asal kamu jangan mencampuri urusanku."


Jo terdiam, dia lupa akan kesepakatan yang telah dia buat sendiri. Setelah mengingatkan Jo akan kesepakatan mereka, Hera pergi meninggalkan Jo. Hera menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Jo terduduk di kursi makan. Dia mengusap wajahnya. Dia benar-benar lupa akan janjinya sendiri pada Hera. Jo sendiri yang mengatakan kalau dirinya tidak akan mencampuri urusan pribadi Hera. Itu artinya Jo tidak bisa marah saat Hera bersama Devan.


Tbc


Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.


BACA JUGA KARYA AUTHOR YANG LAIN


~ MENIKAHI TUAN MUDA ARROGANT


~ ISTRI RASA SIMPANAN


~ JANGAN SALAHKAN, AKU SELINGKUH

__ADS_1


__ADS_2