Terpaksa Menikahi Mantanku

Terpaksa Menikahi Mantanku
Bab 87 S2


__ADS_3

Sebelum Hera memegang handle pintu, Jo sudah terlebih dahulu membukanya. Hera melengang masuk tanpa menghiraukan Jo di sisi samping.


Jo berdecak kesal karena Hera seolah tidak melihat dirinya. "Bagus ... kamu ingin membalasku?"


Hera menghentikan langkahnya. Dia beralih menatap wajah Jo. "Aku tidak mengerti maksudmu!"


Jo mendekat pada Hera. Dia mendekatkan wajahnya hingga kedua hidung mereka bersentuhan. "Jangan berpura-pura tidak tahu!"


Hera mundur ke belakang. "Lantas ... kamu mau apa?"


Jo mencengkram pinggang Hera. "Kamu tidak menyadari statusmu, Hera."


Hera melepas tangan Jo dari pinggangnya. "Kamu lah yang tidak menyadari statusmu. Kamu membawa kekasihmu untuk menginap di rumah. Kamu bahkan mencium kekasihmu di depan istrimu," hardik Hera


"Cukup ... kamu sendiri yang mengijinkan Jessi untuk menginap di rumah kita," bentak Jo.


Hera terkekeh geli. Suaminya ini selalu saja tidak sadar akan apa yang di ucapkan bibirnya. Hatinya seolah tidak rela kalau Hera di dekati pria lain. Namun di pikirannya hanya ada Jessica.


"Jo ... kamu sadar tidak sih. Kita itu sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing. Tapi, kamu selalu saja ingkar janji," tutur Hera.


Jo tersentak akan penuturan Hera. Dia sendiri juga tidak mengerti apa yang di inginkan hatinya. Jo tidak rela kalau Hera mendekat pada pria lain.


Bukankah itu hal wajar. Mana ada seorang suami yang menginginkan istrinya punya lelaki idaman lain. Namun Jo juga menyadari perbuatanya. Mana ada seorang istri yang mengingikan suaminya punya wanita idaman lain.


Jo benar-benar berada di dalam dilema. Dia bingung apa yang di inginkan dirinya sendiri. Di satu sisi menginginkan Jessica. Namun di sisi lain juga menginginkan Hera.


Hera meninggalkan Jo yang termenung dengan pemikirannya sendiri. Dia menaiki anak tangga lalu masuk ke dalam kamar. Jo mengusap wajahnya kasar. Dia tidak tahu harus berbuat apa.


Tanpa mereka sadari, Jessica melihat dan mendengar pertengkaran sepasang suami istri itu. Sebenarnya Jessica belum tidur. Dia juga melihat Jo yang duduk menunggu kepulangan Hera.


"Aih ... sudah ku duga, aku sudah terjebak di antara kemelut rumah tangga mereka," lirih Jessica.


Jo melangkah menyusul istrinya naik ke atas. Dia masuk ke dalam kamar. Jo duduk di tepi ranjang seraya menunggu Hera yang berada di kamar mandi.


Hera keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di tubuhnya. Dia heran melihat Jo yang berada di dalam kamar. Hera sudah berpikir kalau Jo akan tidur di kamar Jessica.


"Kamu disini?" tanya Hera.


Jo mengernyit. "Tentu saja ... aku mau tidur. Memangnya mau dimana lagi."

__ADS_1


"Tidak tidur di kamar Jessica?" tanya Hera lagi.


"Istriku itu, kamu atau Jessica," kesal Jo.


"Siapa tahu ... kamu mau tidur di kamar Jessi," ujar Hera.


Jo mendekati Hera. Dia membawa istrinya itu untuk duduk di kursi meja rias. Jo membuka handuk yang melilit di kepala istrinya. Jo membantu Hera mengeringkan rambut basahnya.


"Aku bukan pria seperti itu. Mana mungkin aku tidur dengan wanita yang bukan istriku," tutur Jo.


Tidak sadar diri, dia saja sudah mencium Jessica. Eh ... aku juga sudah mencium Devan, batin Hera


Jo menyisir rambut panjang istrinya. Dia lalu menghirup aroma wangi yang keluar dari rambut Hera. Jo menempel bibirnya di bahu polos Hera.


Jo mulai mengiring istrinya menuju ranjang tempat tidur. Jo mulai melakukan pertempuran panas bersama Hera. Ketika sepasang suami istri bertengkar maka solusinya adalah bermain di ranjang.


Itu yang sekarang di lakukan Jo dan Hera. Setelah lelah bertengkar mulut, mereka lalu bertengkar di atas ranjang kasur. Jo tumbang di sisi samping Hera.


Dia begitu puas malam ini. Jo mengecup kening Hera, lalu membawa tubuh sang istri ke dalam dekapan hangat dadanya. Jo memejamkan mata lalu tertidur lelap.


Hera mengalihkan tangan Jo yang melingkar di perutnya. Dia merasa tenggorokanya kering. Hera turun dari atas tempat tidur. Hera mengambil kimono handuknya lalu memakainya.


"Hera ...."


Hera terlonjak kaget saat melihat Jessica di dapur.


"Jessica ... belum tidur?" tanya Hera.


Jessica mengeleng. "Bisa kita bicara sebentar?"


Hera mengangguk lalu duduk di kursi meja makan. Jessica juga menyusul Hera duduk di kursi dengan saling berhadapan. Jessica memperhatikan penampilan Hera yang sedikit acak-acakan. Dia juga melihat bekas ciuman yang di tinggalkan oleh Jo.


Jessica tersenyum getir melihat penampilan Hera. Dia tahu apa yang sudah terjadi. Hera berusaha menutupi lehernya. Hera merasa dirinya seperti seorang pelakor yang ketahuan oleh istri Jo.


Rasanya posisi mereka terbalik untuk saat ini. Jessica seperti seorang istri yang teraniaya. Lalu Hera seorang kekasih selingkuhan Jo.


Hera mengeleng, pikiranya sudah terlalu jauh. "Ka-kamu ingin bicara apa?" Hera begitu gugup.


"Hera ... apa kamu mencintai Jo?" tanya Jessica.

__ADS_1


Hera kaget mendengarnya. "Ke-kenapa kamu bertanya begitu?"


Jessica tersenyum. "Jawab saja!"


"Tentu saja, Jo adalah suamiku. Sudah seharusnya aku mencintai dia," ujar Hera.


Hera berkata dengan jujur. Memang dia sudah mencintai Jo. Mendengar itu, Jessica hanya tersenyum. Meski hatinya terasa nyeri.


"Lalu ... kenapa kamu melakukan ini semua. Kenapa kamu ingin aku kembali pada Jo. Apa kalian tidak sadar, kalian berdua sudah membawaku ke dalam masalah rumah tangga kalian," tutur Jessica.


Hera terlonjak kaget mendengarnya. Dia juga tidak dapat berbuat apa-apa. Jo yang menginginkan Jessica untuk kembali padanya.


"Jes ... sungguh, aku tidak bermaksud untuk membawamu ke dalam masalah rumah tangga kami. Jo sangat mencintai kamu. Dia ingin hanya kamu yang berada di sisinya," tutur Hera.


Jessica mengengam tangan Hera. "Her ... Jo mencintai kamu. Hanya saja, dia tidak menyadari perasaanya sendiri."


Hera mengeleng. "Kamu salah, Jo hanya mencintai kamu. Dia hanya mempunyai dendam dan benci padaku."


"Her ... suamimu menunggu kepulangan kamu. Dia bersikap cemburu saat kamu di dekati pria lain. Jo sudah jatuh cinta padamu. Ambil hatinya dan ubah rasa benci itu," ucap Jessica.


Hera menatap wajah Jessica. "Jessi ... maaf. Sungguh aku tidak bermaksud untuk merebut Jo dari tanganmu."


Jessica mengeleng. "Ini bukan salahmu. Takdir yang tidak mengijinkan kami bersama. Kamu tenang saja, aku akan membantu kamu meluluhkan hati Jo."


"Jessi ... terima kasih," ucap Hera.


Jessica mengulurkan tanganya. "Teman!"


Hera tersenyum lalu menyambut uluran tangan Jessica. "Teman!"


Keduanya saling berpelukan. Hera merasa lega karena Jessica tidak seperti wanita egois lainya. Jessica mempunyai hati yang sangat mulia. Dia merelakan kekasihnya menjadi milik orang lain.


Saat Jessica mendengar pertengkaran Jo dan Hera, dia sadar. Ternyata Jo sudah jatuh cinta pada istrinya. Jo rela menunggu kepulangan Hera. Lalu rasa cemburu yang di perlihatkan oleh Jo sudah membuktikan jika Jo takut kehilangan istrinya.


Jessica sadar kalau Jo belum menyadari rasa cintanya pada Hera. Mungkin Jo sadar kalau dia mencintai Hera. Hanya saja Jo selalu menyangkalnya. Itu karena masa lalu di mana Jo merasa terhina akibat perbuatan Hera.


TBC


Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.

__ADS_1


__ADS_2