TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
10. Pingsan


__ADS_3

Neska tergopoh-gopoh saat kembali ke kediamannya sendiri. Dia merutuk diri, kenapa bisa dia kelepasan bicara seperti itu didepan Cean.


Oh Neska, kamu sangat memalukan. Begitulah batin gadis itu.


Dia bersandar pada satu-satunya single sofa yang ada di unit apartmennya, menghela nafas panjang sembari merasakan degup jantungnya yang tidak karuan. Ah, kesalahan seperti ini jangan sampai terulang lagi. Neska takut Cean ilfeel dengannya.


Sementara disana, Cean hanya acuh tak acuh menanggapi perkataan Neska beberapa saat lalu. Dia tak ambil pusing, dia menganggap gadis itu hanya bergurau atau asal berkata. Kalaupun Neska tertarik padanya, itu sebuah hal yang lucu bagi Cean. Karena apa? Karena Cean tidak menganggap Neska layaknya seorang gadis yang bisa menjadi pasangan, melainkan Neska lebih cocok menjadi adik kecilnya.


Mengingat itu, Cean jadi tersenyum. Andai dia yang lebih duluan lahir ketimbang Aurora, pastilah ia memiliki adik perempuan. Sayangnya posisi adik harus ia tempati, dan saat kembali dianugerahi seorang adik, nyatanya adik bungsunya juga lelaki dan itu memang seusia Neska.


Ya, lagi-lagi Cean berpikir Neska lebih cocok menjadi adiknya. Tidak ada pemikiran berlebih dan Cean segera melupakan ucapan Neska begitu saja tanpa disaring dalam hatinya.


...~~...


"Nes?"


Neska harus menghentikan langkah saat Karel lagi-lagi mencegat langkahnya di depan kelas. Sang ketua kelas itu sepertinya tidak putus arang bahkan setelah Neska mengatakan dia tidak tertarik dengan cowok yang seumuran.


"Kenapa, Rel?" Neska bersikap biasa saja, dia memang tak mau mempunyai hubungan yang tak baik dengan orang lain. Satu-satunya musuh yang selalu mengejeknya di sekolah hanyalah Rion dan Neska tak mau hal serupa terjadi antara hubungan pertemanannya dengan Karel.


"Kenapa kamu selalu menghindari aku, Nes?"


"Rel, bukannya aku udah bilang ya, kalau kamu masih punya rasa yang lebih dari sekedar teman, buang itu jauh-jauh. Aku cuma mau kita temenan, gak lebih."


Neska tau ucapannya ini tegas dan mungkin menyakiti hati Karel, tapi dia harus tegas. Paling tidak, agar Karel berpikir bahwa banyak gadis lain yang lebih pantas untuknya. Bukan Neska yang miskin dan juga tak punya rasa apapun padanya.


"Oke, fine. Kita temenan kayak dulu. Kamu sendiri yang gak mau kalau hubungan kita jadi musuhan, kan? Jadi aku harap kamu gak buat jarak supaya pertemanan kita jadi renggang."


Jujur saja, Neska cukup terganggu untuk terus berteman akrab dengan Karel. Tapi, mengingat dia sendiri yang mengibarkan bendera anti permusuhan mau tak mau Neska pun menyanggupi.


Percakapan mereka yang di depan kelas itu, terlihat oleh satu-satunya musuh Neska di sekolah. Siapa lagi jika bukan Rion.


"Dih, pacaran jangan didepan kelas! Malu!" sindir pemuda itu sambil berlalu, sebab kelasnya memang melewati kelas Neska.


Mendengar itu, Karel sedikit terpancing emosinya, dia bukannya tak tau bahwa Rion sering meledek Neska. Karel mau bergerak dan menghadang langkah Rion, tapi Neska mencegahnya.


"Udah, Rel. Biarin aja, anggap aja angin lalu." Neska menatap Karel dengan tatapan permohonan. Dia tak mau menyulut permusuhan antara Karel dan Rion, cukup dia saja yang terlibat dengan pemuda itu.


"Aku gak suka dia selalu gak senang dengan apapun yang kamu lakuin, Nes."


"Rel ..."


Neska memegang lengan Karel yang kembali hendak bergerak, gadis itu menggeleng mengartikan tak setuju dengan niat Karel yang mau melabrak Rion.


"Oke, aku gak bakal ngejar dia." Karel sedikit merilekskan tubuhnya yang sempat bergejolak emosi karena olokan Rion.

__ADS_1


"Ya udah, aku boleh masuk kelas gak sekarang?"


Karel mematut senyum tipis. "Silahkan, Nona," katanya berlagak seperti pengawal yang menyambut kedatangan gadis itu. Neska terkikik, kemudian melangkah masuk.


Pelajaran hari ini tidak terlalu membosankan karena mata pelajarannya adalah favorit Neska.


"Gimana? Kamu udah jadian sama Karel?"


Neska tersedak mie yang baru saja di lahapnya di kantin akibat pertanyaan Vita.


"Ohok ... ohok ..." Neska terbatuk-batuk. Untunglah Vita sigap memberinya minuman sesegera mungkin.


"Sorry, Nes. Aku pikir kalian udah jadian." Vita dapat menyimpulkan sendiri jika Neska dan Karel belum berpacaran karena respon dari gadis itu.


"Ta, aku sama Karel itu cuma temenan. Dari dulu dan sampai kapanpun akan begitu. Lagian, aku udah ada incaran, nih," kata Neska terus-terang dengan teman sebangkunya itu.


"Seriusan?" Tentu berita ini merupakan topik panas yang Vita dengar hari ini. Bagaimana tidak, Neska yang biasanya tak tertarik pada pemuda manapun, kini malah mengatakan punya incaran.


"Siapa, apa Rion?"


Sekali lagi Neska tersedak, tapi ini memang tak separah tadi. "Kok, Rion, sih?" ujarnya tak percaya atas tebakan Vita.


"Ya, aku pikir sih gitu, soalnya dia itu kayaknya naksir kamu juga deh, Nes. Makanya dia selalu cari gara-gara sama kamu. Aku yakin deh 999% Rion itu suka kamu, biarin aja sih, dia juga ganteng dan badboy sekolah, tajir lagi!" kata Vita dengan tampang seyakin-yakinnya.


"Terus?" Vita bertanya dengan dua alisnya yang terangkat naik.


Neska langsung membayangkan wajah Cean, dia tersenyum-senyum sendiri seperti orang aneh. Apalagi saat mengingat momen makan malam mereka semalam, gestur tubuh Neska jadi semakin absurd saja.


"Hayo ... lagi mikir jorok, ya?" tebak Vita.


"Mana ada yeee..."


"Lha itu kamu senyum-senyum sendiri."


"Ya itu, aku lagi bayangin wajah cowok incaran aku. Ngebayangin aja rasanya usaha senang banget, tau! Apalagi semalam kita makan malam bareng," katanya terus-terang.


"Serius? Udah sampe tahap makan malam bareng?" Vita menjadi antusias. Akhirnya teman sebangkunya ini bisa juga merasakan jatuh cinta. Ya, minimal dia sudah tau jika Neska baik-baik saja dan normal alias tidak menyimpang.


"Iya, dong. Kemajuan, kan?" ujar Neska menaik-naikkan alisnya.


"Kemajuan banget, dan kalau sampe kamu gak mau bilang siapa orangnya sama aku... awas aja!" ancam Vita.


Neska kembali mesem-mesem.


"Kasi tau gak, ya?" ujarnya mempermainkan Vita.

__ADS_1


"Nes?"


"Hehe, aku kasi tau juga kamu gak bakal kenal."


"Ya, paling enggak kasi tau aku namanya, gitu! Siapa tau aku kenal."


Neska memutar bola matanya, tapi dia pikir ya mungkin saja Vita memang mengenal Cean.


"Namanya Kak Cean. Ocean."


"Dari namanya kayaknya sih aku gak kenal, Nes."


"Hu ... udah aku tebak juga sih," kata Neska bersungut-sungut.


Tak lama mereka tertawa serempak dan menyelesaikan sesi istirahat itu.


Selesai dari kantin, Neska dan Vita lalu berjalan untuk kembali ke kelas mereka. Akan tetapi, tanpa sengaja kepala Neska justru terkena lemparan bola basket, menyebabkan gadis itu terhuyung.


Vita langsung panik, untung dia sigap memegang pundak Neska agar temannya itu tidak terjatuh.


"Nes? Kamu gak apa-apa?"


"Lo gak apa-apa?" Bersamaan dengan itu Rion datang ke arah mereka dengan tampang bersalah.


"Lo sengaja, kan?" Vita menghardik Rion, sementara Neska masih memegang kepalanya yang mendadak pening.


"Gue gak sengaja," jawab Rion.


"Gak mungkin! Lo selalu ganggu Neska. Dan lo udah ngerencanain ini, kan?" Vita berang, ia kalap melihat Rion memasang wajah penuh penyesalan. Ia mengira pemuda itu sedang berakting.


"V--vit, udah!" Neska berusaha menarik atensi Vita kembali, tapi dia keburu pingsan saat itu juga. Benturan bola basket itu cukup keras.


"Neska?!" pekik Vita dan Rion bersamaan.


"Ini semua gara-gara lo!" marah Vita pada Rion.


Rion tak menggubris Vita, dia menggendong Neska saat itu juga kendati Vita mencegahnya.


"Lo gak berhak gendong-gending temen gue!"


"Lo bilang ini salah gue, kan? Ya udah, gue tanggung jawab sekarang!" kata Rion tak acuh, dia membopong tubuh Neska menuju letak UKS.


...Bersambung .......


Next? Komen✅

__ADS_1


__ADS_2