TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
14. Ajakan


__ADS_3

Sejak hari itu, Cean berusaha untuk tidak memikirkan Neska yang belakangan hari muncul dipikirannya. Dia memutuskan untuk tetap menganggap Neska sebagai adik perempuannya saja.


Kendati Cean pun tidak bisa menepis bahwa Neska juga gadis yang amat manis, tapi Cean tidak tega harus merusak kepolosan Neska dengan pesona Cassanova yang dimilikinya.


Dan kepedulian yang Cean tunjukkan terhadap gadis itu murni karena dia menganggap Neska sebagai adik baginya. Apapun alasannya, dia tidak boleh memikirkan Neska sebagai seorang gadis sebagaimana diapun meminta Neska untuk tak menganggapnya lebih dari sebatas Kakak lelaki.


"Ehem... Mas Cean mau kerja, ya?"


Seseorang yang berdehem dan menyapa Cean rupanya adalah Indah yang baru saja pulang mengantarkan putranya ke sekolah pagi itu.


"Iya, Mbak." Cean mematut senyum tipis.


"Oh, pantesan rapi banget beda kalau pas ke rumah Neska."


Cean mengernyit sampai kedua alis tebalnya menyatu satu sama lain. Dia tak paham apa ucapan tetangganya ini.


"Ehm, kemarin saya sempat lihat Mas Cean dirumahnya Neska."


"Oh, iya, Mbak. Kebetulan kemarin lagi benerin kran air di kamar mandinya Neska," jawab Cean apa adanya.


"Wah, yang bener? Urusan gituan mas Cean juga bisa menanganinya?"


Cean hanya tersenyum sebagai jawaban untuk pertanyaan Indah.


"Mau juga dong kalau tukang ledeng nya kayak Mas Cean. Pasti rumah saya jadi panas."


Cean kembali mengernyit, kenapa jadi panas? Pikirnya. Tapi, dia tidak punya waktu menanyai hal itu lebih lanjut.


"Maaf ya, Mbak. Saya harus bekerja." Cean undur diri.


Indah menganggukkan kepalanya dengan senyum penuh arti. Kemudian dia berujar lagi sebelum Cean benar-benar meninggalkan koridor lantai 11 tersebut.


"Aku lihat Mas gak pake baju pas di Apartmennya Neska. Ehm, gak ngapa-ngapain, kan?"


Seketika itu juga Cean menoleh dengan tatapan heran pada indah. Tatapannya penuh rasa ingin tau apa maksud dari perkataan wanita itu.


"Jangan diapa-apain ya, Mas. Neska itu masih polos. Biarin dia sekolah dulu, minimal sampe tamat SMA lah. Kalau mau ngapa-ngapain sama yang lain aja," kata Indah menunduk malu-malu. Ada maksud lain dari kata-katanya itu, tentu saja.


Cean menggeleng samar. "Gak ada yang kenapa-napa dan diapa-apain, Mbak. Saya permisi."


Cean berlalu dengan langkah tegapnya. Ujaran Indah membuatnya jadi mengingat momen saat di Apartmen Neska lagi, dan itu justru menyadarkannya bahwa tindakan yang dia lakukan waktu itu menyebabkan orang lain memiliki spekulasi yang aneh terhadap dirinya, padahal dia tidak melakukan tindakan yang ada dalam pemikiran Indah.


"Haish ..." Cean menggerutu sebelum akhirnya turun ke basement Apartmen.


...~~~...


Neska memasuki kelasnya dengan tidak bersemangat. Harusnya hari ini dia bisa tersenyum cerah mengingat kejadian semalam karena Cean sempat membantunya.


Ah, andai saja kata semacam itu tidak pernah terucap dari bibir Cean. Kalimat yang meminta Neska menganggap pemuda itu sebagai seorang kakak lelakinya saja.


Hhh, rasanya Neska kehilangan semangat.


"Kamu kenapa?" Vita menanyai Neska yang lesu seperti tak ada gair@h hidup. "Masih sakit karena lemparan bola basket kemarin, ya?" tanyanya kemudian.


Neska menggeleng lemah. "Bukan itu," jawabnya singkat.


"Terus?" Vita penasaran.

__ADS_1


"Kamu pernah patah hati gak, Ta?"


Untuk beberapa saat, Vita terdiam, tak lama kemudian gadis itu malah terbahak.


"Jangan bilang kalau kamu sedang patah hati sekarang. Kayaknya baru kemarin bilang abis makan malam bareng sama gebetan kamu itu."


"Nah, itu masalahnya." Neska memangku wajahnya dengan kedua tangan, tampak frustrasi.


"Masalahnya dimana Neska sayang?"


"Cowok yang aku taksir, dia malah nyuruh aku menganggap dia sebagai kakak lelaki aja."


"What?" Vita bahkan memutar posisi duduknya menjadi 90 derajat agar bisa mengarah menatap Neska seutuhnya. "Serius?" tanyanya.


Neska mengangguk-anggukkan kepalanya menandakan keseriusannya.


"Jadi, kamu udah nyatain perasaan kamu, terus ditolak dengan jawaban seperti itu?"


"Ya enggak, aku gak nyatain perasan. Tapi obrolan kami justru mengarah kesana. Tau gak sih, ini tuh sakit banget, Ta."


"Nah ya itu, baru ngerasain patah hati ya? Ini tuh namanya perasaan kamu bertepuk sebelah tangan!" tukas Vita blak-blakan.


"Huuuu...." Neska langsung lemas dan menyandarkan jidatnya di meja yang ada didepannya.


"Udah, kamu gak usah sedih gitu. Namanya juga cinta pertama. itu biasa. Gak semuanya bisa kita dapatin."


"Maksud kamu?" tanya Neska tak bersemangat lagi.


"Cinta pertama itu memang lebih sering gagal. Lagian, apa kamu yakin kamu jatuh cinta sama dia? Aku rasa itu cuma suka atau kagum. Kamu masih bisa move on sama cowok lain, toh kamu juga cantik begini ..."


"Tapi, Ta."


"Udah, udah, ada Karel, tuh. Ntar dia denger soal ini. Kamu mau?"


Neska langsung diam sebab Karel benar-benar menghampiri mejanya.


"Nes? Ke kantin, yuk! Mumpung jam istirahat belum kelar," kata pemuda dengan dimple di dagu itu.


"Enggak. Aku udah titip Vita tadi," kata Neska menunjukkan makanannya yang belum dia sentuh sama sekali.


"Tapi kok gak dimakan? Kalau gak selera, kita ke kantin aja, lihat apa makanan disana yang bisa bikin kamu mau makan."


Neska menggeleng. "Enggak, Rel. Aku lagi gak n@fsu makan aja, kok," jelasnya.


"Ya udah, kalo gitu. Ntar pulang sekolah aku anterin, ya."


Neska mau beralasan, tapi Karel memiliki seribu macam cara agar gadis itu tidak menolak ajakannya kali ini.


"Tenang, Nes. Ini murni karena rasa pertemanan kita, bukan karena rasa yang lain. Boleh, ya? Kan, kamu juga gak mau kalau pertemanan kita renggang karena perasaan aku sama kamu."


Akhirnya Neska pun mengiyakan ajakan Karel.


Sepulang sekolah, Neska diajak Karel yang kebetulan membawa mobilnya hari ini. Neska masuk ke dalam mobil teman sekelasnya itu dan didalamnya juga ada Vita.


Neska tau Karel melakukan ini karena mau hubungan mereka tidak renggang dan murni karena pertemanan sehingga Vita juga diajak olehnya.


"Oke, karena rumah Vita yang duluan ketemu, kita antar Vita dulu ya, Nes."

__ADS_1


"Oke," sahut Neska dan Vita kompak.


Kepulangan mereka itu tampak dimata Rion yang sedang mengendarai motor besarnya. Dia tersenyum kecut mengingat Karel yang tidak menyerah bahkan melakukan berbagai cara untuk mendekati Neska.


Diam-diam, Rion mengikuti perjalanan mereka dan berkendara dengan tenang sambil menjaga jarak aman.


"Makasih, ya, Rel. Hati-hati anterin Neska. Oke?" Vita turun setelah mereka tiba dikediaman gadis itu. Vita melambai-lambaikan tangan ke arah mobil Karel yang mulai berjalan kembali.


Tanpa sengaja, Vita melihat Rion yang melintas dengan motornya.


"Apa Rion ngikutin mobil Karel ya sejak disekolah tadi?" batin Vita.


"Ah, gak mungkin lah. Kebetulan aja kali dia pas lewat jalan sini juga."


Vita pun masuk ke dalam rumah orangtuanya.


Sementara disana, tepatnya didalam mobil Karel, pemuda itu justru mengajak Neska jalan-jalan setelah mengantarkan Vita.


Neska yang polos, tidak mengerti bahwa ajakan Karel mengajak Vita tadi hanyalah alasan saja, sebenarnya yang dia tunggu hanya momen berdua dengan gadis ini.


"Ayolah, Nes! Kita nonton sebentar. Kamu belum pernah nonton ke bioskop baru yang ada di Mall X, kan?"


Neska tertarik dengan ajakan nonton dari Karel, tapi jika pergi berdua saja bukankah mereka terlihat seperti tengah nge-date? Kenapa Karel tidak mengajaknya saat tadi ada Vita juga?


"Aku masih ada kerjaan, kemarin aku gak kerja karena gak enak badan. Hari ini aku harus kerja, Rel. Maaf ya."


Neska tak sepenuhnya berbohong, dia memang harus bekerja tambahan untuk uang saku dan tambahan uang belanjanya. Dia memiliki jadwal beres-beres rumah mengikuti Bu Narsih--salah seorang kenalannya di lantai dasar Apartmennya.


"Hmm, gimana kalau hari ini kamu kerja di rumahku aja, Nes?"


"Rumah kamu?"


"Iya, mama butuh orang buat bantu bersih-bersih."


"Emang dirumah kamu gak ada pembantu?"


"Ada, tapi lagi pulkam, anaknya sakit. Mau gak? Ntar aku bilangin biar


fee buat kamu ditambahin. Anggap aja ini bantuan aku sebagai teman kamu. Kalau aku kasi uang cuma-cuma kamu juga gak akan mau, kan?"


Neska pikir ada benarnya juga dia mengikuti tawaran Karel. Tapi bagaimana pekerjaannya dengan Bu Narsih?


"Ehm, harus hari ini ya, Rel?"


Karel mengangguk-anggukkan kepalanya sembari tetap fokus mengemudi.


"Ya udah, aku telepon Bu Narsih dulu, ya. Takutnya dia nungguin aku."


"Oh, oke." Karel pun tersenyum penuh arti. Meski Neska menolak ajakannya untuk nonton, tapi setidaknya gadis itu tidak menolak tawaran pekerjaan darinya.


Bersambung ....


Banyak yang komen, aku bakal up lagi nanti🤭🤭💚



Noh, lupa masukin foto Cean pas kebasahan di bab sebelumnya🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2