
Neska terperangah melihat beberapa model cincin yang disuguhkan ke hadapannya.
"Kamu mau yang mana?" Cean bertanya, membebaskan gadis itu untuk memilih lebih dulu.
Neska dengan sikap sungkannya langsung menggeleng-gelengkan kepala. Dia bukan malu, tapi merasa berat menerima pemberian Cean yang dirasanya berlebihan.
"Atau mau aku aja yang pilihkan?" Cean mencoba memberi opsi.
"Tapi, Kak ..."
Cean menaikkan tangan sebagai isyarat agar Neska tidak menolak pemberiannya. Pemuda itu segera mengamati satu-persatu cincin yang ada disana.
"Coba yang itu," kata Cean pada pramuniaga yang melayani mereka.
"Silahkan."
Cean mengamati sekilas cincin yang kini sudah ada ditangannya.
"Bagus juga," gumamnya. Cean menarik tangan Neska dan langsung memasang cincin tersebut ke jari manis Neska, membuat cincin dengan warna silver itu berkilauan melingkari jemari sang gadis.
"Perpect," kata Cean menilai. Bukan cuma desain cincinnya yang bagus, melainkan ukurannya pun tampak sangat pas di jari kekasihnya.
"Gimana menurut kamu?" Kini pemuda itu menatap Neska.
"Apa ini gak berlebihan, Kak?" tanya Neska seperti biasa--yang polosnya kebangetan.
Cean hanya tertawa menanggapi perkataan gadisnya.
...***...
Neska menatap pada jari-jemarinya sendiri--dimana disana sudah tersemat sebuah cincin emas putih dengan berlian ditengahnya--hal itu pula yang sekaligus membuat harga cincin tersebut tidak main-main.
Beberapa kali Neska menolak, nyatanya Cean tetap memaksanya untuk mengenakan cincin itu.
Harus Neska akui jika cincinnya memang bagus dan tampak pas di jarinya, tapi tetap saja dia merasa pemberian Cean itu sangatlah berlebihan.
Neska mendadak jadi merasa jika dia sudah seperti gadis materialistik sekarang.
"Cie, yang dikasi cincin berlian," goda Sheila pada gadis yang tampak merenung sambil menatapi cincin di tangannya sendiri.
Neska tersenyum pada Sheila yang duduk disebelahnya dalam kabin pesawat.
"Harusnya aku gak nerima ini kan, Sheil?"
"Ya terima aja dong, kan bukan kamu yang minta juga," kata Sheila realistis. "Kapan ya, Grey ngasih aku cincin juga? Wah, wah, bisa keduluan sama kalian nih kita," tandasnya.
Neska terkikik geli mendengar perkataan Sheila yang terkesan berharap besar. Bagaimana tidak, dia dan Rion sudah berpacaran lebih lama dari Neska dan Cean--tapi tampaknya keseriusan Cean sudah sampai pada tahap tertinggi karena sudah memberikan Neska sebuah cincin yang diluar prediksi oleh sang gadis.
Secara tak langsung, itu berarti Cean mengikat Neska dalam hubungan yang tidak main-main lagi, kan?
"Jangan ngiri," cetus Neska. "Ntar Rion juga bakal ngasih kamu cincin disaat yang tepat. Kak Cean kan kakaknya Rion jadi wajar aja sih dia yang lebih gercep, iya gak?"
Sheila tersenyum lembut pada Neska. Kemudian mengangguk-anggukkan kepala sembari memasang wajah yang paling imut.
__ADS_1
"Iya, Kak Cean gak mau keduluan sama Rion kali ya, makanya dia buru-buru seriusin kamu."
"Jadi menurut kamu ... Kak Cean bersikap begini karena takut kalian melangkahi, begitu?"
"Ya enggak juga, sih. Kamunya aja yang beruntung," sahut Sheila logis.
Neska hanya menanggapi ucapan Sheila dengan meringis kecil.
Tak berapa lama, akhirnya mereka sudah tiba kembali di Singapore.
"Uh, capek banget deh ..." Sheila langsung membaringkan tubuhnya sendiri ke atas tempat tidur milik Neska yang ada di Apartmen gadis itu. "Aku tidur disini aja ya, Nes," izinnya.
"Oke deh," sahut Neska. Dia juga berniat meminta Sheila menginap di tempatnya saja sekarang. Karena mereka yang sama-sama lelah di perjalanan.
Drtt ... drtt ...
Vibrasi ponsel Neska terdengar, cepat-cepat gadis itu mengambil ponselnya.
"Kak Cean?" gumamnya. Rupanya itu panggilan video dari Cean.
"Ya, Kak?" Neska menyorot wajahnya sendiri dengan kamera depan, disaat yang sama dia juga melihat wajah pemuda itu dari seberang panggilan.
"Udah nyampek?"
"Udah kak, sekitar 20 menit yang lalu."
Cean tampak tersenyum senang disana.
"Iya, Kak."
"Kamu capek?"
Neska menganggukkan kepalanya.
"Sabar ya, nanti ada saatnya kamu gak perlu bolak-balik Singapore-indonesia lagi."
"Iya aku tau, Kak."
"Tadi udah sempat makan?"
"Udah."
"Ya udah, sekarang istirahat ya. Miss you."
Neska tersenyum malu ketika melihat Cean yang bertingkah seperti tengah menciumnya dari jarak jauh.
"Iya, Kak."
"Kok gitu jawabnya? Harusnya kamu jawab Miss you too, Nes. Kamu gak kangen sama aku? Aku aja udah kangen lagi sama kamu."
Kali ini Neska menahan gelak tawanya sebab Cean terlalu blak-blakan akan hal itu.
Neska sendiri masih merasa mimpi jika dia dan Cean sudah terikat dalam sebuah hubungan sekarang. Apalagi Cean tampak serius padanya.
__ADS_1
"Iya, Miss you too, Kak. Aku juga udah rindu sama Kakak." Neska akhirnya menyerah dan mengikuti permintaan Cean, kendati demikian, dia memang benar-benar sudah merindukan sosok itu.
"Ya udah, kamu mau istirahat, kan? Aku tutup panggilannya ya."
"Ehm, tunggu, Kak."
Cean tampak kembali terfokus pada Neska dari sambungan video call tersebut. Dia menunggu apa yang akan Neska katakan.
"Kak, aku mau tanya boleh?" Neska menghela nafas pelan. "Tadinya aku mau nanya secara langsung tapi kayaknya aku gak berani bilangnya sama Kakak."
"Kenapa harus gak berani? Aku justru malah seneng kalau kamu banyak nanya tentang aku. Apalagi kamu mau cerita tentang diri kamu sama aku, terbuka sama aku, aku seneng, Nes."
"Bukan soal aku, Kak. Aku mau tanya tentang Kakak."
"Ya, tanya aja, Sayang."
Neska tergelak kecil disana. Membuat Cean selalu senang dengan panggilan barunya karena itu bisa membuat Neska malu-malu dengan rona wajah yang memerah.
"Kakak ... seserius itu ya sama hubungan kita? Kita baru jadian dua hari dan kakak udah kasih aku cincin?"
"Emang kamu gak denger tadi aku bilang apa? Kamu calon istri aku, Nes."
"Tapi ..."
"Kamu ragu sama aku?" sergah Cean. "Apa hal yang harus aku perbuat supaya kamu yakin sama keseriusan aku, Nes? Aku bakal lakuin itu."
Neska menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku cuma takut, Kak. Jujur, aku gak mau berharap banyak sama Kakak kalau ternyata Kakak masih memiliki karakter seperti dulu yang suka punya banyak cewek."
Entah kenapa, setelah mengucapkan kalimatnya, Neska jadi teringat pada peristiwa dimana dia memergoki Cean dan Wenda saat berciumann panas di Apartmen lama. Meski itu terjadi beberapa tahun yang lalu tapi disanalah Neska pernah syok karena tingkah pemuda yang sudah menjadi kekasihnya sekarang.
"Itu aku yang dulu, Nes. Aku udah berubah sekarang. Aku gak maksa kamu percaya. Kamu cukup terima aja seluruh rasa yang aku limpahkan untuk kamu." Cean tampak sangat serius disana, seolah dia berbicara pada Neska secara langsung dan menatap sepasang netra gadis itu bergantian. "Satu yang aku minta, Nes. Balas perasaan aku meski itu cuma sedikit, aku gak mau mencintai sendirian. Hmm?" tandasnya menekankan.
"Kakak tau sendiri gimana perasaan aku, Kak. Tanpa kakak minta pun aku pasti balas perasaan kakak itu. Karena aku udah lebih dulu ngerasain gimana sakitnya mencintai sendirian seperti yang kakak bilang itu."
Entah kenapa Cean merasa bersalah akan ujaran Neska kali ini.
"Maaf, maafin aku udah biarin kamu terlalu lama terjebak dalam rasa seperti itu. Kamu pasti sakit hati selama ini. Maafin aku ya."
Neska tak menyahut, Cean jadi semakin merasa bersalah. Apakah Neska tak mau memaafkannya?
"... tapi, aku bersyukur bisa memiliki kamu sekarang--disaat sifat buruk aku udah mulai menghilang."
Cean tidak bisa membayangkan bagaimana jika dulu dia menerima saja Neska seperti gadis lain yang dipacarinya. Mungkin Neska sudah menjadi salah satu korban yang hancur karena sikap playboynya. Dia pasti akan lebih menyakiti Neska dengan menyia-nyiakan perasaan gadis itu.
Jadi, menurut Cean waktu yang sekarang adalah saat yang paling tepat untuk dia bersama Neska, disaat dia sudah berubah menjadi lebih baik, karena Neska layak mendapat yang terbaik darinya, bukan cuma dipermainkan oleh sifat jeleknya dimasa lalu.
"Nes, aku mau segala perubahan baik aku yang sekarang, hanya aku tunjukkan didepan kamu. Hanya kamu satu-satunya gadis yang bisa merasakan ketulusan aku. Cuma kamu."
"Aku ngerti, Kak. Mungkin sekarang memang waktu yang paling tepat buat kita. Gak kebayang juga sih, kalau aku udah sama kakak sejak dulu, mungkin aku bakal makan hati tiap hari, ya?" Neska terkekeh kecil di ujung kalimatnya.
"Iya." Cean menyengir. "Makasih ya, kamu masih mau menunggu aku sampai saat ini. Sampai dimana aku benar-benar sudah berubah dan hanya menginginkan kamu saja."
...Bersambung .......
__ADS_1