TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
49. Pernyataan (lagi)


__ADS_3

Neska tidak tau kenapa dia yang dijadikan sebagai penyebab Cean tidak menikmati hidup. Pemuda itu tidak menjelaskannya, pun Neska tak dapat bertanya untuk sekedar tau alasannya.


Yang jelas, Neska takut jika kebersamaannya dengan Cean hari ini harus berakhir begitu saja.


Beberapa kali Neska menyadarkan diri, takut kalau-kalau ini cuma mimpi di siang hari.


"Kapan-kapan kita ke Dufan, yuk."


Neska menoleh pada Cean yang kembali mengajaknya bicara. Saat ini mereka duduk bersisian dari teras pondok sembari memandang lurus ke arah danau yang terhampar dihadapan. Hari sudah mulai sore dan sedikit redup disertai dengan angin sepoi-sepoi yang menyejukkan.


"Ngapain?"


Cean menatap Neska dan mengunci pandangannya disana. "Ke Dufan kok ngapain sih, Nes. Ya, main," katanya kemudian.


"Bukannya Kakak sibuk?"


"Kamu lupa kalau aku bos-nya?" Cean tidak benar-benar menyombongkan diri sebenarnya, tapi sepertinya Neska perlu diingatkan lagi disini.


"Ng--- tapi aku juga bakalan sibuk, Kak. Aku baru tanda tangan kontrak, belum lagi kuliah di Singapore. Aku bakal bolak balik Indonesia-Singapore, kan?" ujarnya berusaha membuka pemikiran Cean.


Cean mengangguk sekilas. "Kalau gitu, nanti aku aja yang ke Singapore. Kita ke Universal Studio, gimana?" tanya dengan senyum terkembang.


"Kenapa Kakak ajak aku?"


"Ya karena aku mau."


"Kalau aku gak mau."


"Emang kamu gak mau?"


"Em... mau sih," kata Neska yang lagi-lagi tak bisa menolak keinginan Cean.


Tangan Cean terulur dan mengacak rambut Neska sangking gemasnya. "Kamu cukup tunggu disana dan nanti aku yang bakal datang menjemput kamu," paparnya.


Neska menundukkan wajah. Kenapa Cean jadi semanis ini? Dia semakin takut jatuh pada pesona pria ini lagi. Cean tidak banyak berubah kecuali penampilan fisiknya yang tampak lebih matang dan dewasa. Ehm, satu lagi dia terlihat lebih kurus dari terakhir kali Neska bertemu dengannya.


"Terserah kakak aja," jawab Neska kembali pasrah.


Cean melengkungkan senyum, kemudian dia menarik nafas dalam-dalam.


"Nes?"


Gadis yang menunduk itu kembali menaikkan pandangan ke arah Cean.


"Sebenarnya, tujuan aku mengajak jalan kamu hari ini karena ada sesuatu yang mau aku jelaskan."


"Tentang?"


"Perkataan aku di masa lalu."


Neska sedikit mendelik kecil. Sampai kemudian dia merasakan jemarinya kembali disentuh lembut oleh pemuda itu.


Cean memindai kedua bola mata Neska kiri dan kanan secara bergantian. "Aku tau, ini waktu yang terlalu telat untuk menjelaskan.Tapi aku mau kamu tetap tau hal ini," tukasnya.


Neska masih bertanya-tanya apa kiranya yang ingin dijelaskan Cean mengenai perkataannya di masa lalu. Apa ini ada hubungannya dengan pertemuan terakhir mereka waktu itu? Apa Cean mau meminta maaf atas leluconnya waktu itu?


"Nes, aku gak tau apa penyebab kamu menuduh aku bermain-main saat dulu aku berusaha menyatakan perasaanku sama kamu."


Neska mana mungkin lupa dimana Cean sempat mengatakan menyukainya waktu itu. Tapi, pernyataan Cean sekarang justru membuatnya jadi bingung.


"... aku gak pernah becanda saat itu, Nes. Aku serius kalau aku menyukai kamu sebagai seorang gadis. Aku juga gak paham, kenapa kamu harus menganggapku sedang bercanda dan nge-frank kamu waktu itu."

__ADS_1


Neska berkedip gelisah, tentu saja dia syok mendengar penjelasan Cean saat ini. Apa ini artinya Cean serius dengan pernyataannya waktu itu dan Neska yang salah paham? Begitu?


"Maaf ya, harusnya aku menjelaskannya sejak lama tapi aku gak punya kesempatan untuk itu. Aku harus segera kembali ke Indonesia untuk pekerjaan, lalu disambung dengan masalah Aura yang membuat aku dituntut untuk menghandle semuanya sendirian."


Neska paham kondisi Cean saat itu, dia juga sudah mendengar mengenai masalah Aura dan dampaknya adalah keadaan yang tidak berpihak pada dia dan Cean sejak saat itu.


Cean kembali memandang netra sang gadis dengan dalam, sorot mata pria itu tampak benar-benar serius. "Maaf ya, kamu mau maafin aku, kan?" tanyanya memastikan.


Neska mengangguk. "Aku juga minta maaf ya, Kak. Aku udah salah mengartikan ucapan Kakak waktu itu. Aku malah anggap Kakak bercanda."


"Gak apa-apa, Nes. Aku tau waktu itu keadaannya juga gak seperti sekarang. Jadi ..."


"Jadi?" Neska menatap Cean keki.


Cean mengulumn senyum sekarang. "... jadi, karena waktu itu kamu anggap pernyataan aku hanya sebuah lelucon maka sekarang aku mau mengulanginya lagi," katanya sembari meremmas jari jemari Neska yang sejak tadi sudah di genggamnya.


Neska tertunduk malu. Ada banyak hal yang ingin dia tanyakan pada Cean tapi dia terlalu sulit untuk berkata-kata sekarang. Lebih tepatnya, Neska ingin menunggu Cean selesai mengulangi kalimat pernyataan itu lagi.


"Aku suka kamu, Nes." Akhirnya kalimat itu tercetus kembali setelah dua tahun yang lalu sempat dinyatakan namun keadaan belum memihak pada Cean. "Bukan sebagai adik. Bukan sebagai saudara perempuan. Tapi sebagai seorang gadis yang layak menemani aku," katanya lugas.


Neska tertegun, dia menatap Cean dengan mata yang berkaca-kaca haru.


"Aku ... sayang sama kamu, Nes. Aku juga mau kamu balas menyayangiku dengan rasa yang sama."


"Kalau aku gak bisa balas perasaan kakak, gimana?" jail Neska. Hal itu turut menyebabkan keseriusan Cean buyar. Padahal dia mau tampak sangat bersungguh-sungguh saat menyatakan ini lagi agar Neska tau keseriusannya.


"Hah?" Cean melongo. "Kamu punya pacar? Bukannya kamu udah putus sama Rion?" tanyanya.


"Ya, cowok di Singapore bukan cuma Rion, kan, Kak."


"Nes?" Cean berujar lesu. Jika Neska benar-benar telah memiliki pacar sekarang, maka Cean akan mendatangi pemuda itu. Bukan untuk menghajarnya, tapi Cean akan memohon agar dia mau melepaskan Neska untuknya.


"Nes, aku gak pernah berusaha melupakan kamu sejak sadar kalau aku sangat menginginkan kamu. Aku rela di anggap gak normal atau sakit sama orang-orang, hanya karena aku gak mau meletakkan gadis lain lagi dalam hidup aku kecuali kamu."


"Lebih baik aku tetap sendirian kalau itu gak sama kamu." Cean tampak bersungut-sungut.


Sekarang barulah Neska bisa melepaskan tawanya, membuat Cean memandangnya heran.


"Aku gak ada bilang kalau aku punya pacar, kan?"


"Tapi tadi kamu ..."


Neska menumpukan satu tangannya yang lain di punggung tangan Cean yang sudah menggenggam jemari Neska yang satunya, hal itu membuat Cean bertanya-tanya ke dalam mata Neska, seolah mencari jawaban disana.


Neska mengangguk pada Cean sebagai jawabannya.


"Jadi?" Senyum di bibir Cean mulai terbit kembali.


"Jadi?" beo Neska, berlagak bodoh.


"Jadi kamu mau kan?"


"Mau apa?"


"Kita pacaran. Hmm?"


"Pacaran?" ulang Neska dengan nada yang terdengar meremehkan.


Cean terhenyak mendengarnya. "Atau kamu mau kita langsung menikah? Jika iya, kita--"


"Kak ..." sela Neska cepat. "Aku masih kuliah," katanya melanjutkan.

__ADS_1


Cean tertawa pelan, dia sadar jika dia yang terlalu bersemangat hari ini. Cean terlalu senang dengan jawaban yang Neska berikan.


"Iya, aku ingat kamu masih kuliah. Tapi banyak kok yang kuliah dan tetap menikah."


Neska refleks melepaskan genggaman tangan Cean saat itu juga.


”Kakak gak serius mau ngajakin aku menikah, kan?" tanyanya memastikan.


"Kalau aku serius, emang kamu gak mau?" Alih-alih menjawab, Cean kembali melempar pertanyaan pada gadisnya.


Neska menggeleng cepat. "Enggak," katanya ringan.


Cean membuka mulut, dia mau protes tapi kemudian dia tak jadi berbicara. Entahlah, dia bingung harus menyahuti apa atas penolakan Neska yang ini.


"Aku masih kuliah. Kalau Kakak memang serius---"


"Aku serius, Neska, Sayang ..." kata pemuda itu menekankan.


Neska membuang pandangan sebab Cean sudah berani memanggilnya seperti itu. Dia terlalu malu untuk mendengarnya.


"Ya udah, Kakak tungguin aku lulus kuliah. Lagian, aku gak mau mengecewakan kedua orangtua Kakak yang udah kasi aku beasiswa, Kak."


Cean menganggukkan kepalanya, dia berusaha menjangkau pundak Neska agar gadis itu kembali menatap padanya.


"Jadi, mulai hari ini kita pacaran, kan?"


Neska hampir terkekeh melihat Cean yang seperti anak remaja sedang menyatakan cinta.


"Umur Kakak sekarang berapa, sih?"


"Dua tujuh, lebih."


"Aku bahkan baru aja dua puluh."


"Kamu mau bilang kalau aku udah tua, gitu?" Ada kulumann senyum diujung bibir Cean.


"Bukan, bukan gitu maksud aku, Kak." Lagi-lagi Neska menahan tawanya.


"Terus?"


"Kenapa Kakak masih kayak anak SMP yang nyatain cinta," olok Neska terang-terangan.


Cean jadi terkekeh, matanya memicing pada Neska sekarang, membuat Neska jadi salah tingkah sebab tidak memahami arti tatapan Cean kali ini.


"Jadi, kamu mau aku nyatain cinta versi dewasa?"


Neska menciut, dia melihat sosok Cean berbeda sekarang. Jika tadinya Cean seperti remaja, kini malah berubah menjadi dewasa disaat hampir bersamaan.


"Oke, kalau itu yang kamu mau."


Cean langsung memajukan wajahnya untuk lebih dekat pada Neska, membuat gadis itu terpaku ditempatnya dan tidak dapat bergerak. Neska tau ini ada yang salah, tapi respon tubuhnya sama sekali tidak mengelak.


Wajah Cean semakin dekat, dekat, dan dekat. Rasanya Neska kehabisan oksigen, bahkan sebelum Cean melakukan apapun terhadapnya.


Neska dapat merasakan hembusan nafas Cean yang hangat menerpa kulit wajahnya. Aroma mint menyeruak disana.


Sampai pada akhirnya, Cean benar-benar mendaratkan sebuah kecupan ringan dan singkat di bibir gadis itu.


"I love you," bisik Cean tepat didepan wajah Neska.


Sementara Neska sendiri, dia nyaris pingsan dengan jantung yang terasa melompat keluar. Neska mendadak cegukan.

__ADS_1


...Bersambung ......


Kita kasih momen manis dulu sebelum konflik😪😅✌️


__ADS_2