TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
44. Melihat Fotonya


__ADS_3

Cean menatap kedatangan Marko pagi ini dengan tampang dingin. Dia kesal, entah kemana saja asistennya itu selama 2 hari belakangan. Saat Cean menelpon, Marko selalu beralasan sedang mencari model untuk menggantikan Jelita.


"Mana?" tanya Cean datar pada pria berkacamata itu.


Marko menyeringai dengan gaya yang sok cool. "Apanya?" tanyanya, entah memang tak memahami maksud Cean atau justru hanya berlagak bo doh.


"Udah dapat cast untuk calon BA yang baru belum?" Cean memutar bola mata malas kemudian.


"Oh itu ..." Marko terkekeh pelan. "Udah, dong!" jawabnya tampak jumawa.


Cean mendesis, kemudian bergerak untuk menggulung lengan kemejanya dengan sangat tenang.


"Kalau memang sudah ada cast nya, segera atur kapan waktu pemilihan yang paling cocok."


Yakin jika Cean tak marah lagi padanya, barulah Marko mengatakan tentang maksud kedatangannya ke ruangan Cean saat ini.


"Gak perlu ada pemilihan, karena udah terpilih yang paling cocok untuk menggantikan Jelita."


Cean menipiskan bibir, dia melipat tangan di dada dan menatap Marko dengan sorot tak percaya.


"Kau melangkahi aku dalam urusan pemilihan brand ambasador ini?"


"Tentu saja maksudku tidak begitu."


"Lalu? Bagaimana bisa kau memutuskan calon BA sendirian tanpa persetujuanku."


Marko menggaruk pelipisnya yang sama sekali tidak terasa gatal.


"Aku memang sudah memilih satu yang menurutku paling cocok." Marko buru-buru melanjutkan kalimat sebelum Cean menyelanya. "Tapi, dia juga belum tanda tangan kontrak. Jika kau tidak setuju sama calon BA ini, kita bisa mencari kandidat yang lain," terangnya.


Cean mengusap wajahnya sendiri. "Ah, terserah kau saja, kau bos nya disini," katanya satir.


Marko meringis keki. "Sorry, maksudku bukan begitu. Aku gak bermaksud melangkahimu, Cean," ungkapnya.


"Aku juga bingung sejak kapan peraturannya berubah begini."


Marko langsung mengacungkan dua jari berbentuk V dihadapan Cean sebagai bentuk perdamaian.


"Please, kau lihat dulu calon BA nya, kita udah sempat tes foto kemarin. Aku jamin kau akan setuju dengan pilihan kami."


"Kami?" ulang Cean.


"Ya, aku dan Dewi udah klop sama calon BA ini. Zain dan yang lain juga udah oke. Ini wajah baru. Fresh. Aku yakin kau gak akan kecewa, Cean. Dia beda sama Jelita."


"Tetap aja kalian ambil keputusan tanpa persetujuanku," omel Cean.


"Kan udah ku jelaskan tadi. Dia belum tanda tangan kontrak, jadi ... semua keputusan tetap ada di tanganmu."


Cean mendengkus pelan, tak lama dari itu, tangannya terulur ke depan wajah Marko. "Mana?" tanyanya.


"Apanya?" Kali ini Marko benar-benar tak paham apa yang diminta oleh Cean.


"Kau bilang kemarin sempat tes foto, aku mau lihat hasilnya," pungkasnya.


"Oh itu, bentar ..." Marko lantas mencari keberadaan ponsel di saku celana bahan yang dia kenakan, kemudian menekan-nekan benda pipih itu untuk mencari fotonya.

__ADS_1


Cean menunggu dengan tidak sabar. Dia ingin tau bagaimana pilihan Marko dan tim nya yang bergerak tanpa melibatkannya dalam hal tersebut.


"Nih," kata Marko sembari menyodorkan ponsel yang sudah ada hasil foto-foto dari pemotretan kemarin. Zain memang sudah mengirimkan master file yang berisikan foto itu kepadanya.


Cean mengambil ponsel Marko, melihat foto-foto calon BA baru yang akan segera bekerja sama dengan perusahaannya.


Melihat pada foto gadis yang sedang berpose itu, kelopak mata Cean langsung melebar dengan tatapan tak percaya. Ini Neska?


Sedetik, dua detik, tiga detik. Cean mengira jika dia tengah berhalusinasi sekarang. Mungkin wajah model ini memang mirip Neska, atau ini adalah efek karena dia terlalu sering memikirkan gadis yang sama sepanjang dua tahun ke belakang.


"Gimana?" tanya Marko, dia melihat ekspresi syok Cean yang sangat terpancar jelas. Senyum dibibir Marko langsung terbit seketika itu juga.


"Dimana kau bertemu dengan gadis ini?"


"Di bumi, lah," sahut Marko yang sangat menyebalkan di indera pendengaran Cean.


Cean langsung bergerak refleks, dia menarik kerah kemeja Marko. "Jawab yang serius! Aku sedang tidak mood untuk bermain-main!" katanya tegas.


Marko sendiri kelimpungan, niatnya hanya membercandai Cean agar pemuda itu tidak terus menerus bersikap serius di setiap harinya. Amat disayangkan ternyata jawabannya justru menyulut kemarahan Cean.


"Sorry, aku bertemu dengannya di--"


"Lupakan! Aku mau bertemu dengan model ini secepatnya. Atur waktunya dan kalau bisa dalam dua hari ini juga. Jika perlu, sekarang juga!" titah Cean membuat Marko menghela nafas sepenuh dada.


Cean ingin bertemu sosok model dalam ponsel Marko untuk membuktikan jika dia bukan cuma berkhayal jika gadis itu adalah orang yang sama dengan gadis yang selalu muncul dipikirannya.


"Ko!"


Marko kembali menoleh sebelum dia sempat menekan knop pintu.


Marko menggaruk kepalanya, sebenarnya dia belum mau jujur pada Cean sebab niat awalnya adalah membuat kejutan untuk pemuda itu.


Akan tetapi, berhubung Cean dalam mood buruk yang tak mungkin Marko tambahi dengan kebohongan, jadi mau tak mau dia harus menjawab pertanyaan Cean dengan sejujur-jujurnya.


Saat mulut Marko sudah setengah terbuka untuk menyebutkan nama Neska, disaat yang sama--ponsel Cean juga terdengar berdering, hingga akhirnya Cean langsung beringsut menjauh untuk menerima panggilan penting tersebut.


"Hallo?"


Cean pun meninggalkan Marko sendirian didalam di ruangannya.


Cean akhirnya tidak mengetahui siapa nama model yang fotonya sempat ditunjukkan Marko kepadanya tadi.


Marko pun berdecak lidah setah Cean pergi. "Cean, Cean. Memang paling benar kau lihat langsung saja nanti siapa BA baru kita. Awas saja kalau kau sampai menolaknya," gumamnya sebal.


Tak lama setelahnya, Marko memutuskan untuk ikut meninggalkan ruangan tersebut sebab merasa tak ada keperluan lagi.


...***...


"Jadi, Sabtu besok kamu bakal ke Indonesia?" Sheila mendapati Neska yang mengatakan padanya jika gadis itu sudah menerima tawaran pekerjaan dari Marko.


Neska juga sudah menceritakan pada Sheila mengenai sesi pemotretan yang sempat dia lakukan bersama Marko dan crew-nya.


"Huum." Neska mengangguk pelan. "Gimana menurut kamu?" tanyanya kemudian.


"Ya, bagus, dong. Aku seneng banget malah."

__ADS_1


"Tapi Kak Marko itu bisa dipercaya, kan?"


Sheila mengernyit dalam. "Maksud kamu?" tanyanya tak paham.


"Gini deh, kamu sama Kak Marko itu udah kenal berapa lama?"


"Aku?" Sheila menunjuk pada dirinya sendiri. "Kalau aku, emang kenalnya belum lama sama Kak Marko. Tapi, Grey yang kenal dia sejak lama," ungkapnya.


"Emang Rion kenal Kak Marko darimana?"


"Kak Marko itu kan--"


Sheila buru-buru menghentikan kalimat, dia hampir saja mengatakan pada Neska jika Marko adalah sahabat Cean sekaligus asisten pribadi pemuda itu, untung saja stimulasi otak Sheila bekerja dengan cepat sehingga mulutnya sempat mengerem perkataannya yang hampir saja tercetus.


"Kak Marko itu siapa?" tanya Neska kembali mau memastikan.


"Ehm, Kak Marko itu Kakak kelasnya Grey, kalo gak salah." Sheila sedikit ragu dengan jawaban yang dia berikan. Terang saja, dia kan sedang mengarang alias bohong.


"Kakak kelasnya? Aku gak kenal, tuh ..." jawab Neska. Waktu sekolah di SMA yang sama dengan Rion-- mereka memang tidak punya kakak kelas bernama Marko.


"Eh, maksud aku ... Kakak kelas Grey waktu SMP," ralat Sheila random.


"Jadi, kamu kok baru kenal? Kan kamu satu sekolah sama Rion pas SMP?"


Skakmat! Sheila tidak bisa menyahuti ucapan Neska lagi kali ini.


"Ya, aku kan kuper dulu," alasan Sheila. "Emang kenapa sih, kamu kok nanya beginian? Kamu takut dan ragu kalau Kak Marko bakal bohongin kamu, gitu?" Sheila mencoba mengalihkan pertanyaan Neska tadi.


"Iya, sih. Aku takut sampai di Indonesia justru aku dibohongin. Yang lebih parahnya justru aku diperkerjakan ditempat yang gak sesuai ekspektasi aku."


"Kemarin kalian udah tes foto, kan? Kenapa kamu masih ragu? Tim-nya Kak Marko juga udah datang dan kenalan sama kamu. Terus, kenapa masih gak percaya?"


"Aku cuma takut aja, sih."


Sheila paham dengan ketakutan yang Neska rasakan. Apalagi Neska adalah gadis yang sangat polos. Pasti Neska takut diapa-apakan oleh Marko nantinya, maka dari itu Neska ingin memastikan sedekat dan sejauh mana dia dan Rion mengenal pria itu.


"Aku jamin Kak Marko itu gak main-main soal tawaran kerjaannya. Aku juga yakin Kak Marko itu pria yang baik dan gak mungkin menjerumuskan kamu." Sheila menatap Neska lekat. "Tapi, kalau kamu emang takut buat terbang ke Indonesia sendirian, aku temenin deh, ntar kita sama-sama balik ke sini juga setelah urusan kamu disana selesai," ujarnya.


Sheila dapat mengatakan ini karena dia tau Marko tak mungkin lancang melakukan apapun pada Neska-- disaat lelaki itu tau bahwa Neska adalah gadis incaran Cean.


Neska melebarkan senyumnya. Dia memegang tangan Sheila dengan raut antusias. "Serius kamu mau nemenin aku ke Jakarta?" tanyanya sembari mengguncang lengan Sheila yang masih dalam pegangannya.


Sheila langsung menganggukkan kepalanya dengan tampang yakin.


"Iya, kira-kira berapa lama kita disana? Kalau lama, kita nginap aja di rumah orangtuaku," saran Sheila.


"Gak lama, sih. Sabtu pergi, paling Minggu malam udah balik kesini. Kata Kak Marko cuma buat ketemu atasannya, terus tanda tangan kontrak aja, kok."


"Oke. Bagus deh, Senin juga aku masih ada kuliah siang. Ntar selesai urusan kamu, kita kerumah orangtuaku sebentar ya."


"Oke. Makasih ya, Sheil."


"Iya, santai aja."


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2