
"Gue pulang, ya."
Neska mengangguk. Dia merasa lega sudah mengutarakan hal yang ingin dia katakan pada Rion. Dia berharap pemuda itu tidak lagi menyukainya setelah penolakannya.
"Makasih ya, lo udah ajak gue jalan hari ini."
"Iya, sama-sama. Gue juga makasih karena lo mau gue ajak jalan." Pemuda itu menepuk-nepuk pelan puncak kepala Neska yang tingginya hanya sebatas dadanya saja, sementara Neska melotot tak percaya akan apa yang kini Rion lakukan.
"Em, sorry kalo lo gak nyaman," kata Rion pelan.
Neska masih membeku dengan perlakuan Rion yang manis. Bukankah dia sudah menolaknya? Neska pikir Rion akan menjauhinya setelah ini.
"Y--ya, gue ma-masuk," kata Neska yang mendadak gugup. Entah kenapa.
Mendapat perlakuan baik dari Rion-- seperti mimpi saja bagi gadis itu, sebab selama ini mereka memiliki hubungan yang kurang baik dan ini terasa amat janggal. Berbeda dengan hubungan Neska dengan Karel, meski Karel juga menyukainya, tapi sejak awal keduanya sudah selayaknya teman baik. Tapi dengan Rion? Ah, rasanya aneh saja.
Neska dan Rion tidak sadar bahwa sejak tadi ada Cean yang melihat interaksi keduanya dari celah pintu Apartmennya sendiri. Ralat, bukan melihat melainkan mengintip. Sebenarnya Cean tidak berniat begitu, tapi mendengar suara Rion dan Neska yang sudah kembali, dia penasaran apa pembicaraan kedua muda-mudi itu setelah ini. Nyatanya mereka terlihat sangat manis.
Apa mereka sudah jadian? Pikir Cean.
Rion memilih untuk ke Apartmen sebelah, dia ingin berpamitan pada Cean lebih dulu sebelum memutuskan pulang. Sayangnya, Cean yang keasyikan berdiri dibelakang pintu dan mematung melihat perlakuan Rion yang terlalu manis kepada Neska justru tidak beranjak dari sana.
"Kak?" Rion sedikit terkejut, dia belum mengetuk pintu tapi Cean sudah membukakannya lebih dulu--seolah tau keberadaannya.
Apa Cean mengintip mereka? Pikir Rion.
"Udah pulang?" tanya Cean kemudian.
Rion mematut senyum tipis yang entah kenapa sangat menyebalkan dipandangan mata Cean.
Rion juga merasa tak perlu menjawab pertanyaan kakaknya yang dirasa tak perlu dijawab itu.
"Abis kemana aja?" Cean memasuki Apartmennya kembali, diikuti oleh Rion dibelakangnya. Dia duduk di sofa, membuka kaleng softdrink yang sudah tak dingin sebab sudah tergeletak di meja sejak tadi. "Asyik jalannya?" tanyanya lagi.
Rion ikut terduduk. Bukannya menjawab pertanyaan sang Kakak, dia justru menatap mata Cean lamat-lamat, membuat sang kakak yang ditatap jadi mengernyit keheranan dan sedikit grogi.
"Kenapa?" tanya Cean heran.
__ADS_1
"Aku udah bilang kan, kalau aku suka sama Neska."
"Terus?" Cean mulai meminum minuman kalengnya.
"Sekarang Neska udah tau, katanya dia gak sengaja denger kemarin." Rion kembali mematut senyuman yang penuh arti, tapi entah apa. "Aku gak akan maksa dia, sekalipun saat ini dia lagi suka sama cowok lain," ujarnya kemudian.
"A-apa? Ke-kenapa? Neska ngaku sama kamu kalau dia lagi suka sama cowok lain, gitu?"
Rion mengangguk mantap. "Iya, tapi aku gak anggap itu sebuah penolakan. Kita juga masih muda. Perasaan masih bisa berubah, kan, kak? Aku percaya kalau suatu saat perasaan Neska bisa berubah haluan ke aku," tukasnya yakin.
Glek!
Cean menghabiskan sisa minumannya dalam sekali tegukan. Tak terasa yang kini dipegangnya hanyalah sekaleng kosong yang sudah tidak berisi.
"Neska juga bilang siapa cowok yang dia suka. Dan aku gak merasa kalau cowok itu adalah saingan aku, karena aku yakin Neska akan capek sendiri sama dia nanti." Lagi-lagi Rion tersenyum menyebalkan dalam penglihatan Cean. "Akan ada saatnya, Neska bakal ngelihat, aku, Kak!" tandasnya.
Tanpa terkendali, Cean justru meremat kaleng kosong ditangannya menjadi penyok dan tidak berbentuk. Namun, dia masih bisa menyunggingkan senyum khasnya didepan Rion, seolah tidak pernah terjadi apapun atau lebih tepatnya pura-pura bo doh dengan apa yang didengarnya.
"Kakak paham maksud aku, kan, kak?" tanya Rion.
"Haha, tentu aja Kakak paham, Dek." Cean menyahut sembari melempar kaleng tak berbentuknya ke arah tong sampah.
Kaleng itu pun masuk tepat sasaran-- bersamaan dengan senyum satir penuh ironi yang kemudian tersungging disudut bibir Cean.
"Kakak dukung aku, kan?"
Sekarang Cean menggeram rendah, jika Rion sudah mendengar dari Neska siapa pemuda yang gadis itu sukai, itu artinya Rion sudah mengetahuinya, kan? Apa kini adiknya ini tengah mengujinya? Batin Cean mulai menerka-nerka apa maksud Rion sekarang. Apa Rion mau mendengar pengakuan Cean terkait hal ini sehingga dia memancing-mancing Cean untuk buka suara agar mengakui?
"Ah iya, Kakak bilang tadi mau pergi? Kok masih di rumah sampe aku balik kesini?"
"Hah?" Cean pun mengingat kebohongannya sesaat sebelum Rion dan Neska pergi. "Ya, tadi udah keluar tapi udah pulang juga sebelum kamu nyampek kesini lagi," katanya kembali dan lagi-lagi harus berbohong.
Sekali berbohong, maka akan keterusan. Begitulah pemikiran Cean yang tidak bisa berkutik kala adiknya seolah mengulik tentang dirinya.
"Ya udah, aku balik dulu ya, Kak. Udah sore, takutnya Mama nyariin."
Cean hanya bisa mengangguk kikuk. Baru kali ini dia merasa Rion--adik bungsunya--seperti tengah mengintimidasinya meski secara tidak langsung.
__ADS_1
Cean menghela nafas panjang setelah Rion benar-benar meninggalkan kediamannya.
Tidak bisa menunggu waktu lagi, Cean pun keluar dari unitnya, dia tidak tahan untuk tidak menyapa Neska hari ini. Bukan, ini semua karena ucapan Neska kemarin yang mengatakan ingin menjaga jarak darinya sehingga dia merasa harus meng-clear-kan masalah ini.
"Nes?" Cean lebih memilih mengetuk pintu daripada menekan bel yang suaranya sudah tidak nyaring itu.
"Neska!" Pemuda itu berseru sambil terus mengetuk daun pintu unit yang ditempati Neska.
Neska membuka pintu dan tampak kaget melihat Cean ada disana. Tapi, buru-buru gadis itu menetralkan degup jantungnya dan membuat mimik wajahnya sebiasa mungkin.
"Ada apa, K-kak?" Sialnya, suaranya tidak bisa menutupi kegugupannya.
"Aku mau bicara, Nes!"
"Bicara? Soal?"
"Aku boleh masuk, gak?"
Neska menggeleng. "Bicara disini aja," katanya berusaha sedatar mungkin.
Cean agak mengernyit, tapi dia tidak punya waktu untuk memikirkan keanehan sikap Neska. Setidaknya, Neska begini pasti karena omongannya tadi malam bukan karena Neska dan Rion telah ...
"Kalau gak ada yang penting, aku masuk ya, kak." Neska kembali berujar setelah melihat Cean tetap diam.
"Nes?" Cean mencekal lengan gadis itu, membuat arah pandangan Neska tertuju pada tangan tegap Cean yang tampak melingkar disana. Sorot mata Cean seperti tengah memohon agar gadis itu tidak beranjak. Disinilah kelemahan Neska, dia tidak tega untuk terus mengabaikan pemuda ini.
"Kenapa kamu gini, Nes?"
"Gini maksudnya? Aku gak ngerti, Kak?" Neska memaksakan untuk memasang senyuman.
"Oke, langsung ke intinya aja, karena aku gak suka basa-basi." Cean menarik nafas dalam. Menatap mata kecoklatan milik gadis dihadapannya. Tatapan itu terlihat nanar. "Nes, aku gak mau kamu jaga jarak sama aku. Kita masih bisa seperti biasanya kan, Nes? Kenapa harus jaga jarak? Ini terasa janggal," ujar Cean terang-terangan memprotes sikap Neska yang dia rasa berbeda hari ini.
"Kak, Kakak tau gak, kenapa aku minta kita buat jaga jarak? Ini karena aku masih sayang sama diri aku sendiri. Aku gak mau terus mengharapkan Kakak. Apa Kakak pikir aku bisa bersikap seperti biasa setelah penolakan Kakak?"
"Nes?"
"Aku gak bisa, Kak. Kalau Kakak masih menganggap aku adik, silahkan. Itu memang hak Kakak. Tapi kalau aku mau jaga jarak dari Kakak, aku harap Kakak juga gak mempermasalahkan, karena itu juga hak aku, Kak."
__ADS_1
Bersambung ...
Next? Silahkan tinggalkan komentar dan beri dukungan✅