
Ini adalah hari ketiga Neska berada di Indonesia, dia akan pulang sore nanti sebab pekerjaannya telah selesai sejak kemarin.
Setelah melakukan konferensi pers terkait dirinya yang menggantikan model sebelumnya yakni Jelita, Neska juga sudah melakukan beberapa kali sesi foto dan disusul syuting untuk video iklan di keesokan harinya.
Niat Neska hari ini adalah berkemas, pekerjaan sampingannya kali ini-- selain harus ke-dua negara yang berbeda, dia juga harus pandai-pandai menjaga kesehatan diri. Sebenarnya Neska juga mau istirahat untuk memulihkan tenaganya yang terkuras, tapi panggilan dari Cean justru membuatnya harus menunda niat itu.
"Kenapa, Kak?"
"Kok gak senang gitu aku telepon?"
"Bukan gitu, Kak. Aku mau istirahat sebentar tadi. Semalam capek banget syutingnya. Mungkin karena aku belum terbiasa kali ya."
"Iya, mungkin kamu emang belum enjoy dengan pekerjaan baru kamu. Syutingnya juga di tempat terbuka. Tapi, kamu gak sakit, kan?"
Cean memang tidak ikut saat Neska syuting kemarin, karena dia sedang sibuk dengan urusan pekerjaannya sendiri. Lagipula, Neska melarang pemuda itu untuk terus mengikutinya karena Neska tidak mau digosipkan, padahal Cean biasa-biasa saja--jikapun mereka dikabarkan tengah berpacaran oleh media.
"Aku gak sakit kok, Kak. Lelah aja."
"Hmm, pesawat kamu jam berapa?"
"Mungkin jam 5-an."
"Oh, kalau sebelum pulang ketemu sama Mama dan Papa aku dulu, mau gak?"
Neska langsung terperanjat dari posisinya yang berbaring. Tubuhnya langsung menegak. Ini Cean sedang tidak main-main, kan?
"Kak, aku---"
"Udah, gak apa-apa ya. Lagian ini juga bukan pertemuan pertama kamu sama kedua orangtua aku, kan?"
Neska tak bisa membantah, akhirnya dia mengiyakan ajakan Cean dengan syarat dia harus beristirahat lebih dulu, karena matanya sudah kurang 5 Watt padahal dia cukup tidur semalaman. Cean memaklumi itu, dia mencoba memahami gadisnya dengan memberi Neska waktu.
"Oke, aku bakal jemput kamu jam 3, ya."
Neska mengiyakan. Selama di Indonesia beberapa hari dia menginap disebuah kamar hotel yang dekat dari perusahaan yang mempekerjakannya. Iya, perusahaan yang adalah kantor Cean.
...***...
Seorang wanita cantik sedang berjalan layaknya melakukan fashion show. Dia berlenggak lenggok di lantai marmer yang kini dia tapaki. Saat matanya melihat seseorang yang tadi dia hubungi, tangannya segera melambai untuk menyapa orang itu.
"Udah lama?" tanya wanita itu pada orang yang ditemuinya.
"Baru aja sampek, Kak. Kenapa, sih?" jawab orang itu.
__ADS_1
"Aku mau nanya soal foto cewek yang kamu posting di IG kemarin. Emang bener kamu kenal sama dia?"
"Oh, maksud Kakak Neska, ya. Iya, dia temen SMA ku."
Jelita tersenyum miring mendengar nama gadis itu disebutkan oleh sepupunya. Iya, wanita cantik itu adalah Jelita dan yang saat ini bertemu dengannya adalah Karel, anak dari tantenya.
"Pasti dia bukan sekedar temen biasa, kan? Gak mungkin kamu pajang fotonya di Instagram pribadi kamu kalau dia bukan cewek yang spesial."
Karel terkekeh jenaka. "Gini deh, to the point aja ya, Kak. Kakak sedang cari tau soal Neska dari aku karena dia yang gantiin kakak sebagai BA produk lotion itu, kan? Aku tau kok kalau dulu Kakak kerja di perusahaan itu, meski aku gak begitu up to date dalam dunia permodelan."
Jelita senang jika Karel memahami maksudnya tanpa perlu dia jabarkan lebih lanjut.
"Nah, kamu emang pinter ya, Rel. Aku seneng deh kalau kamu langsung nalar kayak gini."
"Jadi ... apa yang kakak mau tau tentang Neska? Aku tau banyak tentang dia." Karel tersenyum penuh arti.
Jelita tertawa kecil. "Sebelum aku tanya apapun tentang dia, aku mau kamu jujur dulu satu hal..."
"Apa, Kak?"
"Kenapa tiba-tiba kamu posting foto dia di IG? Kamu suka sama dia, kan? Aku mau buat rencana, tapi aku harus pastikan dulu kamu ada rasa sama cewek itu atau enggak, biar aku tau rencana mana yang cocok untuk kamu dengar. Aku gak mau kalau kamu malah menghancurkan rencana aku nantinya."
Karel tersenyum miring. "Aku post foto dia karena kemarin gak sengaja lihat dia di tv, sih. Dulu aku suka dia. Sangat suka. Tapi dia selalu nolak aku. Kemarin aku pajang fotonya karena mau buat iri mantan pacarku doang," papar Karel panjang lebar.
Karel mengangguk. "Iya," akuinya.
"Kalau sekarang?"
"Sekarang udah gak begitu terobsesi kayak dulu sih, Kak. Itu udah lama berlalu. Kemarin kita sempat ketemu, sekita sebulan yang lalu kalo gak salah dan Neska udah punya calon suami."
"Serius?" Jelita cukup kaget dengan ujaran Karel kali ini.
Pemuda itu kembali mengangguk. "Kayaknya emang seserius itu sih. Itu penilaian aku," terangnya.
"Jadi, kalau misal kamu aku suruh taklukin dia di masa sekarang, kamu berani?"
"Berani aja, sih. Apalagi Neska makin cantik sekarang." Karel mengulumm senyum penuh maksud. "Tapi, aku gak yakin dia mau. Dulu aja tipenya bukan aku, apalagi sekarang," sambungnya sadar diri.
"Makanya, Rel. Kalau gak bisa memiliki secara baik-baik, kamu bisa pake cara licik."
Ini yang Karel tak habis pikir dari sikap kakak sepupunya. Dibalik wajah cantik dan sikap anggunnya, Jelita selalu memiliki taktik dan siasat yang kadang melupakan norma-norma.
"Aku jamin, kamu bakal bisa miliki dia setelah ini. Kita undang wartawan juga, biar karir dia hancur sebelum berkembang lebih jauh."
__ADS_1
"Kakak sebenci itu sama Neska? Bukannya posisi itu juga bukan karena keinginannya?"
"Aku gak benci sama dia. Tapi dia terlalu berani mengambil job ini disaat dia tau bahwa yang dia gantikan itu adalah aku."
...***...
Mama dan Papa Cean tidak begitu terkejut saat melihat Neska datang ke kediaman mereka sore ini.
Mereka berpikir, Neska sedang berlibur ke Indonesia. Mereka juga tau jika Neska telah bergabung di perusahaan yang dikelola Cean. Maka dari itu mereka tak curiga dan berpikiran apapun saat Cean dan Neska datang bersama ke rumah.
Mama Yara dan Papa Sky juga sudah mendengar jika hubungan Neska dan Rion telah kandas beberapa tahun yang lalu. Pun dengan Rion yang kini berpacaran dengan Sheila--yang adalah anak dari sahabat Papa Sky.
"Siang Om, Tante ..." Neska berujar dengan ramah. Dia juga menyalami tangan keduanya dengan takzim.
"Dulu masih kecil banget rasanya, sekarang udah lebih dewasa. Mana cantik banget lagi," celetuk Mama Yara saat melihat Neska hari ini.
"Tante bisa aja sih. Justru Tante yang lebih cantik. Awet kecantikannya sampai sekarang," kata Neska membalas pujian Mama dari Cean itu.
"Ayo masuk."
Mereka semua--Papa Sky, Mama Yara, Neska dan Cean--duduk di sofa ruang tamu.
"Tante sama Om sehat, kan?"
"Alhamdulillah kita semua sehat."
Mereka berbicara soal keseharian Neska selama kuliah di Singapore.
"Ma, Pa ..." Tiba-tiba percakapan itu disela oleh Cean yang mulai bersuara, padahal sejak tadi dia banyak diam.
"Kenapa, Nak?"
"Sebenarnya, aku ajak Neska kesini karena ada sesuatu yang mau aku bilang sama Mama dan Papa."
Neska sendiri terkejut karena Cean tidak memberitahunya jika ada hal yang ingin dibicarakan dengan orangtua Cean. Neska pikir, Cean mengajaknya kesini karena pemuda itu mau Neska bersilaturahmi saja pada kedua orangtuanya. Neska tak menolak karena dia memang sudah lama tak bertemu dengan Mama Yara dan Papa Sky.
"Kamu mau ngomongin apa, Cean? Kok kayaknya serius ya?" Mama Yara tersenyum penuh tanya pada putranya.
Cean tampak menarik nafas dalam. Kemudian menghembuskan perlahan. Pemuda itu meraih jemari Neska dan menggenggamnya.
"Ma, Pa, Cean dan Neska sedang dalam tahap berpacaran yang serius sekarang. Cean harap Papa dan Mama mau mendukung kami kedepannya karena Cean tidak main-main dengan pernyataan ini.
Papa Sky dan Mama Yara sontak saling menatap satu sama lain, yang membuat mereka heran bukan karena Cean memacari mantan kekasih adiknya. Tapi lebih kepada ucapan Cean yang mengatakan 'sedang serius dan tidak main-main'. Apakah ucapan seorang Cean mengenai hal itu dapat dipercaya? Bagaimanapun, kedua orangtuanya ini sangat tahu sepak-terjang Cean dalam hal percintaan, kan?
__ADS_1
...Bersambung ......