
"Nes? Apa kabar? Kamu sehat, kan?"
Untuk sesaat, Neska tertegun, suara ini terasa sangat tidak asing dipendengarannya.
"K-kak Cean?" sahut Neska tergugu.
"Hmm, gimana kuliahnya? Lancar?"
Demi apapun, sekarang Neska ingin berlonjak sangking girangnya.
Akan tetapi, tunggu dulu, berapa lama dia dan Cean tidak saling berbicara? Enam bulan? Tidak ... nyaris delapan bulan--sejak saat Neska memutuskan untuk menghindari pemuda ini. Bahkan, ketika Neska mengunjungi kediaman Cean untuk pertama kalinya, waktu itu Cean justru bersikap dingin dan tak acuh. Mereka pun tidak bertegur sapa, hingga Neska tau jika Cean yang mengurusi paspor dan keberangkatannya, namun tetap tidak ada pembicaraan diantara mereka.
Dan sekarang, Cean meneleponnya? Ini seperti sebuah keajaiban.
"La-lancar kok, K-kak," jawab Neska akhirnya. Lagi-lagi lidahnya terasa berat untuk menyahut. Meski hatinya ingin dan sangat senang, tapi logikanya seakan memperingati jika keberadaannya saat ini di Singapore--juga demi melupakan Cean, kan?
"Baguslah. Aku seneng dengernya kalau semuanya bener-bener lancar."
"Hmm," kata Neska tidak tau mau berkata apa, kendati dipikirannya sudah begitu banyak pertanyaan untuk ditanyakan pada lelaki diseberang telepon.
"Aku ganggu kamu, ya?"
"Ng--nggak, Kak."
"Emang kamu lagi ngapain?"
"Aku---aku ..." Mendadak, Neska teringat jika dia sedang pergi bersama Rion. Apa tindakannya yang meladeni obrolan Cean ini adalah sebuah kesalahan? Tapi, haruskah dia juga mengabaikannya?
"Kamu lagi sama Rion, ya?" Rupanya Cean dapat menebak keadaannya.
"Iya, Kak."
"Oh ..."
Entah kenapa Neska justru merasa Cean berubah cuek setelah tau jika Neska sedang bersama dengan Rion sekarang.
"Ya udah, Kak. Aku ... tutup ya teleponnya."
"Hmm ..."
Panggilan itu segera terputus bahkan sebelum Neska yang menutupnya lebih dulu.
Neska menggeleng samar sambil melihat layar ponselnya yang menampilkan durasi panggilan mereka yang telah berakhir. Neska bingung apa tindakannya ini benar atau justru dia merasa bersalah karena Cean seolah marah kepadanya.
Tapi, kenapa juga Cean harus marah? Pikirnya.
...***...
Cean menutup teleponnya, menggaruk pelipisnya sekilas, kemudian menyugar rambutnya seperti orang yang hilang semangat.
"Haisss ... sebenarnya kenapa aku ini?" gerutunya.
__ADS_1
Cean membanting tubuh ke atas ranjang, menatap langit-langit kamar yang berapa bulan belakangan kembali dia huni. Ya, dia kembali tinggal di rumah orangtuanya sekarang.
Problem percintaan memang membingungkan, itulah sebabnya Cean menghentikan kegilaannya kendati sejak awal karena hal itu pula dia menyamar menjadi sosok orang lain yang tidak memiliki apa-apa.
Ah sudahlah, setidaknya karena penyamarannya waktu itu, dia jadi mengenal seorang gadis kecil yang sekarang justru membuat pikirannya semrawut. Apalagi sejak Neska dan Rion benar-benar telah resmi berpacaran, rasanya seperti kesal sendiri, entah kenapa.
Cean memilih untuk menelepon Marko saja, daripada pikirannya kemana-mana dan semakin kesal memikirkan Neska yang tengah jalan-jalan bersama Rion di hari Minggu.
"Ngapain nelpon, Mblo?"
Ya, sejak tau Cean memutuskan hubungannya dengan Wenda, Marko memberinya nama panggilan lain yang terdengar sangat menyebalkan.
"Jadi, aku gak boleh menelepon? Jangan ngatain orang jomblo kalau kau sendiri juga sama." Entah kenapa Cean meradang mendengar olokan Marko kali ini, padahal biasanya dia datar-datar saja.
"Weitsss ... tenang dong, kok marah-marah?" sahut Marko yang cukup kaget diseberang sana.
"Diem!"
"Lah, kayaknya kau yang nelepon aku. Kalau aku diem, ya kau ngomong sendiri, Cean!"
"Marko!"
"Hmm," sahut Marko malas-malasan sebab ini hari Minggu dan bukan jam kerjanya.
"Gimana? Udah dapat model untuk iklan produk terbaru kita?"
"Hehehe, hari Minggu masih aja bahas kerjaan."
Cean sendiri bingung harus kemana melampiaskan rasa kesalnya, sehingga dia menelepon sahabatnya itu sebab hanya Marko satu-satunya tujuan yang mau tak mau harus menjadi sasarannya, suka-tidak suka.
"Cepat cari! Jangan banyak main-main."
Cean pun memutus panggilan itu, dia menggaruk kepala yang tidak gatal sebab merasa serba-salah. Tapi, setidaknya dengan mengomeli Marko dia jadi sedikit bernafas lega sekarang seolah melepaskan beban meski tidak sepenuhnya.
Pemuda itu memilih keluar dari kamarnya, dia berpapasan dengan Aura yang juga baru turun dari lantai 3 dikediaman orangtua mereka.
"Rapi bener, mau kemana?" tanya Cean pada saudarinya itu.
"Oh, aku disuruh Mama ke Singapore sore ini."
Dulunya, Cean tidak pernah seantusias ini jika mendengar nama negara itu-- negara yang sejak dia remaja sering dikunjungi sampai merasa bosan--Tapi, entah kenapa sekarang rasanya senang, sangking bahagianya Cean bahkan berujar diluar logikanya.
"Ngapain? Aku ikut kesana ya."
Aura menatap Cean heran, tak lama memutar bola matanya jengah.
"Gak salah? Ngapain juga kamu ngekorin kakak, dek?" katanya sambil menahan gelak.
Cean menggeleng dan memasang puppy eyes nya agar Aura terketuk hatinya dan mengajak Cean ikut serta bersamanya.
"Gak mempan sih kalau cuma pake wajah innocent kayak gitu. Aku gak bakal ajak kamu!" kata Aura yang kemudian meledakkan tawa.
__ADS_1
Cean mendengkus pelan, kemudian memasukkan satu tangan ke dalam saku celananya.
"Siapa peduli? Aku juga bisa kesana gak mesti sama kamu, kok." Cean tersenyum miring kemudian.
"Oh, ya? Ninggalin tanggung jawab disini, gitu?" cibir Aura.
"Come on! Aku bisa pulang besok."
Aura mengendikkan bahu, tapi sejurus kemudian dia menatap penuh selidik adik kembarnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kenapa?" tanya Cean yang merasa jika Aura tengah membaca gelagatnya kali ini. Tentu saja Cean takut jika Aura dapat mengetahui tujuannya ke Singapore. Karena terkadang, saudarinya ini bisa membaca pikirannya selayaknya pikiran mereka saling terhubung satu sama lain.
"Gak apa-apa, sih. Aku kesana kan disuruh Mama buat pantau Rion dan Neska. Kalau kamu ... mau ngapain kesana? Kok ngebet gitu?" Sekali lagi tatapan Aura memicing penuh selidik ke arah Cean.
"A--aku, cuma mau mantau perusahaan pusat. Itu aja," kilah Cean.
"Tumben," kata Aura sambil berjalan ke arah lainnya. "Ya terserah deh, aku bisa ketinggalan pesawat kalau meladeni kamu terus," paparnya sambil menuruni tangga untuk turun ke lantai terdasar.
...***...
"Nes? Udah?"
Neska mengangguki pertanyaan Rion. Dia melempar senyum tipis.
"Temen kamu tadi kemana?" tanyanya merujuk pada Sheila. Bukankah tadi Sheila masih bersama Rion saat dia tinggal ke toilet? Kenapa sekarang Sheila tidak ada?
"Oh, Sheila ditelepon Papanya, beliau lagi ada di Singapore juga jadi Sheila buru-buru pulang."
Neska mengangguk-anggukkan kepalanya memahami perkataan Rion.
"Kamu belum pesan makanan, aku tadi udah pesanin. Gak apa-apa, kan?"
"Makasih ya," kata Neska menatap Rion lekat-lekat.
"Kenapa?" tanya Rion, dia heran kenapa Neska menatapnya dengan tatapan seperti ini, tidak biasanya.
"Kamu deket banget ya sama Sheila?"
"Kenapa kamu nanya gitu?" Alih-alih menjawab, Rion justru kembali melemparkan pertanyaan. Ada seulas senyum tipis yang dia tahan sekarang, menyadari pertanyaan Neska, dia merasa gadis ini tengah mencemburui dirinya.
"Aku lihat, kalian deket banget gitu," kata Neska membuang pandangan ke arah store-store yang berjejer diluar tempat makan mereka.
"Aku sama Sheila itu sahabat dari kecil, deket ya udah pasti."
"Oh ..." Neska manggut-manggut.
"Kamu ... cemburu?"
Mata Neska langsung membulat mendengar pertanyaan Rion kali ini. Apa iya dia cemburu? Neska sendiri tidak tahu harus menjawab apa sekarang.
Bersambung ...
__ADS_1
Next? Tinggalkan like dan komentarnya guys🙏✅✅❤️