TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
38. Dua pemuda yang patah hati


__ADS_3

"A-apa?" Wajah Neska yang tadinya menegaang, sekarang mulai berubah. "Kakak jauh-jauh datang kesini cuma mau nge-frank aku, ya?" ujarnya.


Gadis itu menahan geli, hanya beberapa detik sampai akhirnya dia terbahak sembari memegangi perut dengan kedua tangannya. Neska terpingkal akibat pernyataan Cean yang mengatakan tengah menyukainya sebagai seorang gadis dan bukan lagi menganggapnya Adik kecil. Percandaan macam apa lagi ini?


"Nes?" Cean mencoba menyela tawa Neska yang benar-benar pecah.


"Ya ampun, Kak. Udah deh, mending Kakak masuk ke kelas Opera aja." Neska kembali mengangkat wajah, maish dengan sisa-sisa tawanya yang belum habis. "Aku capek banget, Kak. Jangan buat lelucon aneh kayak gini."


Neska menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis pikir kenapa Cean niat sekali mengerjainya. Apa perasaannya terhadap pemuda itu mudah sekali ditebak? Atau isi kepalanya yang cuma ada Cean tampak sangat kentara? Sehingga hal itu malah dijadikan Cean sebagai bulan-bulanan untuk mengerjainya.


Neska tak mau ambil pusing, dia tidak akan mau mendengar ucapan Cean yang seperti omong kosong itu. Setidaknya, Neska harus memagari diri agar tidak terperangkap dengan maksud Cean yang sebenarnya, yaitu mengerjainya. Itulah yang ada dalam benak sang gadis saat ini.


"Neska!" Cean berseru sesaat Neska tak menggubris pernyataannya, dia tau ini memang bukan momen yang tepat dilihat dari situasi dan keadaan tempat dimana dia menyatakan sebuah rasa, hanya saja Cean tidak dapat menahannya lagi, dia benar-benar mau jujur dan mengungkapkan segalanya pada gadis itu.


Tidak disangka, reaksi Neska justru abai seperti ini. Alih-alih menjawab pernyataan Cean, gadis itu malah mengira dia sedang nge-frank alias bercanda. What the ...?


Neska tak mengindahkan panggilan Cean, dia tidak mau dipermainkan oleh ucapan Cean yang terdengar memberi harapan. Baginya, Cean terlalu kekanakan jika membuat perasaanya yang tulus menjadi sebuah kejahilan. Keterlaluan.


Neska menutup pintu apartmen dengan keras. Terserah Cean maish mau berada disana atau tidak. Neska tak peduli. Neska merasa sangat sakit karena Cean bukan hanya menganggapnya adik kecil, tapi sekarang pemuda itu justru meremehkan perasaannya dan membuat hal itu menjadi sebuah lelucon yang sangat lucu.


...***...


Cean pulang ke hotel dimana dia menginap selama di Singapore. Sia-sia sudah dia menyatakan rasa, Neska justru menganggapnya bercanda. Dia kembali tanpa membawa apa-apa. Jangankan jawaban penerimaan dari Neska, bahkan digubris saja tidak oleh gadis itu.


Cean menyesal sudah terlalu percaya diri bahwa malam ini dia akan mendapat jawaban 'ya' dari gadis itu. Dirinya yang sejak awal merasa optimis akan diterima, justru kini berubah menjadi pesimis dan hilang semangat.


"Kak ..."


Cean terkejut mendapati Rion berada di lobby hotel yang dia tempati. Dari tampang sang Adik, Cean dapat menebak jika Rion tidak dalam keadaan yang baik-baik saja.

__ADS_1


Mereka berdua sepakat keluar dari area hotel, kemudian berjalan kaki sampai menemukan sebuah coffee shop terdekat.


Awalnya, tak satupun dari mereka mau buka suara, seperti sama-sama menyelami ke dalam netra masing-masing, menebak, bahwa mereka berdua dalam keadaan yang nyaris serupa. Dua pemuda yang sedang patah hati, begitu tepatnya.


Jika Rion tidak salah mengamati, Cean juga tengah bermurung durja sekarang. Tapi, dia tak akan bertanya sebelum Cean yang lebih dulu memberitahu. Pun sebaliknya, Cean tak akan membahas apa yang terjadi pada Rion jika sang adik tidak lebih dulu mau membagi cerita padanya.


Setelah saling memesan minuman, Cean memilih menyeruput americano nya untuk membasahi kerongkongan yang terasa kering. Selama ini, dia tidak tau sesakit apa ditolak, pun tak pernah merasa bagaimana patah hati. Kendati jalinan asmaranya bersama Wenda tempo hari harus kandas karena nyatanya wanita itu benar-benar ada affair dengan Jasper, tapi Cean tak merasa sebuntu ini. Setidaknya hal itu memperjelas hubungannya dengan Wenda yang tak lagi bisa untuk diselamatkan.


Sementara Rion, dia tidak pernah tertarik pada seorang gadis hingga begitu menginginkan selain Neska. Rion pernha bilang kan, kalau dia sudah stuck pada gadis itu? Jadi rasa sakitnya saat ini ketika Neska memutuskan hubungan mereka terasa sangat menyakitkan, nyeri sekaligus terhantam dengan sangat kuat diseluruh permukaan hatinya. Ini adalah payah hati pertama dan tersakit yang pernah Rion rasa.


"Aku sama Neska udah putus." Itulah kalimat pertama yang dicetuskan Rion untuk memecah keheningan diantara mereka.


Jika saja Cean tak pandai menguasai keadaan, dia pasti sudah menyemburkan kopi yang telah masuk separuh ke dalam rongga mulutnya.


"Aku gak bisa menahan dia lagi. Neska benar, aku gak seharusnya memaksakan dia kalau aku betul-betul menyayanginya." Suara Rion terdengar berat dan putus asa.


Cean meletakkan cangkir kopinya, menimbulkan sedikit suara berkat cangkir dan piring yang beradu di meja.


Beberapa detik, mereka saling terdiam. Tapi, didetik berikutnya, keduanya saling tertawa. Tentu tawa itu terdengar sumbang, tawa yang mengartikan bahwa mereka sedang menertawakan nasib diri masing-masing yang sangat malang karena satu orang gadis yang sama. Tawa itu berubah semakin keras kala melihat mereka yang satu sama lain justru mengeluarkan airmata.


Benar-benar sialan.


"Kakak menangis gara-gara di tolak Neska?" kekeh Rion, dia segera menyeka sudut matanya yang tak jauh berbeda dengan mata Cean.


"Dan kamu menangis karena diputusi Neska?" ujar Cean.


Mereka saling menertawai. Padahal entah apa yang lucu. Mungkin karena keduanya sama-sama dibuat patah hati oleh seorang gadis yang sama atau justru menyadari jika sebelumnya mereka tak pernah bersikap se-melankolis ini.


"Cari yang lain, Dek!" kata Cean pada Rion. Rion hanya tersenyum simpul sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

__ADS_1


Jika Cean meminta Rion melupakan Neska dan mencari gadis lain, berbeda dengan Rion yang justru berujar lapang dada.


"Kejar dia, Kak. Dia mencintai Kakak."


Tentu saja Cean mengernyit sebab merasa Rion semudah itu membebaskannya mengejar Neska sekarang. Tapi Cean menebak, akibat rasa sayang Rion yang berlebihan pada Neska-- maka dia tidak mau memaksakan keadaan lagi.


"... tapi, kalau Kakak sampai menyia-nyiakan kesempatan ini, jangan salahkan aku kalau nanti aku berubah pikiran dan kembali mengejar Neska sampai dia muak dan akhirnya menyerah sama aku," sambung Rion lagi disertai kekehan kecil.


...***...


Mendapat lampu hijau dari Rion untuk mengejar Neska, membuat semangat Cean semakin menjadi. Rasa patah hatinya yang terjadi semalam, tidak membuatnya putus asa sebab hari ini dia bertekad untuk menemui Neska kembali.


Cean tidak mau menyia-nyiakan kesempatan selagi dia masih berada di Singapore, dia akan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk dapat meyakinkan Neska bahwa ucapannya semalam tidaklah main-main dan bukan hanya sebuah percandaan saja.


Sayangnya, begitu Cean tiba di koridor Apartmen Neska, gadis itu sudah tidak disana.


Saat Cean menerima panggilan seluler dari Aura, dia justru terperangah tak percaya. Aura mengomelinya dari seberang sana terkait Neska. Padahal, Cean yakin Aura tidak mengetahui lebih jauh mengenai cinta segitiga antara dia, Rion dan Neska. Tapi kenapa sekarang Aura memberinya ceramah panjang lebar seakan tau segalanya.


Aura tidak mungkin tau kecuali ... Neska sendiri yang bercerita, sebab Rion tak mungkin melakukan itu karena Rion semalaman bersamanya di kamar hotel setelah pulang dari cafe semalam. Ya, sang adik ikut menginap bersamanya dan mereka justru saling mendukung satu sama lain.


Rion mendukung Cean mendapatkan Neska, sementara Cean mendukung apapun hal positif yang akan Rion lakukan selanjutnya setelah merasai patah hati luar biasa.


Bukan Cean tak peduli pada sakit hati yang dirasakan sang Adik, tapi dia juga tak bisa memaksakan Neska untuk berpaling pada Rion disaat Rion pun sudah putus asa akan hal itu.


Kembali pada keberadaan Neska yang tak ada di Apartmennya sore ini dan kemarahan Aura. Cean jadi merasa ada sesuatu yang tidak enak, apalagi setelah kalimat Aura terlontar.


"Jangan cari Neska lagi kalau kamu hanya berniat mempermainkan perasaannyaa. Ternyata tujuan kamu ikut denganku ke Singapore hanya mau mempermainkan Neska saja. Berubahlah, Cean! Jangan terus-terusan menjadikan seorang gadis sebagai objek penelitianmu!" ketus Aura.


Cean tau, Aura tidak pernah meyakini bahwa dia telah berubah dan bukan lagi seorang playboy. Untuk itu, makanya Aura sependapat dengan Neska yang mengartikan bahwa pernyataan Cean semalam hanyalah sebuah lelucon.

__ADS_1


Dan, dari sini Cean menarik kesimpulan bahwa Neska telah pergi untuk menghindarinya, sementara Aura pasti mengetahui kemana gadis itu sekarang.


__ADS_2