TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
51. Calon


__ADS_3

"Neska?"


Neska dan Cean sontak menoleh pada orang yang memanggil nama gadis itu.


"Ternyata kamu benar-benar Neska."


Disana, Neska mendapati seorang pemuda yang tidak asing dalam pandangannya. Dia adalah Karel, teman SMA-nya sekaligus laki-laki yang dulu beberapa kali Neska tolak cintanya.


"Karel?"


Cean yang juga ada disana--masih diam melihat interaksi antara Neska dan cowok itu sebab Cean mengira Karel hanya sebatas teman biasa bagi Neska.


"Apa kabar, Nes?" Karel mengulurkan tangan hendak berjabatan dengan gadis itu


"Aku baik," jawab Neska. Dia ragu-ragu menyambut uluran tangan Karel. Sesekali Neska melirik pada Cean yang tampangnya masih dalam tahap datar dan biasa-biasa saja, membuat Neska cukup tenang


"Dia?" Karel menatap Cean, seolah pernah melihat pemuda itu, tapi kapan tepatnya Karel lupa.


"Oh, kenalin, Rel. Ini Kak Cean ... dia---"


"Calon suami Neska," serobot Cean dan ikut-ikutan mengulurkan tangan seperti ulah Karel pada Neska tadi. Mendengar jawaban Cean, Neska melipat bibirnya sendiri sementara Karel--tentu saja langsung terperangah.


Karel menyambut tangan Cean singkat, dia memberikan senyum kaku. Entahlah apa perasaan Karel saat ini ketika tiba-tiba bertemu lagi dengan Neska. Apalagi Neska terlihat jauh lebih cantik dan dewasa sekarang.


Sejak dulu Neska memang cantik alami, tapi hari ini, gadis itu jauh lebih menarik karena penampilannya yang lebih modern dan dilengkapi dengan make up tipis yang natural. Neska semakin bersinar saja, pikir Karel.


"Kamu ngapain disini, Rel?" tanya Neska, selain ingin memecah suasana yang mendadak akward akibat perkenalan kedua cowok itu, Neska juga merasa heran. Untuk apa Karel berada di gedung Apartmen tua ini?


"Oh, ini ... aku sekarang lagi KKN, Nes. Kebetulan aku kuliah aku di bidang konstruksi gedung."


Neska manggut-manggut sembari mulutnya membentuk huruf O.


"Kebetulan banget ya kita ketemu disini, Nes. Aku denger kamu kuliah di Singapore, ya?"


Sekali lagi Neska menganggukkan kepalanya.


"Jadi pertemuan kita hari ini bener-bener kejutan banget, ya." Karel berujar akrab, menganggap disana hanya ada dia dan Neska saja, "Ingat gak, dulu aku sering banget jemput kamu di sini pas mau pergi sekolah," sambungnya sengaja memanasi Cean.


Baru saja Neska mau menyanggah perkataan Karel, sebab baginya Karel tidak sesering itu menjemputnya, bahkan Neska lebih sering menghindar dari Karel. Tapi belum sempat Neska menyahut, suara pria disisinya lebih dulu terdengar.


"Maaf." Cean menyela perkataan Karel. "Neska gak bisa lama-lama disini, kita harus segera pergi, Neska gak punya waktu untuk mengenang masa lalu," sambungnya.


Neska mengernyit saat menyadari ada penekanan dalam kata-kata Cean itu, apalagi kalimat Cean itu terdengar sarkastik. Padahal tadi Cean masih datar-datar saja, kenapa sekarang dia terlihat jengkel.


Karel menganggukkan kepalanya karena ujaran Cean.


"Sayang, ayo kita kan buru-buru, udah ada janji." Cean menggenggam tangan Neska, seolah mau menunjukkan itu pada pemuda yang masih menatapi gadisnya dengan tatapan lekat diseberang mereka.


"Hah?" Neska melongo. Dia tak paham ucapan Cean kali ini. Memangnya mereka ada membuat janji dengan siapa? "Kita mau kemana, Kak?" tanyanya polos.


"Lho, kamu lupa kita mau ambil cincin pertunangan kita?"


Neska mendelik kecil karena pernyataan Cean ini benar-benar mengejutkannya. Belum sempat Neska berucap, Cean sudah kembali mengambil alih keadaan.

__ADS_1


"Yuk, nanti telat." Cean lantas menggandeng Neska. Cean menyempatkan berbisik sekilas pada Neska. "Siapa nama temen kamu ini tadi?" tanyanya.


"Karel," jawab Neska pelan.


"Ah iya, Karel ... kita duluan ya," ujarnya pada sang lawan bicara.


Lagi-lagi Karel hanya bisa menganggukkan kepalanya, entah kenapa dia merasa kesal dan tak senang dengan sikap Cean yang seolah tengah mengoloknya.


...***...


Sampai di mobil, Neska terkikik-kikik geli mengingat sikap Cean tadi saat tak sengaja bertemu Karel.


"Kamu kenapa?" tanya Cean keheranan melihat gadis itu.


"Kakak lucu banget, sih. Ngapain sih bersikap kayak tadi di depan Karel?"


"Lho memangnya kenapa? Aku gak suka dia kayaknya sok deket banget sama kamu."


Neska kembali tertawa tak habis pikir.


"Memangnya kenapa sih? Dulu kan kita emang deket, Kak."


Kali ini ucapan Neska berhasil membuat Cean menoleh pada gadis itu. "Serius? Jadi kalian dulu sedekat itu?" tanyanya.


"Ya, gitu lah," jawab Neska ambigu.


"Pernah pacaran?"


"Gak, gak. Aku rasa kalian gak sempat pacaran. Pasti dia aja yang ngejar-ngejar kamu tapi kamu gak mau, kan?" tebak Cean.


"Ih, sok tau banget sih Kakak."


"Tau lah, kamu kan cintanya sama aku sejak dulu."


Kali ini Neska memutar bola matanya. Ujaran Cean terdengar sangat pongah dan jumawa. Ya, meski kenyataannya memang begitu, batin Neska.


"Tapi, sekalipun kakak gak suka sama Karel, jangan bohongin dia sampai seperti itu, lah, Kak."


"Seperti itu gimana maksud kamu?"


"Pake acara bilang udah ada janji lah. Mau ambil cincin pertunangan lah." Neska masih saja terkekeh jika mengingat kebohongan Cean didepan Karel tadi.


"Soal janji emang belum ada, tapi soal ambil cincin ya aku pikir emang gak ada salahnya juga, kan?"


"Hah? Maksudnya gimana, Kak?"


"Kita ke toko perhiasan dulu, aku mau belikan kamu cincin."


Neska menatap Cean dengan mata yang membulat sempurna sekarang. Kedua alisnya juga terangkat.


"Kak? Beli cincin maksudnya gimana, sih?"


"Ya beli cincin, Sayang. Meski kita belum resmi tunangan, anggap aja ini bentuk keseriusan aku sama kamu."

__ADS_1


Cean membelokkan kemudi mobil menuju sebuah Mal yang ada di kota tempat mereka sekarang berada.


"Kita bahkan baru resmi pacaran kemarin, bisa-bisanya Kak Cean mau belikan aku cincin," gumam Neska lebih kepada bicara pada dirinya sendiri.


"Ada masalah?" tanya Cean pada Neska yang tampak sedang berbicara sendiri.


Neska tersadar, dia menatap pada pemuda yang sudah hampir turun dari mobilnya sebab mereka telah tiba dan berada di pelataran Mal sekarang.


"Eh? Enggak apa-apa kok, Kak."


"Ya udah, kalo gitu."


Seperti yang sudah-sudah, Cean turun dan mengitari mobil, dia membukakan pintu untuk gadisnya. Neska merasa Cean tengah memperlakukannya seperti tuan putri. Cean terkadang sangat berlebihan, tapi Neska belum berani untuk mengutarakan hal itu.


"Kalau kamu menganggap aku berlebihan, maka jawabannya memang iya. Aku selalu mau yang lebih untuk kamu," kata Cean seolah menjawab isi kepala Neska.


Neska mengulumm senyum. "Kakak bisa baca pikiranku, ya?" tebaknya tak habis pikir.


"Itu terlihat didalam mata kamu. Kamu itu gampang ditebak, Nes."


"Serius?"


Cean mengangguk, kemudian mereka berjalan bersisian menyusuri lantai demi lantai yang ada di Mal.


Mereka masuk ke sebuah jewelry ternama. Neska yakin perhiasan disini harganya pasti sangat mahal. Dia tidak yakin atau lebih tepatnya tidak percaya diri saat dibawa Cean masuk ke dalam tempat berkelas itu.


"Kak?" Neska menarik-narik ujung baju Cean.


"Ya?" Cean menoleh pada Neska yang tampak ragu-ragu.


"Kita ke toko biasa aja, Kak."


Sekarang Cean yang tak paham dengan ucapan Neska. Toko biasa maksudnya toko yang bagaimana?


"Toko biasa?"


"Iya, toko yang banyak di pasar-pasar itu lho, Kak."


Kali ini Cean terkekeh tak dapat menahan tawanya.


"Aku mau ajak kamu kesini, kenapa kamu malah mau ajak ke pasar?" tanyanya masih dengan tawa yang samar-samar.


Neska menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian mencondongkan tubuh sedikit ke arah Cean. "Disini pasti mahal-mahal," katanya berbisik.


"Justru itu, aku mau kasih kamu yang terbaik."


Cean tak memberikan Neska kesempatan untuk protes, dia segera menyahuti pramuniaga toko yang tadi sudah lebih dulu menyambut kedatangan mereka.


"Bisa tunjukkan koleksi cincin yang bagus untuk calon istri saya?"


...Bersambung ......


Kok makin kesini makin sepi ya?? Gak ada yg komen. huuhhuuhuu😅

__ADS_1


__ADS_2