
Akhirnya, Cean pulang ke tanah air dengan senyum terkembang. Lamarannya pada Neska sudah diterima dan dia sudah tidak sabar memberitahukan hal ini pada semua keluarganya.
Diumur yang hampir menginjak kepala tiga, Cean akhirnya akan mengakhiri masa lajangnya. Dia memasuki rumah dengan bersiul senang. Yah, begitulah kebiasaan Cean jika hatinya sedang dalam mood baik.
"Cean? Udah pulang, Nak?" Mama Yara datang menyongsong kepulangan putranya.
"Udah dong, Ma."
"Gimana? Lamaran kamu di terima, kan?"
"Ya udah pasti, Ma." Cean menyahut dengan tampang percaya dirinya yang tinggi.
Mama Yara spontan bertepuk tangan senang. Dia tau Neska adalah gadis yang baik untuk putranya. Kendati dulu dia mendukung Neska dengan Rion, tapi sekarang semuanya telah berubah. Termasuk hubungan mereka.
Pada akhirnya, Cean lah yang menjadi pemenangnya. Tidak, tidak, bagi Mama Yara tidak ada yang menang atau kalah, menurutnya mungkin Neska adalah jodoh terbaik untuk Cean dan bukan Rion. Lagipula, putra bungsunya itu sudah bahagia dengan Sheila, jadi bagi Mama Yara tidak ada yang perlu diungkit kembali.
"Keluarga Neska gimana?"
"Neska kan gak punya orangtua lagi, Ma."
"Kalau itu Mama tau, maksud Mama misal kerabatnya gitu, mulai sekarang kalian harus segera memikirkan dan merencanakan pernikahan dengan matang. Mama gak mau kejadian kayak Aura dulu terulang lagi. Ngerti."
"Ya ampun, Ma. Neska bakal aku jagain. Gak akan ada yang bisa ganggu hubungan dan niat baik kami."
"Hmm, amin. Mudah-mudahan semuanya sesuai dengan apa yang kita harapkan, ya. Mama juga udah dukung kamu dan Neska seratus persen."
Cean mengacungkan jempol. "Makasih ya, Mamaku sayang."
"Eh ada apa ini, kok peluk-peluk istri Papa?" Tiba-tiba Papa Sky muncul dari arah teras samping. Pria yang umurnya sudah tidak muda lagi itu baru saja memberi makan ikan-ikan koi peliharaannya di kolam yang ada disana.
"Eh, Papa? Ini kan Mama aku, boleh dong aku peluk."
"Tapi itu kan istri Papa. Makanya kamu nikah, biar bisa peluk istri sendiri."
Cean meringis keki. "Iya, iya, Pa. Ini juga lagi direncanain," paparnya.
Papa Sky membuka kacamata nya untuk dapat melihat Cean lebih teliti. "Serius? Kamu mau nikah?" tanyanya.
"Iya, Pa. Masa aku mau terus jomblo. Nikah enak kan, Pa?"
Papa Sky mencebik. "Nanti kamu bakal nyesel kalau nikah," katanya seolah menakut-nakuti.
"Nyesel? Kok nyesel?" Cean tak habis pikir dengan pemikiran Papanya, tadi memintanya menikah sekarang justru bahas penyesalan. Apa Papanya mau dia terus melajang?
"Ya nyesel, kenapa gak dari dulu gitu," kata Papa Sky mengkonfrontasi.
Disitulah Mama Yara dan Cean tergelak.
__ADS_1
"Papa, Papa, anak mau nikah juga jangan digituin." Mama Yara angkat suara.
"Biarin. Dia terlalu banyak main-main."
"Udah lama aku gak main-main, Pa. Sama Neska udah serius dan nunggu dia lulus dulu kan baru aku ajakin nikah."
Papa Sky mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Bagus. Jadilah pria yang bertanggungjawab. Berani menjalin hubungan maka berani mengakhirinya dalam ikatan pernikahan."
"Siap Papaku yang tampan."
"Woh, siapa dulu istrinya," timpal Mama Yara.
"Ketampanan Papa udah turun temurun. Kalau gak tampan mana mungkin anaknya tampan juga."
Cean terkekeh. Padahal dia mau memuji dirinya sendiri setelah memuji sang Papa, nyatanya Papanya yang lebih dulu memujinya.
"Ya udah, Cean mandi dulu ya, Pa, Ma. Abis itu mau lanjut ke kantor."
Papa dan Mama Cean itu pun mengangguk, mereka tak mau melarang Cean. Putra mereka itu sudah menjadi pria dewasa yang memiliki tanggung jawab dalam perusahaan jadi wajar saja jika Cean pulang-pulang langsung mau ke kantornya.
"Eh, Cean?"
Cean kembali menoleh pada sang Mama yang memanggilnya. "Kenapa, Ma?" tanyanya.
"Oh, itu!" Cean baru ingat dia belum menceritakan hal ini pada keluarganya. "Marko mau lanjutin kontraknya, tapi aku sama Neska udah sepakat buat gak ngelanjutin lagi. Neska juga ngerasa udah cukup selama dua tahun ini kerja di perusahaan aku," terangnya.
"Apapun keputusannya semoga itu yang terbaik untuk hubungan kalian kedepannya, ya."
"Iya, Ma. Makasih ya, Ma."
...***...
Neska menceritakan soal lamaran Cean kepada Sheila. Gadis itu menggigit jari saat mendengar betapa romantisnya Cean melamar sabahatnya.
"Kapan ya aku dilamar juga?" ujar Sheila sambil membayangkan momen manis seperti yang baru saja Neska alami.
"Hih, mau dilamar siapa?" tanya Neska tak paham.
"Ya sama Grey, lah."
"Tapi kan Rion belum lulus kuliah." Rion memang belum bisa menyelesaikan study strata 1 nya dikarenakan dia sempat mengambil cuti saat dulu kakaknya--Aura--mengalami sedikit masalah internal. Karena rasa kepedulian Rion terhadap keluarga, dia rela menunda sementara jenjang perkuliahannya demi mengurusi masalah Aura saat itu.
"Enam bulan lagi juga kelar," kata Sheila menyahuti perkataan Neska.
"Ya, aku doain deh biar kamu segera dilamar juga sama Rion. Itupun kalau dia gak nyambung S-2."
__ADS_1
"Hah?" Sheila sedikit melongo. Rion memang tidak pernah menceritakan mengenai kelanjutan kuliahnya apakah kau dilanjutkan lagi ke jenjang yang lebih tinggi atau tidak. "Kalau Grey nyambung S-2, keburu tuir deh aku," katanya bersungut-sungut.
"Ya terima aja lamaran cowok lain. Kan kamu cantik masih banyak yang mau."
"Nes, Nes... aku itu udah suka Grey sejak lama. Sejak SMP atau mungkin sejak SD. Dia cinta pertama aku. Gimana mungkin kamu nyuruh aku nerima lamaran cowok lain. Kamu sama Kak Cean aja gitu, kan? Gak bisa ke lain hati karena kamu udah keburu cinta mati sama dia?"
"Gak cinta mati juga kali."
"Tetap aja! Kamu gak bisa sesemangat ini sebelum kamu sama Kak Cean kayak sekarang."
"Lah terus gimana, dong? Kamu bilang kalau Rion lanjut S-2 kamu bakalan tua nungguin dia?"
"Ya tetap bakal aku tungguin. Aku mana mau sama yang lain."
"Iya deh, iya." Neska mengalah. Lagipula, dia juga tau bagaimana kita dipaksa keadaan jika harus bersama pasangan yang tidak kita inginkan.
"Moga aja Grey gak lanjut S2 lagi ya, Nes," doa Sheila.
"Biarin aja sih dia mau lanjut kuliah lagi. Yang penting nikahin kamu dulu. Gimana?"
"Nah, itu ide bagus tuh," kata Sheila merasa mendapat ide dari kata-kata sahabatnya.
Neska terkikik geli. "Jadi ceritanya kamu yang ngebet nikah ketimbang Rion, Sheil?" godanya.
"Ih, kamu. Kayak aku udah haus bel-ai-an aja." Sheila mencebik sambil melipat tangannya di dada.
Neska makin terkekeh. "Ntar kalau kamu sama Rion terus aku sama Kak Cean kita jadi sodara dong," ujarnya girang.
Sheila langsung semringah lagi. Mood gadis itu memang mudah berubah-ubah dalam kurun waktu yang hampir bersamaan.
"Iya juga ya. Kamu jadi Kakak iparnya Grey, terus aku jadi adik iparnya Kak Cean. Hahahah."
Mereka terus membahas hal itu sampai akhirnya perbincangan tersebut harus terhenti kala Sheila mendapat panggilan telepon dari nomor Rion.
"Hallo?"
"Iya, Saya Sheila pacarnya."
"Apa?"
Sheila langsung terkesiap dan berdiri menegak. Dia terlihat mendengarkan perkataan seseorang dari seberang sana dengan seksama.
"Kenapa, Sheil?" Neska bertanya pada Sheila yang sudah selesai dengan teleponnya.
"Grey. Grey kecelakaan."
"Apa?"
__ADS_1
...Bersambung ......