
"Jadi, sejak kapan, Kak?"
Cean yang tadinya menatap lurus ke arah hamparan rumput yang ada didepannya, kini menoleh demi mendapati wajah serius Rion yang tengah menanyainya.
"Sejak kapan Kakak menyadari kalau Neska itu bukan lagi seorang bocah yang Kakak anggap adik?"
"...."
"Sejak kapan Kakak sadar bahwa Kakak menyukai dia?"
Entah kenapa, mendengar suara Rion yang bergetar, Cean jadi mencelos. Saat ini, Cean tau bahwa rasa simpati terhadap saudaranya sedang dipertaruhkan.
Begitupun Rion, dia juga tengah berperang dengan dirinya sendiri. Antara merelakan Neska untuk kakaknya, atau justru tetap teguh pada komitmennya yang memang menseriusi sang gadis.
"Kakak ... menyukai Neska sejak lama, tapi dulu dia hanya Kakak anggap sebagai adik perempuan Kakak."
"Dulu?" sunggingan skeptis muncul disatu sudut bibir Rion. "Jadi, ini maksudnya Kakak udah mengakui kan kalau sekarang kakak suka sama Neska lebih dari sekedar menganggapnya adik perempuan?" ulangnya.
"Hmm ..." Cean mengangguk. "Entah sejak kapan cara pandang Kakak ke Neska jadi berubah. Sorry," ujarnya terus-terang.
Rion tersenyum getir, dia menggeleng-geleng samar. Entah apa yang dia rasakan sekarang atas kejujuran Cean. Ada luka yang tidak bisa diutarakan, sekaligus hantaman rasa sakit yang menusuk-nusuk hatinya. Bagaimana mungkin dia harus bersaing dengan Kakaknya sendiri? Ditambah, Neska yang memang sejak awal menyukai sang Kakak daripada dirinya. Apakah Rion memilih untuk mengalah saja sekarang?
"Oke, jadi, kedepannya kakak mau gimana? Kakak tau, kan, aku dan Neska--"
"Kakak mau bersama Neska, Dek!" potong Cean, entah kenapa kali ini dia egois dan tidak bisa mengorbankan perasaannya begitu saja.
"Kak!" Rion bangkit dari duduknya, dia berseru. Matanya memerah dengan tatapan marah yang terpancar. "Neska itu pacar aku, Kak. Mundur, dan urungkan niat kakak merebutnya dari aku!" tukasnya emosional.
Cean yang lebih dewasa, dapat menguasai keadaan dengan lebih baik, dia tampak jauh lebih tenang ketimbang Rion yang meledak-ledak. Tentu saja, disini Rion yang ketar-ketir karena takut miliknya direbut. Sebaliknya, Cean lah yang berada diposisi penyerang.
"Jangan bilang kamu takut Neska lebih memilih Kakak," kata Cean. Ada nada pongah yang kentara dalam ucapan ha itu, dan Rion spontan mendengkus saat mendengarnya.
Cean sendiri merasa bersalah sebenarnya, dia tidak sanggup untuk mengatakan hal yang akan menyakiti Rion seperti ini. Tapi, Cean pikir lebih baik terus terang ketimbang nantinya dia akan menusuk Rion dari belakang.
Pada kenyataannya, Cean memang menginginkan Neska lebih dari apapun. Bahkan dia rela terbang ke Singapore, hanya demi bisa menatap wajah polos gadis itu, padahal bisa saja dia melakukan panggilan video, tapi dia memilih untuk langsung mendatangi.
"Aku gak ngerti sama jalan pikiran Kakak! Sejak awal, aku udah bilang mau mendekati Neska dan Kakak tidak melarangnya." Suara Rion merendah namun penuh penekanan.
Cean mengendikkan bahu, terlihat sangat menjengkelkan dipandangan mata sang Adik.
"Ya, emang Kakak gak melarangnya, karena waktu itu Kakak gak tau semuanya bakal begini. Dan sekarang, saatnya kamu juga gak perlu melarang Kakak."
"Keterlaluan," decak Rion makin tak senang.
"Neska masih bebas memilih, Dek. Dia belum menjadi istri kamu."
Jadi, disini Rion sudah yakin jika Kakaknya tidak akan pernah mau mengalah padanya--perkara hal ini. Rion pun memilih meninggalkan Cean, daripada terus mendesaknya untuk mengenyahkan niat itu.
Dimata Rion sekarang, Cean sudah menjelma menjadi pemeran antagonis dalam kehidupannya, tapi selain faktor problem ini, Cean tetaplah kakak lelakinya yang terbaik. Rion tidak akan melupakan kebaikan dan kasih sayangnya kepada Cean hanya karena hal ini, tentu saja.
Cean pun demikian, mungkin sekarang Rion adalah rivalnya dalam hal percintaan, tapi pemuda itu tetaplah Adiknya satu-satunya. Dia juga menyayangi Rion terlepas dari problem rasa diantara mereka.
Kesimpulannya, keduanya akan saling bersaing sehat satu sama lain. Tidak perlu memakai cara licik, karena siapa yang akan dipilih Neska nantinya adalah pemenangnya.
Akan tetapi, perasaan mereka juga bukan sebuah pertandingan yang mencari siapa juaranya.
Rion dan Cean sama-sama berharap Neska akan mendapat yang terbaik. Tentu yang terbaik menurut Rion adalah dirinya sendiri dan bukan Cean. Begitupun Cean, dia merasa jauh lebih baik untuk gadis itu, meski dulu dia adalah seorang ba-ji-ngan.
...***...
Aura dan Neska tiba di sebuah salon ternama yang sering dikunjungi Aura jika ke Singapore. Tanpa disangka, disana mereka bertemu dengan Sheila yang baru selesai melakukan perawatan kuku.
__ADS_1
"Kak Aura?"
"Sheila ..."
"Kakak lagi disini juga?" tanya Sheila, gadis itu lantas melirik pada Neska yang berdiri disamping Aura, dia menatapnya tidak suka. Ternyata, selain pacaran dengan Rion, rupanya Neska juga sudah dekat dengan Aura dan itu terlihat menjengkelkan bagi dirinya.
"Iya, emang Kak Jeno gak bilang sama kamu kalau Kakak lagi di Singapore?"
"Enggak, Kak."
Sheila kembali melirik sinis ke arah Neska. "Kakak ajak dia nyalon kesini juga?" tanyanya.
Aura mengangguk, sementara Neska hanya bisa diam dengan mulut terkatup rapat, Neska tidak tau harus bersikap bagaimana pada Sheila yang selalu terlihat sarkas kepadanya.
"Ini Neska, pacarnya Rion," kata Aura memperkenalkan.
"Udah tau," jawab Sheila sambil berdecak pelan, kentara sekali dia tidak berminat dengan ulasan mengenai Neska.
"Kamu udah selesai treatment?"
"Udah, Kak."
Sheila sebenarnya masih mau mendekati Aura dan mengambil hati gadis itu, tapi ucapan Aura selanjutnya-- justru membuat Sheila harus pergi dari sana, meski sebenarnya Aura tidak bermaksud mengusir dirinya.
"Ya udah, kamu pulangnya hari-hati ya, Sheil ..."
Akhirnya Sheila mengangguki meski keinginan hatinya belum mau pulang secepat itu. Dia beranjak dengan perasaan mau tak mau.
"Ayo, Nes ..."
Ada perasaan iri dalam hati Sheila ketika melihat Neska dekat dengan Aura, mereka juga tampak akrab.
Seperginya Sheila, Aura mengenalkan Neska pada pekerja salon yang dikenalnya ditempat itu. Aura juga meminta pekerja disana untuk melakukan perawatan rambut yang serupa antara dia dan Neska.
"Kenapa, Nes?"
"Sheila itu ... deket banget ya sama keluarga Kakak?"
Kendati Neska sudah mendengar dari Rion bahwa Sheila adalah sahabatnya sejak kecil--tapi dia tetap penasaran dan ingin tau mengenai gadis itu dari pandangan Aura.
Alih-alih menjawab pertanyaan Neska, Aura justru balik bertanya sebab dia juga ingin tau sejak kapan Sheila mengenal gadis yang ikut bersamanya hari ini.
"Eh, iya, sebelumnya kalian udah saling kenal, ya? Sheila tadi juga bilang udah tau ... kalau kamu pacarnya Rion."
"Kemarin kita gak sengaja ketemu di Mall, terus dikenalin sama Rion, Kak."
Aura tersenyum dalam posisinya yang mendongak--sebab sekarang rambutnya sedang dicuci.
"Sheila itu anak bungsunya Om Beno sama Tante Jenifer. Nah, Om Beno itu sahabatnya Papa kita. Jadi, kalau dibilang deket, ya emang deket, sih."
"Oh, kalau itu Rion juga udah sempat cerita sama aku, sih, Kak."
"Terus, kamu mau tau yang mana lagi?" tanya Aura. Dia memahami jika terkadang kita sebagai perempuan memiliki rasa ingin tahu yang cukup besar.
"Deketnya itu deket banget?" tanya Neska kemudian.
"Ehm, kalau yang kamu maksud Rion dengan Sheila, ya mereka emang deket sih ... sejak TK, SD sampai SMP, mereka sekolah di tempat yang sama. Kenapa? Memangnya kamu berpikiran apa setelah ketemu Sheila?" selidik Aura.
Neska menggigiit bibirnya, dia ragu untuk mengutarakan pemikirannya pada Aura. Dia tak berani berujar sekarang.
"Kalau dari penglihatan aku, Sheila itu emang naksir sih sama Rion." Aura berujar seolah dapat mengetahui isi kepala Neska saja.
__ADS_1
"Eh?" Neska sontak terkejut, tapi ujaran Aura itu benar-benar membuat rasa ingin taunya terjawabkan.
"Kamu gak usah cemburu ya. Karena, kalau dari sisi Rion, aku yakin dia gak tertarik sama Sheila dan cuma anggap Sheila sahabatnya. Toh, kalau dia mau sama Sheila, pasti dia gak akan sama kamu sekarang, kan?"
"Ehm, aku ..."
"Aku bisa ngelihat kalau Rion sesayang itu sama kamu, Nes. Jadi, jangan kecewakan Adik aku, ya," kata Aura memperingati Neska dengan suara lembutnya.
Neska meringis, bahkan dia sudah menyakiti Rion sejauh ini. Dan soal keingintahuannya tentang Sheila, justru Neska berharap Rion mau berpaling pada gadis itu saja, ketimbang tetap bersamanya. Bukankah Sheila lebih menginginkan Rion ketimbang dirinya? Jadi, Neska ingin tau mengenai ini bukan karena dia cemburu, melainkan dia mau melepaskan Rion untuk Sheila jika memang gadis itu yang terbaik untuk Rion, begitu kira-kira.
"Kamu beruntung, Nes. Rion sayang sama kamu. Terkadang kita lebih baik bersama dengan orang yang mencintai kita, ketimbang orang yang kita cintai."
Neska refleks menegak, dia menggeser sedikit tubuh untuk bisa menatap wajah Aura dari samping.
"... mencintai itu sakit, sedang dicintai itu jauh lebih menyenangkan," imbuh Aura kemudian.
"Menurut Kakak, gitu?" respon Neska.
"Ya."
"Kalau Kakak sendiri?" Neska menarik nafas pelan. "Maaf kalau aku jadi ingin tau soal Kakak," paparnya.
Aura terkekeh sekilas. "Aku enggak tertarik dengan hal berbau perasaan. Aku gak pernah pacaran. Kamu percaya?" ujarnya sembari kini juga menatap Neska.
"Serius?"
"Iya, aku lihat gadis-gadis yang dipacari Cean cuma untuk dipermainkan, jadi aku menutup diri untuk hal itu. Seperti yang tadi aku bilang, kayaknya mencintai itu sakit, sama kayak gadis-gadis itu. Bukankah mereka udah berharap lebih tapi jatuhnya cuma dipermainkan sebab tidak dicintai?"
Neska terperangah tak percaya, jadi Aura tidak percaya cinta karena adanya andil dari ulah adik kembarnya itu? Cean jelas bersalah disini. Dan jadi benar, jika Cean memang playboy? Jawaban Aura ini seakan menjadi sebuah tamparan untuk Neska yang justru lebih menyukai Cean ketimbang Rion yang tulus menyayanginya.
"Jadi, Kakak gak tertarik untuk menikah?" tanya Neska setelah membiarkan pemikirannya mengenai Cean dan Rion.
Aura mengendikkan bahu. "Ya mau, tapi entahlah ... aku mengikuti arus saja. Nah, kebetulan sekarang aku dalam tahap perjodohan dengan Jeno," terangnya.
"Jeno?" ulang Neska.
"Hmm, Jeno itu Kakaknya Sheila. Anak Om Beno yang nomor 2."
"Hah?" Neska melongo.
"Jadi, sekarang kamu ngerti kan kenapa aku bilang kalau aku cuma mau menjalani aja. Jika beruntung ya mungkin aja aku bisa membuka hati untuk dia karena katanya Jeno emang tertarik sama aku sejak lama," tandasnya.
...****...
Selesai dengan kegiatan di salon, Aura dan Neska akhirnya keluar dari area itu. Mereka terkejut dengan kehadiran sesosok pemuda yang sangat mereka kenali disana. Rion tampak menunggu di ruang tunggu yang ada didepan lobby Salon.
"Rion? Ngapain?" tanya Neska kaget.
"Mau jemput kamu," kata Rion tersenyum sembari menggosok tengkuknya sendiri.
Rion memperhatikan Neska yang sudah dengan penampilan baru, gadis itu memotong sedikit rambut dan mewarnainya dengan warna cokelat. Neska tampak lebih dewasa kendati wajahnya tetap imut-imut. Dalam hati, dia memuji gadisnya itu. Ya, Neska adalah gadisnya, bukan orang lain.
"Terus, Kak Aura gimana?" tanya Neska.
"Kak Aura udah dewasa, Nes, bisa pulang sendiri."
Aura ikut mengangguki ujaran adiknya. "Aku yang bilang sama Rion kalau kita disini, Nes. Gak apa-apa, kamu pulang aja bareng Rion. Aku juga udah ada janji," jawabnya.
"Ehm, gak apa-apa, Kak?"
"It's oke ... kalian have fun, ya." Aura pun melenggang lebih dulu, meninggalkan Neska dan Rion yang masih berada di belakang tubuhnya.
__ADS_1
Bersambung ...
Next? Komen✅