
"Neska?"
Neska mendapati Sheila yang mengunjungi Apartmennya hari ini.
"Hai, Sheil?"
"Ayo kita jalan-jalan!"
Neska baru saja membuka setengah mulutnya ketika Sheila kembali melanjutkan kalimat.
"Eits, gak ada penolakan. Ayo!" Sheila menarik tangan Neska tanpa memberi Neska kesempatan untuk berganti pakaian lebih dulu.
Neska memasuki mobil Sheila dan duduk tepat disebelah gadis yang akan mengemudi itu.
Jangan tanyakan kenapa sekarang mereka akrab. Ini karena kejadian dua tahun yang lalu dimana Neska membuat Sheila dan Rion semakin dekat hingga akhirnya sepakat untuk berpacaran. Neska melakukan itu karena dia tau Sheila sangat tertarik dengan Rion sejak lama, dan tentu karena Neska mau membuat Rion bisa melupakan dirinya.
Ternyata taktik Neska berhasil hingga akhirnya Sheila dan Rion lengket seperti perangko sekarang.
Sejak saat itu, Sheila merasa berhutang budi pada Neska. Padahal, awalnya Sheila mengira Neska hanya bercanda saat mengatakan mau mencomblangi Rion dan dirinya. Nyatanya, Neska benar-benar serius akan hal itu.
"Kita mau kemana?"
"Iss, sabar dulu kenapa. Aku mau ajak kamu ke suatu tempat yang gak akan kamu lupain pokoknya."
"Jangan aneh-aneh deh, Sheil, kamu gak lihat pakaian aku sekarang? Harusnya tadi kamu biarin aku ganti baju dulu."
Sheila terkikik geli, "Gak usah. Gitu doang kamu udah cantik, kok," katanya sungguh-sungguh.
Neska hanya bisa geleng-geleng kepala. Biasanya Sheila akan mengajaknya ke tempat makan baru, sebab gadis itu senang sekali berwisata kuliner termasuk dengan Rion yang juga sudah mengeluh sebab berat badannya naik sejak berpacaran dengan Sheila.
"Rion mana?" tanya Neska sambil melihat arah jalan yang mereka lalui.
"Ngapain kamu tanyain pacar aku?"
Inilah yang membuat Neska kadang kesal dengan Sheila, gadis itu masih saja cemburu pada Neska seolah-olah Neska mau merebut Rion darinya saja. Selebihnya, Sheila ternyata teman yang baik juga dan dia tidak pernah perhitungan dengan Neska.
"Jadi gak boleh aku nanyain Rion? Aneh deh kamu ..."
"Dia pacar aku kalau kamu lupa."
"Sheila yang bawel ... aku tau dan aku gak lupa soal itu, karena aku yang deketin kalian. Jangan-jangan kamu yang lupa, ya?"
__ADS_1
Sheila menyengir. Bagaimanapun dia memang sensi jika Neska menanyakan Rion ataupun sebaliknya. Ya, jangan tanya kenapa, tentu saja karena dulu Rion sangat menyukai Neska ketimbang dirinya.
"Sekarang kamu bilang deh, kita mau kemana."
"Ke The Courtyard Cafe."
Sudah Neska tebak, pasti ajakan Sheila tidak jauh-jauh dari tempat makan. Untung saja mereka berdua memiliki tipe tubuh Ectomorph alias susah gemuk. Jika tidak, mungkin badan keduanya sudah melar karena hobi makan apa saja.
"Padahal tadi aku udah makan, lho" kata Neska.
Sheila mencebik. "Siapa juga yang mau ajak kamu makan. Pede banget sih!" tandasnya.
"Terus? Ngapain ke The Courtyard?"
"Kamu mau kerjaan sampingan kan? Ya, hitung-hitung sampai kuliah kamu selesai dua semester lagi."
"Oh, jadi kamu mau ngasih aku kerjaan?"
Sheila mengangguk, dia tersenyum penuh arti dalam posisinya.
Sesampainya mereka di Cafe dengan suasana santai itu. Sheila melambaikan tangan pada seseorang disana.
Neska sendiri merasa sungkan dengan penampilannya, apalagi jika Sheila benar-benar mau memberikannya pekerjaan di cafe ini. Dia langsung merasa minder seketika itu juga.
"Lho, Rion disini juga?" respon Neska ketika melihat Rion disana. Kenapa Sheila dan Rion tidak berangkat bersama dan menyuruhnya menyusul kesini saja jika ternyata mereka semua akhirnya bertemu di tempat ini.
"Duduk, Nes." Rion mempersilahkan Neska duduk dan mereka semua sudah menempati kursi masing-masing didalam satu meja yang sama.
Neska melihat pada pria yang duduk disebelah Rion, pria itu menyunggingkan senyum tipis. Sepertinya Neska pernah melihat wajah ini, tapi kapan? Mungkin mereka pernah bertemu sepintas. Entahlah, Neska ragu.
"Nes, kenalin ... ini Kak Marko."
Neska terkesiap saat Rion memperkenalkan pria itu kepadanya. Lantas, pria dengan kacamata yang bertengger di pangkal hidung itu mengulurkan jemari ke arah Neska.
"Hallo... saya Marko."
"Neska," sambut Neska agak kikuk.
"Nah, Kak Marko ini lagi cari bintang iklan untuk produk terbaru dari perusahaan tempat dia bekerja, Nes. Jadi, aku sama Sheila mengusulkan agar kamu aja yang ambil tawaran itu."
Sheila mengangguk atas ujaran Rion, begitupun pria bernama Marko yang masih saja tersenyum kepada Neska saat itu.
__ADS_1
"Aku? Nerima tawaran jadi bintang iklan? Apa ini gak salah?"
Neska tentu saja terkejut. Dia pikir, Sheila mau memberikan pekerjaan padanya sebagai pelayan cafe atau semacamnya sampai nanti dia lulus kuliah dan mendapat pekerjaan baru yang lebih baik.
...***...
Marko tersenyum puas saat melihat Neska yang dikenalkan Rion kepadanya. Gadis itu tampak sangat cocok dengan produk body lotion mereka. Kulitnya bening dan terawat. Wajahnya fresh dan muda. Neska tetap cantik kendati dari penglihatan Marko saat ini sang gadis sedang tidak menggunakan make-up untuk merias wajahnya.
Marko tidak pernah tau jika gadis seperti ini adalah tipe yang disukai Cean. Dia pikir selera Cean seperti Wenda. Dia bahkan mengira Cean belum move on dari Wenda sampai saat ini sehingga Cean tak pernah terlihat bersama wanita manapun lagi setelah lepas dari hubungannya bersama Wenda beberapa tahun lalu.
Tapi ternyata dugaan Marko salah besar saat mendapat fakta baru dari Rion, jika Cean rupanya menyukai gadis polos seperti yang saat ini duduk diseberangnya. Neska memang cantik dan itu Marko akui dalam hatinya. Tapi, ini berarti selera Cean sudah berubah. Sejak kapan? Pikirnya.
Marko sengaja tidak mengatakan pada Neska jika dia bekerja dibawah perintah Cean. Pun dia tidak mengatakan pada Cean jika saat ini tengah ke Singapore untuk berkenalan dengan Neska.
Marko punya rencana sendiri. Bagaimana jika dua orang yang saling menyukai ini saling dipertemukan dengan keadaan terikat pekerjaan? Alih-alih menolak bertemu atau menghindar, keduanya justru akan terjebak oleh kondisi yang mengharuskan untuk sering bertemu satu sama lain. Bukankah itu menarik?
"Aku mau kamu menerima pekerjaan ini. Gajinya lumayan. Dan ... kamu gak akan menyesalinya, Nes." Marko berusaha bicara santai, agar Neska rileks hingga akhirnya menyetujui tawaran ini.
Neska sendiri bukan tak mau menerima. Dia bahkan merasa cukup terkejut. Dia tak berpengalaman sama sekali soal iklan dan dunia model. Neska pikir jika mau membintangi iklan itu harus ada audisi tersendiri. Tidak disangka dia justru ditunjuk seperti ini oleh pria seperti Marko?
Neska bertanya-tanya dari mana Rion dan Sheila mengenal Marko, tapi tak etis jika dia menanyakannya saat ini disaat Marko pun masih berada disana.
Dan ya, sepertinya Neska tak perlu bertanya lagi jika mengingat latar belakang keluarga Rion ataupun Sheila yang adalah orang berduit.
Sejatinya, Neska tidak pernah menanyakan apa pekerjaan Cean pada Rion atau pada siapapun, jadi dia tidak tau sama sekali jika Marko adalah salah seorang yang berkaitan dengan dunia kerja pemuda itu.
"Maaf, Kak. Saya bukan gak mau menerima pekerjaan ini. Tapi, saya tidak berpengalaman dalam hal ini. Lagipula, saya masih berkuliah disini. Jadi, bagaimana caranya?"
"Dari ucapan kamu, itu artinya kamu gak mau menolak tawaranku, kan? Karena kamu justru bertanya bagaimana caranya?" Marko tersenyum puas.
Neska mengangguk, jujur saja dia tentu tertarik dengan pekerjaan yang sedang mereka bahas sekarang, tapi keadaannya yang sedang berkuliah serta tak adanya pengalaman dalam hal itu membuat Neska bimbang.
"Kalau kamu memang tertarik dan mau menerimanya, nanti saya kenalkan kamu dengan tim yang akan memandu kamu untuk hal ini. Fotografer kita juga profesional, dia akan mengarahkan kamu saat nanti kamu enggak bisa mengeksplor gaya. Yang penting kamu mau belajar."
Sebenarnya, Marko melakukan ini hanya demi membuat Cean kembali seperti dulu. Jika memang Neska adalah penyebab Cean jadi uring-uringan, maka dia akan melakukan apa saja untuk mengembalikan Cean yang dulu. Jika saja bukan karena Cean, Marko ogah mengajari model yang tidak memiliki pengalaman apapun seperti Neska.
Jika setelah ini Cean masih marah padanya, maka Marko benar-benar akan meledak. Begitulah isi kepala Marko sekarang. Intinya, nanti Cean harus berterima kasih padanya. Hm....
"Soal keberadaan kamu disini yang sedang kuliah, itu gak masalah. Kebetulan perusahaan kita juga pusatnya ada di Singapore kok. Jadi, jika memang perlu, sesekali pas akhir pekan kamu bisa ke Indonesia juga untuk urusan pekerjaan."
...Bersambung ......
__ADS_1
Hayo ... gimana ya nanti pertemuan mereka setelah 2 tahun gak ketemu? Ada yg gak sabar? Nah, tungguin ya. Jangan lewati bab sebelumnya untuk tekan Like. Jadi jempolnya itu ditekan disetiap Bab ya.
Makasih utk yang udah ninggalin komentar meski gak semuanya othor balasin. Percayalah, komentar kalian itu membuat othor semangat untuk update terus. Makasih udah mendukung 🙏❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️