
Cean telah mewanti-wanti pihak humas di kantornya. Mengenai foto Neska yang mungkin akan tersebar ke media. Untuk hal itu, Cean meminta pihak humas segera menangani hal itu dengan menghapusnya jika mendapati foto tersebut sebelum dapat dikonsumsi oleh publik.
Cean mendatangi Marko di Apartmennya. Membuat pria itu mengerutkan kening karena heran dengan sikap Cean malam ini. Sulit dimengerti kenapa Cean yang malah menemuinya, biasanya Marko yang diminta oleh Cean untuk datang ke suatu tempat.
"Kenapa kau?" tanya Marko, dia melepaskan sekaleng softdrink dan ditangkap Cean dengan tepat.
Cean membuka kemasan minuman kaleng itu dan meminum isinya lebih dulu sebelum menyahuti pertanyaan Marko.
"Aku lagi memikirkan Jelita."
Marko terkekeh pelan. Tentu saja dia heran, kenapa sekarang Cean malah memikirkan Jelita disaat dia sedang menjalin hubungan dengan Neska.
"Kenapa? Kau menyesal telah memecatnya? Atau kau malah tertarik untuk mencicipinya?"
"Kau berpikir aku begitu?" tanya Cean dengan tatapan tajam ke arah Marko.
Marko ikut meminum softdrink miliknya. Dia mengendikkan bahu. Dia tahu Cean tak mungkin begitu hanya saja beberapa tahun belakangan Cean kan berubah. Siapa tau Cean juga berubah pemikiran mengenai Jelita.
"Jangan salah pengertian, aku memikirkan Jelita karena dia membuat ulah dan aku mau menghancurkannya lebih jauh."
Kali ini Marko terperanjat. Dia tidak pernah berhenti mendengar Cean nekad dan penuh tekad seperti ini. Nada suaranya terdengar tak main-main.
"Memangnya Jelita buat ulah apa?"
"Dia mengedit foto Neska menjadi top-less. Aku akan membuat perhitungan dengannya."
"Mana? Coba ku lihat fotonya?"
Cean segera menggeleng tegas. "Tidak!" katanya menekankan.
Marko tertawa renyah. "Aku cuma mau lihat, fotonya itu bagus atau justru terlihat sekali editannya."
Cean memukul dahi Marko saat itu juga, membuat sang sahabat mendelik sambil mengasuh sakit disaat bersamaan.
"Arkhh ..." Marko meringis sesaat, tapi kemudian terkekeh karena dia tau tadi dia asal bicara saja.
"Sekalipun itu editan, aku tidak mau menunjukkannya padamu. Nanti kau bisa menatap Neska sambil membayangkan tubuhnya. Apa kau pikir aku tidak tau otak kotormu itu?"
"Astaga Cean..." Marko mengesah frustasi. "Aku cuma mau menilai editannya saja," paparnya.
"Aku tetap tidak mau kau melihatnya. Aku yang akan memastikan sendiri soal foto itu."
__ADS_1
Marko mengangguk. Dia tau Cean memang cukup ahli dalam mengecek hal tersebut. Duku Cean mengambil ekstrakurikuler IT di kampus mereka sehingga ini tak akan sulit baginya.
"Pinjam laptopmu."
"Percuma bos, laptop saja minjam," cibir Marko sambil bersungut-sungut.
"Kau tau aku tidak membawanya kemanapun, kan? Tadi aku refleks saja ke Apartmenmu, siapa tau kau punya ide untuk menghancurkan Jelita. Aku tidak akan melepasnya begitu saja."
Marko hanya bisa menuruti kemauan Cean dan dia mulai mengambil laptopnya untuk digunakan oleh pemuda itu.
...***...
Neska merasa tengah menginjak sesuatu didekat lantai yang berada tak jauh dari ambang pintu Apartmennya. Sontak saja dia langsung menatap pada sesuatu yang dia injak itu.
Benda tersebut tergeletak di lantai tanpa Neska sadari sedari tadi. Neska lantas mengambilnya, itu adalah sebuah sapu tangan. Mendadak Neska ingat jika itu adalah milik ... Karel?
Neska terkesiap, disaat yang sama dia ingat jika Karel sempat mengatakan bahwa sapu tangan itu miliknya dan tertinggal di taksi yang mengantarkan mereka.
Akan tetapi, Neska juga tau jika itu bukan miliknya. Neska tak pernah merasa membawa sapu tangan itu masuk ke dalam Apartmennya. Tapi hal ini justru membuat Neska menyadari sesuatu.
Karel pasti telah masuk ke dalam Apartmennya sehingga sapu tangan itu ikut tertinggal disana. Itulah pemikiran Neska sekarang.
Tapi, bagaimana bisa dia tidak ingat jika Karel sempat berkunjung? Perasaan, dia tak pernah membawa laki-laki masuk ke dalam Apartmennya jika mereka hanya berdua saja. Bahkan Cean pun dia tolak. Lain halnya saat dulu di Apartmen tua yang Neska tinggali di Indonesia. Neska memang sering merepotkan Cean untuk membantunya disana. Tapi sekarang? Ini menjadi pertanyaan besar di kepala Neska saat ini.
Neska bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Hingga akhirnya dia mendapatkan panggilan dari Sheila.
Disana Sheila sudah mendapatkan jawaban mengenai kejanggalan yang Neska katakan. Rion telah berhasil mengecek cctv yang ada didepan pintu Apartmen Neska dan memberitahu isi rekamannya pada Sheila.
"Jadi, Karel benar-benar masuk ke Apartmenku?" Sontak saja Neska terperanjat kaget. Bukan cuma Karel yang datang dan masuk ke apartmennya saja yang membuatnya syok tetapi cara masuk pemuda itu juga lain daripada yang lain.
Jadi, dalam rekaman cctv yang Rion selidiki, disana merekam jika Karel membawa Neska yang tidak sadarkan diri. Dari hal itu, Rion menyimpulkan jika Karel memanfaatkan sidik jari Neska sebagai akses masuk.
"Lalu, apa yang selanjutnya terjadi?" Neska benar-benar tidak siap mendengar ini, tapi dia harus mendengar kenyataannya meski itu akan mengejutkannya.
"Dari rekaman yang aku lihat bersama Rion, cowok yang namanya Karel itu membuka semua pakaian kamu, Nes," terang Sheila dari seberang telepon. Sebenarnya Sheila merasa amat bersalah menyampaikan fakta ini pada Neska, tapi bukankah Neska berhak mengetahuinya?
"Apa?" Neska akhirnya membungkam bibirnya yang ternganga karena kenyataan ini. Dia sudah dilecehkan oleh Karel. Itulah kenyataannya.
"Nes, maaf ya, kamu pasti syok banget karena hal ini tapi aku pikir kamu berhak tau, aku gak mau menyembunyikan hal ini demi menjaga perasaan kamu. Tapi aku menjelaskan ini sama kamu supaya kamu tau siapa Karel sebenarnya dan apa yang udah dia perbuat ke kamu."
Neska sudah menangis dalam posisinya mendengar penjelasan Sheila dari seberang telepon.
__ADS_1
"... kamu tenang ya, maaf seharunya aku nyampe-in ini sama kamu secara langsung tapi aku keburu geram sama tingkah cowok bernama Karel ini. Abis ini aku ke Apartmen kamu ya. Aku bakal temenin kamu disana."
Neska mengangguk dalam posisinya kendati Sheila tak dapat melihat responnya itu.
"Ah iya, mungkin kamu juga perlu tau soal ini. Karel tidak melakukan lebih jauh. Dia cuma membuka seluruh pakaian kamu. Itu saja. Aku juga enggak tau apa alasan dia ngelakuin itu yang jelas dia gak menyentuh kamu lebih jauh."
"Terus, apa lagi yang dia perbuat?"
"Kayaknya dia foto-foto-in kamu, Nes." Kembali Sheila merasa bersalah dengan kenyataan yang disampaikannya pada Neska. Dan tentu saja Neska semakin menangis mendengarnya. Apa niat Karel sebenarnya? Apa Karel berniat mengancamnya dengan foto-foto itu nanti?
"Kamu kesini secepatnya ya, Sheil. Aku takut kalau kalau Karel datang lagi kesini malam ini. Kamu nginep ditempat ku aja ya. Aku mohon."
"Iya, Nes. Aku kesana sekarang." Tanpa berpikir dua kali, Sheila langsung mengiyakan. Memang sedari awal dia mau menemani Neska sebab dia tau Neska pasti terpukul karena hal ini. Karel benar-benar keterlaluan.
Tidak begitu lama dari telepon Sheila yang berakhir, tampak Cean yang kembali menghubungi Neska ke ponsel gadis itu. Sepertinya Cean juga sudah mendapatkan sesuatu dari penyelidikannya mengenai foto yang telah dikirim Jelita ke nomor pribadinya.
Cean memang belum menceritakan pada Neska terkait foto yang diterimanya dari Jelita. Pun sama dengan Neska yang belum mengatakan pada Cean mengenai kejanggalan momen yang dia rasakan. Apalagi hal yang baru saja Sheila kabarkan. Neska tidak berani mengatakannya pada Cean.
"Ha-hallo, Kak?" Neska menyahut dengan suara bergetar. Dia memikirkan bagaimana reaksi Cean jika tau bahwa dia telah dilecehkan oleh Karel.
"Nes?" Suara Cean terdengar lemah diseberang sana.
"Kakak kenapa?" Sontak saja Neska merasa was-was sekarang. Dia takut Rion memberitahukan segalanya pada Cean terkait hal ini, sebab Rion lah yang lebih dulu tau mengenai hasil rekaman cctv Apartmennya, kan? Mungkin dia sudah mengabarkan pada Cean mengenai apa yang terjadi pada Neska dan Karel hari ini.
"Aku sedang gak baik-baik aja."
Neska memejamkan matanya rapat-rapat saat mendengar ucapan Cean barusan. Pasti Rion sudah memberitahu Cean, itulah yang ada dikepala Neska sekarang.
"Kak ..." Neska melirih. "Kakak percaya sama aku, kan?" tanyanya gamang.
"Ya, aku sangat percaya sama kamu. Tapi aku gak tau mau komentar apa soal foto yang aku selidiki dan ternyata itu adalah foto asli."
"Foto? Foto apa, kak?" Neska terkejut dalam posisinya, dia langsung mengingat jika Sheila sempat mengatakan bahwa Karel tidak menyentuhnya lebih jauh dan hanya terlihat memotretnya dalam keadaan setengah te-lan-jang.
Disitulah hati dan perasaan Neska terasa dihantam. Cean bukan mengetahui soal pelecehan yang diterimanya dari Karel. Melainkan foto yang sejatinya tidak Neska ketahui seperti apa itu, justru telah diterima oleh Cean lebih dulu.
Neska sadar jika dia syok akibat berita yang disampaikan Sheila. Sementara Cean disana juga terkejut karena mendapatkan foto Neska yang ternyata asli dan bukan sebuah editan.
Apa yang harus Neska jelaskan pada Cean sekarang.
...Bersambung ......
__ADS_1
Nanti up lagi. Tungguin yaa🙏🥰🥰🥰🥰