TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
57. Kebetulan atau ...


__ADS_3

Neska sangat terkejut mendapati seseorang yang duduk disebelahnya dalam pesawat adalah Karel.


"Hai, Nes?"


Bahkan pemuda itu menyapa Neska seolah tidak terkejut jika yang duduk disana adalah gadis itu. Ini sebuah kebetulan tapi kenapa Neska merasa aneh.


"Kamu?" Neska mengernyit heran. "Kok bisa ya?" tanyanya.


"Bisa apanya?" Karel seolah tak paham dengan maksud gadis itu.


"Kita bisa satu pesawat, terus duduk sebelahan begini."


Karel hanya mengendikkan bahu menanggapi ucapan Neska seolah itu tidak terlalu penting.


"Kamu mau kemana?"


"Aku mau ke Singapore, ada sedikit urusan disana," jawab Karel terdengar biasa.


"Oh." Neska manggut-manggut.


"Kamu sendiri? Udah mau balik ke Singapore? Bukannya kamu terikat kontrak sama perusahaan lotion itu? Ehm, maaf ya, aku tau karena gak sengaja menonton acara konferensi pers kamu di televisi," ujar Karel menerangkan.


"Iya, kebetulan kerjaan aku fleksibel kok, masih menyesuaikan sama kegiatan aku juga di Singapore," jelasnya.


"Enak banget ya, pantes kamu mau. Aku pikir dunia modeling bukan passion kamu, kan?"


Neska tak menjawab pertanyaan Karel kali ini, dia hanya membalasnya dengan senyuman kecil.


Mereka sama-sama diam setelah terlibat percakapan singkat itu. Meski dulu Neska mengenal Karel begitupun sebaliknya, tapi sekian tahun tak bertemu tentu ada sekat pada diri masing-masing yang tidak ingin terlalu terbuka untuk satu sama lain. Apalagi Neska yang sejak dulu memang tidak terlalu antusias dengan Karel sejak pemuda itu pernah berlaku kurang ajar padanya dengan memaksa menciumnya.


"Nes?"


Neska yang duduk di dekat jendela kini menoleh pada Karel kembali.


"Kamu sendirian aja? Gak ditemenin kru atau yang lainnya?"


Neska tau kali ini Karel ingin menanyakan pendamping yang menemaninya di pesawat. Mungkin maksud Karel adalah kemana pacar Neska kenapa tidak menemaninya? Hanya saja Karel tidak mau terang-terangan menanyakan hal tersebut.


"Iya, aku sendirian aja," jawab Neska jujur.


"Ah iya, karena aku mau ke Singapore juga, boleh dong kapan-kapan aku main ke tempat kamu. Ke kampus kamu, mungkin." Karel menatap Neska sungguh-sungguh.


"Boleh, kampus aku tempat umum dan kamu boleh kesana kapan aja," jawab gadis itu realistis.


"Ya, tapi aku kesana mau ketemu kamu dong, Nes. Buat apa aku kesana kalau gak nemuin siapapun yang aku kenal."


"Untuk?"


"Kamu kok nanya gitu? Untuk main dong, kamu lupa kalau aku temen kamu pas SMA? Atau kamu udah gak anggap aku temen ya sejak aku pernah nyakitin kamu."


"Gak usah bahas hal itu ya, Rel. Aku udah lupain," kata Neska tak sepenuhnya benar. Dia masih ingat kelakuan Karel dulu, tapi dia juga tak mungkin membahas itu terus dengan pemuda ini.


"Makasih ya kalau kamu emang udah lupain hal di masa lalu. Aku merasa bersalah sama kamu sejak saat itu."


Neska hanya menipiskan bibir saja. Dia benar-benar tak berniat untuk membahas masa lalu bersama Karel.


"Kamu masih sering ketemu Vita, Nes?" Karel mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Vita temen sebangku aku dulu ya?"


Karel mengangguk. "Pasti kamu gak tau kabar dia, kan?" tebaknya.


Neska mau menyahut iya, sebab dia dan Vita memang sudah cukup lama tidak berkomunikasi. Terakhir, mereka sempat saling berkirim pesan melalui sosial media, itupun hanya menanyakan kabar dan kegiatan masing-masing.


"Vita udah menikah dan sekarang tinggal di Papua, ikut suaminya."


"Kok kamu tau?" tanya Neska yang kali ini tampak antusias sebab membicarakan mengenai sosok yang dikenalnya dengan cukup dekat.


"Iya, suaminya itu kebetulan kakak tingkatku di kampus. Belum lama ini sih mereka menikah, baru dua bulanan gitu."


Neska menganggukkan kepalanya.


"Kapan-kapan kalau reuni-an enak kali ya," celetuk Karel kemudian.


"Iya, boleh tuh, tapi tunggu aku udah stay di Indonesia ya." Neska mulai terlihat tak kaku lagi, pembicaraan mengenai Vita yang tadi sempat dibahas Karel justru menjadi pembuka perbincangan keduanya yang menjadi akrab kembali.


Setelah beberapa waktu melewati perjalanan udara. Neska dan Karel tiba di Bandara Singapore saat hari mulai menggelap.


"Selama di Singapore kamu tinggal dimana, Nes?"


"Aku di Apartmen, Rel."


"Sekarang kamu pulangnya naik apa?"


"Taksi," jawab Neska.


"Gimana kalau sama aku aja, aku juga naik taksi sih, tapi biar taksi aku aja yang anterin kamu sampai ke Apartmen. Gimana?"


Karel tak mau memaksa Neska, dia membiarkan saja gadis itu berlalu sebab dia tak mau Neska ilfeel dengannya jika dia ngebet mau mengantarkan sang gadis.


"Oke, pelan-pelan aja, nanti kamu pasti gak bakal bisa lepas dari aku dan justru kamu yang memohon sama aku, Nes." Karel tersenyum miring sembari melihat punggung ramping Neska yang telah berlalu.


...***...


Neska kuliah seperti biasanya. Menjalani keseharian seperti mahasiswa lainnya. Tanpa pernah diduganya, Karel benar-benar bertandang ke universitas dimana dia berkuliah.


Mengingat percakapan mereka kemarin saat di pesawat, memang tidak ada yang aneh. Karel seolah ingin berteman saja dengannya. Mungkin Karel sedang ingin mengenang masa lalu atau karena diapun tidak punya begitu banyak kenalan selama di Singapore.


"Hai."


"Hai."


"Kamu udah siap kuliah?"


Neska mengangguk. "Kebetulan udah."


"Wah pas banget ya. Aku kesini emang mau ketemu kamu kayak yang kemarin aku bilang." Karel menyengir diujung kalimatnya.


"Urusan kamu udah selesai disini?"


"Belum, masih ada dua hari lagi. Ini tadi baru pulang dari penyelesaian urusan itu, sih tapi belum bener-bener kelar."


Neska mengangguk.


"Kamu risih ya karena aku datang kesini? Maaf ya, karena aku emang belum terbiasa disini, jadi aku anggap kamu sebagai tuan rumah dan aku tamunya."

__ADS_1


Neska tak tau mau merespon apa soal pernyataan Karel sekali ini.


"Kalau kita jalan-jalan hari ini, bisa gak, Nes?"


"Maksudnya?" Neska hampir menangkap maksud Karel yang mencoba mendekatinya lagi seperti dulu.


"Ehm, sorry, maksud aku, aku kan gak familiar sama tempat-tempat yang ada disini. Jadi, kamu mau gak anterin aku buat tunjukin tempat-tempat asyik yang ada disini?"


"Aku juga gak begitu tau. Karena aku jarang nongkrong, tiap pulang kuliah aku lebih sering langsung pulang," akui Neska terus terang.


"Hmm, ya udah deh kalau gitu. Aku gak mungkin maksa kamu. Maaf ya."


Neska sedikit tertegun dengan ucapan Karel. Tampang pemuda itu juga langsung lesu. Neska kira Karel akan memaksanya seperti tempo dulu, nyatanya pemuda itu mengalah. Mungkin Karel sudah banyak berubah seiring dengan berjalannya waktu, pikir Neska.


"Ya udah, aku balik dulu ya."


"Aku anterin ya, Nes?"


Neska mau menggeleng, tentu saja.


"Nes, kamu gak mau nganterin aku ke tempat-tempat asyik yang ada disini. Tapi kamu juga nolak buat aku anterin. Apa kamu se-ilfeel itu ya sama aku?"


Neska langsung menggigiit bibirnya sendiri, entah kenapa dia merasa bersalah sampai-sampai Karel mengiba seperti itu padanya. Susah memang jika terbiasa hidup prihatin, Neska jadi merasa simpati dengan ucapan Karel.


"Oke deh, kamu boleh anterin aku pulang. Tapi maaf ya, aku gak bisa nemenin kamu selama disini meskipun kamu bilang kalau kamu tamu. Maaf, Rel. Aku gak bisa menjamu kamu karena kamu bukan tamu aku," kata Neska to the point. Dia mau diantar Karel hanya karena simpati tidak lebih.


Karel mengangguk, merasa penerimaan Neska kali ini adalah peluang yang harus dia manfaatkan sebaik mungkin.


"Mana taksinya, Rel?" tanya Neska kemudian.


"Itu ada disana."


Neska dan Karel berjalan bersisian menuju letak taksi yang sudah menunggu mereka.


"Kamu ada yang mau dibeli gak? Biar kita mampir dulu?"


Neska menggeleng atas pertanyaan Karel tersebut. Dia duduk diam diposisinya. Dia akan menganggap Karel adalah teman yang sedang berkunjung. Jadi, Neska bersikap sebiasa mungkin.


"Ini gedung Apartmen kamu!"


Neska mengangguk, dia turun dan memasuki lift di gedung Apartmennya.


Sampai akhirnya, Neska sampai di koridor yang menghubungkan dengan letak kamarnya. Disalah Neska terkejut karena ternyata Karel mengikutinya. Neska merasa risih, tapi pikirannya masih mengatakan semua baik-baik saja.


"Nes?"


"Kenapa, Rel? Kamu kok ngikutin aku?"


"Ini, sapu tangan kamu ketinggalan di taksi tadi makanya aku ngejar kamu."


"Sapu tangan?" Neska masih terheran-heran.


"Unit apartemen kamu yang mana?" tanya Karel mengalihkan pembicaraan.


"Yang itu," kata Neska menunjuk sebuah pintu unit apartmennya. Disaat bersamaan, Neska merasa mulutnya dibekap dan sepersekian detik berikutnya yang dia lihat hanyalah kegelapan.


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2