TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
54. Pengganti


__ADS_3

Neska kembali datang ke Indonesia. Kali ini kedatangannya untuk mengikuti konferensi pers yang akan diadakan oleh perusahaan Cean. Kabarnya, ada beberapa media yang akan meliput berita tersebut. Termasuk wartawan tabloid cetak maupun majalah online.


Kabar ini sekaligus membuat publik tahu bahwa Jelita sudah tidak lagi menjadi Brand Ambasador dari produk ternama yang di produksi oleh perusahaan yang di pegang Cean.


"Jadi dia yang akan menggantikan aku?" Jelita yang sedang menonton televisi melihat sebuah stasiun tv yang menyiarkan kabar itu. Dia tersenyum sinis karena menganggap yang menggantikannya hanyalah bocah ingusan yang jauh dibawah dirinya.


"Tidak berkelas sama sekali," Jelita mencibir, tapi sebenarnya dia sedang menyangkal kecantikan Neska yang sejatinya dia akui dalam hati.


"Kita lihat saja, dia tidak akan bertahan lama." Jelita tertawa sumbang. "Semua yang mengambil posisiku, akan menyesal. Termasuk Pak Cean yang sudah menyingkirkan aku dari pekerjaan ini," tandasnya.


Jelita tidak bisa menerima ini begitu saja. Secara tak langsung dia sudah didepak meski seluruh kerugian karena pemecatannya sudah dibayarkan ke rekeningnya.


Jelita mulai memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa kembali ke posisi semula. Tidak ada yang boleh melebihinya, menggantikan dirinya, apalagi itu hanya seorang gadis kecil yang tidak ada apa-apanya.


Jikapun nanti Jelita tidak bisa menjadi BA di perusahaan Cean lagi, setidaknya dia sudah puas untuk membuat sebuah peringatan keras terhadap pemuda itu karena telah berani menggantikan posisinya dengan yang lain.


Sejatinya, jelita bukan cuma dendam karena posisinya yang diambil alih oleh Neska, tapi dia juga sakit hati karena penolakan Cean kepadanya. Cean juga meremehkannya, seolah dia wanita yang menjijikkan.


"Aku akan mencari selah untuk membuat Pak Cean menyesal telah menolak dan menyingkirkanku," gumam Jelita dengan tekad jeleknya.


...***...


Cean tersenyum pada Neska yang baru saja masuk ke dalam ruangannya. Sebelumnya, dia meminta Marko untuk mengantarkan gadis itu ke ruangannya setelah konferensi pers selesai.


Cean berdiri dari kursi kebesarannya, menyambut Neska dengan gelagat yang senang. Dia bahkan merentangkan tangan berharap Neska menghambur ke dalam dekapannya. Sayangnya, Neska hanya menanggapi Cean dengan kulumann senyum yang terlihat jenaka.


"Kok gitu, sih?" Cean langsung merengut. Berlagak merajuk karena Neska tampak tidak memahami bahwa dia ingin memeluk gadis itu.


"Lagian Kakak ngapain sih begitu?" tanya Neska masih dengan senyum jenaka yang sama.


Cean mendekat pada gadis itu. "Mau peluk, lah. Namanya juga kangen," ujarnya blak-blakan.


Sekarang Neska terkekeh, membuat Cean semakin kebingungan.


"Kok sekarang malah ketawa?"


"Kakak lucu ih, gak boleh peluk-peluk belum halal."


Kali ini Cean berdecak lidah karena jawaban gadisnya. "Kamu sendiri yang gak mau aku halalin," keluhnya.


Neska makin melebarkan senyumnya. "Sabar ya, nanti kan ada saatnya." Gadis itu tampak berpikir sejenak. "Dua tahun lagi, mungkin," tambahnya.


"Dua tahun lagi?" Mata Cean langsung membulat sempurna. "Gak, gak, itu kelamaan, Nes," protesnya.

__ADS_1


"Gak usah bahas soal pernikahan dulu, ya. Aku laper banget nih, Kak."


Cean baru tersadar jika sekarang memang jam makan siang. Tapi dia belum merasa puas dengan pembahasan mereka tadi.


"Ya udah, sekarang kita makan siang yuk. Tapi kita lanjutin bahas yang tadi sambil makan ya."


Cean dan Aneska akhirnya pergi ke sebuah Restoran yang dekat dengan kantor. Sebenarnya Neska agak takut kalau-kalau dengan kepergiannya yang berdua saja dengan Cean akan menimbulkan gosip atau desas-desus di kantor, tapi sepertinya Cean tak masalah dengan itu. Dia malah menggandeng tangan Neska sepanjang perjalanan menuju Resto yang dihabiskan dengan berjalan kaki--karena jaraknya memang tidak jauh dari kantor.


"Kak, kalau kita digosipkan gimana? Orang-orang udah tau kalau aku yang sekarang jadi BA produk perusahaan kakak," kata Neska sesaat mereka duduk di kursi restoran bergaya retro tersebut.


Cean hanya mengendikkan bahu acuh tak acuh. Tak masalah baginya. Lagipula, mereka mau digosipkan apa? Pacaran? Memang kenyataannya mereka berpacaran, kan?


"Kamu mau pesan apa?" Alih-alih menanggapi kecemasan Neska soal gosip yang akan beredar, Cean malah menanyakan hal lain yang diluar pembahasan yang Neska mulai.


"Aku apa aja deh," kata Neska.


"Disini gak ada steak tempe ya?"


Neska kini terkikik, nyatanya Cean malah merindukan masakan itu dan sudah beberapa kali untuk terus membahasnya.


"Iya, iya, nanti aku buatkan. Aku kan udah janji sama kakak," kata Neska yang menganggap ucapan Cean tentang steak tempe tengah menyinggungnya.


Cean tersenyum puas. "Oke, buatnya pake cinta ya?" ujarnya disertai kekehan.


Mereka terkekeh kemudian Cean memilihkan menu makanan untuk mereka berdua.


"Pak Cean?"


Cean dan Neska yang sedang cekikikan sontak menoleh pada sumber suara yang menyapa lelaki itu.


Cean langsung menegak, Jelita ada disana dengan senyum yang lebar penuh keramahan. Cean malah merasa ada yang janggal dengan senyum wanita itu.


Sementara Neska, dia tentu tau siapa yang kini ada diantara dia dan Cean. Wajah wanita ini sering wara-wiri di layar televisi. Dan Neska juga tau jika inilah sosok yang dia gantikan di perusahaan Cean. Neska tidak mengetahui ada problem apa antara Jelita dan Cean, dia mengira Jelita memang sudah selesai dengan kontrak kerjanya di perusahaan tersebut.


"Ya?" Cean menangapi sapaan jelita dengan sikap tenang dan biasa.


"Apa kabar, Pak? Saya melihat konferensi pers yang dilakukan pagi tadi."


"Oh, udah lihat, ya." Cean berujar datar, tanpa ekspresi. Tidak dapat ditebak apa yang ada dikepalanya sekarang.


Jelita sendiri, tidak menyadari jika disana Cean tengah bersama Neska yang adalah gadis penggantinya. Dia kira Cean sedang berkencan dengan salah satu pacar pria itu sebab dia sempat mendengar jika Cean itu pemain wanita makanya sejak lama dia Bernai untuk mendekati Cean secara terang-terangan, sayangnya Cean malah menolaknya mentah-mentah.


"Iya, kenapa pengganti saya seperti itu, Pak? Bukankah seharusnya dia lebih daripada saya?"

__ADS_1


Neska diam dalam posisinya, dia tak mau menyahuti ucapan Jelita, dia juga tau jika Jelita memang lebih segala-galanya ketimbang dia yang masih amatir dalam dunia permodelan. Jelita memang lebih tau dan ahli dalam hal itu. Jadi, Neska tak berniat menyanggahnya.


Berbeda dengan Cean, dia tak menerima ucapan Jelita yang terkesan meremehkan Neska. Jelita tidak tau bahwa Neska adalah gadis spesial untuk pemuda itu.


"Saya kira pengganti kamu jauh lebih baik. Penampilannya lebih baik. Perfomanya juga." Cean memindai seluruh penampilan Jelita dengan tatapan yang meremehkan. "Satu lagi, dia juga lebih fresh dan muda, jadi tidak usah merasa paling segala-galanya," tukas Cean terang-terangan.


Ujaran Cean jelas mematahkan kepercayaan diri Jelita, tapi dia mana terima diremehkan secara blak-blakan seperti itu oleh pemuda ini. Jelita tidak tinggal diam, dia malah tertawa sinis sekarang.


"Haha, bisa-bisanya bapak mempekerjakan seorang BA yang tidak ada menarik-menariknya. Dia terlihat kaku dan tidak menguasai panggung. Wajahnya juga sangat membosankan," kata Jelita dengan sombongnya.


"Jaga ucapan kamu!" Cean menekankan kata-katanya. "Karena sikap kamu itu jauh lebih membosankan," tandasnya.


Jelita kembali tertawa mengejek. "Saya kira bapak akan menyesalinya nanti. Produk itu tidak akan selaris seperti saat saya menjadi brand ambasadornya, Pak. Tapi disaat nanti bapak meminta saya untuk kembali bergabung di perusahaan bapak, saya sudah tidak tertarik lagi meski bapak berniat mencium kaki saya," ucapnya pedas.


Kali ini Cean yang terkekeh. "Pergilah," katanya menganggap ucapan Jelita sepeti hal remeh-temeh. "Saya tidak akan menjilat ludah saya sendiri. Sekali kamu dipecat maka tidak akan saya kutip lagi."


Jelita bersungut-sungut kesal. Kedua tangannya terkepal erat, disanalah dia menatap Neska yang sejak tadi terdiam. Emosinya semakin menjadi-jadi saat menyadari gadis itulah yang menjadi penggantinya.


"Kamu?" Jelita menunjuk-nunjuk wajah Neska dengan jarinya. "Pasti kamu mau terkenal dengan jalur instan kan? Kamu udah goda Pak Cean, kan?"


Neska menggeleng keras dalam posisinya. Dia masih syok dengan respon Jelita saat menyadari siapa dirinya.


"Heh, berapa malam kamu habiskan bersamanya?" Jelita kini menoleh pada Cean, dia tersenyum sinis. "Pasti kamu udah buka kaki lebar-lebar untuk Pak Cean kan, supaya kamu cepat naik daun dan terkenal?"


Ujaran Jelita benar-benar memantik api yang ada dalam diri Cean. Pemuda itu hampir saja memukul Jelita yang menghina Neska tapi Neska segera menarik lengan Cean dan menggeleng sebagai isyarat agar Cean tidak terpancing oleh sikap wanita itu.


"Gak usah sok gak ngaku, deh. Aku juga dulu gitu, ditidurin berhari-hari sama Pak Cean biar bisa masuk perusahaannya."


Kali ini Neska dan Cean sama-sama mendelik syok akibat pernyataan Jelita.


"Pergilah, bitchhh!!" umpat Cean seketika itu juga. Dia tak mau Neska jadi beranggapan jelek kepadanya.


"Kenapa? Bapak takut rahasia kita terbongkar sama BA baru ini?" Jelita tersenyum mengejek. Dia merasa menang sekarang.


Cean mendengkus keras, disanalah Neska berusaha mengajak Cean pergi agar terhindar dari provokasi Jelita.


"Kalau dia gak mau pergi, kita aja yang pergi, Kak!" kata Neska mengambil sikap. Dia menarik tangan Cean setelah meletakkan beberapa lembar uang untuk membayar makanan mereka yang bahkan belum sempat dihidangkan ke meja tersebut.


...Bersambung ......


Info ya gaes, novel ini bakal up tiap hari sekitar jam 3-an. Kadang aku bakal up 2x juga. Mungkin up yang ke-2 agak sore atau malam.


Nah, untuk Novel Aura (Dijebak Di Malam Pengantin) Aku bakal up rutin juga (meski gak tiap hari tapi aku usahain tiap hari🙏) Itu jam update nya pagi, sekitar jam 10-an. Ceritanya masih bersangkutan dengan novel Cean ini, cuma latar cerita Aura terjadi saat dua tahun kemarin Cean dan Neska enggak komunikasi. Gitu aja deh, ya🙏🥰🥰🥰 mohon dukungannya✅

__ADS_1


__ADS_2