
Pemandangan yang tadi sempat Neska saksikan secara langsung, menyadarkannya bahwa Rion memang tampak mirip dengan Cean. Hanya saja, selama ini dia tidak begitu memperhatikan. Pantas saja dia merasa gelak tawa Rion terasa sangat familiar, ternyata senyuman itu memang mirip dengan milik tetangga sebelah yang meresahkan.
"Ya ampun, jadi Rion itu adiknya Kak Cean?"
Neska masih saja tak percaya dengan kenyataan ini. Kendati dia pernah mendengar Cean mengatakan bahwa adik lelakinya bersekolah di SMA yang sama dengannya, tapi Neska tidak pernah menduga jika itu adalah Rion.
"Ocean, Orion... ah, bodo banget sih gak kepikiran sampe kesana." Neska menepuk jidat. Tapi mendadak dia juga mengingat pengakuan Rion pada Cean beberapa waktu lalu.
"Aku suka dia, Kak."
Astaga, Neska langsung menggelengkan kepalanya untuk membuyarkan pemikiran tentang ucapan Rion itu. Pemuda yang sering membuatnya jengkel itu mengaku menyukainya didepan kakaknya sendiri?
Tapi, Neska juga memikirkan tanggapan Cean terkait pernyataan Rion. Kenapa Cean terdengar tak senang dengan hal itu.
"Jangan pacaran sama Neska."
Jelas, kan? Jika perkataan Cean itu terdengar memperingati Rion agar pemuda itu tidak berpacaran dengannya.
Neska pusing memikirkannya, belum lagi tentang Karel yang membuatnya kesal bukan kepalang karena tindakan pemuda itu.
Bagaimana Neska menghadapi Karel dan Rion nanti? Mungkin pada Karel dia bisa membuat batas mulai sekarang. Tapi dengan Rion? Memang sejatinya mereka tidak pernah dekat, tapi sejak mendengar pernyataan pemuda itu tentang menyukainya--Neska takut jadi memandang Rion dengan cara yang berbeda.
"Nes?"
Neska terperanjat, seseorang mengetuk pintu Apartmennya.
Gadis itu bangkit dan mendapati Yola disana.
"Ada apa, Kak?"
"Ehm, Nes. Bisa bantuin aku, gak?"
"Masuk dulu yuk, Kak."
"Gak usah, ini urgent. Kamu butuh uang tambahan, gak? Aku ada kerjaan buat kamu malam ini."
Neska sedikit heran melihat Yola yang menawarinya pekerjaan. Ini tidak biasanya, karena kebanyakan Neska ditawari job tambahan oleh Dena itupun Neska tau jika pekerjaan Dena di penataan taman, sedangkan pekerjaan Yola--Neska tak mengetahuinya.
"Kerja apa ya, Kak?" tanya Neska tampak ragu.
"Ah, iya, kamu gak tau ya kalau aku kerja di cafe selama ini?"
"Cafe?" Neska menggeleng kemudian. Dia tampak mengernyit masih merasa keheranan.
"Gini, di cafe aku lagi ada event malam ini. Ini kan Sabtu malam, biasanya pengunjung lagi ramai-ramainya. Nah, temen yang biasa satu shift sama aku lagi gak bisa datang. Kamu mau gak, Nes, gantiin dia?"
Selama satu tahun mengenal Yola, baru kali ini Neska tau jika tetangganya ini bekerja di sebuah Cafe, tapi kenapa selalu berangkat di malam hari?
"Kerjanya ngapain, kak?"
"Gak susah, kok. Cuma anterin minuman sama makanan aja, Nes."
"Jam berapa?"
"Jam 9 kita udah jalan kesana."
Tuh, kan, itu udah terlalu larut bagi Neska? Bukankah itu jam tidurnya? Neska takut mengantuk saat bekerja.
__ADS_1
"Maaf ya, Nes. Aku bingung harus cari siapa lagi buat gantiin temen yang gak masuk di shift ini. Besok kan Minggu, kamu libur sekolah jadi aku kepikiran buat ajak kamu. Aku gak niat mau maksa kamu sih, aku juga pengennya kamu fokus ke sekolah dulu gak kerja malam-malam kayak aku gini."
"Aku emang butuh uang sih, kak." Neska tak menampik hal itu. Dia memang membutuhkan pundi-pundi rupiah untuk kehidupannya, bahkan kalau bisa dia juga mau menabung untuk masuk ke Universitas. "Tapi, aku gak biasa kerja malam, kak. Aku---"
"Gak apa-apa, Nes. Ntar kalau udah lewat jam 12 kamu boleh pulang, kok. Biasanya ramainya itu dari jam 10 sampai jam 12 aja."
"Kalau kakak, pulang jam berapa?"
"Ehm, kalau aku sampai pagi, sih." Yola agak meringis diujung kalimatnya.
Neska tampak berpikir beberapa saat sampai akhirnya dia mengangguk mengiyakan.
...~~~...
Pukul 9 malam lewat beberapa menit, Yola dan Neska turun dari taksi yang mereka tumpangi. Neska menatap aneh pada bangunan yang menjadi tempat Yola bekerja.
"Ini tempat kerja kakak?"
Yola mengangguk. "Ayo, Nes. Kita pasti udah ditungguin sama yang lain," katanya.
Neska sebenarnya ragu, tapi karena sudah tiba didepan tempat yang Yola katakan sebagai cafe itu, akhirnya Neska mengikuti juga langkah Yola dengan polosnya.
Dalam hati Neska saat memasuki tempat itu, dia merasa asing dan tidak pantas berada disana. Memang Neska polos, tapi dia tau ini bukan sekedar cafe biasa melainkan sebuah Bar and Lounge.
"Hai, Jo!" Terdengar sapaan Yola pada seorang bartender disana. Wanita itu pun tampak mendudukkan diri di stool bar.
Pria yang disapa dengan nama Jo itu menatap Yola dan Neska bergantian. "Siapa? Anak baru?" tanyanya.
Yola sontak mengajak Neska untuk ikut duduk disebelahnya.
"Nes, kenalin ini Jonathan. Dia bartender disini. Temen aku juga."
Jo memperhatikan penampilan Neska dari atas sampai bawah, dia menyeringai kecil. "Jonathan, panggil aja Jo," katanya.
Jujur, sebenarnya Neska menyesal mengikuti ajakan Yola kesini, tapi dia percaya jika Yola tak akan menjerumuskannya dan memberi dia pekerjaan paruh waktu yang bukan-bukan.
"Kak..." Neska memanggil Yola dengan perasaan serba salah. Rasa-rasanya dia ingin pulang sebelum memulai pekerjaannya.
"Kenapa, Nes? Aneh, ya? Ini emang asing buat kamu, aku tau. Tapi kamu tenang aja, aku gak akan ngasih kamu kerjaan yang enggak-enggak disini."
"Tapi, kak."
Yola menggeleng samar dan kembali pada Jo. Mereka sekarang berbisik-bisik karena suara live music yang ada disana sudah dimulai.
"Nes, tau gak, aku pernah lihat tetangga baru kita itu lho disini."
"Maksud Kakak, Kak Cean?"
"Hmm, iya. Beberapa kali."
Neska menatap Yola tak percaya. Apa mungkin tempat main Cean ditempat semacam ini.
"Sama cewek. Itu sebabnya waktu kemarin kamu ceritain dia aku sempat gak tertarik. Kayaknya dia banyak ceweknya deh."
"Ah, kakak..." Neska meringis mendengar ucapan Yola mengenai Cean. Meskipun dia pernah melihat secara langsung pemuda itu berciuman dengan kekasihnya, tapi rasa-rasanya Cean tak mungkin memiliki banyak kekasih. Apa Cean seorang playboy? Tidak mungkin.
"Iya, Nes. Tapi setelah aku pikir-pikir, gak ada salahnya juga sih kenal sama dia. Makanya kemarin aku sama Indah coba kenalan aja. Ternyata dia oke-oke aja, tuh."
__ADS_1
Yola tak menceritakan pada Neska perihal gelagat Cean yang risih dengan dia dan Indah waktu itu.
Saat Neska masih larut dengan pemikiran tentang Cean, Yola kembali bersuara. "Ayo, Nes!" katanya berderap ke arah dalam.
Mau tak mau, Neska mengikuti lagi wanita itu sebab dia takut menyasar dalam ruangan bar yang remang-remang.
"Nes, ini baju seragamnya. Kita masuk jam setengah sepuluh. Jadi, kamu siap-siap sekarang juga, ya."
Neska melihat pada pakaian yang Yola maksud sebagai seragam kerja itu. Dia mengusap tengkuknya sendiri.
"Kak, ini minim banget." Neska berujar jujur, meski seragam itu tidak terbuka, tapi roknya sangat pendek dan kemejanya sangat press body.
"Maaf ya, Nes. Emang itu seragamnya disini. Aku pake juga kok. Kerjaannya cuma antar makanan ke meja yang pesan. Gampang banget, kok. Gak apa-apa, ya?"
Lagi-lagi Neska hanya bisa mengangguk dengan ragu.
Jam kerja yang dikatakan Yola akhirnya tiba. Neska merasa jantungnya mencelos saat melihat penampilannya di depan cermin. Dia seperti bukan dirinya sendiri.
Yola tersenyum melihat Neska yang sudah berganti pakaian dengan seragam yang tadi dia beri.
"Sini deh, kamu harus pake lipstick sedikit." Dan Yola langsung mengoleskan lipstick yang berwarna cukup terang di bibir tipis gadis itu.
"Kak, aku gak biasa begini."
"Malam ini aja kok, Nes. Tapi kalau nanti kamu butuh kerjaan begini lagi ya gak apa-apa. Kali ini kamu bantuin aku ya. Please..."
Neska tak bisa menolak tawaran Yola karena memang selama ini wanita itu baik padanya.
"Sekarang, kita keluar yuk."
Neska mengikuti langkah Yola yang sudah terbiasa dalam dunia kerjanya.
Dalam beberapa menit saja, pesanan yang menunggu sudah banyak. Neska juga dikenalkan Yola pada teman-teman wanitanya yang lain.
"Nah, Nes. Ini kamu anterin makanan ke meja yang itu."
Neska mengangguk, meski dia merasa risih dan janggal dengan pakaian yang kini dia kenakan. Neska berharap tidak ada yang dapat mengenalinya di tempat semacam ini.
Sayangnya, harapan Neska tak terwujud sebab malam itu dia harus bertemu dengan Cean disana.
Ternyata benar jika kak Cean sering kesini?
Neska menunduk, dia takut Cean menyadari keberadaannya disana. Pemuda itu tidak terlihat bersama seorang gadis atau wanita. Dia bersama beberapa teman lelakinya yang kelihatannya adalah orang-orang penting. Atau mungkin Cean sedang bekerja juga? Pikir Neska.
Neska ragu-ragu menyajikan minuman di meja yang ada disana. Dia grogi. Bagaimanapun dia mengenal salah satu pemuda yang duduk di ruang VVIP itu dan pemuda itu tak lain dan tak bukan adalah Cean.
"Neska?" Suara lirih itu mengangetkan Neska, padahal dia sudah berusaha menunduk dalam demi menyamarkan diri dari penglihatan Cean.
Neska pura-pura tak menggubris Cean disana. Dia berusaha bekerja dengan baik.
"Nes, kamu kerja disini?" Cean kembali bertanya. Kali ini terlihat lebih mendesak. Ada kilat marah dalam netra hazel itu.
"Maaf, saya harus kembali bekerja." Neska berdiri tegak dan bersiap pergi.
"Kau mengenal gadis itu, Bro?" Marko yang duduk di sisi Cean berujar, dan itu masih bisa terdengar ditelinga Neska yang belum sepenuhnya beranjak.
Cean tak menyahuti Marko. Dia masih tak percaya Neska bekerja ditempat seperti ini. Yang dia tau Neska adalah gadis polos dan lugu. Bahkan Cean tidak berani memikirkan Neska seperti gadis kebanyakan, tanpa disadari jika Cean berusaha menjaga Neska layaknya adik kecilnya sendiri. Tapi, apa ini? Apa yang dia lihat sekarang?
__ADS_1
Bersambung ...
Next? Komen✅