TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
29. Sahabat


__ADS_3

Kepergian Neska dan Rion hari ini, diantarkan langsung oleh Sky dan Yara sampai ke Bandar Udara. Perpisahan sementara itu terasa mengharukan. Neska turut terharu sebab merasa memiliki keluarga sebab Sky dan Yara berlaku dengan sangat bijaksana selayaknya orangtuanya sendiri.


"Nanti, kalau kamu butuh apa-apa, langsung hubungi Tante aja. Gak usah melalui Rion," kata Yara pada Neska membuat gadis itu meringis sungkan.


"I-iya, Tante. Makasih banyak ya, Tant." Meski Neska sendiri tak yakin bisa mengadukan apapun secara langsung kepada Yara atau tidak.


Disana tampak Sky yang juga tengah menasehati Rion. Juga ada Aura yang sesi sibuk. Tapi, sejak tadi Neska tidak melihat keberadaan Cean.


Tak berselang lama, Rion mendekati Neska dan duduk disisinya. "Sebentar lagi kita bakal berangkat, kamu rileks aja, jangan te-gang. Oke?" ujarnya.


Neska mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia merasa sangat siap untuk pergi tapi masih ada yang janggal dalam hatinya yakni keberadaan Cean. Sejak tadi, dia tidak melihat keberadaan pemuda itu. Apa Cean tidak mau mengantarkan kepergiannya? Ah, tidak ... maksudnya, apa pemuda itu tidak mau mengantarkan Rion, bagaimanapun Rion kan adik bungsunya?


"Nes, ntar kalau Rion nakal, aduin sama kakak ya," cicit Aura yang senang menggoda pasangan muda itu.


"Siap kak," sahut Neska dengan senyum terkembang. Hubungannya dengan Aura semakin hari memang semakin akrab layaknya kakak dan adik. Sisterhood, begitulah Rion menjuluki keduanya sekarang.


"Ma? Cean mana, sih?" Pertanyaan Aura kepada Yara seolah mewakili Neska yang juga ingin mengetahui keberadaan pemuda itu sekarang.


"Ah, Cean lagi meeting katanya. Gak bisa ditinggal." Yara menyahut.


"Jadi, Kak Cean bener-bener gak bisa datang buat anter aku hari ini? Aku pikir dia bakal nyusul," kata Rion menimpali.


"Jangan berlebihan, ntar kalau Cean mau ketemu kamu dia pasti bakal terbang ke Singapore, kayak gak tau sifat kakakmu aja, dek" cicit Aura.


"Iya juga sih." Rion menyengir kemudian.


Berjalannya waktu, akhirnya pesawat yang akan mengantarkan Neska dan Rion terbang ke Negara Singa akhirnya siap untuk lepas landas.


Mereka semua melambai-lambaikan tangan untuk kepergian sepasang anak manusia itu.


"Mama pasti bakal kangen banget sama squishy Mama," celetuk Yara yang dirangkul oleh suaminya.


Aura yang mendengar itu akhirnya terkekeh.


"Ma, Rion udah gak bisa mama jadikan squishy lagi. Dia udah lama tirus dan dia juga udah dewasa. Lihat tuh, dia bahkan udah punya pacar sekarang."


"Kamu bener, tapi Mama tetap anggap adik kamu itu squishy nya Mama. Sampai kapanpun."


"Ah, mama suka gitu deh. Padahal yang sering Mama cubitin dan jadiin squishy yang sebenarnya tuh Aura."


Yara terkikik karena gerutuan anak gadisnya.

__ADS_1


"Ayo kita pulang," kata Sky menginterupsi percakapan ibu dan anak itu. Mereka pun meninggalkan Bandara.


Tanpa mereka ketahui, Cean ada disana dan menatap kepergian Rion bersama Neska yang sudah akan menuju Singapore. Dia tidak berani menunjukkan muka, karena dia takut tidak bisa menahan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Ya, dalam hati Cean merasa kehilangan.


Cean masih sulit menerima jika Neska telah menyetujui keputusan untuk menerima beasiswa itu ke luar negeri, karena sebelum Rion mengajukan tawaran pada kedua orangtuanya agar memberikan Neska beasiswa, Cean sudah lebih dulu ingin membiayai kuliah gadis itu.


Jangan tanyakan kenapa Cean mempunyai niat seperti itu. Dia sendiri bingung dan tidak tau kenapa. Yang jelas, niat itu terlintas begitu saja. Dan alasannya entah karena dia menganggap Neska seperti adiknya, atau justru ada hal lain yang belum bisa dia artikan.


...***...


Neska mulai terbiasa dengan kehidupan dan tempat tinggal barunya selama di Singapore. Dia dan Rion tinggal di gedung Apartmen yang terpisah. Mereka juga berbeda jurusan.


Hal itu turut membuat keduanya jarang bertemu, meski mereka kuliah di satu Universitas yang sama.


Mereka hanya bisa berjumpa di akhir pekan. Atau sesekali saling berpapasan di kawasan kampus yang memang berada dalam satu lingkup.


Kendati demikian, Rion selalu menelepon Neska dan memberinya kabar mengenai perkembangan kuliahnya.


"Hari Minggu, aku mau ajak kamu jalan-jalan. Selama disini kita belum pernah kemana-mana kan selain di kampus." Rion mengungkapkan keinginannya itu kepada Neska.


"Boleh, deh." Neska juga sudah bosan dengan rutinitas kuliahnya selama sebulan ini. Dia dan Rion sama-sama sibuk menjadi mahasiswa hingga merasa jenuh sendiri dengan kegiatan itu.


Sesekali menikmati waktu jalan-jalan mungkin akan menyenangkan. Sayang, ekspektasi Neska terhempas kala dia dan Rion baru saja memasuki sebuah Mall yang ada di pusat kota.


Seorang gadis yang sangat cantik, dengan kulit seputih susu memanggil Rion dan dibalas Rion dengan lambaian tangan. Tampaknya, keduanya memang sudah mengenal dan cukup akrab, terbukti dari panggilan gadis itu terhadap Rion, sangat jarang ada yang memanggil Rion dengan nama depannya. Grey.


"Kamu ngapain disini, Grey?" tanya gadis itu pada Rion. Sesekali dia melirik pada Neska yang juga ada disana. Sama seperti Neska, mungkin gadis itu juga penasaran siapa yang bersama Rion hari ini.


"Aku kuliah disini sekarang," jawab Rion.


"Oh ya? Aku kok gak tau sih?"


Rion tertawa pelan. "Gak semuanya harus kamu ketahui, Sheila," tuturnya.


Sheila mengendikkan dagu ke arah Neska, seolah memberi isyarat pada Rion jika dia ingin tau siapa gadis itu.


"Ah, ini Neska. Dia ... pacar aku," kata Rion.


Mendengar penjelasan serta pernyataan Rion, air wajah gadis itu langsung berubah keruh. Neska dapat menangkap ketidaksukaan dari raut sang gadis.


"Nes, ini Sheila. Dia sahabat aku. Ehm, sebenarnya Papa kita yang bersahabat dan hal itu membuat kita jadi saling kenal sejak kecil," papar Rion menjelaskan.

__ADS_1


Neska mengangguk-anggukkan kepalanya, dia segera mengulurkan tangan ke arah Sheila dengan maksud ramah.


Sheila memang menyambut uluran tangan Neska, tapi dia memasang senyuman kecut yang tampak dipaksakan.


"Aneska."


"Sheila."


Mereka saling menyebutkan nama satu sama lain. Neska menebak, Sheila memiliki perasaan lebih pada Rion, itu yang dapat dia tangkap dari pancaran mata gadis itu dan keantusiasannya saat melihat ada Rion disini.


"Kamu kuliah di Universitas mana? Kenapa gak ambil yang sama dengan kampus aku, Grey?"


"Sengaja," kata Rion dengan senyum yang dikulumm.


Neska merasa jika dia hanya sebuah bayangan atau patung diantara keakraban Rion dan Sheila. Mereka bercerita satu sama lain seolah-olah tidak ada Neska disana.


"Rion?" Neska terpaksa menginterupsi percakapan Rion dengan Sheila, tapi sekali lagi Sheila menunjukkan ekspresi dongkol seolah Neska sengaja menggangu keasyikannya bersama Rion.


"Ya?" Pemuda itu lantas menoleh pada Neska.


"Aku ... ke toilet dulu ya."


"Apa perlu aku antar?"


"Gak usah, aku bisa sendiri."


"Yakin?"


Neska mengangguk dan sekilas dia melihat wajah Sheila yang makin cemberut karena Rion tampak peduli padanya.


"Jangan lupa arah balik ke sini, ya." Rion memperingatkan sebelum Neska benar-benar beranjak.


Sekali lagi Neska mengangguk. Dia pun berlalu menuju toilet umum yang ada di tempat itu.


Disaat yang sama, ponsel Neska berdering dan itu adalah panggilan dari nomor yang tidak tersimpan di kontaknya. Neska menerimanya sebab takut itu adalah panggilan penting dari kampus atau teman barunya.


"Nes? Apa kabar? Kamu sehat, kan?"


Untuk sesaat, Neska tertegun, suara ini terasa sangat tidak asing dipendengarannya.


Bersambung ...

__ADS_1


Dukungannya mana nih? Ayo dong buat othor semangat up nya✌️😁❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2