
Jelita semakin kebingungan saat dia mengetahui jika pengacaranya menolak untuk membelanya dan membantu mengeluarkannya dari balik penjara. Bagaimana tidak, Marko sudah lebih dulu melangkah dengan membayar pengacara itu agar tidak menangani kasus Jelita.
Jelita menghubungi orangtuanya, sayangnya Mama dan Papanya malah menganggapnya telah mencoreng nama baik mereka. Dia malah diabaikan dan dikatakan anak pembawa sial.
Hal ini turut membuat Jelita sakit hati dan marah. Ternyata keluarganya hanya mau uangnya saja. Selama ini terus menggerogotinya tapi saat dia terpuruk dan butuh bantuan semuanya tidak mau membantu. Jelita akhirnya menghubungi Pamannya. Pamannya itu tidak lain adalah Ayah kandung Karel.
"Om, aku butuh pengacara. Aku ditangkap polisi Om." Jelita menjabarkan permasalahannya pada sang Paman melalui telepon kantor polisi yang diperkenankan digunakan tapi ada batasan waktunya.
"Om tidak bisa membantu kamu Jelita."
"Kalau om gak bantu aku, aku bakal bilang sama istri Om soal Siena. Dia sugar baby Om, kan? Aku tau semuanya, Om. Siena itu junior aku di akademi modeling."
"Kamu mengancam, Om?"
"Iya, aku mau Om bantuin aku, kalau enggak, berita soal simpanan Om itu bakal nyampek ke Tante Ilona."
"Oke, Om akan kirimkan kamu pengacara. Tapi Om gak janji dia bakal memenangkan kasus kamu, Jelita. Hanya itu yang bisa Om bantu."
Akhirnya Jelita tidak bisa berbuat apa-apa. Dikirimkan pengacara oleh sang Paman saja rasanya dia harus bersyukur dimasa-masa sulit seperti ini.
Sekitar pukul 2 siang, akhirnya pengacara kiriman dari Pamannya datang. Jelita bersyukur sekali tapi dia harus menelan kekecewaan saat pengacara itu sudah mendengar soal seluruh perkaranya.
Jelita juga harus pasrah saat dia tidak bisa dikeluarkan dengan jaminan oleh pengacara tersebut karena kasusnya tidak main-main.
"Kasus Anda sangat berat. Bukan hanya penjualan wanita yang terbukti dari situs yang ditemukan di ponsel pribadi Anda. Anda juga dituntut pemilik foto dengan pasal pencemaran nama baik. Belum lagi masalah barang bukti haram yang ditemukan di kediaman Anda."
"Lalu bagaimana?" Jelita merasa sangat jengah. Dia tidak mau bermalam di penjara hari ini dan hari-hari selanjutnya.
"Sepertinya saya tidak mampu melanjutkan kasus ini, maaf."
"Dasar pengacara abal-abal!" umpat Jelita. "Kenapa Om Septian harus mengirimkan pengacara yang tidak berkompeten sepertimu!" marahnya.
"Maaf, anda boleh mengatakan apa saja tentang saya. Tapi saya bicara yang sejujurnya, kasus Anda sangat pelik. Permisi."
"Dasar breng sek! Itulah tugasmu! Harusnya kau bisa menyelesaikan masalahku yang pelik."
Teriakan Jelita memenuhi ruang pertemuan itu, tapi sang pengacara langsung berlalu tanpa menoleh kembali. Bagaimana dia tak menyerah, kasus Jelita ini termasuk pengedaran Narkoba yang tuntunannya tidak akan main-main. Hukuman mati atau paling rendah penjara seumur hidup.
Seperginya Pengacara itu, rupanya Jelita masih harus disibukkan dengan tamu lainnya. Itu adalah Marko yang datang mengunjunginya.
"Kau?" Jelita menatap Marko dengan tampang kesal.
Marko tersenyum kecil, lebih seperti mengolok Jelita yang tampak kacau dengan keadaannya sekarang.
"Gimana rasanya lantai penjara? Dingin?" tanya Marko sinis.
"Jangan bilang kalau ini semua ulahmu!" sergah Jelita emosional. "Kau datang kesini hanya untuk mengejek, heh?" lanjutnya geram.
__ADS_1
"Memang. Ini atas perintah Pak Cean yang sudah kau usik kehidupannya."
"Aku tidak mengusiknya. Aku cuma mengusik gadis itu. Neska. Ya, dia yang seenaknya menggantikan posisiku setelah aku didepak secara tidak hormat."
"Jelita! Jadi kau mau dihormati? Kelakuanmu yang seperti ini ..." Marko menjeda kalimatnya, menatap Jelita dari atas sampai bawah seperti menilai penampilan wanita itu, "... yang mau dihormati?" tukasnya menohok.
"Breng sek! Sia lan! Cabut laporan kalian! Aku tidak bersalah."
"Lalu soal foto Neska yang kau sebar?"
"Kalian tidak punya bukti jika itu ulahku!"
"Polisi sudah menyita ponselmu. Kau tidak bisa mengelak lagi sebab disana ada jejak yang menyatakan jika kau masuk ke situs itu dan di galerimu juga ada editan foto Neska yang sengaja kau buat dengan tulisan menjijikkan itu."
Jelita kesal, dia pun mendengkus keras.
"... belum lagi soal barang daganganmu itu. Kau tau apa hukuman bagi seorang pengedar narkoba?" Marko menatap Jelita serius. "Hukuman mati," tambahnya menekankan.
Jelita akhirnya menangis. Pertahannya runtuh. Dia memegang jemari Marko. Menatap penuh permohonan pada pemuda itu.
"Tolong, tolong bantu saya untuk masalah ini. Saya tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Selamatkan saya dari hukuman mati itu." Jelita mengiba pada Marko. Dia mengubah bahasanya menjadi lebih formal dan sopan, sangat kontras dengan nada suaranya saat pertama kali melihat Marko datang.
Jelita sendiri masih cukup heran dengan ancang-ancang yang Cean dan Marko lakukan. Mereka mencuri start dengan menjebloskannya ke penjara. Padahal Jelita hanya mengusik Neska saja dan menawarkan tubuhnya pada Cean. Tapi jika Cean tak mau kenapa harus menyangkut-pautkan dirinya pada pihak kepolisian? Bukankah Cean tinggal menolaknya saja dan bisa mengancamnya, mungkin. Kenapa Cean harus bertindak sejauh ini?
"Kenapa kalian melakukan ini padaku? Aku cuma mengusik model itu, kalian bisa memecatnya jika namanya sudah buruk. Hanya itu maksud utamaku," kata Jelita mengakui.
"Jadi, Neska itu... aku--aku sudah mencemarkan nama baik calon istri Pak Cean?" Jelita pucat pasi. Dia tidak tau hal ini. Dia kira Neska hanya model biasa yang didekati Cean karena pria itu terkenal pecinta wanita. Dan inilah yang membuat Jelita juga kesal sebab Cean tidak tertarik padanya malah senang pada gadis seperti Neska.
Marko mengangguk-anggukan kepala karena pernyataan Jelita. Sekarang dia bersedekap seolah menunggu apa lagi kalimat yang akan Jelita ucapkan.
"Apakah Anda tidak bisa membantu saya, Pak?" Jelita kembali bertanya masih dengan wajahnya yang mengiba.
"Bisa. Tentu saja bisa, tapi semua tidak gratis. Ada syaratnya."
"Apa?" Jelita langsung antusias. "Aku akan memberikan apa saja, termasuk pada Pak Marko yang mau membantuku hari ini," ungkapnya sungguh-sungguh.
"Benarkah?" Marko tampak memasang senyum penuh maksud.
Jelita langsung memahami gelagat itu. "Saya akan menyerahkan diri pada Bapak. Kita bisa menghabiskan beberapa malam bersama," katanya bersemangat.
Marko menyemburkan tawanya, ia langsung terbahak. Ternyata pancingannya tadi dianggap serius oleh Jelita.
"Kau pikir aku tertarik?" Marko tersenyum sinis. "Aku tidak suka pada wanita yang telah banyak dicobai," ujarnya blak-blakan.
Wajah Jelita langsung pias. Malu. Andai dia tak butuh bantuan Marko sekarang, pasti dia sudah memakii pria ini, tapi alih-alih marah pada Marko yang sudah terang-terangan mengoloknya, Jelita malah semakin memohon.
"Katakan pada saya apa syaratnya, Pak. Saya akan memberikan apapun asal Bapak bisa membantu saya."
__ADS_1
"Oke, katakan dimana kau menyimpan master file foto-foto top-less milik Neska?"
"I--itu ada pada Karel."
"Jangan bicarakan yang ada pada Karel. Aku bertanya yang ada padamu," tekan Marko.
"I--itu ada di laptop Saya, Pak."
"Bagaimana dengan yang ada di ponselmu?" Marko menaikkan sebelah alisnya.
"Sudah saya hapus. Semua pesan di ponsel itu di atur menggunakan timer yang akan hilang setelah 24 jam. Foto-fotonya sempat saya pindahkan ke laptop untuk keperluan saya sewaktu-waktu," kata Jelita yang menjelaskan secara terperinci. "Lagipula, ponsel saya sudah disita polisi sebagai barang bukti," tambahnya.
Marko mengangguk, dia tau ucapan Jelita kali ini bisa dipercaya. Dan yang paling penting dia sudah tau dimana letak file itu berada.
"Laptopnya ada dimana? Dan apa nama file tempat kau menyimpan foto-foto itu?"
"Ada di Apartmen. Bapak bisa mencari di dokumen penting."
"Baiklah, aku akan menemukannya," kata Marko tenang.
"Hmm, saya sudah memberitahu Bapak. Jadi, biasakan kalau Bapak membantu saya?" tanya Jelita kemudian.
"Aku akan membantumu lepas dari hukuman mati."
Jelita tersenyum senang. "Terima kasih, Pak," katanya.
"Tapi ..." Marko sengaja menggantung kata, membuat Jelita kembali terkesiap dan bersiap mendengar penuturannya. "Aku tidak bisa membantumu menghindari hukuman penjara seumur hidup," lanjutnya.
"Apa? Maksudnya apa, Pak? Bukankah saya sudah mengikuti syarat yang Bapak mau dengan memberitahukan dimana saya menyimpan foto-foto Neska itu? "
"Kau tetap akan dituntut hukuman penjara seumur hidup, Jelita," kata Marko santai.
"Aku tidak akan bebas?" tanya Jelita semakin kebingungan. "Bukankah aku sudah mengikuti syarat darimu? tuntutnya.
"Kau pengedar. Mana bisa pengedar lepas dari hukuman. Lagipula, lepas dari hukuman mati itu sudah jauh lebih baik dan aku tidak pernah mengatakan sejak awal jika aku akan membebaskanmu."
"Kau menipuku!" kecam Jelita.
"Aku tidak menipumu. Ku bilang aku akan membantumu lepas dari hukuman mati. Coba kau ingat lagi, apa aku ada mengatakan jika kau bisa bebas?"
"Sial an!" Jelita geram. Ingin rasanya dia mencabik-cabik wajah Marko sekarang.
"Selamat menerima hukumannya," olok Marko. "Kau harus tau ini semua karena kelakuanmu sendiri," tambahnya lagi dan langsung pergi dari sana.
Jelita mengepalkan tangannya erat. Dia dongkol akibat dikerjai Marko, belum lagi dia sudah jujur pada pria itu tentang letak foto-foto Neska. Harusnya tadi dia yang memanfaatkan Marko soal foto-foto itu, meminta Marko membebaskannya dulu baru lah dia akan memberitahu dimana letak file berisi foto tersebut. Sayangnya, Marko lebih jeli dan sudah melangkahinya untuk melakukan siasat licik yang akhirnya membuat dia tertipu.
...Bersambung ......
__ADS_1