
"Kak, kalau aku ikut tinggal disini, gimana?"
Cean tersedak minuman kaleng yang baru saja masuk ke kerongkongannya. Apa dia tak salah dengar? Rion mau ikut tinggal bersamanya di Apartmen tua ini? Apa ini karena Neska juga?
"Jangan aneh-aneh, Rion!" ucapan Cean berubah tegas dan kaku.
"Aku serius, Kak. Daripada rumah kita, Apartmen ini lebih dekat sama sekolah. Dan juga, aku bisa nebengin Neska tiap hari, dia gak perlu keluar ongkos, kan?" ujar Rion merasa idenya sangat cemerlang.
"Gak! Gak! Kamu itu masih sekolah, lebih baik tinggal sama orangtua."
Rion terkekeh mendengar ucapan sang kakak. "Ya, anggap aja kakak sebagai orangtuaku di Apartmen ini," tukasnya.
"Dek, kalau kamu keluar dari rumah juga, terus Papa sama Mama nanya kamu tinggal dimana, semua urusan aku bisa berantakan ... karena Mama dan Papa pasti jadi tau kalau aku yang lebih dulu tinggal disini."
"Tapi, Kak?"
"Gak usah aneh-aneh!" tegas Cean.
"Tapi, kalau pas libur sekolah aku mau nginep disini, boleh, kan?"
Cean hanya menjawab dengan malas, jawabannya pun lebih terdengar seperti gumaman pelan yang tak jelas maknanya. Entah ikhlas atau tidak, yang jelas gelagatnya seperti tak rela.
Disisi lain, Neska sudah siap dengan setelan kasualnya. Dia menerima ajakan Rion untuk menghilangkan pemikirannya tentang Cean.
Anggaplah Neska egois karena dia seperti memanfaatkan Rion sekarang, tapi Neska benar-benar butuh pelarian untuk penghiburan hatinya sendiri. Dia masih merasa sakit hati karena Cean tetap menganggapnya anak kecil yang patut dijadikan adik.
Neska keluar dari Apartmennya, bersamaan dengan itu Rion juga baru saja keluar dari kediaman sang Kakak yang berada tepat di sebelah.
"Ayo, Nes!" ajak Rion dan gadis itu mengangguk.
Tak lama, Cean juga keluar dari dalam dan melihat Neska bersama Rion yang sudah akan pergi.
"Rion?"
"Ya, kak?" Pemuda itu menoleh pada sang kakak.
"Hati-hati, jangan ngebut bawa motornya. Jangan buat hal-hal aneh." Cean memperingati Rion yang dijawab Rion dengan acungan jempol saja.
Menatap dua punggung yang berlawanan jenis itu mulai berjalan keluar meninggalkan koridor lantai 11, membuat Cean merasa semrawut. Entahlah, dia merasa ada yang tidak beres dengan dirinya. Ada rasa marah, kesal, kecewa dan sakit hati. Tapi, kenapa? Kenapa juga dia harus merasa seperti ini.
"Kalau Neska pacaran sama Rion bukankah itu bagus? Itu artinya Neska beneran bisa jadi adik buat aku."
Kata-kata penghiburan itu Cean ucapkan dengan sadar demi menghibur dirinya sendiri yang entah kenapa tetap merasa tak rela karena Neska menyetujui ajakan Rion hari ini.
__ADS_1
...~~~...
"Kenapa lo tiba-tiba baik sama gue?" tanya Rion pada Neska.
Saat ini, mereka jalan berdua dengan gelagat canggung. Bagaimana tidak, biasanya mereka bertengkar ibarat Tom and Jerry, tapi hari ini mereka pergi layaknya pasangan yang tampak serasi.
"Gak salah?" tanggap Neska. "Lo yang tiba-tiba baik sama gue, biasanya juga nyebelin," lanjutnya menggerutu.
Rion tertawa pelan. Tawa yang justru mengingatkan Neska pada pemuda tetangga sebelah Apartmennya. Ah, kenapa senyuman dan tawa mereka harus mirip?
Neska merutuki dirinya. Harusnya dengan jalan bersama Rion dia bisa melupakan Cean. Nyatanya, pemuda itu tetap muncul dalam bayang-bayang yang hadir diwajah Rion--sebab pemuda itu memiliki iras wajah yang hampir serupa dengan Sang Kakak.
Neska kepikiran dengan pembicaraan yang kemarin sempat dia dengar antara Rion dengan Cean. Mengenai Rion yang menyukainya. Apa sekarang waktu yang tepat untuk membahasnya?
"Kita makan dulu, ya. Gue tadi belum sarapan," ajak Rion.
Neska mengangguk saja dan tak berapa lama mereka sudah duduk berhadap-hadapan disebuah meja yang ada di foodcourt Mall yang mereka kunjungi.
"Lo mau pesan apa?"
"Apa aja," jawab Neska.
Rion tersenyum tipis, dia memesankan Neska makanan yang sama dengan pesanannya.
"Apa?"
"Gue gak sengaja denger omongan lo sama Kak Cean kemarin."
"Omongan? Omongan yang mana?" Rion mengernyit hingga kedua alis tebalnya tampak menyatu.
Sekarang Neska mengakui, bahwa Rion tidak kalah tampan dari Cean. Hanya saja mereka berbeda versi. Tentu saja Cean lebih tampak matang dan dewasa, sementara Rion lebih slow, cuek dan berandalan khas remaja seusianya.
"Lo ... beneran suka sama gue?" tanya Neska dan mengakhiri kalimat itu dengan mengulumm bibirnya sendiri. Dia malu menanyakannya, tapi dia harus. Neska mau mencegah perasaan Rion, ya meskipun itu sudah terlanjur.
Rion menarik satu sudut bibirnya. Ternyata Neska sudah mengetahui, ini sungguh mempermudahnya meski sebenarnya dia belum mau menuju tahap ini-- sebab masih menikmati masa-masa pendekatan dengan Neska seperti yang sekarang mereka jalani.
Rion pun mengangguki pertanyaan Neska, dia mau terlihat gentle dengan mengakui perasaannya. "Gue suka lo dari awal kelas 10. Dari masa orientasi siswa," paparnya terus terang.
Tentu saja Neska melongo. Selama yang dia tau, Rion selalu mengganggunya dan bersikap menyebalkan. Ternyata pemuda itu menyukainya? Ini seperti lelucon bagi Neska.
"Lo serius? Udah selama itu?"
Rion kembali mengangguk. "Gue, gak pernah mencari gadis lain untuk gue sukai selain lo. Rasa suka gue udah stuck sama lo, Nes," sambungnya.
__ADS_1
Sekali lagi Neska terperangah. Ini diluar ekspektasinya. Dia tidak menduga Rion akan mengakui sedetail ini. Tapi, berhubung Neska menanyakan ini demi menghentikan perasaan Rion kepadanya maka Neska harus tegas menolak, meski ada dalam dirinya yang merasa prihatin terhadap perasaan pemuda itu.
Melihat Neska yang diam dan tampak bengong atas pengakuannya. Rion kembali bersuara.
"Lo gak mesti jawab dan balas perasaan gue, Nes. Gue udah denger kok, kalau tipe lo bukan cowok seumuran, kan?"
"I--iya," kata Neska jujur namun gugup.
Rion tersenyum miring khas-nya. "Gak apa-apa, Nes. Gue gak bakal maksain lo. Tapi gue harap lo gak ngelarang perasaan gue, ya, Nes."
Entah sejak kapan Rion bisa bertutur lembut seperti ini pada Neska. Mungkin baru hari ini Neska dapat mendengarnya. Biasanya pemuda ini selalu ketus hingga membuat Neska kesal dan jengah. Tapi hari ini Neska merasakan ada sisi dewasa yang terpancar dari diri Rion.
"Tipe gue emang bukan cowok seumuran. Gue udah suka sama cowok lain dan udah pasti dia lebih dewasa dari kita."
Rion tersenyum getir dengan jawaban Neska yang terkesan blak-blakan itu. Apa ini artinya Neska sudah menjawab perasaannya dengan sebuah penolakan?
"Boleh gue tau siapa orangnya?" Sejujurnya perasaan Rion was-was. Ada sesuatu dalam dirinya yang seolah tau siapa sosok yang Neska katakan dia sukai dan lebih dewasa dari mereka.
"Kak Cean. Gue suka sama kakak lo. Jadi, gue harap lo lupain gue sebelum semuanya semakin rumit."
Kini Rion tertawa sumbang. Ternyata dia tak salah menduga, gadis yang dia sukai menyukai kakaknya dan menolaknya secara mentah-mentah seperti ini.
"Kalau lo suka Kak Cean, kenapa lo nerima ajakan jalan dari gue hari ini, Nes? Jangan bilang kalau lo sengaja supaya bisa ngeliat gimana reaksi dia?"
Neska menggeleng. "Gue gak berniat seperti itu. Toh, Kak Cean cuma anggap gue seorang adik dan gak lebih. Buat apa gue mau lihat reaksinya? Dia pasti biasa-biasa aja," kata Neska yakin.
Sekali lagi Rion tertawa sumbang. "Adik? Kak Cean bilang gitu sama lo?" tanyanya tak percaya.
"Iya," jawab Neska dibarengi dengan anggukan. "Dia bilang gue lebih cocok jadi adik perempuannya," tandasnya.
"Kayaknya Neska gak ada," ujar Cean.
"Hah? Gak ada? Emang Neska kemana? Kakak tau?"
Cean mengendikkan bahu. "Entah," katanya terdengar cuek.
Tiba-tiba sekilas ingatan tentang kejadian tadi pagi terlintas dibenak Rion, lantas pemuda itu menghubungkannya dengan perkataan Neska.
Kakaknya menganggap Neska seorang adik? Rasanya Rion mau tertawa keras sekarang, sebab kini dia sudah menyadari--rupanya sejak awal kedatangannya di apartmen--Cean sudah berbohong agar dia tidak bertemu Neska hari ini.
Apa itu berarti Cean juga memiliki perasaan pada gadis yang duduk dihadapannya sekarang? Batin Rion pun mulai menerka-nerka.
Bersambung ...
__ADS_1
Next? Like dan Komen✅