TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
34. Datang ke kampus


__ADS_3

Keesokan harinya, Cean benar-benar mendatangi kantor pusat yang ada di Singapore. Bukan semata-mata untuk bekerja, tetapi dia hanya mau menunjukkan pada Aura bahwa dia serius dengan ucapannya padahal justru sebaliknya, sebab sampai disana Cean hanya melihat-lihat situasi tanpa mau tau lebih jauh tentang apa yang terjadi disana.


Ya, sesuai perkataannya pada Aura, dia hanya ingin memantau. Memantau sama dengan melihat-lihat saja, kan? Tidak salah lagi, jadi dia tidak berbohong, bukan?


Baiklah, karena sudah cukup lama berada disana, sekitar setengah jam kemudian Cean berderap pergi meninggalkan tempat itu. Jika dulu Cean akan lebih suka berlama-lama dalam laboratorium untuk melihat pembuatan berbagai macam produk kecantikan yang akan dibuat, kali ini ada hal yang lebih membuatnya tertarik. Bukan berarti minatnya telah hilang terhadap pekerjaannya sendiri, tapi ada urusan yang dirasanya lebih penting sekarang.


Dan urusan penting itu berkaitan dengan tujuannya menginjakkan kaki di Negara ini. Tentu saja untuk menemui Neska.


Cean tiba di kampus Neska hari itu, disaat cuaca cukup sejuk sebab baru saja diguyur hujan beberapa saat lalu.


Tapi, sesampainya di kampus milik gadis itu, bukannya bertemu Neska, Cean justru bertemu Rion. Sudah tau kan, kalau mereka memang satu kampus meski beda jurusan? Ah, rasanya Cean sedang tertangkap basah sekarang.


"Ngapain kakak ke kampus aku?"


Mana bisa Cean mengelak lagi, dia garuk-garuk pelipis sekilas, kemudian menyengir di hadapan sang Adik.


"Kakak ... mau menjemput kamu," jawabnya berdusta. Tentu saja, sejak kapan dia mau menjemput Rion? Kecuali jika Rion anak SD, barulah dia mau menjemput adik lelakinya itu, atau jika Rion seorang adik perempuan, Cean akan mempertimbangkannya. Right?


Mendengar itu, tentu saja Rion terkekeh. Dia bahkan tertawa kencang sampai memegangi perutnya sendiri.


Apakah ada yang lucu dengan jawaban Cean tadi? Rasa-rasanya memang janggal, Cean pun mengakui itu. Tapi jika lucu, sepertinya tidak. Kenapa Rion sampai terbahak seperti ini? Pikir Cean.


"Kak, aku bukan bocah 6 tahun yang bisa kakak bohongi. Kakak jawab jujur ngapain Kakak kesini, atau Kakak mau aku menebaknya saja?" Rion memberi pilihan pada Kakak kandungnya itu.


Cean meringis, dia menundukkan kepala sembari mengigiit bibirnya sendiri. Dia tidak bisa berbohong lagi pada Rion disaat sang Adik jelas-jelas mengetahui segalanya.


"Neska udah pulang tadi." Suara Rion kembali terdengar. Tapi ucapannya sekaligus menyindir tujuan Cean yang sengaja datang ke kampusnya.


Cean jadi serba salah, jika dia tidak salah dengar, ada nada sumbang dari ucapan Rion dan jika dia tidak salah mengamati, wajah adiknya itu berubah pias sejak Rion menemukannya ada di kawasan kampus mereka.


"Dek, Kakak--"


"Aku tau tujuan kakak kesini mau jemput Neska, kan?" tembak Rion to the point. Sebenarnya dia lebih suka bersikap seperti ini ketimbang menyembunyikan sesuatu hal yang sudah jelas-jelas dia ketahui.


"Rion ..."


"Udah, Kak. Aku udah tau semuanya."


Cean terdiam, dia tidak menyahut. Dia tau Rion memahami situasinya. Dia tidak akan membela diri untuk membenarkan tindakannya yang salah. Dia juga tidak akan menyangkal suatu permasalahan yang memang sudah muncul ke permukaan. Cean pasrah jikapun Rion akan menyemburnya dengan kemarahan hari ini.


"Aku ada jam kuliah sepuluh menit lagi." Rion menjeda ucapannya, melihat jam yang dia kenakan di tangan kirinya. "Cuma sebentar, aku harap, Kakak masih mau nunggu disini dan kita bakal bicara sesama lelaki," imbuhnya kemudian.


Mendengar itu, ada sebuah sunggingan senyum yang tersulut diujung bibir Cean. Adik kecilnya sudah berubah menjadi dewasa sekarang.


Ya, mau bagaimanapun Cean harus mengakui jika Rion sudah seperti dirinya yang sudah bertranformasi menjadi seorang lelaki dewasa dan bukan bocah kecil lagi.


Jikapun mereka akan bicara hari ini, maka perbincangan yang terjadi adalah benar-benar percakapan antara dua anak manusia yang sama-sama telah dewasa, begitulah yang Cean tangkap dari ujaran Rion kepadanya.

__ADS_1


"Oke, kakak tunggu jam kuliah kamu selesai."


Rion manggut-manggut, kemudian berbalik arah dan pergi menuju letak kelasnya yang entah berada dimana, sebab Cean tak mengetahuinya.


...***...


Neska pulang kuliah lebih awal hari ini karena di kampusnya hanya ada satu mata pelajaran yang dibahas. Sesampainya di Apartmen, dia dikejutkan dengan seseorang yang sudah menunggunya di depan pintu.


Aura ada disana dengan senyum terkembang.


"Lho, kakak kok disini? Udah lama nunggunya?" tanya Neska sungkan. Kenapa Aura tidak mengatakan ingin berkunjung? Jika tadi dia tidak langsung pulang, maka Aura akan menunggunya lebih lama, kan?


"Aku baru Sampek juga, kok. Tadi aku udah telepon Rion, katanya kamu udah otw pulang jadi aku kesini, deh." Aura menggaet tangan Neska. "Jalan-jalan, yuk!" ajaknya.


"Lho, Kak?" Neska terkejut, tapi tak bisa menolak sebab Aura sudah menyeret tubuhnya untuk mengikuti langkah gadis itu.


"Kakak kenapa?" Sampai di Taksi, Neska melihat raut wajah sendu Aura. Dia keheranan, tentu saja.


"Gak apa-apa, kok."


"Yakin?"


Aura mengangguk. Taksi yang mereka tumpangi mulai berjalan dan entah menuju kemana sebab Neska masih tidak paham nama jalan yang Aura sebutkan.


"Kakak berapa lama disini?"


Neska menunduk sejenak, sebelum akhirnya mengangkat wajahnya kembali. "Kalau Kak Cean?" tanyanya kemudian.


"Kalau dia aku gak tau, mudah-mudahan aja dia mau aku ajak pulang juga besok. Tapi, kalau dia masih mau disini sih ya terserah, toh dia bukan anak kecil lagi, kan?"


Neska mengangguki perkataan Aura.


"Eh iya, Kamu tau gak kenapa Rion sama Cean itu gelagatnya aneh pas ketemu kemarin?"


"Aneh?" Neska membeo, sebab dia tidak paham apa yang dimaksudkan oleh Aura, atau justru dia yang tidak peka membaca situasi?


"Iya, kayak terjadi sesuatu. Tau gak, mereka itu udah kayak perang dingin aja."


Sontak saja Neska terkejut dengan ujaran Aura. Lain kali, jika dia bertemu dengan Rion dan Cean diwaktu bersamaan, dia akan lebih memperhatikan keduanya, begitulah pemikiran gadis itu.


"Aku rasa ada yang gak beres, sih. Menurut kamu karena apa mereka jadi gitu?"


"Aku gak tau, kak." Neska membuang pandangan ke arah jalanan, memperhatikan lebih lekat lalu lintas yang terasa lengang.


"Nah, sama. Aku juga gak tau apa. Kenapa ya kira-kira, aku jadi penasaran. Biasanya mereka gak gitu deh. Aneh banget."


"Kita mau kemana, kak?" Neska mencoba mengalihkan pembicaraan ini kendati dia juga penasaran mengenai pokok permasalahan yang sempat Aura bahas.

__ADS_1


"Ke salon. Mau, kan?" Aura tersenyum lebar. "Aku mau potong rambut sama creambath. Kamu ikutan juga, ya?"


"Memangnya bisa nolak kalau udah dipaksa kayak gini?" canda Neska dan Aura jadi tergelak.


"Enak kali ya kalau punya adik cewek, sayang banget Rion itu cowok, kalau enggak kan bisa diajakin nyalon juga kayak kamu," kata Aura sambil berdecak lidah.


Mereka kembali tertawa setelah saling melempar candaan masing-masing.


***


"Jadi, sejak kapan, Kak?"


Cean yang tadinya menatap lurus ke arah hamparan rumput yang ada didepannya, kini menoleh demi mendapati wajah serius Rion yang tengah menanyainya.


"Sejak kapan Kakak menyadari kalau Neska itu bukan lagi seorang bocah yang Kakak anggap adik?"


"...."


"Sejak kapan Kakak sadar bahwa Kakak menyukai dia?"


Bersambung ....


Nah, udah othor up 1 bab lagi kan ya... Mana komennya? Tinggalkan disini ya. Jangan jadi silent Readers🙏✅


Ini Othor kasi Blurb untuk Novel Aura. Akan rilis di pertengahan bulan ini. Insya Allah, doain aja ya biar gak ada kendala.


****


"Apa yang udah terjadi, Ra? Kemana kamu semalam?" Jeno mendesak Aura untuk menjawab pertanyaannya, tapi gadis itu terus menangis sambil menutup wajahnya dengan bantal.


Jeno tidak bisa memaksa Aura lagi. Dia tau sejak awal, Aura tidak menyukai perjodohan diantara mereka tapi bukan berarti Aura harus pergi seenaknya di malam pernikahan itu, kan?


"Kalau kamu gak mau jawab, aku pergi sekarang. Aku harap kamu baik-baik aja dan kita bakal bicara dengan kepala yang lebih dingin."


Jeno baru saja hendak keluar dari kamar Aura yang tadi dia singgahi untuk melihat keadaan gadis itu yang kabarnya sedang tidak enak badan, tapi baru satu langkah Jeno menjauh, Aura membuka bekapan bantal di wajahnya. Dengan wajah yang basah oleh airmata, Aura bergumam lirih.


"Kita sudahi semua ini. Tidak ada perjodohan dan tidak akan ada pengulangan pesta yang sama seperti semalam. Semuanya udah berakhir, Jen!"


Mata Jeno terbelalak. Dia tak menyangka dengan ujaran Aura. Dia bisa menerima jika Aura belum siap dengan pernikahan mereka yang dadakan, tapi tidak seharusnya gadis ini menolak-- dimana pesta pernikahan mereka bahkan sudah terlewati. Ini terlalu terlambat untuk menolak, kan?


Mereka memang gagal menikah semalam, sebab Jeno tidak bisa mengucap ikrar kala Aura yang tiba-tiba menghilang dari acara itu, tapi Jeno pikir mereka masih bisa mencoba mengulang pesta itu di kemudian hari kala Aura sudah benar-benar siap.


"Ke--kenapa?" tanya Jeno kemudian.


"Aku gak bisa. Pergilah sejauh yang kamu bisa, atau aku yang akan pergi dari kehidupan ini!" sentak Aura dengan mata memejam.


*****

__ADS_1


__ADS_2