TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
45. Kamu?


__ADS_3

Neska dan Sheila tiba di Ibukota Indonesia setelah menggunakan pesawat pagi. Sesampai disana, sudah ada yang menjemput Neska.


"Hai, Nes?"


"Kak Zain?"


"Hm, aku diminta Pak Marko buat jemput kamu, karena beliau sedang sibuk untuk mengurus pertemuan hari ini. Gimana? Kamu udah siap, kan?"


Neska mengangguk meski dia masih saja gugup luar biasa.


"Ah iya, Kak. Ini kenalin, ini Sheila temen aku."


Zain dan Sheila berkenalan singkat, setelahnya mereka memasuki mobil Jeep yang dikendarai oleh fotografer itu.


Neska sedikit keki di dekat Zain, meski pemuda itu cukup ramah dan mudah berbaur dengannya, tapi dia tetap merasa aneh dengan kedekatannya dan Zain yang dadakan. Bagaimanapun, dia dan Zain adalah lawan jenis, membuat Neska agak risih jika tadinya mereka hanya berdua dalam perjalanan ini.


Untung saja Neska tak sendirian, ada Sheila yang membuat perasaan canggungnya terhadap Zain lenyap. Sikap Sheila yang rame membuat mereka bertiga larut dalam obrolan lucu selama di perjalanan. Sheila ibarat pelengkap serta pemecah keheningan diantara mereka.


"Nes, aku temenin kamu sampai ke perusahaan itu?" tanya Sheila. "Kalau enggak, aku turun disini aja, soalnya rumah orangtuaku didekat jalan situ," lanjutnya sembari menunjuk sebuah persimpangan jalan.


"Ehm ..." Neska agak sungkan jika mengajak Sheila ikut sampai ke tempat pertemuan meetingnya. Disatu sisi dia masih was-was, tapi disisi lain dia tak mungkin menahan Sheila untuk terus bersamanya.


Setelah Neska meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja, diapun mengiyakan usul Sheila.


"Ya, udah, kalau kamu mau pulang ke rumah orangtua kamu, aku gak apa-apa, kok."


"Oke, deh. Semua bakal baik-baik aja. Percaya sama aku," kata Sheila meyakinkan.


Mereka berpisah setelah Sheila diantarkan Zain tepat di gerbang perumahan yang ternyata memang dekat dari jalan yang tadi dilewati.


Sekarang, hanya tinggal Neska dan Zain yang berada di dalam mobil. Lelaki gondrong itu berdehem pelan, sebab suasananya berubah menjadi canggung setelah kepergian Sheila.


"Ehm, boleh tanya sesuatu gak, Nes?"


"Ya?" Neska menoleh sekilas pada Zain sebab tadinya dia menjatuhkan pandangan ke arah jalanan. "Kenapa, Kak?" tanyanya.


"Kamu ... pacarnya Pak Marko, ya?"


"Hah?" Neska hampir terbahak mendengar pertanyaan Zain. "Kenapa Kakak bisa menyimpulkan begitu?" tanyanya.


"Yah, karena gak biasanya aja Pak Marko bawa model tanpa ikut seleksi lebih dulu. Dia langsung nunjuk kamu aja."


Sejak awal, Neska juga bingung dengan hal ini, tapi dia menepis kuat-kuat kejanggalan itu karena dia memang sangat ingin untuk kembali bekerja sampingan seperti dimasa SMA-nya. Selama tinggal di Singapore, dia bukan cuma menikmati beasiswa belajar dari orangtua Rion, tapi uang saku serta tempat tinggal pun dibiayai, membuat Neska sungkan untuk tetap bekerja, kesehariannya lebih sering dihabiskan dengan belajar karena dia tidak mau mengecewakan orangtua Rion jika nilainya jelek.


"Kalau soal itu, aku gak tau, Kak. Aku juga awalnya bingung, kenapa Kak Marko langsung memilih aku yang sama sekali gak punya pengalaman. Aku sama Kak Marko juga baru kenal, kok. Jadi, beliau bukan pacar aku. Deket aja enggak," kata Neska disertai kekehan kecil.


Zain manggut-manggut di posisinya. Dia tetap fokus mengemudi sambil sesekali melirik ke arah Neska.

__ADS_1


"Tapi, kamu memang cocok sih sama produk body lotion ini. Cuma ya itu, gak nyangka aja kalau kamu langsung terpilih jadi calon brand ambasador tanpa proses casting."


"Brand ambasador?" Neska membeo.


Zain menatap Neska dengan kernyitan dalam hanya karena mendengar nada terkejut dari suara gadis itu.


"Kakak bilang apa tadi? Aku jadi brand ambassador lotion itu?"


"Iya, emang kamu gak tau?"


Neska menggeleng. "Enggak, aku sama sekali gak tau," ujarnya.


Alih-alih langsung senang mendengar hal ini, Neska justru semakin bertanya-tanya. Jelas saja dia bingung.


...***...


Neska dan Zain berjalan bersisian untuk masuk ke dalam perusahaan dimana mereka akan melakukan pertemuan penting hari ini.


Dikarenakan ini adalah hari Sabtu, pekerja disana tidak semuanya masuk. Hanya beberapa yang memang khusus dan memiliki kepentingan. Seperti satpam gedung dan tentu saja Zain yang juga akan ikut meeting.


"Ayo, Nes!" Zain mengajak Neska memasuki lift yang pintunya sudah terbuka.


Neska ikut naik, keadaan lift juga lengang karena tidak adanya para pekerja yang berlalu-lalang.


"Gak usah gugup. Bos besar kita orangnya baik, kok. Cuma akhir-akhir ini beliau emang lebih diktator aja." Zain berujar sembari tangannya menekan tombol panel untuk mengantarkan mereka ke lantai yang dituju.


"Akhir-akhir ini? Emang sebelumnya enggak ya, Kak?" Neska menyahut heran.


Neska tertawa kecil. "Gak usah repot-repot, Kak. Aku belum berbakat dan sebenarnya aku gak pede," kata Neska terus terang pada pria itu.


Mereka keluar dari lift setelah sampai di lantai 25.


"Lho, justru itu, nanti di agensi kepercayaan diri kamu bakal lebih keluar lagi. Kamu udah punya modal untuk ikut gabung disana. Kamu cantik," puji Zain jujur.


Neska menundukkan wajah, dia terlalu malu mendengar pujian orang lain.


Mereka mundur sedikit saat melewati lift khusus. Disana keluar beberapa orang dengan setelan formal, membuat Neska semakin menundukkan wajah. Dalam perkiraan Neska pasti orang-orang dari lift khusus ini adalah orang penting dan petinggi perusahaan besar yang dia datangi.


"Pak ..." Zain menyapa orang-orang yang dikenalnya disana.


"Ya, masuklah lebih dulu."


Tunggu, Neska seperti mengenal suara ini?


"Nes, ayo masuk!" ajak Zain. Pemuda itu melangkah lebih dulu. Neska menaikkan pandangan dan disana dia justru seperti ditikam oleh tatapan tajam seseorang yang berdiri di hadapannya.


"Kamu?" gumam Neska tanpa sadar.

__ADS_1


Neska tak sadar jika Zain sudah lebih dulu masuk ke ruang meeting. Sementara dirinya sendiri terdiam disana dengan tubuh menegak. Kakinya seperti terpasung dan dikunci ditempat, matanya pun sama.


"Aku masuk duluan." Itu suara Marko, dia menepuk pundak Cean sekilas, kemudian lenyap diambang pintu sebab sudah masuk ke ruangan yang ada disana. Disusul oleh satu orang lagi yang tadinya juga pasti ikut naik menggunakan lift khusus bersama Marko dan ... Cean.


Cean masih menatap Neska lekat. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Dia memindai penampilan gadis itu dan larut dalam pemikirannya sendiri.


Neska buru-buru memutus kontak mata diantara mereka saat dirasa sudah bisa menghindar. Dia membuang pandangan ke samping, ke atas, menatap lantai atau kemana pun yang dia bisa asal jangan kembali bersitatap pada pemilik netra hazel yang berdiri tak jauh didepannya.


Lain hal dengan Cean yang urung melepaskan pandangan dari Neska. Bahkan dia menghindari untuk berkedip sebab dia takut sedetik saja dia memejamkan mata maka Neska akan hilang lagi dari jangkauannya.


"Permisi, Pak."


Kedatangan seseorang itu menginterupsi pertemuan Cean dan Neska yang penuh keheningan. Itu adalah Farah, lelaki kemayu itu berhasil membuat Cean tersadar dan segera masuk ke ruangan saat itu juga.


Farah menatap Neska. "Lu enggak masuk, Nes? Buruan, itu si bos udah masuk duluan dari kita," katanya kemudian.


"Bos?" gumam Neska lirih. Neska mengikuti langkah Farah untuk segera masuk ke ruangan itu.


Meeting berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan. Semua prospek pekerjaan, target pasar termasuk model yang akan membintangi iklan produk sudah dibahas disana.


Ada yang berbeda, hari ini Cean tampak lebih santai saat mendengar para pekerja yang membahas pekerjaan mereka. Dia terlihat tenang dan tidak melontarkan kata-kata keras seperti beberapa tahun belakangan.


Sekarang, tiba giliran Neska untuk menandatangi kontrak kerja. Tentu hal itu dilakukan tidak didepan semua orang yang masih berkumpul di ruangan meeting.


"Nes?"


"Iya, Kak." Neska menyahut pada Marko.


"Gimana? Udah lihat, kan? Prospek kerjaan kita?"


Neska mengangguk, dia melirik semua orang yang perlahan-lahan meninggalkan ruang meeting.


"Nah, sekarang kamu tinggal tanda tangan kontrak aja ya, Nes. Kamu juga pasti udah tau kalau kamu disini bukan cuma sekedar bintang iklan saja, tapi kamu akan menjadi Brand ambasador produk body lotion yang bakal diiklankan jadi kamu bakal terikat beberapa lama di perusahaan ini."


Neska menggigitt bibir bawahnya. Setelah tadi mengikuti proses meeting dia sudah dapat menyimpulkan jika Cean adalah bosnya disini.


"Iya, Kak, aku tau."


"Bagus. Sekarang kamu ke ruangan aku buat teken kontrak, itupun kalau kamu setuju. Aku tunggu disana ya, Nes."


Marko meninggalkan Neska, tanpa pernah mengatakan dimana letak ruangannya yang harus Neska datangi nanti.


Neska mau menyusul langkah Marko saat suara seseorang berhasil menghentikan langkahnya.


"Nes, aku mau bicara."


Disanalah Neska tersadar bahwa diruang meeting itu hanya tinggal dirinya dan pemuda bernetra hazel yang duduk di kursi paling ujung dengan isyarat wajah yang tak menerima penolakan.

__ADS_1


...Bersambung ......


Dukungannya mana? Kirim gift, vote dan komentar disini biar othor semangat up lagi🙏❤️


__ADS_2