TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
47. Kontrak kerja


__ADS_3

Neska masih mencerna segala keadaan yang baru saja terjadi padanya.


Cean adalah bos di tempat ia akan memulai pekerjaan, begitulah yang dapat ia simpulkan.


Akan tetapi, ini justru membuatnya menduga-duga. Apa sejak awal, Cean lah yang ada dibalik semua ini? Yang membuatnya berkecimpung ke dalam dunia permodelan seperti sekarang?


Apakah ini semua telah diatur oleh pemuda itu, agar mereka terikat lebih dekat dalam dunia pekerjaan hingga membuat Neska tidak bisa menghindar lagi nantinya?


Tapi, Neska juga tidak bisa melupakan bagaimana reaksi Cean yang mencoba menutupi keterkejutannya saat mereka saling bertatap muka di awal pertemuan tadi. Dari sana, Neska mengerti bahwa Cean juga sama kagetnya dengan dirinya. Mereka sama-sama tidak tahu. Dalam kata lain, akibat pertemuan hari inilah mereka saling mengetahui posisi masing-masing.


"Nes? Kamu udah bisa tanda tangani kontraknya. Silahkan."


Suara Marko kembali membuat Neska membuyarkan pemikirannya. Rupanya sejak tadi Marko menungguinya untuk membubuhkan cap tangan di lembaran yang berisikan kontrak kerja mereka.


Marko juga sudah menjelaskan bagaimana peraturannya. Di awal, Neska akan terikat kontrak pekerjaan selama 1 tahun dan kontrak itu bisa akan diperpanjang suatu waktu tergantung kapasitas Neska dalam bidang pekerjaannya.


"Ah, ya, Pak." Neska menatap pada ruang kertas untuk dia meletakkan tanda tangannya disana.


"Kenapa kamu tiba-tiba manggil aku Bapak?" tanya Marko heran. Dia bertanya setelah melihat Neska sudah selesai dengan penandatanganan kontrak.


"Hah?" Neska tampak keki sebelum akhirnya menyadari pertanyaan Marko. "Iya, Pak. Memang seharusnya begitu, kan? Kita sudah terikat pekerjaan sekarang," katanya merujuk ke arah surat kontrak yang telah ditanda-tangani.


Neska lebih memilih beralasan yang realistis ketimbang jujur pada Marko bahwa itu adalah titah dari Cean yang tidak bisa dibantah.


Sementara Marko, dia bukannya tidak tau jika tadi Neska dan Cean sempat berbicara empat mata. Ini pula yang menyebabkan Neska agak lama mengunjungi ruangannya. Dan satu lagi, Marko yakin panggilan Neska berubah padanya berkat campur tangan sang atasan yang kadang memang resek.


"Ya, padahal aku gak apa-apa loh di panggil Kakak sama kamu."


Neska meringis keki. Lagi-lagi hanya respon itu yang bisa dia tunjukkan di depan Marko. Neska tidak tau jika ini semua rencana Marko yang berniat mempertemukannya dengan Cean. Jadi, Neska sedikit sungkan jika nantinya Marko akan tau jika dia telah mengenal atasan mereka jauh dari hari ini bahkan diluar skema pekerjaan.


Dalam benak Marko sendiri, sangat puas dengan kejutan yang dia berikan pada Cean hari ini. Setidaknya, ia dapat menilai jika mood Cean saat meeting tadi benar-benar berbeda dari biasanya. Meski nanti Cean akan melemparkan banyak pertanyaan kepadanya mengenai Neska. Kapan dan dimana mengenal gadis itu, bagi Marko itu tak masalah yang penting Cean bisa sehangat dulu.


Sejujurnya, selain jengah dengan sikap diktator Cean belakangan hari, Marko juga merindukan sikap sahabatnya yang dulu.


"Baiklah, kalau menurut kamu begitu lebih baik." Marko mengambil keputusan saat melihat Neska memasang senyum sungkan itu dihadapannya.

__ADS_1


Neska menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih atas loyalitas kamu diawal pekerjaan hari ini. Selamat ya, kamu resmi bergabung di perusahaan ini dan saya harap kita bisa menjadi tim yang solid untuk mengembangkan produk perusahaan menjadi lebih baik lagi."


Marko mengubah bicaranya dengan lebih formal kemudian menjabat tangan Neska sekejap, sebelum akhirnya mereka sama-sama berdiri dari duduknya.


"Ah ya, kamu pulang naik apa?" tanya Marko sembari keduanya berjalan keluar dari ruangan.


"Ehm saya...." Neska bingung mau menjawab apa. Dia tak mungkin mengaku pada Marko bahwa setelah ini dia sudah tersangkut janji dengan Cean.


"Apa Zain menunggu kamu? Sebelumnya saya memang meminta dia untuk menjemput kamu di Bandara."


"Kak Zain sudah pulang, Pak."


"Kenapa? Kamu yang minta dia buat pulang lebih dulu, ya?"


"Aku yang menyuruhnya pulang." Tiba-tiba Cean muncul dari balik pembatas ruangan. Entah sejak kapan dia disana, Marko dan Neska tak tahu dan refleks menoleh saat mendengar suara itu.


"Cean?" Marko melongo, meski dia sudah menduga kenapa Cean masih berada disana. Pasti itu karena menunggui Neska.


Marko memutar bola matanya, Cean bukan berterima kasih padanya yang sudah mempertemukan dengan gadis incaran pemuda itu, Cean justru menatapnya dengan tatapan seperti itu? Marko tau, setelah hari ini akan ada momen dimana Cean akan menyidangnya terkait rencananya yang sudah membuat Cean terkejut dengan kehadiran Neska sebagai BA baru mereka hari ini.


Neska sendiri tertegun dengan sikap Cean yang blak-blakan didepan Marko. Jika tadi didepan Zain--Cean masih terlihat menjaga sikap, berbeda saat didepan Marko yang sepertinya sengaja terang-terangan menunjukkan jika mereka berdua memang saling mengenal satu sama lain.


Neska pikir, Cean akan malu jika Marko mengetahui tentang hubungan mereka. Hubungan? Ah, mereka tak punya hubungan, pikir Neska. Tapi, Neska mengira jika Cean akan menyembunyikan tentangnya dari Marko.


Melihat raut Neska, Cean seakan bisa menebak jika gadis itu bingung.


"Ini semua rencana Marko. Dia membuatku terkejut dengan kehadiran kamu disini jadi aku bersikap begitu didepannya." Cean menjelaskan sesaat Marko sudah pergi tanpa banyak protes dari hadapan keduanya.


"Marko tau ada apa diantara kita, jadi dia sengaja membuat kita supaya sama-sama terkejut hari ini."


Neska baru paham sekarang, rupanya Marko tau semuanya jadi itulah mengapa Cean bersikap apa adanya dan tak perlu menutup-nutupi apapun dari pria itu.


"Kamu gak mengira kalau ini semua adalah rencana aku yang dengan sengaja memasukkan kamu untuk bergabung di perusahaan ini, kan?"

__ADS_1


Neska tersenyum kecil. "Tadinya aku sempat mengira begitu, Kak," akuinya. "Tapi aku tau kakak juga kaget pas lihat aku ada disini tadi," sambungnya.


Cean ikut tersenyum. Dia menatap Neska penuh arti, lalu menggandeng tangan gadis itu untuk keluar dari gedung perkantoran.


Neska masih saja bingung dengan keadaan yang menyebabkannya berakhir bersama Cean hari ini. Apalagi kini Cean menggenggam jari jemarinya sembari terus berjalan menuju basement dimana mobil pria itu terparkir.


"Kita mau kemana, Kak?" tanya Neska.


Cean mengulumm senyum menyadari kepolosan Neska tidak pernah berubah. Pertanyaan itu terdengar biasa saja memang, tapi nada suara Neska itu benar-benar seperti dulu. Dia masih sama polosnya dan membuat Cean gemas sendiri.


"Nanti kamu juga tau, kok."


"Kok gitu?" Neska mencebikkan bibir, dia tak suka Cean main rahasia-rahasia begini.


Sekarang Cean mengeluarkan tawanya. Rasanya begitu lega, sudah lama dia tak tertawa lepas seperti ini. Rasa hatinya benar-benar bahagia hari ini.


"Pakai seatbelt dulu ya," kata Cean dengan lembut. Tangannya terulur dan memasangkan sabuk pengaman pada gadisnya.


Neska tertegun, dia merasa jantungnya hampir meloncat keluar dari rongganya. Bisa mati lemas dia-- jika Cean terus dekat-dekat dengannya seperti ini. Tau kan, sejak dulu di kepala dan hatinya cuma ada Cean? Bahkan saat dia mencoba menghindari, pria itu tetap selalu menguasai tahta tertinggi didalam pikiran dan relungnya.


...Bersambung .......


Hay, teman-teman Readers....


makasih ya udah baca kisah Cean dan Neska sampai bab ini. Tenang aja, novel ini bakal berlanjut dan aku tamatin disini kok 🙏


Ah iya, kisah Aura--Kembarannya Cean udah rilis ya. Bisa cek profil aku. Baca dan tinggalkan komentar kalian disana ya..


Judulnya : DIJEBAK DI MALAM PENGANTIN


Kisahnya pasti beda ya sama Neska dan Cean. Mampir yuk✅ Bonus visual juga disana❤️ thank you😘



__ADS_1


__ADS_2