
"Aku harap, kamu juga sama kayak aku. Nerima keseriusan aku dalam hubungan kita. Lupain yang lain dan cuma aku yang ada dalam hati kamu. Bisa?"
"... lupain yang lain."
"... cuma aku yang ada dalam hati kamu. Bisa?"
Kata-kata Rion itu terasa bendentum-dentum di gendang telinga Neska, membuatnya harus memikirkan terus menerus seolah harus mempertimbangkannya.
Apakah Neska memang harus menerima perasaan Rion yang serius kepadanya?
Sejujurnya, selama dua bulan menjalani hubungan dengan pemuda itu, Neska mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Bisa dikatakan Neska turut larut dalam setiap sikap Rion yang baik kepadanya dan juga menghargainya.
Sedikit banyak, Neska mengakui jika dia mulai menyukai laki-laki itu, meski dalam hatinya belum bisa menghilangkan sesosok lain yang lebih dulu menguasai sisi terdalam di relung hatinya. Cean.
Sebelumnya, Neska memang tidak mengenal apa itu cinta. Dia merasa terlalu belia dan awam dengan hal berbau rasa, tapi dia merasakan hal itu untuk pertama kalinya saat bertemu Cean.
Awalnya, Neska mengira itu adalah rasa kekaguman yang biasa, hingga menimbulkan suka, tapi lambat laun Neska tau jika Cean sudah berkecimpung masuk terlalu jauh ke dalam pikiran dan hatinya.
Berawal dari hal itu, Neska mulai tau jika cinta adalah getaran lembut yang mengalirkan energi unik saat bisa melihat orang itu. Ya, meski hanya dengan melihatnya saja hati sang gadis merasa terpercik apinya yang hangat.
Menerima segala perlakuan baik Cean yang peduli kepadanya, ada rasa bahagia yang menelusup masuk ke dalam hidup gadis itu. Disanalah Neska merasa ada yang berbeda. Dia jatuh cinta pada pemuda itu. Cean.
Dan kini, disaat Rion sudah hadir sebagai pasangannya yang asli, Neska turut merasakan getaran yang mirip, tapi tak serupa. Berbeda. Meskipun Neska mengakui jika Rion pun layak mendapatkan seluruh perhatiannya.
Ada sesuatu yang sangat egois dalam diri Neska terhadap Cean, tetapi hal itu tidak ada untuk Rion. Sesuatu yang sangat menuntut, tapi Neska belum bisa mendeskripsikannya. Sesuatu itulah yang terasa menjadi perbandingan ketika Neska berada diantara Cean dan Rion. Neska ingin memiliki Cean untuk dirinya sendiri, sedangkan Rion ... entahlah, Neska tidak seingin itu. Begitu kira-kira.
Setelah makan malam dengan keluarga Rion malam itu, semuanya tetap sama. Keluarga kaya raya itu menerima kehadiran Neska sebagai pacar dari Rion. Bahkan Aura yang datang belakangan, sangat antusias kala mengetahui jika ternyata Neska adalah pacar dari adik bungsunya. Neska tentu merasa senang karena dia tidak diusir dari sana, tapi entah kenapa ada sesuatu yang terasa kosong bagi Neska.
Apalagi, selama makan malam itu berlangsung, Neska merasa tengah dihujani tatapan sedingin es oleh Cean. Pemuda itu banyak diam dan tidak ikut menimpali pembicaraan, tapi Neska merasa jika Cean mendengarkan lamat-lamat mengenai semua tentang dirinya yang ingin diketahui keluarga mereka.
Sebuah pesan masuk ke ponsel Neska, membuat gadis yang tengah melamun itu menoleh pada benda pipih yang berada tak jauh darinya.
Neska membuka pesan yang dikirim melalu aplikasi hijau, lantas membacanya.
[Sebentar lagi aku jemput. Siap-siap, gih.]
Neska mematut senyum, itu adalah pesan dari Rion. Neska yakin, suatu saat nanti hatinya yang keras dan egois terhadap Cean, lambat laun akan luluh oleh perhatian dan kehadiran Rion. Semoga saja, karena gadis itu juga mau menghilangkan bayang-bayang Cean dari kepalanya karena dia tau, sampai kapanpun Cean akan tetap menganggapnya seorang adik kecil. Hanya Rion yang menganggapnya layak.
Cepat-cepat Neska membalas pesan dari Rion dengan emoticon jempol pertanda setuju.
Neska menuju lemari dan mengganti pakaiannya. Tadinya dia memang tidak punya jadwal apa-apa. Mereka sudah menyelesaikan jenjang putih abu-abu dan sekarang adalah masa lapang untuk memilih-milih universitas untuk mendaftar. Neska sendiri tengah menunggu pengumuman beasiswanya, jika dia lulus maka dia dapat kuliah dengan bantuan pemerintah lagi, tapi jika tidak maka dia harus mencari pekerjaan yang lumayan demi bisa melanjutkan kuliah dengan biaya sendiri.
Beberapa saat mematut diri di depan cermin, Neska akhirnya siap dengan penampilan sederhana andalannya.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, pintu kediamannya terdengar di ketuk.
"Hai, udah siap?"
Neska mengangguk dan memasang senyuman tipis dihadapan Rion yang juga tersenyum kepadanya.
"Ya udah, ayo."
Neska meninggalkan kediaman yang baru dia tempati selama 4 bulan belakangan. Ya, sekarang Neska mengontrak sebuah rumah petak yang berjajar dengan tiga pintu rumah lainnya. Semacam kos-kosan tapi bukan cuma berisi kamar saja karena didalamnya juga sudah ada dapur, ruang tamu kecil dan sebuah kamar mandi. Neska memilih pindah untuk menghindari pertemuan dengan Cean.
Sebab hal inilah, sekarang Cean pasti jarang melihat keberadaannya di Apartmen dalam beberapa waktu terakhir. Neska tidak pernah berpamitan pada pemuda itu.
Rion sendiri bersyukur Neska telah meninggalkan Apartmen tua yang dulu ditempatinya. Selain kakaknya juga tinggal disana, rumah kontrakan Neska yang sekarang jauh lebih layak. Ya, Rion yang menemani Neska mencari tempat tinggal baru waktu itu. Tentu atas permintaan gadis itu sendiri.
Rion mulai memacu kendaraan roda duanya dengan kecepatan sedang. Tidak ada yang membuat mood nya sebaik ini kecuali hanya dengan melihat wajah gadisnya. Dia selalu merasa bahagia jika Neska sedang berada disisinya, meski hubungan mereka bisa dikatakan kurang mesra dan tidak selayaknya pasangan bucin lainnya. Setidaknya, status mereka saat ini sudah jauh lebih baik dan berarti Neska mau membuka hati untuk dia.
"Kita mau kemana?" tanya Neska dalam perjalanan itu.
"Ada deh, kamu tunggu aja dan lihat nanti aku ajak kamu kemana."
Neska akhirnya mengangguk saja dibelakang tubuh Rion yang beraroma maskulin. Rion pemuda yang supel dan menyenangkan, pergaulannya luas dan memiliki cara pikir yang dewasa, Rion juga pintar dan tidak pernah menganggarkan itu dihadapan Neska, tapi sang gadis dapat menilai sendiri dari semua interaksi mereka berdua, hal itu juga yang membuat Neska bertahan dengan hubungan mereka sampai saat ini.
Motor yang dikendarai Rion akhirnya mulai melambat saat memasuki kawasan berpasir dan tercium aroma bakau.
"Kita kesini?" tanya Neska heran. Dia melihat situasi sekitar, rupanya Rion mengajaknya ke pantai yang berada di pinggiran kota. Pantai itu belum banyak di sentuh tangan-tangan manusia, bahkan hanya ada beberapa warung yang berjualan disana. Ada beberapa pengunjung tapi tidak banyak.
Neska mengikuti langkah Rion. Pemuda itu membuka sepatunya dan menentengnya, karena pasir ikut masuk ke dalam sepatu yang dia kenakan.
Neska ikut-ikutan, karena memakai sepatu di kawasan berpasir itu memang terasa janggal dan risih, mereka tertawa sekilas karena kini sama-sama ber-te-lan-jang kaki.
"Bagus kan disini?" tanya Rion saat mereka mulai menyusuri bibir pantai itu.
Neska menganggukkan kepalanya.
Rion mengambil sesuatu dari waistbag yang ia kenakan. Itu adalah sebuah topi cowok, Neska pikir Rion ingin mengenakannya untuk menghalau cuaca yang cukup terik, nyatanya pemuda itu malah memakaikan pada kepala Neska.
"Sini biar aku pegang," kata Rion sembari mengulurkan tangannya kearah Neska. Dia menawarkan agar bisa membawakan sepatu yang sejak tadi dijinjing oleh sang gadis.
"Makasih ya," kata Neska tulus.
Rion menyunggingkan senyum manisnya. "Berhenti bilang makasih, kamu selalu gitu padahal aku bakal selalu nolongin kamu meskipun kamu enggak butuh bantuan aku."
"Ri ... kamu terlalu baik," akui Neska jujur.
__ADS_1
"Aku cuma baik sama kamu," kelakar Rion sambil menatap mata Neska lekat, ada kulumann senyum diujung bibirnya yang menandakan dia tengah berseloroh. "Sama orang lain aku jahat," sambungnya kemudian.
Neska jadi tertawa, mana pernah dia melihat Rion jahat pada orang lain.
"Kalau aku baik, berarti kamu mau menyayangi aku kan, Nes?" gumam Rion.
Neska tidak terlalu mendengarnya, karena selain Rion yang hanya berkata pelan, suara deruan ombak juga menghalau sedikit pendengarannya. "Kamu bilang apa?" tanya gadis itu.
Rion menggeleng samar. "Nes, aku ajak kamu kesini karena aku mau bilang sesuatu," ujarnya.
"Apa?"
"Aku bakal kuliah di luar negeri." Rion menipiskan bibir. Ada raut sendu saat dia menatap gadis itu. "Aku bakal ninggalin Indonesia dan kamu..."
Neska masih mengerjap-ngerjap seolah tengah mencerna kalimat Rion, ketika pemuda itu kembali melanjutkan kalimatnya.
"Nes, aku bakal ke Singapore. Kuliah disana. Memang jaraknya dekat, tapi aku gak bisa terlalu sering pulang ke Indonesia. Oleh karena itu, aku bingung bagaimana hubungan kita ke depannya."
"Kamu ... mau kita putus?" tebak Neska blak-blakan.
Rion kembali menggelengkan kepalanya. Kali ini lebih keras.
"Jujur, aku gak mau kita putus, Nes. Aku udah bilang kan, aku serius sama hubungan kita."
"Jadi?"
"Jadi, aku ajuin beasiswa buat kamu ke orangtuaku."
"A--apa? Kenapa?" Neska terperanjat kaget.
"Aku gak bisa kalau kita jauh, aku udah terbiasa sama kehadiran kamu jadi aku mau kita kuliah sama-sama di Singapore."
"Haha, kamu bercanda." Neska tertawa sumbang.
"Aku serius, Papa dan Mama juga udah setuju tapi mereka mau melihat kemampuan kamu juga jadi beasiswanya gak terkesan cuma-cuma hanya karena kita ada hubungan."
"Rion, ini berlebihan gak, sih?"
"Pikirin hal ini, Nes. Maaf aku gak bilang-bilang sama kamu dulu, tapi aku yakin kamu bakal setuju."
"Tapi, Ri ..."
"Aku yakin gak ada yang memberatkan kamu untuk ninggalin Indonesia, kan? Aku mau kamu ikut kuliah sama aku, selain ini mempermudah kamu, aku juga berharap kamu ..." Rion menjeda ucapannya, dia menatap ke dalam bola mata bening milik gadis itu. " ... aku harap dengan kepergian kamu ini, kamu bisa melupakan semua yang ada disini," tambahnya menekankan.
__ADS_1
Bersambung ...
Next? Komen✅