
Cean mencoba menghubungi Neska beberapa kali tapi tidak mendapat jawaban dari gadis itu. Perasaannya semakin kalut, tidak biasanya Neska bersikap seperti ini. Di jam ini biasanya Neska sudah pulang dari kampusnya. Jadi, Cean sudah merasa curiga mengenai keberadaan Neska saat ini.
"Dek, kamu ada lihat Neska di kampus gak hari ini?"
Akhirnya Cean menelepon Rion untuk menanyakan kabar gadis itu. Dia tak punya pilihan lain. Jarak yang menjadi rintangan terbesar dalam hubungan keduanya. Jika saja Neska ada di kota yang sama dengannya saat ini, mungkin Cean akan mencarinya sampai ke sudut-sudut yang sulit untuk dikunjungi.
"Gak ada, Kak. Kebetulan aku tadi cuma beberapa jam doang di kampus. Gak banyak mata kuliah," sahut Rion dari seberang sana.
"Neska gak ada kabar. Perasaan Kakak gak enak. Tolong, tolong cari dia untuk kakak. Bisa?"
"Oke, aku coba tanya Sheila dulu, mungkin Sheila tau Neska kemana."
"Ya, kabari Kakak secepatnya, ya."
"Oke, Kak."
Cean kalang-kabut, bukan cuma telepon dan pesannya saja yang tidak dijawab oleh Neska, bahkan saat nomor kantor yang juga menghubungi gadis itu, Marko bilang Neska sulit untuk dihubungi.
Terhitung sudah satu jam lamanya, Neska tidak memberikan kabar apapun.
"Ko, pesankan tiket ke Singapore."
"Kau punya meeting sore ini, Cean!"
"Batalkan meetingnya. Perasaanku benar-benar tidak enak terkait Neska."
"Ah Cean, jangan tidak profesional. Aku me-lobby Pak Rendra dari jauh-jauh hari untuk pertemuan kali ini. Jangan mengecewakannya dan aku yang sudah bekerja keras untuk mempertemukan kalian."
Cean pikir ucapan Marko ada benarnya, apalagi menyesuaikan waktu dengan klien mereka yang bernama Pak Rendra sangat susah. Tapi, bagaimana dengan nasib Neska?
"Neska itu masih muda. Jangan kau ajak pacaran kolot yang setiap saat harus mengetahui kabarnya. Bebaskan dia. Mungkin dia butuh ruang dan waktu bersama teman-temannya. Jangan mengekangnya dan memintanya untuk wajib lapor padamu setiap waktu."
"Bukan begitu, Ko. Kali ini entah kenapa perasaanku tidak enak."
"Udahlah, Neska bisa jaga diri. Lagipula kau sudah meminta Rion untuk mencarinya, kan? Pasti semuanya baik-baik saja. Sekarang ayo kita urus soal meeting kita."
Akibat ucapan Marko yang terus meyakinkannya, Cean terpaksa harus mengikuti meeting itu meski kepalanya sudah tidak bisa memikirkan aspek soal pekerjaan. Tubuhnya ada disana tapi pikirannya sudah entah kemana memikirkan apa yang sedang terjadi pada Neska.
Sementara di lain tempat, Karel membopong tubuh Neska yang cukup enteng dalam gendongannya.
Sudah tau dimana unit apartemen gadis itu, Karel membuka pintu dengan sidik jari gadis yang sudah kehilangan kesadarannya tersebut. Teknologi fingerprint memang menguntungkannya, jadi dia tak perlu repot melacak sandi pintu apartmen sang gadis.
Karel membawa tubuh Neska dengan hati-hati. Dia membaringkan Neska di sebuah tempat tidur queensize yang ada disana.
Karel memperhatikan wajah Neska yang tidak sadar, satu sudut bibirnya tertarik ke atas. Sudah sangat lama dia menyukai gadis itu, dulu dia terobsesi, tapi sekarang tidak begitu.
Meski harus Karel akui jika Neska ini cantik, tapi selera Karel sudah banyak berubah seiring berjalannya waktu.
__ADS_1
Karel sekarang lebih suka gadis yang berpengalaman ketimbang Neska yang polos dan sulit ditaklukan. Menurutnya, gadis seperti Neska akan sangat merepotkan, dia tidak suka mengejar-ngejar wanita, Karel lebih tertarik dikejar.
Begitulah sikap Karel belakangan setelah melalui banyak lika-liku hidup seiring bertambahnya usia.
"Neska, kamu memang cantik." Karel membelai wajah Neska sekilas. "Kalau untuk bersenang-senang mungkin aku tidak tertarik, tapi kalau untuk dijadikan istri kamu benar-benar idaman." Karel terkekeh diujung kalimatnya.
"... jadi, setelah hari ini aku pastikan kamu menjadi milikku. Mungkin nanti aku akan mengabaikan mu sesaat, sampai kamu yang mengejar-ngejar aku untuk meminta sebuah pertanggungjawaban. Hmm, aku suka rencana ini," kata Karel penuh tekad.
Karel segera mengambil ponsel dan mengusap layarnya. Tampak mencari sesuatu disana dan dia menemukannya. Sebuah kontak dengan nickname Jelita.
"Hallo?"
"Kak, dia sudah bersamaku."
"Bagus. Kau apakan dia?"
"Belum, tapi akan."
Jelita tertawa nyaring disana. "Terserahmu saja. Kau mau apakan dia!"
"Benarkah? Aku boleh menidurinya?"
Jelita kembali terbahak. "Dasar otak se-lang-kang-an!" umpatnya.
Tapi Karel ikut tertawa mendengar makian Jelita dari seberang teleponnya.
"Baiklah ..." Karel tersenyum penuh kemenangan di posisinya.
"Eits!" Buru-buru Jelita menyela. "Asal, sebelum kau melakukannya, berikan dulu aku foto-foto top-less nya."
"What?"
"Kenapa kau terkejut? Ini rencana kita, kan?"
"Tapi, Kak. Aku berencana bertanggung jawab padanya, jika nanti aku menikahi dia karena kejadian yang hari ini ku lakukan, maka itu sama saja dengan aku menyebarkan foto te-lan-jang milik istriku sendiri."
"No no no, Karel. Kamu tidak perlu menikahinya. Hancurkan dia tapi sebelum itu kirimkan fotonya padaku."
"Tapi ..."
"Tidak ada tapi-tapian, Karel. Ini sudah menjadi rencana awal kita."
"Rencana kita cuma agar aku merusaknya, Kak. Bukan soal foto-foto itu!" sanggah Karel.
"Merusaknya sama dengan menyebarkan fotonya ke media. Dia akan rusak sekaligus nama baiknya. Kau mengerti?"
Karel terdiam dalam posisinya. Pikirannya berkecamuk disana.
__ADS_1
"Dengar, Karel. Jika kamu tidak melakukan apa yang sudah ku pinta, maka siap-siap untuk menanggung resikonya."
"Apa maksud Kakak?"
"Jika foto itu tidak kau kirimkan tiga puluh menit dari sekarang maka ku pastikan keluargamu yang akan hancur."
"Kak!"
"Mamamu akan tau kelakuan bejad Papamu, dan dia akan terkena serangan jantung saat tau yang sebenarnya."
Jelita memutus sambungan teleponnya begitu saja. Sementara Karel masih bergeming karena yang baru saja Jelita ucapkan kepadanya.
Karel tau siapa Ayahnya. Pria tua itu memiliki sugar baby yang umurnya lebih cocok untuk dijadikan adik buat Karel. Karel menyembunyikan hal yang dia ketahui ini dari sang Mama demi keutuhan keluarga dan perasaan sang Mama. Dia bersikap tak tahu apa-apa. Terlebih, Papanya pun selalu diam jika dia berkelakuan breng-sek diluar sana. Karel menutup mulut selama sang Papa tidak mengusiknya, lagipula kesehatan Mamanya adalah yang utama.
Sementara Jelita, dia mengetahui kelakuan Papa Karel karena dia mengenal Sugar Baby sang Papa. Jelita mengancam akan memberitahukan sang Mama mengenai hal ini jika dari awal Karel tak mau membantunya.
"Kau benar-benar licik, Kak. Bisa-bisanya kau menjadikan kelemahanku untuk kepentingan pribadimu sendiri."
Karel kembali melihat pada Neska yang terpejam. Dia jadi merasa bersalah dan mendadak merasa sangat kasihan.
"Kasihan kamu Nes, kamu gak ada salah apa-apa sama kak Jelita, tapi dia mau menghancurkan kamu."
Dengan perasaan yang campur aduk, Karel mulai melepaskan satu persatu pakaian yang Neska kenakan. Dia menyisakan underwearnya saja.
Jujur, gejolakk yang ada dalam diri Karel sebagai pria sejati sangat-sangat tergiur dengan pemandangan yang saat ini ada dihadapannya. Tapi, dia memikirkan bagaimana reaksi Neska jika nanti tau dia bukan cuma mem-per-ko-sa-nya, melainkan juga menyebarkan foto-fotonya. Membayangkan itu, Karel jadi hilang gai-rah.
Lain halnya jika dia hanya menggaulii Neska tanpa foto yang tersebar, dia siap untuk bertanggung jawab.
Tapi jika nanti Neska sudah menjadi istrinya dan tau apa ulahnya hari ini? Yang dengan sengaja memotretnya dalam keadaan begini, apa yang harus Karel jelaskan nantinya?
Pada kenyataannya, Karel hanya bisa melakukan salah satu. Dia tidak siap bertanggung jawab soal foto itu, jadi dia tidak mau meninggalkan jejak di tubuh gadis tersebut.
Karel hanya melabuhkan sebuah kecupan kecil di pucuk kepala Neska. Hanya itu, sekedar pelampiasan rasa inginnya. Setelah itu dia benar-benar memotret Neska dan mengirim fotonya ke nomor Jelita. Karel tak punya pilihan lain. Jikapun nanti Neska marah padanya, dia harus menanggung resiko itu dari perbuatannya hari ini.
Karel tidak pernah sadar, jika dia telah berurusan dengan Neska yang adalah kekasih Cean. Dia kira, Neska tak dapat melakukan apapun terhadapnya selain memakinya nanti. Tapi, Cean? Karel tak pernah memikirkan Cean akan melakukan apa atas kelakuannya hari ini. Meski Karel tak menyentuh tubuh Neska tapi dengan kiriman foto ke Jelita itu artinya dia sudah menjerumuskan diri.
Karel lupa soal Cean. Lagipula dia tak tau siapa Cean sebenarnya.
Karel meninggalkan Apartmen Neska sesudah urusannya selesai. Dia juga kembali memakaikan Neska pakaian, agar saat gadis itu terbangun, Neska tidak mencurigai apapun.
[Bagus. Sekarang kau bisa melanjutkan idemu untuk menikmati tubuhnya]
Sebuah pesan balasan dari Jelita masuk ke ponsel Karel setelah laki-laki itu mengirimkan foto Neska yang hanya menggunakan underwear saja.
Akan tetapi, Karel sudah berada di dalam lift dan dia memang tidak tertarik lagi untuk menggaulii Neska seperti rencananya di awal tadi.
Sudahlah, Karel pun beranjak dari gedung itu untuk menuju tempat dimana dia bisa memenangkan diri.
__ADS_1
...Bersambung ......