TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
18. Terima kasih


__ADS_3

"Kak, udah jam 12. Apa aku udah boleh pulang?" tanya Neska gugup pada Yola.


Wanita dengan surai sepinggang itu menatap Neska yang tampak takut-takut itu.


"Nes, kayaknya gak bisa pulang sekarang, deh. Lagi ramai banget, nih."


"Tapi, Kak?"


"Kamu udah ngantuk, ya?"


Jujur saja, bukan ngantuk alasan utama Neska mau pulang, tapi keadaan dan tempat yang saat ini dia injak terasa sangat asing. Soal ngantuk, Neska bahkan merasa itu telah lenyap seketika saat dia memasuki tempat ini, tadi.


"Kak, aku gak nyaman disini. Aku pulang, ya."


Yola tampak memahami keadaan Neska, dia pun tidak berniat menjebak Neska dengan situasi ini. Tapi dia benar-benar butuh partner kerja yang bisa menggantikan satu rekannya yang masuk rumah sakit secara mendadak karena overdosis.


"Ya udah, abis ini kamu boleh pulang. Tapi, anterin satu pesanan ini dulu ke meja di ujung sana, ya."


Neska akhirnya menyetujui. Dia melihat nampan yang berisi beberapa piring makanan ringan, serta air mineral. Neska mengambilnya, berniat hendak mengantarkan itu ke meja yang memesannya.


Kali ini bukan di ruang privasi melainkan ruang umum biasa, tapi mejanya terdapat disudut ruangan berlampu kelap-kelip itu.


"Permisi, ini pesanannya." Neska pun menyusun makanan di meja dan ternyata disana ada beberapa pria dan wanita yang nampak berpasang-pasangan.


Seorang pria paling muda yang duduk di sofa itu memperhatikan Neska dengan seksama. Dia menyeringai tipis saat Neska masih sibuk dengan hidangan di mejanya.


"Hai, cantik," goda pria itu.


Neska tak menanggapi, dia berusaha bersikap wajar kendati ini sangat tidak biasa baginya. Neska takut gerak-geriknya yang amatir dan terlihat canggung justru dimanfaatkan lelaki hidung belang di tempat ini. Neska berusaha bersikap wajar, seolah terbiasa dengan perilaku pria yang menggodanya ini.


Dari sisi berbeda, Cean tertegun menatap Neska yang menyajikan panganan di meja sudut ruangan. Dia memperhatikan gestur gadis itu yang tampak risih dengan pakaiannya sendiri.


Tiba-tiba seorang pria dengan tampang lumayan--berdiri dari duduknya--padahal dia sedang mendekap seorang wanita disisinya, tapi kini justru mengabaikan wanita itu sebab atensinya jelas beralih pada pramusaji muda cantik yang tengah menyajikan pesanan di mejanya.


"Kamu pekerja baru ya, disini?" pria muda itu berdiri dan mengajak Neska beradu tatap dengannya. Tentu saja Neska menghindari sorotan pria itu. Dia tampak risih, seperti di-te-lan-ja-ngi. Dalam hati Neska menggeram marah, rasanya dia tidak punya harga diri karena ditatap lapar oleh pria bermata keranjang.


"Em, maaf, saya harus bekerja."


Pria muda itu terkekeh melihat penolakan Neska saat dia hendak mendekatinya.

__ADS_1


"Tunggu!"


Neska terperanjat saat pria itu justru mencekal lengannya dengan cukup keras.


"Aku bayar kamu deh, malam ini, buat nemenin aku."


Neska memejamkan mata rapat-rapat, ingin rasanya dia memaki sekarang, tapi dia takut ini akan berpengaruh pada Yola yang mengajaknya bekerja disini. Dia takut makiannya pada pria ini berimbas pada pekerjaan Yola. Neska sendiri tidak takut, sebab dia hanya akan bekerja disini untuk malam ini, pertama dan terakhir kali.


"Ayolah! Temenin aku minum, ntar kalau aku makin nyaman, kita bisa lanjut," katanya mengerling nakal pada Neska dan tetap tidak melepaskan tangan gadis itu yang dicekal dengan cukup kuat.


"Lepasin!" hardik Neska, dia berusaha menepis tangan kekar pria itu, tetapi tidak memiliki tenaga lebih. "Sakit," ringisnya kemudian.


Disaat yang sama, Neska harus melotot saat tiba-tiba pria yang mencekal tangannya itu dihantam dari arah berlawanan. Seseorang memukulnya, dan yang melakukan itu tidak lain adalah ... Cean.


"Kak Cean?" Neska membungkam bibirnya yang menganga karena terkejut.


"Tangan kotor lo gak seharusnya nyentuh dia!" geram Cean dengan rahang mengeras pada pria yang sudah berani kurang ajar pada Neska.


Pria yang tadi menggoda Neska, bahkan sangat terkejut dengan keadaan ini. Dia menarik nafas dalam kemudian ingin membalas perlakuan Cean, sayangnya Cean memberinya tatapan tajam seolah ingin menguliti pria itu hidup-hidup.


Pria itu masih mencerna situasi yang terjadi, dia seperti mengenali wajah pemuda yang meninjunya, sehingga nyalinya ciut seketika saat menyadari siapa pria itu.


"Ayo, Nes!" Cean segera menarik tangan Neska dan membawa gadis itu keluar dari Bar terkutuk yang ditekadkan Cean dalam hatinya-- untuk tidak akan pernah lagi menginjak tempat itu.


"Kak!" Neska berontak sebab Cean bukan lagi menariknya, melainkan sudah seperti menyeretnya hidup-hidup.


"Kak! Lepasin, sakit!"


Disaat itulah Cean menyadari keadaan. Dia menatap tangannya yang mencengkram lengan Neska. Buru-buru Cean melepaskannya.


"Kakak kenapa marah-marah?"


Masih bisa pula gadis ini bertanya seperti itu, membuat Cean semakin kesal saja. Tidak tahukah Neska jika tadi dia berada dalam cengkraman pria breng sek?


"Sorry," kata Cean, suaranya mulai melunak. Dia menatap netra kecoklatan milik Neska yang menyiratkan rasa ketakutan yang kentara. "Kita pulang, Nes. Kita pulang," lanjutnya lirih.


Setengah perjalanan menuju pulang, tidak ada kalimat yang tercetus dari bibir Neska maupun Cean. Hingga mobil Xenia itu memasuki pelataran Basement Apartmen tua--tempat tinggal keduanya-- barulah Neska buka suara.


"Kenapa kakak nonjok cowok tadi?" tanya Neska.

__ADS_1


Cean menatap tak percaya atas pertanyaan gadis ini. Kenapa hal itu harus ditanyakan lagi? Pikirnya.


"Kenapa, Kak?" desak Neska.


"Apa kamu suka tangan kamu dipegang sama dia?" Cean malah balik bertanya.


"Tentu aja enggak."


"Terus kenapa? Kenapa kamu masih nanya, kenapa aku nonjok dia?" marah Cean. Intonasi suaranya juga menanjak naik.


"Kenapa kakak harus marah? Itu yang jadi pertanyaan aku!"


"Karena aku juga gak suka dia pegang-pegang kamu, Nes!"


"Kenapa kakak gak suka?" Kembali Neska ngotot.


"Ya, karena ..." Cean menggantung kalimatnya, dia pun tidak tau kenapa tadi dia semarah itu melihat tangan Neska di pegang oleh pria tersebut.


"Kenapa? Apa karena kakak masih anggap aku seorang adik yang patut dilindungi?"


Neska menahan airmatanya. Jujur, dia merasakan sesak jika mengingat hal itu lagi. Bagaimana seorang Ocean menganggapnya adik kecil dan menyuruhnya rajin sekolah. Tidak taukah Cean, jika Neska memiliki rasa suka teramat sangat pada pemuda itu? Kenapa Cean tidak peka membaca gelagatnya. Dia bukan baik karena menganggap Cean layaknya seorang kakak. Tentu saja Neska tidak senaif itu.


"Iya, Nes. Kamu itu masih kecil. Gak sepatutnya kamu berada disana. Kerja disana. Itu gak layak. Gimana kalau banyak pria mata keranjang yang godain kamu? Gimana kalau itu om-om yang hidung belang?"


Neska hampir meloloskan airmatanya. Ia mengadah ke langit-langit mobil yang sudah berhenti itu--0 agar airmatanya tidak tumpah. Ternyata Cean malah mengiyakan pertanyaannya. Cean memang menganggapnya adik, tidak lebih dan tidak akan pernah berubah.


"Makasih atas kekhawatiran kakak. Makasih juga kakak udah nolongin aku dari mata keranjang itu malam ini. Tapi dua hal yang perlu kakak tau ..." Neska menarik nafasnya dalam, sengaja menjeda kalimat.


Sementara Cean, dia menunggu apa kalimat yang akan Neska katakan selanjutnya.


"... pertama, aku bukan anak kecil lagi, Kak. Apa kakak pikir anak kecil bisa lolos masuk ke Bar itu? Aku udah 17 tahun. Dan yang kedua, mungkin kakak anggap aku adik kecil kakak, tapi ... tapi ... kita gak sedekat dan seakrab itu untuk menjadi saudara, Kak. Kita baru kenal dan aku gak pernah anggap kakak sebagai saudara lelakiku."


"Nes?" Cean tak percaya jika Neska tidak menganggapnya sebagai seorang kakak. Padahal dia sudah meminta Neska untuk menganggapnya begitu, kan?


Neska menggeleng dari posisinya. "Maaf, Kak. Lebih baik mulai sekarang kita jaga jarak aja. Jangan pedulikan aku kalau Kakak hanya menganggap aku sebagai anak kecil dan seorang Adik. Karena kepedulian Kakak sama aku, justru buat aku makin suka sama Kakak. Sekali lagi maaf, ya, Kak, karena aku terlanjur suka sama kakak, jadi aku gak akan bisa anggap Kakak sebagai saudara lelakiku sampai kapanpun!" Neska pun keluar dari mobil Xenia yang dikendarai oleh Cean setelah menekankan kata-katanya itu.


Sementara pemuda itu, menghela nafas frustrasi saat mendengar Neska mengutarakan segalanya. Lebih menyakitkan lagi kala mencerna ucapan Neska yang ingin menjaga jarak darinya. Tapi, kenapa dia harus sakit hati seperti ini sekarang?


Bersambung ....

__ADS_1


Next? Komen✅


__ADS_2