
Cean melirik Neska yang kini nampak membuang pandangan ke arah yang berlawanan karena wanita yang kini menyapa Cean semakin mendekat ke meja mereka sebab yang dia sapa ternyata benar-benar adalah Cean.
"Apa kabar, Cean?"
Mau tak mau Cean menjawab juga sapaan wanita itu yang tak lain adalah Wenda, mantan kekasihnya yang terakhir sebelum dia menjalin hubungan dengan Neska.
"Seperti yang kamu lihat, aku sehat dan baik," jawab Cean akhirnya.
Wenda melirik pada gadis yang duduk di sisi Cean, dia seperti pernah melihat gadis itu. Wajahnya familiar sekali.
"Dia ... yang model dan bintang iklan itu, kan?"
Syukurnya Wenda mengingat jika Neska adalah seorang model, bukan Neska si bocah SMA yang dulu dia jumpai didekat Apartmen tua yang sempat menjadi tempat tinggal Cean.
"Hm, ya." Cean menjawab singkat.
"Kalian ada hubungan?" Wenda bertanya dengan alis yang tertaut heran.
Cean segera menggenggam tangan Neska. "Kita akan segera menikah," jawabnya tenang.
Wenda menyunginggan senyum tipis. "Wah, selamat, ya," katanya. Entahlah itu sungguh-sungguh atau hanya sekedar basa-basi. "Kamu kelihatan semakin baik sekarang," sambung Wenda dengan tatapan yang memindai penampilan Cean.
"Thanks," kata Cean kembali menyahut ringan dan tidak mau membalas menanyai apapun tentang Wenda. Dia memilih bersikap biasa saja, tak mau menunjukkan keramahan, agar Wenda segera pergi dari sana. Cean tau Neska tidak menyukai pertemuan tak sengaja ini.
Sayangnya, wanita itu masih mau berada disana. Wenda kini melirik penampilan Neska yang juga tampak berkelas.
"Sayang banget dulu kamu bangkrut, kalau enggak mungkin kita masih sama-sama ya sampai sekarang." Wenda terang-terangan mengutarakan isi hatinya yang terkesan menghina Cean, pun menunjukkan jati dirinya yang asli yaitu tidak menerima hidup Cean yang jatuh bangkrut.
"Aku? Bangkrut?" Cean tersenyum tipis, dia mau memancing Wenda, padahal tadinya dia tak tertarik meladeni wanita itu.
"Iya, dulu kan kamu bangkrut, makanya aku gak bisa lama-lama sama kamu."
See? Wenda mengakui sendiri jika dulu dia tak bisa membersamai Cean lagi karena kondisi Cean. Jadi, yang sempat Wenda tunjukkan diawal-awal Cean mengaku bangkrut dan tinggal di Apartmen tua hanyalah kamuflase. Dia tak benar-benar menerima kondisi Cean saat itu. Awalnya, Wenda memang tampak menerima sebab mengikuti perasaannya yang menyukai Cean, hanya saja dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi sebab baginya cinta saja memang tidak cukup jika Cean hanyalah pemuda yang sudah jatuh bangkrut dan menjadi miskin.
"Itu makanya kamu selingkuh sama Jasper, kan?" Cean bertanya, tapi sekaligus menebak tepat pada intinya.
Wenda hanya tersenyum sinis mendengar ucapan Cean.
Makanan pesanan Cean dan Neska akhirnya datang diantarkan oleh pelayan.
"Oke, Wen. Kayaknya kita mau makan dulu ya. Kamu boleh pergi sekarang." Cean mengusir Wenda secara terang-terangan, membuat Wenda melongo mendengarnya.
"Sombong kamu, Cean! Lupa ya dulu bucin banget sama aku!" cibirnya.
Neska berdecak lidah, dia tidak tahan lagi untuk tidak bersuara. Dia berhak, kan? Toh disini dia yang adalah pasangan Cean.
"Mungkin dulu Kak Cean memang bucin sama kamu. Tapi kamu sendiri yang bilang itu dulu. DULU!" Neska menekankan kata terakhirnya.
Wenda menyeringai sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tampak tak gentar akibat ucapan Neska.
__ADS_1
Sementara Cean, dia takut jika Neska sudah angkat suara seperti ini. Cean tidak mau ini akan berimbas padanya nanti. Pertemuan dengan Wenda kan bukan disengaja olehnya. Dia tidak mau Neska nanti jadi ngambek padanya.
"Ya udah, deh. Semoga kalian langgeng ya." Kali ini Wenda berujar dingin dan sinis. "Ingat, semoga! Karena tabiat Cean itu gak bisa sama satu cewek aja!" tambahnya dan berlalu pergi dari sana.
Neska menghela nafas panjang, selera makannya serasa hilang entah kemana.
"Ya udah, ayo kita makan, hmm?" Cean menawari Neska seolah tidak pernah terjadi apapun disana.
Neska menatap Cean dengan tatapan jengah.
Cean memejamkan matanya singkat, benar saja Neska jadi marah padanya karena pertemuan dengan Wenda yang tanpa pernah diduga sebelumnya.
"Maaf, ya. Pasti kamu jadi badmood ya karena Wenda."
"Apa ke depannya kita bakal seperti ini lagi, Kak?"
"Seperti ini gimana?" tanya Cean tak paham.
"Pas kita kemana-mana, ketemu sama barisan mantan-mantan kakak."
Alih-alih menganggap ucapan Neska serius, Cean malah terkekeh mendengarnya.
"Ya, mau gimana lagi. Aku gak bisa merubah masa lalu aku yang buruk, Sayang."
Neska memutar bola matanya. Andai saja Cean bukan pria yang di cap playboy, pasti mereka tak perlu sering bertemu dengan mantan-mantan kekasih Cean yang jumlahnya Neska tak ingin tahu.
"Ya udah, sekarang kita makan ya."Cean mulai mengambil sendok dan bersiap untuk makan. Dia masih melihat Neska diam saja akhirnya dia berinisiatif untuk menyuapi gadis itu.
Awalnya Neska menolak, tapi kemudian pasrah saat Cean terus mendesaknya agar makan dari suapan pria itu.
"Aku minta maaf ya. Tapi aku udah banyak berubah karena kamu. Kehilangan kamu beberapa tahun, jauh dari kamu juga membuat aku sadar kalau aku harus berubah. Demi kamu."
Neska hanya bisa menjawab Cean dengan anggukan kemudian mereka melanjutkan sesi makannya.
...***...
Pesta pernikahan Cean dan Neska akhirnya akan berlangsung sebentar lagi. Hari yang ditunggu itu sudah tiba. Dimana Cean akan mengucapkan ikrar suci pernikahan.
Neska menggunakan pakaian pengantin yang sangat anggun membalut tubuh mungilnya. Dia juga mengenakan tiara seperti mahkota kecil di kepalanya. Neska tampak cantik dengan make-up sederhana yang dipoles ke wajahnya.
"Ya ampun, cantiknya menantu mama."
Mama Yara menyongsong pada keberadaan Neska yang masih tampak didandani didepan cermin besar yang dipasang dikamar gadis itu dalam kediaman orangtua Cean.
"Makasih ya, Ma." Neska memang sudah memanggil Mama Yara dengan sebutan 'mama' atas dasar pemintaan wanita paruh baya itu.
"Semuanya udah siap di bawah. Cean juga udah ada disana. Kita turun sekarang, yuk!"
Neska mengangguk. "Tunggu Sheila dulu ya, Ma. Tadi dia kirim pesan, katanya udah mau nyampek," jelasnya.
__ADS_1
"Oh, oke deh. Mama nunggu disini aja."
Mama Yara pun duduk, memperhatikan Neska yang juga sudah selesai dengan seorang perias pengantin disana.
"Kamu gugup, ya?" Mama Yara mulai menanyai Neska sekarang.
"Iya, Ma. Sangat."
"Kamu berdoa aja, semoga Cean bisa ijab Qabul tanpa halangan yang berarti."
"Iya, tapi tetap aja Neska takut, Ma."
"Coba bilang sama Mama, apa yang kamu takutkan?"
"Entahlah, Ma. Neska takut aja. Salah satunya takut Kak Cean salah sebut nama," kelakar Neska yang membuat Mama Yara jadi tertawa.
"Yakin dan percaya, Cean gak akan salah nama. Orang pas tidur aja nyebutnya nama kamu, apalagi pas sadar."
Neska ikut tertawa. Kadang Mama Yara memang sering bercanda tapi yang kali ini dikatakannya memang ada benarnya sebab Neska juga pernah mendengar Cean tertidur sambil memanggil-manggil namanya. Waktu itu, Cean tertidur di ruang tv setelah menunggui Neska yang berbelanja dengan Mama Yara.
"Hai, Tante, Hai Neska. Maaf ya, agak lama, tadi lumayan macet soalnya." Rupanya gadis yang ditunggu-tunggu sudah datang. Ada Sheila disana, dia tampak cantik dengan gaun simpel berwarna nude.
"Iya, gak apa-apa, Sheil. Acaranya juga belum di mulai." Mama Yara menanggapi.
"Kenapa belum turun, sih?" tanya Sheila. "Kayaknya dibawah udah rame, aku pikir tadi kamu udah di bawah, ternyata Grey bilang kamu masih dikamar sama Tante Yara juga."
"Iya, tadi aku nungguin kamu. Mau turun sama kamu juga."
"Huu, aku jadi terharu deh ditungguin." Sheila berlagak memeluk Neska dari jauh.
"Iya, aku nungguin kamu karena mau minta tolong buat pegangin ekor baju pengantinnya," ledek Neska yang sebenarnya tidak serius.
Sheila langsung mencebik. "Ya ampun, padahal aku udah terharu," katanya yang kini berlagak menangis dengan menghapus airmata yang sebenarnya tidak ada.
Mama Yara sontak tertawa melihat keakraban Sheila dan Neska disana. Dia jadi teringat dengan sahabatnya juga.
"Ya udah, sekarang kita turun yuk. Semua pasti udah nungguin."
Mama Yara menuntun Neska keluar dari kamar dengan perlahan-lahan, karena gaun pengantinnya memang menjuntai sampai ke lantai.
"Selamat menikmati jadi pengantin." Mama Yara mengecup sekilas pipi Neska kiri dan kanan. "Semoga kamu bisa menjadi istri yang baik untuk Cean, ya, Nak. Mama juga berharap Cean bisa menjadi suami yang baik buat kamu, Mama mau kalian langgeng dan bisa menghadapi berbagai keadaan dan ujian dalam pernikahan," paparnya.
Neska merasa amat terharu, bagaimanapun Mama Yara bertindak seolah menjadi ibu kandungnya disini.
"Aamiin. Makasih banyak, Ma. Selalu doakan yang baik-baik untuk kami semua ya, Ma."
Dua perempuan yang berbeda generasi itupun berpelukan, disaksikan Sheila dan seorang perias pengantin yang masih ada disana.
...Bersambung ......
__ADS_1