TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
33. Bendera permusuhan


__ADS_3

Rion mungkin bisa menerima jika saingannya adalah orang lain. Karel, misalnya. Tapi, jika ini adalah kakaknya sendiri, rasa-rasanya tidak etis jika dia sampai terlibat cekcok dengan sang Kakak hanya karena seorang gadis.


Akan tetapi, perasaan Rion terhadap Neska pun tidak bisa untuk diremehkan begitu saja, dia serius pada gadis itu. Dia menyayangi Neska dan tidak mau jika gadis itu terluka apalagi hanya karena mengharapkan Cean yang jelas-jelas Rion tahu sebagai ahli pemain wanita.


Bukankah sifat playboy Cean sudah bukan rahasia lagi di keluarga besar mereka? Bahkan Aura sering menyinggungnya disaat mereka berkumpul bersama.


Maka, dengan tidak sopannya, Rion menatap Cean dengan tatapan tidak suka. Bagaimana mungkin Cean akan menjadikan Neska sebagai kandidat korban patah hati selanjutnya? Dan Rion tidak mau itu sampai terjadi, Neska lebih baik bersamanya ketimbang bersama Cean yang tidak pernah serius dalam menjalani sebuah hubungan.


"Kak Cean, ngapain ikut ke Singapore?" Akhirnya, Rion melemparkan pertanyaan yang sebenarnya sudah dapat dia tebak sendiri jawabannya. Rion ingin tau, apakah jawaban Cean mengenai hal ini.


"Oh, Kakak cuma mau memantau perusahaan pusat aja."


Ternyata, Cean lebih memilih berkilah, pikir Rion. Baiklah, kita mainkan peran masing-masing. Jika Cean terus berbohong maka Rion pun akan tetap bersikap bodoh dan pura-pura tidak tau. Entah sampai kapan, mungkin sampai batas kesabarannya habis.


"Oh, bukannya perusahaan pusat udah diawasi sama Kak Aura?" Kini Rion menatap kakak perempuannya yang tengah makan dengan cukup lahap.


"Eh?" Aura sadar jika dia tengah ditatapi sekarang. "Kakak lagi gak ngurusin perusahaan, Dek. Jadi, biar aja Cean yang ngurus. Kebetulan banget dia mau kesini juga, kerjaan Kakak jadi lebih ringan," paparnya. Sejujurnya, kini Aura bingung dengan gelagat kedua saudaranya.


Neska sendiri tidak menyadari ada hawa panas yang terselubung dari tatapan kedua pemuda yang berada satu meja dengannya, dia memilih menikmati makan malam ini kendati sore tadi sudah makan bersama dengan Rion di Mall.


Suasana yang absurd dan lebih banyak keheningan itu menjadi ramai kembali ketika Aura sudah menyelesaikan sesi makannya. Dia mengajak mereka semua mengobrol, terutama menanyakan keseharian Neska dan Rion selama satu bulan berada di Singapore.


...***...


Aura, Cean dan Rion mengantarkan Neska pulang ke gedung Apartmen gadis itu yang ditinggali selama kuliah di Negara Singa.


Disanalah Rion bisa bernafas lega, setidaknya sekarang Neska sudah lepas dari cengkram tatap yang selalu Cean berikan kepada gadis itu.


Rion tidak menyukai cara Cean menatap gadisnya. Meski Cean selalu berusaha menyembunyikan sikap dan tatapan itu didepan semuanya, tapi Rion dapat membacanya.


Rion semakin yakin kakaknya kini berubah pikiran. Cean sudah mulai menatap Neska sebagai seorang gadis, bukan lagi seorang adik kecil seperti perkataannya delapan bulan yang lalu.


Ya, satu hari saja perasaan bisa berubah. Apalagi sudah delapan bulan. Semuanya mungkin saja.


Akan tetapi, Rion yakin jika Cean lah yang tidak mampu mengartikan perasaan itu, padahal cara tatap Cean pada Neska sudah dapat menjelaskan segalanya tanpa perlu Rion menanyakannya lebih lanjut. Dia juga seorang pemuda. Meski umurnya masih belasan tahun, tapi Rion mampu memahami banyak hal dengan cukup baik berkat intuisi, wawasan serta kecerdasan yang ia miliki.


"Kita antar Rion ke apartmennya dulu," usul Cean setelah taksi yang mereka tumpangi mulai berjalan meninggalkan gedung Apartemen Neska.


"Aku bisa pulang sendiri, kita antar kak Aura dulu." Suara Rion menyahut dingin.

__ADS_1


"Kamu duluan pulang, Dek. Aura bisa pulang sama Kakak," jawab Cean.


"Memangnya Kakak mau menginap di gedung Apartmen yang sama dengan Kak Aura?"


"Ya, enggak."


"Terus, Kakak nginap dimana selama di Singapore?"


"Di hotel, lah."


"Kenapa gak nginap di Apartmen aku aja?"


"Gak usah," tolak Cean.


"Kenapa? Kakak takut aku tau maksud kakak yang sebenarnya kenapa datang kesini?"


"Apa maksud kamu?"


"Udahlah, Kak. Tujuan Kakak udah ketebak!" tukas Rion, membuat Cean yang duduk disamping sopir menoleh ke belakang untuk dapat melihat sang adik.


"Kamu kenapa?" tanya Cean kemudian.


Cean mendengkus pelan, menahan ledakan emosinya, bisa-bisanya Rion memancing kemarahannya seperti ini. Tapi, Cean sadar bahwa ini tak luput dari kesalahannya juga, dia tau Rion tegah protes karena kedatangannya yang tiba-tiba.


"Kalian kenapa, sih?" Aura yang sejak tadi memilih diam dan memperhatikan, kini mulai angkat suara dan menimpali. "Apa yang kalian perdebatkan ini? Dari awal, aku udah ngelihat ada yang aneh diantara kalian!" tandasnya kesal.


"Kakak tanya aja sama Kak Cean," jawab Rion malas.


"Kenapa jadi aku? Emang aku ngapain?" jawab Cean enteng, merasa tak berdosa.


"Kalian kayak anak kecil, tau gak!" Aura menatap Cean. "Ingat umur kamu, gak seharusnya kamu berdebat gini sama Rion!" omelnya.


Kini Aura menoleh pada adik bungsunya. "Kamu juga, gimanapun juga Cean itu Kakak kamu, Dek!" tukasnya.


Cean dan Rion kompak membuang pandangan ke arah kaca jendela mobil. Tidak ada percakapan lagi, mendadak suasana menjadi hening.


Sampai akhirnya, taksi hampir mencapai kawasan dimana Apartmen Rion berada. Wajah Rion masih sama seperti tadi, tampak murung dan tidak senang.


"Kalian kayak anak-anak yang sedang berebut mainan. Apa yang sebenarnya kalian ributkan? Atau jangan-jangan kalian memang sedang memperebutkan sesuatu?" tanya Aura sebelum Rion benar-benar turun dari taksi itu.

__ADS_1


"Gak ada apa-apa," jawab Cean dengan acuh tak acuh.


Rion tersenyum getir. Masih saja Cean mau berkilah, pikirnya.


"Akan ada saatnya Kak Aura akan tau semuanya. Kita sama-sama menantikan hal itu, Kak. Sampai orang itu jujur apa maksud dia sebenarnya!" kata Rion menekankan kata 'orang itu', tentu yang dia maksudkan disini adalah Cean.


Cean tersenyum miring dalam posisinya, dia tau Rion marah, tapi dia tak mau menyulut kemarahan adiknya lagi dengan menjawab sindiran Rion, jadi Cean lebih memilih diam dan memperhatikan Rion yang keluar dari taksi mereka.


"Kamu ... gak mau nginap di Apartmen Rion aja?" tanya Aura sebelum taksi kembali berjalan.


"Enggak," jawab Cean tenang.


"Ya udah, aku langsung balik ke Apartmenku aja. Kamu jadi nginap di Hotel?"


Cean mengangguk, meski dia belum membooking satupun kamar hotel untuk tempat bernaungnya malam ini.


"Dasar aneh, punya saudara yang menempati Apartmen malah mau nginap di hotel."


"Gak biasa numpang," canda Cean dengan kekehan.


Aura mencibir dalam posisinya, membuat Cean semakin terkekeh karenanya.


Sepulang mengantar Aura, Cean memilih check in di hotel yang masih satu lingkup dengan gedung Apartmen Aura.


Dia memb-anting tubuh ke atas kasur berukuran besar dan kembali menatap langit-langit kamar. Tidak ada rasa lelah atas perjalanannya hari ini, yang ada sebuah senyuman terbit disatu sudut bibirnya.


"Apa sekarang aku harus mengakui kalau aku sesuka itu sama gadis yang dulu ku anggap anak kecil?"


Cean mengusap wajahnya berkali-kali. Jika melihat pada kenyataan, rasa-rasanya perasaannya itu sangat terlambat. Neska sudah bersama dengan Rion sekarang. Kenapa tidak dari dulu dia menyukai Neska seperti saat ini? Apalagi dulu dia sempat menolak gadis itu dengan mengatakan bahwa Neska hanyalah adik baginya.


"Menikung adik sendiri itu gak dosa kali ya, kalau Neska juga mau, iya kan?" bisik hati Cean kepada dirinya sendiri.


Tapi, buru-buru Cean mengenyahkan pemikirannya itu. Dia tidak boleh berpikir untuk merebut Neska sebab dengan kedatangannya saja, Rion sudah membuka bendera permusuhan diantara mereka. Jika nanti dia nekat, Cean takut Rion benar-benar akan mengibarkan bendera itu.


"Kenapa sih Neska harus pacaran sama Rion?" gerutunya kemudian.


Bersambung ...


Next? Kalau banyak yang komen, aku kasih bonus 1 bab lagi hari ini + blurb novel baru tentang Aura😅

__ADS_1


Gimana? Bab ini emosi sama Cean gak?🤪


__ADS_2