TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
53. Gombal


__ADS_3

Neska kembali pada rutinitasnya selama di Singapore. Dia kuliah seperti biasanya dan tanpa sengaja bertemu dengan Rion.


Masih ingatkan jika mereka satu Universitas meski berbeda jurusan?


"Nes? Udah balik? Gimana kerjaannya?" sapa Rion pada gadis itu.


"Oh, iya, udah ... kebetulan aku udah tandatangani kontraknya, kok."


Rion mengulumm senyum sekarang. "Jadi, gimana?" tanyanya penuh arti.


"Gimana? Gimana apanya?" Neska pura-pura tak tahu kemana arah pertanyaan Rion, padahal dia sudah menebak pasti pemuda ini mau membahas soal Cean.


"Kalian ketemu, kan?"


Neska mengangguk. "Kenapa kamu gak bilang dari awal kalau kerjaan itu ada sangkut pautnya sama Kak Cean?" tanyanya.


"Aku cuma mau buat kalian kaget aja. Sekalian mau tau apa respon Kak Cean pas ketemu kamu lagi ya walaupun aku udah bisa nebak kalau dia pasti seneng banget, kan?"


Neska mengendikkan bahu, dia tak mau terang-terangan pada Rion, apalagi terkait hubungannya dengan Cean. Entahlah, meski sekarang mereka hanya sebatas teman tapi Neska tak mau sedekat itu pada Rion sebab dia juga menghargai perasaan Sheila yang sudah menjadi sahabatnya dan menyandang status sebagai pacar Rion sekarang.


"Oke lah. Aku harap yang terbaik aja untuk kalian ya." Rion pamit dari hadapan Neska, ucapannya sungguh-sungguh, dia memang mau melihat kedua orang itu bahagia. Neska dan Cean, sang kakak.


Neska menatap kepergian Rion, tampaknya pemuda itu memang sudah benar-benar move on darinya. Syukurlah, Neska bisa tenang menjalani hubungan dengan Cean, dia tidak perlu memiliki rasa bersalah pada Rion lagi. Neska juga tenang karena itu berarti Rion benar-benar serius dengan Sheila. Neska juga berharap yang terbaik untuk mereka berdua.


...***...


Hari ini Neska kedatangan tamu dari Indonesia, itu adalah Marko dan tim yang kemarin datang untuk melakukan sesi foto padanya.


"Nes, kita kesini lagi sekalian mau lihat proses produksi di pabrik utama. Jadi, hari ini kita mulai pemotretan lagi ya."


Neska mengangguki perkataan Marko dan dia kembali berinteraksi dengan yang lainnya disana.


"Nes, ini baju kamu. Coba fitting kilat," kata Farah menimpali.


Kabarnya, mereka tidak akan lama disana sebab mereka disana hanya untuk mengikuti Marko saja, jadi sekalian curi kesempatan untuk mengambil gambar. Tim yang ikutpun hanya Zain dan Farah. Dewi, Rasti dan beberapa crew yang lain tidak ikut kesana karena ini juga dadakan.


"Oke, kita mulai ya." Zain mengambil alih setelah Neska didandani dan disiapkan penampilannya oleh Farah alias Fahri.


"Lihat kesini, Nes. Fokus, jangan kayak lagi mikir gitu." Zain memberi instruksi.


Sementara Marko memperhatikan semua yang sedang dilakukan dalam lokasi pemotretan tersebut.


"Oke, besok kita pemotretan lagi ya, Nes. Kebetulan kita dua hari doang disini jadi kita bakal ambil Angke foto yang lumayan banyak karena produk baru juga bakal di rilis."


Neska mengangguki saja perkataan Marko yang terkesan sangat menguasai pekerjaannya itu.


"Oke, let's rest," kata Zain yang sudah mendapatkan beberapa foto Neska dengan produk baru mereka.


Mereka pun mulai beristirahat, Farah tampak memindai wajah Neska untuk mengecek make-up nya. Zain sendiri menekuri hasil foto di kamera sembari meminum air mineral botolnya. Sementara Marko tampak sibuk menelepon di seberang sana.


"Nes!"


Neska menoleh pada Marko yang memanggilnya.


"Ya, Pak?"


Neska mau menghampiri Marko tapi Farah sedang memoles wajahnya kembali. Akhirnya Marko yang mendatangi posisi gadis itu.


"Foto-foto kamu bakal masuk iklan dan majalah dalam beberapa Minggu ke depan. Sebelum itu, kita bakal konferensi pers lebih dulu," terang Marko.

__ADS_1


"Untuk?" respon Neska.


"Untuk mengumumkan kalau kamu udah resmi menjadi Brand Ambasador produk kita, Beauty Lovely lotion and handbody."


Neska mengangguk paham.


"Ah satu lagi, sebelumnya BA kita itu Jelita Dwinaya. Kamu tau, kan?"


"Jelita Dwinaya yang model busana itu kan, Pak?"


Tentu saja Neska tau dan sering melihat Jelita yang adalah model papan atas. Wanita itu sering membintangi iklan dan endors produk-produk kecantikan. Jelita juga kerap muncul di layar kaca dan mengikuti pagelaran busana dari para desainer ternama.


"Nah, yang itu." Marko menjentikkan jari pada Neska. "Jadi, konferensi pers kali ini bukan sekedar mengumumkan pengganti Jelita saja, tapi sekaligus mau memperkenalkan kamu pada publik. Selamat ya, mulai sekarang kamu bakal jadi sorotan dan tontonan banyak orang," katanya menambahkan.


"Gitu ya, Pak?"


"Kenapa? Kok kayak gak antusias gitu? Kamu gak seneng kalau terkenal?"


Neska mengibaskan tangannya. "Bukan gitu, Pak. Tapi..." Neska tampak ragu, karena dia sebenarnya akan risih jika mulai sekarang hidupnya akan menjadi bahan perhatian banyak orang.


"Saya harap kamu bisa menjaga sikap, ya, Nes. Apalagi kamu akan menyandang dan membawa nama besar perusahaan ini." Marko mewanti-wanti Neska.


...***...


"Capek?"


Neska mengangguk pada ponselnya, disana kembali terjadi panggilan video antara dia dengan Cean. Mau bagaimana lagi, untuk sekarang mereka memang harus terikat hubungan jarak jauh seperti ini.


"Nanti kalau udah jadi istriku kamu gak usah kerja lagi ya."


Neska terkekeh mendengar penuturan laki-laki itu.


"Lucu lah, kita baru pacaran beberapa Minggu, tapi omongan kakak udah soal menikah terus." Neska mengerucutkan bibir.


Cean ikut tertawa. "Ya, gimana lagi kamu tau kan aku bukan anak remaja lagi. Kemana lagi tujuan aku kalau sedang menjalin hubungan serius? Pasti pembicaraanku akan nyerempet soal pernikahan, Nes."


"Kebelet banget, emang?" olok Neska.


Cean meringis keki. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tampak salah tingkah.


"Kebelet, tapi sama kamu ya," paparnya terus terang.


Neska terbahak disana, disambung dengan suara tawa Cean yang juga merasa geli dengan ujarannya sendiri.


"Kalo sama yang lain?" tanya Neska.


"Ogah," sahut Cean tanpa berpikir lama.


Mereka saling melempar tawa satu sama lain. Cean memperhatikan wajah Neska yang bahagia. Dia ikut senang dengan hal itu, ingin rasanya dia ada disana, didekat gadisnya.


"Oh iya, Kak. Kata Kak Marko aku bakal ikut konferensi pers."


"Ah, soal itu... iya, kamu harus ikut karena kamu udah jadi BA kan sekarang?"


"Hmm, tapi entah kenapa aku jadi ngerasa gak enak hati, Kak."


"Kenapa?"


"Ya karena bakal di kenal banyak orang."

__ADS_1


"Itu resiko pekerjaan kamu yang sekarang, kan? Atau kamu mau aku pakaikan topeng?" goda Cean.


Neska terkekeh lagi. Dia cuma takut semua ini akan berimbas pada kehidupan pribadinya yang juga akan jadi terekspos dan menjadi konsumsi publik.


"Sayang, aku tau kekhawatiran kamu. Seharusnya sejak awal kamu udah memikirkan resiko ini saat kamu menerima kontrak kerjanya."


Sekarang Neska merengut. "Aku gak sempat mikir, Kak. Waktu itu kan kakak yang nyuruh aku harus nerima dan gak boleh nolak kontraknya."


Cean melipat bibirnya, dia ingat saat pertemuan pertamanya dengan Neska di kantor waktu itu. Ya, dia memang meminta Neska untuk memastikan bahwa sang gadis tidak menolak pekerjaan itu. Saat itu, dalam pemikiran Cean hanyalah tak mau kehilangan Neska lagi dan tak ingin Neska menghindarinya lagi, untuk itulah dia meminta Neska harus menerima penawaran kerjanya.


"Maaf, harusnya waktu itu aku memikirkan lagi resiko ini yang akan kamu tanggung, tapi saat itu di pikiranku cuma bagaimana caranya supaya kamu gak pergi lagi."


"Aku tau kok, Kak."


"Beneran kamu tau maksud aku waktu itu?"


Neska menganggukkan kepalanya.


"Ya udah, kamu jangan mikirin resikonya terus. Gimana kalo kamu mikirin hikmah dari konferensi pers itu," pinta Cean.


"Hikmah? Hikmah apa, Kak?"


"Setidaknya, konferensi pers itu bakal buat kamu datang lagi ke Indonesia."


Kali ini Neska benar-benar merasa lucu.


"Aku kangen, Nes. Video call setiap hari aja gak cukup buat aku."


"Terus, kakak maunya apa?" tanya Neska.


"Aku maunya nempelin kamu terus."


"Hahah, kayak koyo dong," ejek Neska.


"Apapun, aku mau jadi apapun asal itu buat kamu."


"Ini gombal gak sih? Lama-lama jiwa ke playboy-an kakak muncul lagi nih!"


Cean terkekeh. "Justru pas masih playboy aku gak pinter berkata-kata, sayang. Udah aku bilang cuma sama kamu doang ini."


"Aku gak percaya," kata Neska disertai senyum usil.


Cean mengedipkan sebelah matanya membuat Neska semakin terkekeh saja.


"Udah ih ..."


"Kenapa?" tanya Cean berlagak tak paham jika Neska tengah karena salting digodai olehnya.


"Aku bisa meleleh kalo di gombalin terus," sungutnya.


"Kalau kamu meleleh, biar aku yang jadi penampungnya."


"Ish, garing banget," kata Neska memutar bola matanya.


Mereka lalu tertawa bersama karena percakapan absurd tersebut.


Bersambung ...


Yak yak... dah mau masuk konflik. Pegangan yaaaa🤭

__ADS_1


__ADS_2