TETANGGA MERESAHKAN

TETANGGA MERESAHKAN
15. Aku suka dia


__ADS_3

Neska akhirnya mengikuti Karel ke kediaman pemuda itu. Dia akan bekerja paruh waktu di rumah besar milik orangtua Karel.


Disana, Neska diperkenalkan Karel dengan ibunya yang masih cantik diusia yang sudah cukup berumur.


"Ma, ini Neska. Dia temen sekolah aku yang aku bilang mau bantuin disini, bersih-bersih rumah kita."


Neska mengulurkan tangan kepada Ibu Karel. Sayangnya, ibu pemuda itu tidak menyambutnya dengan hangat. Padahal Neska ingin menyalami jemari itu dengan takzim.


"Ya udah, kamu aja yang kasih lihat kerjaannya sama dia," kata Ibu Karel sambil melipat tangannya di dada. "Mama mau belanja keluar, mama pergi ya," tandasnya.


Karel menatap mamanya lama, seolah memberi suatu isyarat. Sayangnya, sang ibu tidak menangkap maksud anaknya. Wanita paruh baya itu berlalu meninggalkan Karel dan Neska di ruang tamu.


Sementara itu, di luar rumah, Rion mengernyit heran saat melihat Karel tidak mengantarkan Neska pulang melainkan mengajak gadis itu ke kediamannya sendiri.


"Mau ngapain mereka?" Rion bertanya-tanya dalam hati. Tapi, dasarnya dia cuek, dia hanya mengendikkan bahu acuh tak acuh dan kemudian memilih menunggu didekat kios terdekat, lalu memesan minuman disana.


"Nes, kamu bersihin aja bagian disini. Biasanya lantainya di pel, tapi hari ini belum, sih."


Karel menatap Neska sungkan. Dia sebenarnya tidak tega menyaksikan gadis itu bekerja keras, hanya saja Neska merasa ini pekerjaan yang biasa dia lakukan.


"Oh, oke, Rel."


Neska mengambil alat pel di tempat yang sudah Karel tunjukkan. Dia terpaksa bekerja mengenakan seragam sekolah, karena tadi belum sempat pulang untuk berganti pakaian.


Karel memperhatikan Neska dalam jarak yang tidak terlalu jauh. Dia merasa senang, kagum dan suka disaat bersamaan pada gadis itu. Tidak sekalipun dia memandang Neska remeh. Dia menyukai sikap Neska yang apa adanya.


"Nes? Kalau capek, kamu bisa makan dan minum dulu."


Karel menyediakan cemilan dan minuman membuat Neska semakin sungkan. Bukankah disini Karel yang tuan rumahnya?


Waktu berlalu dengan cepat, setelah selesai mengepel lantai ruang tamu dan ruang tengah, Neska juga menyed0t debu dengan alat yang tersedia. Tidak begitu lelah sebenarnya--karena pada dasarnya rumah Karel memang sudah bersih.


"Nes, makan dulu, yuk."


Karel mengajak Neska makan siang dirumahnya. Tentu saja Neska menolak. Neska terlalu sungkan apalagi sambutan Mama Karel tidak seramah dan sehangat ekspektasinya.


"Gak usah, tadi kan aku udah makan pas di sekolah."


"Tadi kamu gak selera makan, kan? Lagian ini makan siang. Beda lagi, Nes."


Neska menggeleng pelan sebagai penolakan halus.


"Kalau gitu, cemilannya dong dimakan."


Akhirnya Neska mengikuti keinginan Karel yang satu ini, dia mendudukkan diri di sofa tepat disebelah pemuda itu terduduk.


"Ini, coba kamu cobain yang ini." Karel mengambil sebuah kentang goreng dan mau menyuapi Neska saat itu juga.


Neska mau menolak, tapi Karel tetap memaksanya hingga mau tak mau Neska memakan kentang dari tangan pemuda itu.


"Enak, kan?" tanya Karel amat senang. Neska pun menganggukinya.


"Nes?"


"Ya?"


Mereka saling bertatap-tatapan lama, hingga akhirnya Karel tidak bisa menahan dirinya, tangannya terulur dan mau mendekatkan wajah ke arah Neska.


Neska melotot dengan tindakan Karel. Tentu dia terkejut. Bibir Karel nyaris menempel di bibirnya kalau saja dia tak segera sadar dengan niat pemuda ini.


"Rel, apa-apaan, sih?" Neska segera bangkit dari duduknya. Dia terperanjat kaget karena tindakan Karel yang sudah keluar dari jalur.


Karel menahan pergelangan tangan Neska. "Nes, sekali aja."


"Sadar, Rel! Kita gak sedekat itu dan kita gak punya hubungan yang serius untuk ngelakuin hal itu," kata Neska tegas.


Karel berdecak lidah sekilas. "Gak perlu hubungan yang serius, Nes. Ini murni untuk percobaan. Udah biasa juga, apa kamu gak penasaran gimana rasanya?" tanyanya tanpa rasa bersalah.


Neska menepis keras tangan Karel. "Jangan macem-macem, Rel. Atau anggap aja kita gak pernah kenal setelah ini."


"Nes?" Karel menatap Neska dengan tatapan tak percaya. Apa segininya gadis ini tak mau dengannya?


"Aku pulang, Rel. Soal kerjaan aku hari ini, anggap aja aku bantu-bantu secara percuma. Makasih!" Neska menatap Karel tajam sembari mengambil tas nya kembali.

__ADS_1


"Neska? Apa sih kurangnya aku? Kenapa kamu selalu nolak aku, Nes?" teriak Karel saat Neska sudah berada diambang pintu.


"Kamu gak kurang satu apapun, Rel. Kamu terlalu sempurna sampai kamu lupa menghargai orang lain." Neska pergi setelah mengucapkan kalimat itu.


Karel mendengkus keras, dia tidak mengejar Neska karena ucapan gadis itu sangat menampar relung hatinya. Apakah dia sudah bertindak terlalu jauh hingga bersikap seakan tidak menghargai Neska? Karel menyesal dan sangat menyesalinya.


Neska menitikkan airmatanya. Bukan karena perbuatan Karel saja yang membuatnya kecewa, tapi karena kata-kata pemuda itu.


"Gak perlu hubungan yang serius, Nes. Ini murni untuk percobaan. Udah biasa juga, apa kamu gak penasaran gimana rasanya?"


Kata-kata itu terngiang di kepala Neska, apa Karel mau menjadikannya bahan percobaan demi mengetahui rasa sebuah ciuman? Demi melenyapkan rasa penasarannya?


"Tega kamu, Rel!" gumam Neska dan menutup gerbang tinggi kediaman Karel.


Neska keluar dari sana dan tentu itu tampak di pandangan mata Rion.


"Apa gue bilang, mencari peruntungan itu gak selamanya buntung," kata Rion semringah. Dia segera membayar minumannya dan mengendarai motornya kembali.


Neska sadar bahwa ada sebuah motor yang mengikutinya yang sedang berjalan kaki untuk keluar dari kompleks perumahan elite itu.


"Rion?" Tentu Neska kaget.


"Mau nebeng, enggak?" tawar Rion tanpa babibu.


Neska menggeleng dengan semburat wajah sendunya yang terlihat dimata Rion.


"Lo kenapa?" tanya Rion merasa aneh dengan raut wajah gadis itu.


"Gak ada."


"Ya udah, ayo! Gue gak bakal nawarin dua kali."


Neska berpikir sesaat, tapi kemudian dia menyetujui tawaran Rion untuk berboncengan karena merasa tak memiliki pilihan lain. Ponselnya yang biasa digunakan untuk memesan ojek online juga lowbet dan dia tak tau seberapa jauh jarak berjalan dari depan rumah Karel sampai bisa menemukan jalan raya.


"Pegangan."


"Hah?"


"Pegangan, Nes!" kata Rion dan Neska mengikuti instruksi pemuda itu dengan memegang kiri-kanan kain jaket yang Rion kenakan.


"Apa?" Neska tak begitu mendengar karena suara ribut dari motor yang Rion kendarai.


"Ngapain ke rumah ketua kelas lo?"


"Gak ada."


"Kenapa lo nangis?"


"Gak, gue gak nangis," sanggah Neska berdusta.


"Gue gak buta. Dia ngapain lo?"


"Gak ada. Udah, gue mau cepat sampe rumah."


Rion pun diam, dia tak mau memaksa Neska lagi. Dia mengantarkan gadis itu sampai ke depan gedung Apartmennya.


"Makasih ya, gue gak tau ternyata lo mau nebengin gue," kata Neska.


"Bilang gue baik."


"Hah?"


"Bilang aja kalau gue baik." Rion tersenyum smirk dari balik helm yang ia gunakan.


"Iya, lo baik. Makasih ya."


Rion menipiskan bibir. Dia mau melajukan motornya lagi setelah mengantarkan Neska, tapi matanya melihat seseorang yang membuatnya terpana beberapa saat. Orang itu memasuki gedung Apartmen tua yang Neska katakan sebagai tempat tinggalnya.


"Ini Apartmen bebas dikunjungi siapapun?" tanya Rion yang tak jadi pergi.


Neska sedikit heran dengan pertanyaan Rion. "Bebas-bebas aja, sih," sahutnya.


"Gue ... boleh ikut masuk ke dalam?"

__ADS_1


"Ngapain?"


"Mau lihat unit lo yang mana."


"Tapi ..." Neska tampak ragu-ragu.


"Anggap aja ini bayaran karena gue tadi nebengin lo."


Neska tampak syok dengan ujaran Rion. "Oke, tapi gak usah mampir ya," katanya.


Rion tergelak, disanalah Neska sadar pemuda ini cukup manis juga dan tawa Rion justru terlihat familiar di pandangan mata Neska, padahal Neska tak pernah melihat pemuda ini tertawa sebelumnya. Asli baru hari ini dia melihat wajah Rion sesenang ini.


"Biasanya, orang malah nawarin mampir, lo malah ciut duluan," kata Rion.


"Yaudah, ayo!" kata Neska kemudian. Dia tak mau membuang-buang waktu. Sesudah mengajak Rion untuk tau unitnya, dia akan segera meminta pemuda itu pergi, pikirnya.


Rion masuk ke gedung apartemen itu setelah memarkirkan motornya di basement.


"Ini unit lo?"


Neska mengangguki pertanyaan Rion. Tapi setelah itu Neska heran karena Rion justru tampak melihat kesana-kemari--seperti mencari sesuatu.


"Ya udah, gue balik," kata Rion kemudian.


"Oke, sekali lagi makasih ya."


Rion berdehem pelan sembari berbalik badan.


Baru saja Neska ingin membuka pintu apartmennya saat Rion justru berbicara dengan seseorang disana--yang cukup didengar Neska secara jelas.


"Ternyata aku gak salah lihat, ngapain kakak disini?"


Secara otomatis, tubuh Neska berbalik arah demi melihat dengan siapa Rion berbicara.


"Kamu ngapain disini?"


Pertanyaan itu dilayangkan seseorang yang menjadi lawan bicara Rion, tapi suara itu tak asing dipendengaran Neska.


"Kok malah balik nanya, aku duluan nanya tadi, kakak ngapain disini?" tanya Rion pada orang itu.


"Kakak tinggal disini."


Neska mengucek matanya berkali-kali, melihat interaksi Rion dengan pemuda pujaan hatinya, Cean.


"Hahaha, kakak bercanda? Ngapain tinggal disini?"


Disaat pertanyaan itu dilayangkan Rion pada Cean, bersamaan dengan itu mata Cean menatap Neska yang berdiri termangu didepan pintu unitnya.


"Kakak udah bangkrut." Cean menjawab masih dengan tatapan mata mengarah pada gadis itu.


Suara ledakan tawa Rion pun menggema di koridor lantai 11.


"Ini bukan April mop, Kak. Okelah, aku balik dulu." Rion menganggap Cean sedang bergurau. Itu biasa diantara mereka.


"Kamu abis ngapain disini?" tanya Cean menghentikan langkah Rion yang hampir pergi.


"Abis nganterin teman." Rion menjawab biasa, dia tak sadar Neska masih disana dan mendengarkan percakapan mereka.


"Siapa? Neska?" Cean dapat menebak karena Rion memang satu sekolah dengan gadis itu.


"Hmm ... Kakak kenal?"


"Kalian pacaran?" Lagi-lagi Cean bertanya pada Rion, tapi tatapannya mengarah pada Neska disana.


"Belum," kata Rion dengan seringaiannya. Entah kenapa Cean tampak semakin kaku setelah mendengar pernyataan Rion kali ini.


"Jangan pacaran sama Neska." Cean memperingati.


"Kenapa?" Rion mengangkat bahu cuek. "Aku suka dia, Kak," paparnya.


Cean menggeleng samar. "Udah, pulang! Udah sore..." Kini, suara Cean semakin dingin saja, tapi Rion hanya tertawa dan berlalu dari hadapan saudara kandungnya itu.


Bersambung ....

__ADS_1


Next? Komen ✅


__ADS_2