
Cean mengernyit saat Marko menyebutkan sebuah nama yang menjadi saingan barunya. Jasper. Dia adalah anak pemilik Delmindo Corp,
"Kau serius?"
Marko menganggukkan kepalanya. "Aku sudah menyelidikinya. Dan yang kemarin mencari tau mengenai siapa CEO disini adalah orang suruhannya," tandasnya.
Cean menghela nafas dalam. Nyatanya pria bule itu bukan hanya menjadi saingannya dalam hal percintaan, tapi juga dalam hal bisnis.
"Ku pikir dia di Indonesia hanya karena Wenda, nyatanya ada maksud lain."
"Itu makanya, kau harus berhati-hati," saran Marko.
"Maksudmu?"
"Sekarang ku tanya, kau sama Wenda apa sudah dalam tahap yang terlalu cinta?"
Cean tersenyum miring akibat pertanyaan Marko.
"Jawab!" desak Marko.
"Apa itu perlu ku jawab? Aku hanya ingin belajar setia pada satu gadis dan Wenda yang ku pikir paling tepat untuk mendapatkan keistimewaan itu, mengingat dia yang bertahan disisiku saat tau aku bangkrut," papar Cean.
"Come on, Bro! Jangan terlalu naif. Aku sedang mengkhawatirkanmu. Jadi, jawab saja yang sejujurnya. Apa kau mencintai Wenda?"
"Khawatir? Untuk apa kau mengkhawatirkanku?" sahut Cean. Jujur saja, dia tak bisa menjawab perihal dia mencintai Wenda atau tidak. Dia bertahan pada gadis itu karena dia mengira Wenda adalah gadis baik-baik yang tak memikirkan apapun kondisinya. Itu saja. Tapi untuk cinta? Entahlah.
"Karena aku takut Wenda mau memanfaatkanmu untuk mendapatkan kelemahan perusahaan kita. Aku takut setelah dia tau semua itu, dia akan memberitahunya pada Jasper!"
"What?" Tentu Cean terperangah dengan pemikiran Marko yang jauh diluar prediksinya. Dia tidak pernah berpikir begini sebab dia tak pernah tau Jasper adalah saingannya dalam hal berbisnis.
"Ayolah, Man! Buka matamu lebar-lebar, jika kau tidak mencintai Wenda, tinggalkan dia sesegera mungkin sebelum dia tau rahasia perusahaan ini."
"Hmm, menurutmu begitu, ya?" Cean malah mematut senyum tipis.
"Iyalah!" sahut Marko yakin seyakin-yakinnya.
"Gak, aku gak akan meninggalkan Wenda secepat itu, Bro!"
"Apa? Kau jatuh cinta padanya?"
Cean mengendikkan bahu. "Soal itu, whatever ... tapi sekarang aku lebih tertarik menyelidiki ucapanmu daripada berpacaran dengannya," tukasnya kemudian.
Mendengar itu, akhirnya Marko ikut menipiskan bibir.
"Okelah, tapi jangan bawa perasaan!" katanya menepuk-nepuk pundak Cean dan berlalu.
Cean tersenyum smirk. Andai ia tau sejak awal jika Jasper adalah saingannya dalam berbisnis dan mulai mencari tau tentang dirinya, pasti dia akan bergerak lebih cepat untuk mewaspadai pria itu, termasuk Wenda juga. Apalagi Wenda dan Jasper bersahabat sejak lama, bukan tidak mungkin Wenda akan menusuk Cean dari belakang--demi sahabatnya--Jasper. Who knows? Tak ada yang bisa menjaminnya, bukan?
...~~~...
__ADS_1
Sementara itu, di sekolah Neska baru saja sadar dari pingsannya. Dia menatap beberapa orang yang ada di depannya dan sepertinya memang tengah menungguinya di UKS.
Disana bukan hanya ada Vita dan Karel yang mematut wajah khawatir. Tapi juga ada Rion. Ah, Neska mengingat jika terakhir kali sebelum dia pingsan--dia memang sempat mendengar Vita yang berdebat dengan Rion--entah karena apa.
"Nes?" Ketiganya serentak menanyai Neska yang baru saja mengerjapkan matanya itu.
"Duh," Neska refleks memegang kepalanya yang masih terasa nyut-nyutan.
"Masih sakit, Nes?" Karel lebih dulu angkat suara.
"Hmm, sedikit," ringis gadis itu.
"Nes? Kamu gak apa-apa, kan? Aku khawatir banget sama kamu," ujar Vita.
Neska hanya menggeleng-- menyiratkan keadaannya yang sudah tidak apa-apa.
"Vit, Neska biar jadi urusan gue. Lo masuk kelas aja, ya. Soalnya gak enak kalo kita bertiga bolos di jam pelajaran pada waktu yang sama, gimanapun kita sekelas," kata Karel.
"Tapi, Rel?"
"Lo percayai aja Neska sama gue. Gue ketua kelas yang bertanggung jawab atas temen-temen sekelas gue," ujar Karel memberi Vita pengertian.
"Nes, aku ke kelas ya. Kamu yakin udah gak apa-apa, kan?" tanya Vita pada Neska.
Neska tersenyum kecil. "Iya, Ta. Kamu balik, gih."
Vita pun berlalu dari UKS. Sekarang disana hanya tinggal Neska, Karel dan Rion yang berdiri bersedekap diujung ruangan.
Rion memandang Karel dengan senyuman miring khas-nya. "Ini semua karena gue, kan? Ya udah, gue tanggung jawab sampai Neska bisa balik ke kelas dengan kondisi yang udah baik-baik aja."
Untuk sejenak, Neska sampai mengernyit karena baru kali ini dia mendengar Rion menyebutkan namanya dengan benar.
"Gak usah banyak bacot! Neska biar jadi urusan gue, dia udah sadar dan sekelas sama gue. Gue rasa tanggung jawab lo cukup sampai disini aja."
Rion tak menggubris ucapan Karel yang terdengar seperti angin lalu ditelinganya. Dia malah menatap Neska dengan tatapan khawatir. Dan itu justru terlihat sangat aneh dipandangan mata sang gadis.
"Bisa gue bicara berdua sama lo?" Rion menanyai Neska tanpa menganggap ada Karel diantara mereka.
"A-apa?" tanya Neska dengan suara lemah.
"Tapi gue gak mau ada dia disini," kata Rion mengendikkan dagu ke arah Karel. Dia yang dimaksudnya tentu saja adalah Karel.
"Maksud lo?" Karel tak terima dengan ujaran Rion yang terdengar tak senang dengan keberadaannya itu.
"Gue mau bicara sama Neska berdua. Lo keluar dulu, bisa?"
Karel ingin sekali marah, tapi Neska memberinya isyarat untuk menuruti permintaan Rion. Neska juga penasaran apa yang kau Rion bicarakan dengannya. Apakah kali ini sebuah ejekan lagi?
Dengan berat hati, akhirnya Karel keluar dari ruang UKS. Tentu dia tidak benar-benar pergi, pemuda itu menunggu didepan ruangan yang pintunya tidak sepenuhnya tertutup.
__ADS_1
"Lo udah gak apa-apa, kan?" Rion mulai menanyai Neska.
"Seperti yang lo lihat, gue udah baik-baik aja."
"Oh, okey. Sorry buat kejadian tadi. Gue gak bermaksud nyasarin bola basketnya ke lo."
"Sengaja atau enggak, itu hanya lo yang tau," sahut Neska tak acuh.
"Kali ini gue tulus meminta maaf, terserah lo mau maafin gue atau enggak yang jelas gue bener-bener gak sengaja."
Neska hanya diam, dia memalingkan wajah kendati posisinya masih berbaring di ranjang yang ada dalam ruang UKS itu.
Rion berderap ke arah pintu keluar, dia sudah selesai dengan urusannya. Meminta maaf pada Neska terkait perbuatan yang tak sengaja ia perbuat. Namun, ucapan Neska selanjutnya berhasil membuat pemuda itu mengurungkan niatnya untuk kembali melangkah.
"Kenapa lo selalu nyari masalah sama gue? Gue ada salah apa sama lo?"
Rion terdiam di tempatnya. Tanpa berbalik arah, dia dapat tau jika Neska berharap ia menjawab pertanyaan gadis itu sekarang.
"Jawab, Rion!"
Karena Neska menyebutkan namanya untuk pertama kalinya, membuat Rion memejamkan mata rapat-rapat.
"Gue cuma cari perhatian lo doang. Tapi setelah hari ini gue gak akan ganggu lo lagi. Maaf," kata Rion dan berlalu pergi dari sana.
Percakapan itu tentu dapat didengar oleh Karel yang masih berdiri diambang pintu. Dia melihat Rion keluar dan mereka saling melempar tatapan permusuhan yang begitu kentara.
Disanalah Karel sadar bawa Rion sama sepertinya. Pemuda dengan seragam basket itu menyukai Neska juga dan pernyataan Rion kepada Neska beberapa saat lalu adalah sebuah jawaban untuk praduga dalam hati Karel.
Jika Karel menyukai Neska dan bersikap baik pada gadis itu dengan cara lembut. Beda halnya dengan Rion yang justru bersikap sebaliknya demi mencari perhatian gadis yang sama.
Tapi, Karel tau, tidak dari mereka berdua yang Neska harapkan sebab gadis itu menyukai pemuda yang tidak seumuran.
Karel mendahului langkah Rion yang telah berlalu, dia berdiri dihadapan pemuda itu dan menatapnya remeh.
"Kalau lo berharap sama Neska, itu adalah kesalahan besar."
Rion mengernyit atas ujaran Karel. Tapi dia tak mau tau lebih lanjut, hanya saja Karel lebih dulu berujar untuk menjelaskan.
"Tipe Neska gak ada sama diri lo!" kata Karel tersenyum miring.
"Dan gak ada di diri lo juga, kan?" Rion terkekeh pelan, jelas meremehkan.
Karel mendengkus, namun perkataan Rion benar adanya.
"Neska gak tertarik sama cowok seumuran. Dia sukanya yang dewasa. Selamat patah hati!" Karel berlalu dari hadapan Rion.
Karel tak mau patah hati sendirian. Ya, setidaknya Rion juga harus merasakan apa yang dia rasakan, pikirnya.
Bersambung...
__ADS_1
Next? Komen dan dukung✅