
"P-pacar?" gumam Cean saat mendengar Rion memperkenalkan Neska di hadapan keluarganya.
Neska sendiri sangat terkejut saat Rion mengajaknya ke kediaman orangtua pemuda itu. Apalagi begitu tiba disana, Neska mengingat jika dia pernah mengunjungi rumah besar itu untuk bekerja sebagai anggota Garden Organizer.
Jadi, ini rumah Rion?
Begitulah pemikiran Neska ketika sampai di tempat itu. Hanya saja, dia belum mengeluarkan sepatah katapun sampai akhirnya Rion memperkenalkannya didepan Cean dan kedua orangtua pemuda itu.
Yara berdiri dari duduknya, dia menyambut gadis yang dikatakan Rion sebagai pacar. Senyumnya terkembang, dia melihat Neska yang sangat cantik dan belia.
"Hai, Sayang? Nama kamu siapa?" tanya Yara, dia memperhatikan Neska dengan teliti, bukan untuk menilai penampilannya, tapi Yara merasa pernah melihat gadis cantik ini, entah dimana.
"Nama saya Aneska, Tante," cicit Neska dengan polosnya, dia menyalami tangan Yara dengan takzim dan disambut oleh wanita paruh baya itu.
"Nama yang cantik kayak orangnya." Yara pun tersenyum hangat. "Nah, Neska, ini om Sky ... suami Tante alias Papanya Rion dan ini Cean, dia kakaknya Rion."
Neska lanjut menyalami Sky kemudian tersenyum tipis pada Cean yang sudah dikenalnya namun dia sadar bahwa sudah ada jarak diantara mereka.
Cean yang masih terkejut dengan hal ini, membuang pandangan setelah melihat Neska mematut senyuman. Cean belum bisa mencerna keadaan ini. Atau justru, dia yang tidak menerima?
"Neska ... ayo-ayo." Yara pun mengajak gadis itu untuk ikut bergabung dan duduk di sofa. Setelah itu, dia kembali berkata-kata pada Neska. "Apa kita pernah ketemu ya sebelumnya? Kok Tante kayak pernah ketemu kamu," sambungnya kemudian.
Neska memilinn ujung bajunya karena gugup. Dia takut akan mengecewakan orangtua Rion jika dia hanya gadis biasa. Inilah yang paling Neska hindari, dia takut berkaitan dengan orang kalangan atas sebab takut kehadirannya di tolak mentah-mentah.
Akan tetapi, walau bagaimanapun Neska tak mau membohongi keluarga Rion mengenai asal usulnya. Dia mau menjawab jujur atas pertanyaan yang diajukan oleh ibu dari Rion.
"Sebelumnya, saya memang pernah kesini Tante ..."
Ujaran Neska bukan hanya membuat Yara, Sky dan Cean kaget, bahkan Rion yang baru mendudukkan diri disamping sang Kakak ikut terkejut atas pernyataan gadis itu.
"Kamu pernah kesini? Maksudnya kamu pernah ke rumah orangtua aku sebelum hari ini?" Rion yang bertanya dan angkat suara.
Neska mengangguk pelan. Wajahnya sudah pias bahkan sebelum mengutarakan kebenarannya. Dia sangat takut diusir saat ini juga karena dia hanyalah orang miskin, bahkan pernah bekerja di rumah ini sebagai tukang penata taman.
"Ehm, waktu itu ... saya kerja jadi anggota GO dan menata taman di rumah ini," papar Neska yang akhirnya memperjelas semuanya.
Beberapa detik hening, mungkin mereka sedang mencerna penjelasan gadis ini, tapi sesaat kemudian semuanya tertawa, apalagi Yara yang jadi ingat dimana pertama kali dia melihat gadis belia ini.
"Ya, ya, Tante udah ingat sekarang. Kamu yang paling muda dari mereka semua," papar Yara.
Neska semakin menekuk kepalanya saat Rion memandanginya dengan lekat. Entah apa arti tatapan pemuda itu, Neska hanya takut Rion malu memiliki pacar yang payah seperti dia.
"Kamu kerja di Garden Organizer?" Sekarang Cean yang bertanya. Lebih tepatnya dia berbasa-basi untuk kembali menyapa sang gadis, sekaligus benar-benar ingin tahu terkait hal itu.
"Ehm, itu cuma kerja paruh waktu yang aku lakuin setelah pulang sekolah, Kak."
__ADS_1
Untuk pertama kalinya, setelah enam bulan berlalu Neska kembali berbicara dengan Cean. Hal ini cukup membuatnya deg-degan, tidak dipungkiri jika rasa itu masih ada. Entah cinta atau hanya perasaan suka yang tertinggal.
"Wah, kamu gadis yang pekerja keras, Nes," puji Yara. Yara sendiri tidak pernah menilai seseorang dari asal-usulnya, melihat Neska dia jadi teringat dirinya sendiri yang dulu bukan siapa-siapa.
"Orangtua kamu ngizinin kamu kerja?" timpal Sky kemudian.
"Ehm ... saya yatim piatu, Om. Kedua orangtua saya udah meninggal karena kecelakaan." Neska menundukkan wajah.
"Ah, maaf ya, Om gak maksud membuat kamu sedih." Sky jadi merasa bersalah pada gadis itu. Dia menatap Neska dengan tatapan iba dan jadi tahu kenapa gadis ini harus bekerja di usia belia.
"Gak apa-apa kok, Om."
"Ya udah, makan malamnya kapan, nih?" Rion kembali bersuara.
Rion senang keluarganya menerima Neska dengan hangat. Tapi, sesekali dia melirik pada Cean yang tampak dingin dan seolah tidak menyukai kehadiran Neska disini. Bukan, Cean senang ada Neska tetapi status Neska sebagai pacar Rion lah yang membuat sang Kakak berlaku dingin. Rion sudah menduga hal ini, bahkan dari jauh-jauh hari, makanya sejak awal dia sudah menanyakan pendapat kakaknya yang nyatanya waktu itu tidak masalah jika Rion mendekati Neska. Tapi sekarang? Kenapa sikap Cean begini? Batin Rion.
"Nunggu Oma sama Kak Aura ya, Dek. Bentar lagi pasti nyampek. Tadi Kakak yang jemput Oma."
Mendengar nama Aura, sekali lagi hati Neska tersentak. Tunggu dulu, dia sempat mengira Aura adalah salah satu koleksi pacar Cean saat wanita itu mengunjungi Apartmen Cean waktu itu. Tapi, Neska lupa jika dia memang tidak pernah menanyakan pada Cean kebenarannya mengenai siapa Aura?
Dan hari ini, nama Aura kembali disebut. Apa hubungan Cean dan Aura sudah sejauh itu dan diketahui keluarga? Tidak ... Neska ingat jika Aura adalah anak dari Yara. Apa itu berarti?
"Sebentar ya, Nes. Kita lagi nunggu Kakaknya Rion yang satu lagi. Namanya Aura, dia lagi jemput Oma mereka."
Neska hanya bisa menyunggingkan senyum kecil sambil menganggukkan kepalanya.
Neska menatap Cean lama, dalam hati dia merasa bersalah pada pemuda itu. Karena pemikirannya sendiri, dia justru membuat imej jelek mengenai diri Cean.
"Nes?"
Panggilan Rion membuat Neska memalingkan wajah demi melihat pemuda itu.
Diam-diam Rion tau jika tadi Neska memperhatikan kakaknya meski Cean tidak menyadari hal itu.
"Gimana kalau kita keliling dulu sambil nunggu Kak Aura tiba? Aku mau nunjukin kamu sesuatu," kata Rion.
"Iya, Nes. Lebih baik kamu jalan-jalan dulu disekitar rumah biar gak bosan dan gak ngerasa canggung lagi. Anggap aja rumah sendiri." Yara menimpali ucapan putranya.
Neska akhirnya mengangguk. Dia beranjak dari sana dan mengikuti langkah Rion.
"Permisi ya, Om, Tante, Kak Cean," pamit Neska.
Rion pun mengajak Neska berkeliling rumah. Dia menunjukkan letak-letak dan bagian rumah.
"Kalau di lantai dasar ada kamar Mama Papa. Nah, di lantai dua, ada kamar aku sama kamar Kak Cean."
__ADS_1
"Kak Aura itu kakak kamu juga, ya?" Akhirnya Neska menanyakan hal yang sejak tadi sudah bercokol di kepalanya.
"Iya, Kak Aura sama Kak Cean itu kembar. Ah, iya, kamar Kak Aura di lantai 3. Dia suka naik tangga biar gak gendut katanya." Rion terkekeh diujung kalimatnya.
Neska jadi ikut tertawa.
"Kita ke taman, yuk."
Neska mengikuti langkah Rion dengan perlahan.
"Oh iya, kenapa kamu gak pernah cerita kalau kamu pernah ke rumah aku?"
"Mana aku tau kalau ini rumah kamu. Aku kan baru sekali kesini."
Sejak berpacaran, atau lebih tepatnya entah sejak kapan Rion sudah meninggalkan bahasa 'lo gue' terhadap Neska. Dia berlaku amat manis dan setiap kata lembutnya seolah menularkan pada Neska yang akhirnya bertutur kata sama dengan yang Rion perlakukan kepadanya.
"Iya, juga ya. Aku kaget tadi kamu bilang pernah kesini. Aku pikir kamu pernah kesini bareng Kak Cean."
"Hah?" Neska melongo atas perkataan Rion. "Kok kamu bisa nebak gitu? Jauh banget pemikiran kamu," katanya terkekeh kemudian.
"Ya, dulu kan kalian tetanggaan. Deket juga. Siapa tau kamu pernah diajak Kak Cean berkunjung kesini..."
"Enggak, aku justru baru tau kalau ini rumah kalian."
Rion menipiskan bibir. Dia menatap Neska lama seperti ingin memetakan wajah cantik gadis tersebut.
"Jangan lihat aku kayak gitu, Rion." Neska memprotes kelakuan pemuda itu. Dia grogi ditatapi lekat seperti yang Rion lakukan.
Rion terkekeh. Dia senang melihat wajah Neska memerah.
"Nes, tau gak, Mama sama Papa aku itu pacarannya dari zaman SMA juga lho."
"Oh, ya?"
"Huum ... aku mau hubungan kita kayak mereka. Tetap bersama meskipun banyak cobaan, mereka kembali sama-sama sampai saat ini."
"Rion ..."
"Aku serius sama kamu, Nes. Kamu tau kan, sejak awal aku udah bilang kalau aku gak pernah mencoba menyukai gadis lain karena aku udah stuck sama kamu."
Neska mengangguk-anggukkan kepalanya. Entahlah, bagaimana perasaannya sekarang mendengar pernyataan Rion.
"Aku harap, kamu juga sama kayak aku. Nerima keseriusan aku dalam hubungan kita. Lupain yang lain dan cuma aku yang ada dalam hati kamu. Bisa?"
Ucapan Rion seakan mengingatkan Neska dengan perasaannya terhadap Cean. Ya, memang Neska belum bisa melupakan kakak dari Rion itu, tapi mulai sekarang dia harus mencobanya dan berusaha lebih keras lagi.
__ADS_1
Bersambung ...
Next? Komen✅